KORONA

KORONA
20. ARFI MENGHILANG


__ADS_3

 


Minggu, 29 April 2046 pukul sembilan pagi. Kak Alma menanyakanku tentang keberadaan Arfi melalui telepon. Ia heran karena belakangan tak bisa menghubungi Arfi dan sulit sekali menemuinya di tempat tinggalnya. Kutanggapi pertanyaan Kak Alma itu dengan jawaban yang sama pula. Arfi memang tak bisa dijangkau beberapa hari ini. Entah karena apa. Ia seperti menghilang begitu saja. Bila Kak Alma sampai serius menghubungiku karena masalah ini, aku jadi mencemaskan keberadaannya. Mungkin saja terjadi sesuatu padanya.


“Aku akan mengeceknya lagi ke kontrakannya bersama temanku,” tawarku


“Teman? Kau masih punya teman selain Yuva?” Kak Alma bertanya dengan intonasi yang terdengar keheranan dari seberang telepon.


“Ada, hanya satu orang. Kebetulan hari ini kami memang ingin keluar. Juga ada satu lagi temanku. Dia pengguna baru,” paparku. “Dia baru saja memasang kaldier di lehernya,” sambungku cepat.


Lalu keadaan dalam telepon menjadi hening. Perempuan dewasa yang meneleponku ini tak berucap sepatah kata pun untuk beberapa saat. Dari keheningan itu aku bisa membaca apa yang ada dipikiran Kak Alma. Adanya pengguna kaldier baru tidaklah membuat kami senang karena mendapatkan teman baru. Justru sebaliknya. Pengguna kaldier baru adalah orang yang bernasib malang. Jauh dalam diri kami sebenarnya tidak ingin ada orang lain lagi yang mengalami keadaan serupa. Apalagi dalam masa-masa ini. Saat paradigma orang-orang pada pengguna kaldier sudah banyak berubah.


“Ah, maaf. Tiba-tiba aku jadi diam. Kalau sudah ada kabar tentang Arfi, segera hubungi aku ya,” kata Kak Alma mencairkan keheningan.


Aku menyanggupi. Lalu kututup teleponnya. Sesaat sebelum aku memasukkan telepon genggamku ke dalam saku, dua sosok Yuva kembali hadir dalam pikiranku. Yang satu adalah sosoknya yang selalu riang, sedang yang satu adalah sosoknya yang sekarang. Aku belum bisa menafsirkan sosoknya saat ini. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi.


Tapi bayangan itu seketika membuyar saat kulirik jam dinding yang masih setia berputar mengeja detik. “Gawat! Aku bisa membuat Dawn dan Krista menunggu,” ujarku saat melihat jarum jam menunjukkan pukul setengah sepuluh lewat. Kusambar cepat sepatuku dari raknya dan kupakai lalu bergegas pergi.

__ADS_1


Seharusnya kami bertiga bertemu di pendopo lapangan Parasamya Kisaran jam sepuluh pagi ini. Selanjutnya kami akan berkeliling-keliling kota bersama-sama. Hanya untuk menghilangkan penat, dan hanya untuk menikmati kebersamaan. Sesampainya di tempat yang dijanjikan, Dawn menyerangku dengan omelannya. Kulayangkan kata maaf sambil tersenyum.


Waktu selalu bergulir dengan cepat bila dihabiskan dengan bersenang-senang. Main di waterpark, mencicipi macam-macam kuliner, mencari tempat untuk berfoto, hingga berakhir di salah satu pusat perbelanjaan modern di kota. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Tanpa sengaja, bola mataku menangkap benda yang tak asing kulihat tergantung rapi di sebuah gerai kecil. Tubuhku bergerak sendiri akibat hasutan memori terdalam untuk mendekatinya. Tanganku segera menyambar benda itu. Masih dengan bungkusan plastiknya yang rapi, kusentuh dan kuperhatikan bentuknya dengan memutar-mutarnya. Itu adalah sebuah sarung tangan rajutan dengan motif Hitameong – karakter kucing hitam kesukaan Yuva. Bahkan hanya sebuah benda yang tidak terlalu penting bagiku bisa membuat ingatanku kembali padanya. Dan ingatan itu membuatku memutuskan untuk membelinya begitu saja.


 


Suara Krista memotong ingatan itu saat ia memanggilku dari belakang. Kutolehkan pandanganku ke arah sumber suara. Krista masih dengan senyumnya. Sedangkan Dawn mengetuk-ngetuk jarinya seperti orang yang kelelahan menunggu. Kemudian telunjuknya bergerak menuju ke suatu arah. Arah mataku langsung mengikuti arah telunjuknya seolah ada tali tak terlihat yang menarik bola mataku. Area permainan. Aku mengangguk menurut. Bungkusan Hitameong yang kubeli tadi kutenteng begitu saja karena aku tak membawa tas. Lalu bersama mereka kuhabiskan waktu untuk bermain di area permainan di mal ini.


 


“Belum pernah ada orang yang berhasil mendapatkan kupon sebanyak itu hingga empat kali selama empat hari berturut-turut ini,” gumam seorang petugas wanita game arcade pada rekannya. Aku yang kebetulan duduk tak jauh dari situ, ikut mendengarnya.


“Benar, tiap kali menukarkan kuponnya, dia bisa dapat hingga lima juta. Lama-lama tempat ini bisa bangkrut kalau keseringan,” tanggap seorang petugas yang di sebelahnya.


“Kok dia bisa seberuntung itu ya? Bisa seahli itu?”


“Mungkin mesinnya rusak. Sebaiknya kita suruh teknisi memeriksa mesin itu.”

__ADS_1


“Tunggu!” tiba-tiba aku menyela pembicaraan kedua petugas wanita itu. “Apa mesin itu terhubung dengan jaringan internet?”


“Sepertinya tidak. Tapi kalau pengaturannya sih diatur dengan komputer,” jawab salah satu petugas. “Memangnya kenapa?”


“Ah, tidak,” kemudian aku beringsut pergi mendekati kerumunan orang yang melihat seorang beruntung yang masih memainkannya. Di zaman sekarang, segala bentuk mesin selalu bisa dihubungkan dengan komputer untuk mempermudah perawatan.


Aku menyeruak ke dalam kerumunan yang tak terlalu padat itu. Kuamati si pemain, lalu kuamati pula mesin berbentuk kotak yang berdiri tegak. Mataku berhasil menangkap sesuatu di bagian sudut bawah mesin itu. Sebuah magnetic scanner berbentuk bintang tertempel di sana. Dengan ukuran kecil dan desain dekoratif, sudah barang tentu orang takkan begitu memperhatikannya. Mereka pasti hanya mengira itu adalah bagian dari mesin itu sendiri.


Tanganku ingin cepat-cepat menggapainya, namun otak memberikan perintah yang berlawanan. Sebaiknya bukan aku yang melakukannya. Lalu aku berbalik mendekati kedua petugas tadi dan membisiki mereka. Tak menunggu lebih lama lagi, salah satunya bergerak mengikuti informasiku. Melihat hasil yang barusan kutemukan, pikiranku terlempar kembali pada Yuva. Sedang sebelah tanganku mulai memijat-mijat dahiku.


“Ada apa, Eldan? Kau nggak enak badan?” sapa suara halus dari arah belakang.


Aku menoleh dan kudapati Krista dan Dawn sudah berdiri tepat di belakang dengan tampang sedikit cemas. “Ah, nggak. Aku hanya teringat sesuatu yang terlupa. Kalian bisa menemaniku ke suatu tempat?” jawabku berdalih.


Sebenarnya pikiranku masih tertaut pada Yuva. Dia pasti masih berada di sekitaran sini. Atau paling jauh sekitar satu kilometer dari sini karena itu jarak terjauh yang bisa diterima oleh magnetic scanner. Namun bila memang dia berada di dekat sini pun, sangat sulit mencarinya di tengah keramaian pengunjung mal ini. Jadi kuputuskan untuk segera mengecek kediaman Arfi saja.


 

__ADS_1


__ADS_2