KORONA

KORONA
19. MEMBURU LIFE POINT KEMBALI


__ADS_3

 


27 dan 28 April 2046, Jumat dan Sabtu adalah hari dengan jam kuliah tersenggang. Pukul satu siang biasanya kami sudah selesai dengan perkuliahan di dua hari itu. Dan saat itu pula, tiap kuliah selesai aku langsung mengajak Krista mengumpulkan Life Point. Sasarannya adalah para tetangga daerah rumahku yang sering meminta bantuan.


Untunglah, pikiran-pikiran mereka belum terkontaminasi oleh orang-orang yang ada di luar sana. Para tetanggaku yang baik hati itu masih menerima bantuan yang kami tawarkan. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang tua. Kalau yang seusia atau yang umurnya tak terpaut terlalu jauh dariku, mayoritas sudah pergi ke luar kota.


 


Hari pertama Krista membantu salah seorang tetangga yang sedang menanam bibit sayuran di halaman belakang rumahnya yang cukup luas. Ia menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk menyelesaikannya. Meski harus merasakan panasnya gigitan sinar matahari. Namun hal itu terbayar dengan tambahan Life Point sebesar 23 hari.


 


Hari kedua aku membawanya pada tetangga yang lain. Yang pertama membantu seorang ibu untuk menjagakan bayinya sebentar karena ia harus menata ulang isi rumahnya sesuai dengan feng shui yang ia pelajari. Krista mendapatkan 18 poin hari dari sini. Kedua, Krista membantu tetangga lain dalam urusan masak-memasak karena si pemilik rumah mengadakan hajatan makan besar bersama. Bantuan kali ini cukup memakan waktu hingga pukul tujuh malam. Tetapi imbalan yang diterima juga cukup besar, 31 poin hari didapatkannya. Sementara aku, hanya sesekali membantunya saja bahkan sebagian besar waktuku kugunakan hanya untuk menonton kegiatan Krista.

__ADS_1


Andai saja sedari awal hal ini juga kulakukan untuk Yuva. Akan tetapi apa boleh buat. Aku terlalu lambat memikirkan dan memberitahukannya. Kalau saja Yuva bisa segera kuajak untuk menemui para tetanggaku yang baik hati ini, pasti kejadiannya takkan seperti ini. Menurut pandangan para tetangga, aku dan ibuku adalah orang yang baik hati. Tetapi sebenarnya yang menganggap demikian adalah kami berdua. Tanpa adanya para tetangga ini, mungkin kami takkan bisa hidup sampai selama ini.


“Apa yang kaulamunkan, Eldan?” tanya Krista tiba-tiba menarikku dari alam lamunan. Ia sedang duduk di sampingku sekarang sambil memegang gelas minumannya. Kami masih dalam area si pemilik hajatan.


“Untuk seorang yang sering pingsan dan dirawat di rumah, staminamu cukup hebat juga bisa membantu mereka hingga jam segini,” balasku menanggapi pertanyaannya.


Krista menjatuhkan pundaknya diikuti dengan kulaian lehernya yang sedikit menyamping menatap ke arahku. “Justru aku benar-benar kelelahan saat ini. Pekerjaan tadi sungguh berat. Rasanya aku ingin segera menjatuhkan diri ke atas kasurku sekarang,” balasnya pula dengan sedikit manja. “Merajang bawang, menggiling cabai, mengangkati piring dan gelas, membuat bumbu, mengaduk masakan dalam wajan yang besar. Napasku masih tersengal sampai sekarang,” imbuhnya lagi.


Aku tersenyum tipis melihatnya bicara dengan nada yang seperti sudah merasa dekat denganku. Seperti berbicara dengan Yuva saja. “Ya, tapi kan kalau dilihat-lihat, memang seperti itu. Kau cukup kuat. Seharusnya pasti segera pingsan kalau melakukan pekerjaan yang cukup berat. Belum lagi pengetahuanmu dalam hal memasak juga membuatku terkejut,” balasku lagi.


Aku yang mendengarnya ikut tertawa terpingkal-pingkal. Bukan tertawa karena penjelasannya yang lucu itu. Tetapi karena suara tawanya yang tiba-tiba keluar tanpa beban itu yang menarik tawaku ikut mengudara.


“Tapi ini menyenangkan,” ujar Krista lagi dengan mimik wajah yang lebih tenang. “Aku belum pernah bisa seberguna ini demi orang lain. Meskipun harus meminta balasan langsung dari mereka, hal ini memberikanku pengalaman baru.”

__ADS_1


Aku memandangi wajahnya yang tengah asyik memerhatikan para tamu yang datang di acara jamuan makanan ini. Ia tersenyum tipis. Kemudian segaris cahaya penerangan memantul dari air matanya mengalir tipis melintasi pipinya. Entah apa yang ada di pikirannya. Apakah sedih karena mengidap penyakit yang memaksanya harus melakukan tindakan sukarela, ataukah ia terharu karena senang bisa melakukan hal yang berguna demi orang lain? Rasanya aku ingin bertanya seperti, “kenapa menangis?” Sambil menyeka air matanya. Lalu tanpa diperintah telapak tanganku langsung bergerak mendekati sumber dari garis cahaya yang ada di pipinya itu.


“Ah, maaf, sepertinya aku harus cepat-cepat pulang,” ujar Krista setelah ia melirik arlojinya lalu mengusap air matanya dengan terburu-buru. Tanganku ikut berhenti mencapai ujung matanya seperti motor yang kehabisan bensin. “Kau bisa mengantarku ke jalan depan, kan, Eldan?”


Aku mengangguk. Lalu kubawa ia menemui si pemilik hajatan untuk berpamitan. Dengan sedikit basa-basi, kami berdua beranjak meninggalkan tempat ini. Jarak dari sini ke rumahku hanya dua gang saja. Makanya kami hanya berjalan kaki mengitari area ini. Sesampainya di ujung gang, kulihat sebuah limousin hitam menunggu di pinggir jalan.


“Terima kasih untuk bantuannya hari ini, Eldan. Aku sudah dijemput,” ucapnya sambil menunjuk ke arah limousin yang berhenti itu.


Aku menelan ludahku karena kaget. Padahal semalam ia pulang dengan menyetop taksi. Tapi kali ini ia dijemput oleh mobil mewah. Dengan sedikit terbata dan memasang mimik wajah polos, aku menunjuk-nunjuk kendaraan mewah itu juga. Krista mengangguk, melambaikan tangannya dan bergerak menuju ke arah limousin hitam itu.


Namun sebelum ia sempat masuk ke dalamnya, aku memanggilnya lagi. “Besok Minggu, kan? Bagaimana kalau kita bareng lagi? Akan kuajak Dawn juga biar sedikit rame,” ajakku.


Bibir Krista melengkung lebar. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi keceriaan seperti anak kecil yang mendapatkan sekantung permen. Kemudian ia menjawab dengan menyanggupinya. Krista membuka pintu mobilnya dan masuk. Lalu mobil panjang itu mulai mengeluarkan suara dan segera hilang dari pandangan.

__ADS_1


 


__ADS_2