
Yuva ikut membantu menenangkan. Suara menggema dari salah seorang petugas pelayanan memberikan pengumuman permintaan maafnya pada pelanggan. Dia akan berupaya semaksimal mungkin untuk meminta kejelasan dan penanganan lebih lanjut dari pusat. Setelah berita baru didapat, masing-masing dari pelanggan akan segera diberitahu lewat telepon atau media komunikasi lain. Usaha pihak kaldier tidak percuma. Perlahan-lahan kepanikan yang terjadi di dalam gedung pelayanan kaldier ini mereda. Juga, para pengunjuk rasa sepertinya sudah terlalu lelah untuk terus-menerus meneriakkan protesnya.
Pusat perawatan kaldier kembali tenang. Para pengunjuk rasa itu pergi meninggalkan tempat ini satu per satu. Kulihat kebanyakan dari mereka memiliki Life Point yang tidak terlalu jauh berbeda dengan Yuva. Itu memang sangat memprihatinkan apalagi bila dilihat dari perawakannya, usia mereka masih tergolong muda.
“Mau sampai kapan? Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk menunggu?” ujar Tante Viola masih dengan lirihannya.
Dari semua pengunjuk rasa, memang milik Tante Violalah yang paling kecil nilainya. Lima belas hari yang tersisa untuk hidup itu sudah barang tentu menjadi mimpi yang sangat buruk. Dia akan semakin ketakutan. Mentalnya akan rusak. Ketakutan akan kematian bisa mendorongnya untuk berbuat hal-hal yang nekat. Atau dampak terkecilnya adalah menjadi gila. Menjadi gila saat akan menghadapi kematian. Sel-sel di dalam otakku bahkan tak ingin membayangkannya.
Yuva memberikan isyarat padaku dan Arfi untuk menjauh. Kami menurut. Dalam pelukan Yuva, Tante Viola membenamkan wajahnya. Isak tangisnya masih sedikit terdengar. Pilu. Tetapi meski sulit dan serasa tidak adil sekalipun, kita yang sudah diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan normal tanpa harus berbaring di rumah sakit tidak punya hak untuk menuntut lebih. Jika gagal dalam meningkatkan Life Point, hanya perlu berjuang lebih keras lagi. Bila tetap gagal, kurasa ....
__ADS_1
Lantas pikiranku menguap saat menyadari suara isakan Tante Viola yang sudah menghilang. Sepintas tadi kulihat Yuva membisikkannya beberapa patah kata hingga akhirnya ia terdiam. Dan wajahnya diangkat sambil memandangi wajah Yuva.
Mereka berdua bangkit, berdiri, dan Tante Viola sudah terlihat lebih tenang meski dahinya berkerut seperti memikirkan suatu hal. Aku cukup penasaran dengan mantra ampuh yang diucapkan Yuva pada Tante beranak tiga itu.
Ingatanku melesat cepat ke arah obrolanku dengan Yuva saat di kampus tadi. Aku kira ini ada hubungannya dengan eksperimen yang ia katakan tadi. Bila memang demikian, Yuva pasti punya cara berbeda untuk meraup lebih banyak Life Point dengan cara yang tidak begitu sulit. Entah kenapa, kekhawatiran itu lagi kembali menyelinap di hati. Mungkin hanya perasaanku, kalau Yuva sedang melakukan uji coba yang membahayakan. Atau mencoba hal-hal lain yang tidak biasa. Yang demikian ini terasa menggangguku.
Belum lagi, kata rahasia yang diucapkannya itu. Aku tahu meski sebagai seorang yang paling dekat dengannya tak harus mengetahui segala hal tentangnya. Tapi bila ada orang lain yang diberitahu olehnya tentang rahasia itu – sementara aku tidak – aku seperti bukan lagi bagian dianggap penting dari kehidupannya. Aku merasa disisihkan. Semacam sekat tak terlihat dibangunnya untuk membuat jarak di antara kami. Rasanya seperti adanya gumpalan\-gumpalan benda asing yang dimasukkan ke dalam dada secara paksa tanpa henti.
Aku mengangguk mengiyakan. Tapi aku tak segera beranjak. “Kalau boleh tahu, alasannya merahasiakan itu dariku apa?” Kalimat ini terlontar begitu saja. Aku memang masih sangat penasaran dengan rahasianya itu.
Yuva malah membalas pertanyaanku dengan tawa kecilnya. “Kenapa? Penasaran?” sebelah tangannya nakal mencubiti bagian samping perutku.
__ADS_1
“Ah, begitulah. Tapi bila kau keberatan mengatakannya, aku takkan-.”
“Ini adalah hal yang masih tak ingin kubicarakan denganmu,” jawabnya cepat dengan memotong ucapanku. “Aku tak ingin membebanimu dengan memikirkannya. Ini adalah masalahku. Aku merasa tak enak bila harus selalu membebanimu dengan kegelisahan yang kumiliki.”
Kau tak perlu merasa begitu, Yuva. Aku adalah kekasihmu.”
“Justru karena itu. Aku tak ingin terus merepotkanmu dan membuatmu memikirkan masalahku. Sesekali izinkan aku yang mengurangi beban di pundakmu.”
Aku menghela napas beberapa saat. “Tapi dengan begini, aku jadi seperti tak berguna untukmu,” ujarku lagi.
“Aku masih ingin terus hidup, Eldan. Aku ingin hidup demi dirimu. Jadi takkan mungkin kau tak berguna untukku,” balasnya dengan nada suara yang sangat lembut. “Ayo cepat, kita balik ke kampus.”
__ADS_1