KORONA

KORONA
17. MUNGKIN ELDAN SEDANG LINGLUNG


__ADS_3

 


Senin, 23 April 2046 malam hari. Setelah aku membanting tas Yuva yang berisi laptop, penyesalan pun datang. Orang-orang yang kupercaya kembali kuhubungi dan kami bertemu di suatu tempat makan di kota.


“Padahal sudah kuingatkan untuk tidak bertindak gegabah tadi pagi,” keluh Bang Auron dengan raut wajah kecewa. Ia memegangi kepalanya yang terlihat pusing mendengar pengakuanku.


“Maafkan aku,” sesalku dengan suara yang pelan. Kak Alma terlihat hanya terlihat diam saja sambil meneguk minuman dinginnya. Sementara Arfi tidak kelihatan batang hidungnya.


Selagi aku menyesali perbuatanku, mataku iseng memeperhatikan keadaan sekitar. Di dalam gerai makan fast food ini, beberapa pasang mata tertuju ke arah kami. Ada yang terdengar berbisik-bisik. Tiap kali arah mataku meraba mereka, mereka membuang pandangan dengan raut wajah yang terlihat jijik. Adapula yang beringsut keluar dengan wajah kesal, seperti tidak senang dengan keberadaan kami di sini. Juga, ada beberapa orang tua yang langsung menarik dan menjauhkan anaknya saat anak mereka melintas di dekat meja yang sedang kami tempati.


“Abaikan! Jangan terlalu menggubris tingkah laku mereka,” tegur Bang Auron cepat padaku. Aku mengangguk.


“Ah, aku sudah mulai terbiasa ditatap oleh mata-mata seperti itu. Aku justru kasihan pada mereka. Mata yang sehat itu mereka kotori dengan sifat arogan mereka. Malangnya,” komentar Kak Alma pelan. Dagunya ia topang pada tangan kanannya yang tegak di atas meja.


“Mereka hanya minim informasi mengenai kita. Dan banyaknya orang yang memprovokasi bahwa kita ini adalah penyebar infeksi menular dibiarkan begitu saja,” ujar Bang Auron.


“Begitupun tidak masalah. Dengan begini kita semakin tahu bahwa dunia ini sebenarnya penuh dengan orang-orang busuk seperti mereka,” imbuh Kak Alma. Sontak, aku dan Bang Auron melayangkan tatapan keheranan dengan pernyataan Kak Alma. Merasa dipandangi seperti itu, ia membalas tatapan kami sembari tersenyum. “Kalau Yuva pasti akan bilang begitu,” lanjutnya.


Aku mendengus kuat. Lain kali sebaiknya aku memilih tempat yang tidak ada orang lain selain kami. Tempat umum seperti ini bisanya hanya menuntun kami ke pembicaraan yang seharusnya tak perlu kami bahas. Membuang waktu dan membuyarkan fokusnya topik pembicaraan.


“Lalu, apa yang akan kaulakukan sekarang, Eldan? Mungkin Yuva sudah sangat membencimu saat ini,” tanya Bang Auron mencoba kembali pada topik utama.

__ADS_1


Itulah sebabnya aku menyesal melakukannya. Alih-alih menghentikan Yuva dalam membantu tindakan kriminal, aku malah memperkeruh hubunganku dengannya. Bila sudah begini, Yuva takkan mau mendengarkan ocehanku lagi.


“Aku juga masih belum bisa menjawab itu, Bang. Mungkin aku harus meminta maaf padanya.”


“Yang seperti itu takkan bisa selesai dengan kata maaf,” sela Kak Alma. Ia mengambil bungkusan rokok dari sakunya dan mengambil sebatang dari dalamnya. Sesaat ia hendak menyalakan korek, Bang Auron mencegahnya sambil menunjukkan tanda yang tertempel di dinding ruangan ini. Wajah Kak Alma pun terlihat kesal.


“Mungkin aku perlu mengganti laptopnya dengan yang baru agar ia mau memafkanku.”


Bang Auron dan Kak Alma membisu sambil melayangkan tatapan ke arahku. Wajah keduanya menjadi sama. Sama-sama keheranan. Sama-sama seperti melihat orang yang bisa terbang tinggi. Atau seperti melihat kucing yang mengeluarkan tanduk. Hal itu berlangsung sekitar sekian detik hingga aku salah tingkah.


“A\-ada yang salah?” tanyaku.


“Kurasa ada yang salah dengan pikiranmu, Eldan,” ungkap Kak Alma sambil memijat dahinya.


“Eh?”


“Bukan pikirannya, tetapi ia memang belum mengerti benar tentang perasaan perempuan,” imbuh Bang Auron menyangkal ucapan Kak Alma. “Aku jadi heran kenapa Yuva bisa bertahan bersamamu dalam sekian tahun bila kulihat kau yang seperti ini.”


“Bisa kubayangkan kalau Yuva sering mengelus dada saat menjalani hari-hari bersamanya,” komentar Kak Alma lagi.


Komentar-komentar aneh dari mereka berjatuhan seperti hujan. Dari hujan-hujan yang menjatuhi kepalaku itu muncullah tunas-tunas melengkung yang wujudnya seperti tanda tanya. Hal yang sama terulang kembali. Tema percakapan ini keluar lagi dari konteks – maksud diadakannya pertemuan ini.

__ADS_1


“Dengar, Eldan,” tiba-tiba Kak Alma berkata sambil memasang wajah seriusnya. “Ini bukan menyoal kau menghancurkan barang yang selalu dipakainya. Ini menyangkut perasaan. Perlakuanmu padanya itu cukup kasar. Sekalipun kau mengganti barang yang sudah kauhancurkan, apa perih akibat perlakuanmu itu bisa hilang bersama dengan munculnya barang yang baru?”


Aku seperti anak usia belia yang baru dikenalkan mana logika dan mana perasaan. Kata-kata yang kulontarkan tadi adalah hasil buah pikirku secara logis. Biasanya orang akan ceria kembali kalau barang-barang yang rusak diganti atau diperbaiki lagi oleh si perusak sambil meminta maaf. Sesederhana itu. Sesederhana pikiran anak kecil. Anak-anak kecil biasanya seperti itu. Kemudian yang Kak Alma katakan adalah mengenai perasaan. Mengenai hati. Hal semacam ini sepertinya belum tumbuh sempurna pada diriku.


 


“Mengerti?” tanya Kak Alma lagi.


 


Aku mengangguk. Lantas aku diseret lagi dalam pemikiran yang lebih dalam. Aku heran. Seiring bertambahnya usia, hati orang-orang akan bertumbuh. Mereka akan mulai bisa merasakan hal-hal yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Perasaan-perasaan baru. Perasaan-perasaan yang membuat semakin peka. Yang seharusnya membuat kita semakin saling menyatu, saling memahami. Tetapi kenapa dengan tumbuhnya perasaan-perasaan itu, orang-orang makin sensitif? Sedikit-sedikit merasa. Yang namanya meminta maaf sudah tidak semudah saat masih anak-anak. Yang sesederhana itu. Yang mudah untuk melupakan.


“Kesampingkan itu dulu. Yang sudah terjadi tak bisa diubah lagi,” potong Bang Auron, menyeretku kembali dari lamunan yang menguasai. “Setidaknya pergerakan Yuva kali ini akan terhenti untuk sementara. Hanya prediksiku saja, dan semoga hal itu benar. Untuk urusan masalahmu dengan Yuva, kau bisa memperbaikinya nanti. Sekarang, kita harus pikirkan cara untuk mengembalikan citra kita sebagai pengguna kaldier. Kita harus mengubah paradigma masyarakat normal tentang kita.”


“Kenapa tidak cukup hanya menghentikan dan membujuk Yuva saja?” tanya Kak Alma.


“Hal itu hanya efektif sementara. Sekalipun kita berhasil menghentikan Yuva, akan muncul Yuva-Yuva lain yang bernasib sama dan akan melakukan tindakan yang sama,” jelas Bang Auron.


Aku dan Kak Alma mengerti. Pembicaraan mulai menuju ke titik yang dituju. Bang Auron mengusulkan agar kami berkonsultasi langsung dengan para pemimpin operator sistem kaldier ini. Dengan mendiskusikan keluhan yang kami rasakan, diharapkan mereka mau membantu mencari solusi untuk menangani keadaan ini. Penyuluhan tentang betapa pentingnya life point bagi kelangsungan hidup para pengguna kaldier. Penyuluhan bahwa kami bukanlah pembawa bahaya karena kami bisa menjaga agar mereka tidak sampai tertular. Sosialisasi bahwa kami juga manusia yang sama dengan mereka. Yang sama-sama saling membantu. Bukan menjadi perbedaan seperti budak dan majikan. Kami ingin kesetaraan itu kembali lagi. Agar kami tak dikucilkan dan terlepas dari dugaan-dugaan buruk yang sedang viral saat ini.


 

__ADS_1


__ADS_2