
Sesuai dugaan. Mungkin maksud Yuva menyampaikan hal itu bukan untuk memicu emosi Arfi. Ia hanya menyampaikan bahwa kehidupan para pengguna kaldier pada akhirnya akan berakhir tragis. Meski dengan memiliki banyak Life Point untuk menunjang hidup, kaldier tetap tidak bisa mencegah penuaan. Tubuh manusia akan perlahan-lahan akan semakin melemah seiring dengan bertambahnya usia. Dan tampaknya Arfi salah menafsirkannya. Dengan memanfaatkan kesalahpahaman Arfi, Yuva mengajaknya bergabung. Kurasa begitu.
“Lalu, sebenarnya maksud dari kata-katamu tadi tentang waktunya sebentar lagi itu apa?” tanyaku yang masih penasaran pada Arfi.
“Kau tidak boleh tahu sekarang.”
Dengus napasku panjang. Punggungku mendekati dan mencium dinding. Pada kantung celana bagian kanan, kubiarkan tangan kananku leluasa menyelinap ke dalamnya. Kemudian menarik sebuah benda yang tempo hari diizinkan polisi untuk menyimpannya. Sarung tangan bermotif Hitameong. Kupandangi sarung tangan rajutan ini dalam-dalam. Padahal kalau dilihat dengan baik, wajah si Hitameong ini tampak menyebalkan. Dia memasang wajah marah dengan mulut terbuka. Aku heran, sebenarnya apa yang disukai Yuva dari maskot ini? Imut saja tidak. Bikin sebal sih iya. Namun semakin kupandangi sarung tangan ini, aku semakin melihat Yuva di dalamnya. Aku rindu.
*
Satu minggu setelah penangkapanku, aku dibawa ke persidangan sebagai terdakwa untuk menyaksikan keputusan hakim. Apakah aku bersalah atau tidak. Ibuku hadir dalam persidangan. Raut wajahnya tampak tidak tenang. Bibirnya komat-kamit seperti merapal doa untukku dibalik wajah kecemasan yang berusaha disembunyikannya. Terlihat pula Dawn dan Krista menemani. Wajah-wajah mereka itu seperti aura positif yang menyemangatiku.
Lalu selama satu minggu ini pula, aku tak mendengar kabar ditangkapnya Kak Alma maupun Bang Auron. Mereka berdua tak terlihat di sekitar sini. Mungkin mereka berhasil kabur dari pengejaran polisi. Dalam hati aku mengucap syukur bila mereka tak tertangkap meski harus menyandang status sebagai buronan. Memang seharusnya begitu. Kami memang tidak bersalah.
Mengenai Arfi, dia sudah melewati sidang terlebih dahulu dua jam sebelum aku, dan dia dinyatakan bersalah. Hal yang demikian sudah jelas buktinya. Lagipula Arfi sendiri pun mengakuinya padaku.
__ADS_1
Persidangan pun berlangsung berat sebelah. Para jaksa penuntut menggempurku habis-habisan dengan berbagai tuduhan. Aku berkali-kali menepisnya. Namun alasanku seperti cahaya yang terpantul pada cermin. Sedang jaksa pembela hanya – aku harap ratusan jarum masuk ke dalam mulut mereka dan membusukkan perut-perut mereka. Tidak berguna sama sekali. Mereka seperti menurut saja dengan perkataan para penuntut dan tidak memberikan perlawanan.
Sidang berakhir, dan aku dijatuhi hukuman yang sama dengan tahanan sebelumnya. Setelah sidang ini selesai, Aku dan Arfi akan dibawa ke penjara utama yang letaknya cukup jauh dari kota untuk ditahan di sana. Suara jeritan ibuku terdengar lirih dari arah belakang saat hakim mengetukkan palunya. Tidak ada yang bisa kulakukan. Aku tak punya cukup bukti untuk membebaskan diriku sendiri.
Minggu, 13 Mei 2046. Aku dan Arfi sudah berada di penjara utama Asahan. Penjara yang berisi banyak tahanan dari seluruh kabupaten. Kami berdua berada di sel yang berbeda namun saling berhadapan. Di tempat tahanan baru ini, semua jeruji besi dikendalikan oleh komputer. Tidak ada lubang kunci maupun gembok yang bergantung di pintunya. Hanya mutlak tiang-tiang besi yang berjejer sebagai pintu pengurungnya. Juga sangat banyak narapidana yang ditahan di tempat ini. Satu sel biasa berisi tiga sampai empat orang narapidana. Tetapi aku ditempatkan di satu ruangan khusus yang terletak paling sudut.
Kudengar suara tawa geli tepat dari arah sel di depanku. Di dalamnya hanya ada Arfi. Dua orang polisi penjaga yang melintas malah tersenyum mengejek. Seolah mengatakan bahwa Arfi sudah gila. Ya, Arfi tertawa dengan geli dari dalam sana.
“Apa yang sedang kautertawakan, Arfi?” tanyaku cepat.
“Pestanya akan dimulai tengah malam nanti, Eldan. Kau tidak boleh tertidur dulu,” ujarnya yang terdengar menyembunyikan sesuatu.
Pukul dua belas malam lebih tujuh menit. Begitu yang terlihat pada jam digital yang menempel pada dinding sel-ku. Para polisi penjaga yang seliweran mengawasi tak sesering siang tadi. Para tahanan juga sepertinya sudah banyak yang tenang. Mungkin sudah tidur, atau mungkin sedang memainkan permainan remi dalam selnya masing-masing. Aku sengaja tidak tidur mengingat perkataan Arfi siang tadi.
Kulihat dari seberang, Arfi memasukkan telunjuknya ke dalam mulutnya. Kemudian bola matanya berputar acak dan mengeluarkan suara seperti orang mau muntah.
“Tu-tunggu! Apa yang kaulakukan, Arfi?” teriakku dengan berbisik.
Arfi tak menggubris. Satu jarinya itu terlihat mengait sesuatu dari dalam tenggorokannya. Tidak bisa kulihat dengan jelas, namun saat kulihat ibu jarinya ikut membantu telunjuknya dengan membentuk sebuah jepitan, kurasa itu adalah sebuah benang atau tali yang sangat tipis. Aku terperangah melihatnya. Masih dengan dua jarinya yang menjepit, matanya yang berputar, dan suara seperti hendak memuntahkan sesuatu itu, ia menarik tali tipis itu dengan hati-hati. Kemudian dengan satu hentakan muntahan. Benar-benar muntah kali ini, mataku dibuatnya terbelalak melihat sesuatu yang muncul dari dalamnya.
“Magnetic scanner,” gumamku saat melihat hasil muntahan Arfi yang berbentuk benda kecil persegi panjang tergantung diikat dengan tali tipis yang dibalut dengan plastik transparan. Ujung tali itu rupanya ia ikatkan di gigi gerahamnya. Agar saat ia menelannya, ia bisa menariknya kembali keluar dengan memanfaatkan tali tipis yang ia ikatkan pada gerahamnya.
__ADS_1
Dengan sisa-sisa air muntahan di bibirnya, Arfi menyeringai sambil menatapku. Segera bungkusan plastik luar dari benda pemindai jarak jauh itu dibukanya. Dengan cepat ia tempelkan magnetic scanner itu pada kusen jeruji besi yang ada di hadapannya.
“Arfi, jangan-jangan itu?”
“Tunggulah sebentar, Eldan. Kita akan segera keluar dari sini.”
Itu artinya Yuva berada kurang dari satu kilometer dari tempat ini. Di penjara tidak disediakan koneksi internet. Bila ingin meretas, Yuva membutuhkan magnetic scanner yang berasal dari dalam penjara dan ditempelkan pada benda-benda elektroni atau yang tersambung dengan sistem komputer. Kalau dia berhasil meretas sistem keamanan penjara ini, aku dan Arfi bisa langsung meloloskan diri. Tetapi tidak sesederhana itu. Semua sel akan terbuka dan semua tahanan di tempat ini akan bebas melarikan diri. Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Yuva?
Lampu dalam sel dan lampu lorong mulai berkedip-kedip. Waktu sudah berjalan selama lima menit setelah Arfi mencolokkan magnetic scanner itu. Melihat itu, Arfi tampak semakin bersemangat dengan senyuman dan cekikikan kecilnya sambil memandangiku.
“Yuva benar-benar hebat, kan Eldan? Lihat yang telah dilakukannya. Aku yakin beberapa polisi yang melihat ini pasti panik seperti melihat hantu,” ucap Arfi dari sel seberang.
Aku tak menanggapi ucapan Arfi. Bila sampai membuat lampu menjadi berkedip-kedip seperti ini, bukankah justru memberikan sinyal pada polisi untuk segera bersiaga? Rencana macam apa yang sebenarnya dipikirkan Yuva?
Klik! Terdengar suara dari arah pintu sel. Kulihat Arfi segera membukanya dan dia berhasil keluar. Arfi melambaikan tangannya – mengajakku. Aku pun melakukan hal yang sama untuk keluar. Beberapa narapidana yang masih tersadar melihatku dan Arfi sudah berada di luar. Tanpa pikir panjang mereka langsung membuka pintu selnya dan keluar dari selnya masing-masing. Bibir mereka melukis tawa. Mereka riuh, sembari membangunkan para tahanan lain yang belum sadar kalau pintu selnya sudah terbuka.
Kondisi penerangan masih berkedip-kedip. Namun lorong sudah sesak dijejali oleh para tahanan yang segera berhamburan untuk meloloskan diri.
“Kita biarkan saja dulu mereka yang membuka jalan untuk kita. Aku yakin pihak polisi sedang sibuk berusaha mengamankan mereka semua,” ujar Arfi dengan percaya diri.
__ADS_1