KORONA

KORONA
29. PERTEMUAN RAHASIA


__ADS_3

 


“Dawn, aku butuh bantuanmu.”


“Eldan? Kau Eldan, kan? Kau ada di mana sekarang?” balasnya dengan nada panik.


“Aku masih di taman yang tak begitu jauh dari rumah.”


“Kau berhasil kabur, ya? Kau menelepon lewat apa?”


“Ini telepon lama ibuku.”


“Apa kau memakai identitas aslimu saat registrasi kartu sim-nya?”


Aku mengangguk.


“Bodoh!” umpatnya cepat. “Polisi bisa melacakmu bila mereka meminta bantuan operator provider yang kaupakai. Mereka juga bisa merekam isi pembicaraan kita.”


Aku tertegun untuk sementara. “Ah, iya, kau benar. Jadi bagaimana aku menghubungimu?”


“Sekarang kita bertemu di tempat biasa. Tutup panggilan ini dan buang jauh-jauh kartu sim-nya.”


Telepon ditutup. Tempat biasa ya? Rasanya aku sudah lama sekali tidak ke sana. Tanpa pikir panjang lagi aku pun segera menuju tempat yang dimaksud Dawn setelah menonaktifkan ponselku dan membuang jauh kartunya.


Kami bertemu di tempat penjualan disk game di tengah kota. Di tempat ini kami sering menghabiskan waktu karena toko ini memiliki ruang tunggu yang menyediakan berbagai makanan dan minuman juga. Dawn muncul setelah aku menunggunya selama lima belas menit.


“Tak kusangka wig-mu bisa membantu,” sapaku begitu Dawn sudah duduk di hadapanku.

__ADS_1


“Kenapa tubuhmu jadi kecoklatan seperti ini? Kau ditahan atau liburan ke Hawaii?” tanyanya heran. Ia terdengar seperti sedang mengejek, tetapi sebenarnya memang heran melihat penampilanku. Lalu kutunjukkan sebuah botol kecil padanya. Ia mengangguk.


Dawn menyodorkan satu kartu sim yang masih baru padaku. “Itu sim yang kudaftarkan dengan identitas adikku. Jadi keberadaanmu akan tersamarkan. Dan terima kasih juga untukmu. Berkat kau, aku terpaksa mengganti kartu sim-ku untuk sementara dengan memakai identitas ayahku,” jelasnya panjang.


“Ah, kau kan tak perlu ikut-ikutan mengganti identitas sim-mu?” tanyaku heran.


“Kalau isi pembicaraan kita tadi telah diketahui, kemungkinan mereka akan terus memantauku lewat nomor yang tadi. Aku bakal sulit menghubungimu nanti.” Dawn mentutorku dengan wajah yang sedikit kesal.


Masuk akal, dan aku sama sekali tak memikirkannya. Aku meneguk secangkir kopi yang ditaruh dalam cangkir porselen dengan motif gambar karakter game di pinggirannya. Final Fantasy. Ini adalah salah satu game kesukaanku dan Dawn. Aku rasa seri yang terbaru sudah mulai dijual di pasaran. Lantas aku tersenyum simpul.


“Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?”


Pertanyaan Dawn mengusikku dari lamunan. “Aku harus menemui Kak Alma atau Bang Auron. Ada yang harus kubicarakan dengan mereka.”


“Ah, mereka juga ada di daftar buronan itu, kan?


Aku mengangguk pelan.


“Tidak, karena itu aku harus cepat mencarinya.”


“Bagaimana caranya?”


Aku tak menjawab. Dawn tak bertanya lebih jauh, mungkin dia mengerti. Saat ini yang ada di pikiranku mungkin dua atau tiga hal. Tetapi rasanya otakku seperti tak memiliki kapasitas yang memadai untuk menampung semuanya. Mungkin rumit, mungkin berat, mungkin juga aku sudah jenuh memikirkannya.


Masalah demi masalah datang, menumpuk, dan belum ada satu pun yang berhasil kudapatkan jalan keluarnya. Aku sangat tahu batas kemampuan berpikirku seperti apa. Ini terlalu berat bagiku. Jalan seperti terputus. Seperti tak ada harapan lagi. Rasanya ingin membiarkannya begitu saja dan jatuh dalam keputusasaan. Atau semua masalah selesai bahagia begitu saja tanpa aku harus melakukan apa-apa. Namun aku tak menginginkan hal itu. Itu sama saja menyisihkan diri sendiri dari dunia. Bahkan debu pun masih berguna sebagai penyuci tubuh untuk sembahyang bila tak ada air.


“Kalau kau tak keberatan, kau mau menemaniku mendatangi rumah Bang Auron?” pintaku pada Dawn.

__ADS_1


“Dia tak mungkin ada di sana, kan? Untuk apa ke sana?” tanyanya.


“Bang Auron itu penuh dengan cara, mungkin ada informasi yang tertinggal.”


Mungkin mengajak Dawn bukanlah ide yang baik. Dia bisa terjerumus lebih jauh dalam permasalahan ini dan itu hanya akan membahayakan dirinya. Akan tetapi aku sendiri hanyalah orang lemah yang selalu bergantung pada orang lain. Tidak mampu berpikir sendiri, dan tak mempu bertindak sendiri. Bila aku melangkah sendiri, aku takut akan mengulangi kesalahan serupa. Setidaknya saat ini aku butuh seorang atau dua orang untuk membantuku dalam mengambil keputusan dan mengarahkanku.


Pukul dua belas siang lewat tujuh menit. Aku dan Dawn sudah berada di dekat kediaman Bang Auron. Suasananya cukup ramai karena letak rumahnya tepat di hadapan jalan kendaraan melintas.


“Kunyah ini dan bersikaplah natural!” perintah Dawn dengan menyodorkan sebuah permen karet padaku.


Aku mengambilnya, membuka bungkusnya dan segera kulempar ke dalam mulutku lalu kukunyah. Bungkusnya kubuang pada tong sampah umum yang ada di pinggir jalan. Kami berdua berdiri di depan rumah Bang Auron sambil melihat-lihat. Sesekali Dawn mengetuk-ngetuk daun pintu rumahnya. Sedang aku memperhatikan ke arah lain dan menemukan sesuatu.


“Apa mungkin kalian kenalannya Auron?” suara lembut seseorang terdengar dari arah sebelah kiriku. Ia seorang ibu-ibu berusia paruh baya yang mengenakan pakaian sederhana.


Saat bibirku hendak menjawab pertanyaannya, tiba-tiba suara Dawn mendahuluiku. “Auron?” tanya Dawn balik.


“Iya, Auron. Ini rumahnya Auron. Kalian sedang mencarinya, kan?”


“Ah tidak, sepertinya kami salah rumah. Kami tidak mencari orang yang bernama itu,” jawab Dawn lagi. Sementara aku mengembuskan permen karetku agar menjadi balon untuk menyembunyikan keherananku pada Dawn.


“Saya kira sedang mencari Auron. Auron-nya tidak ada untuk saat ini. Sepertinya dia terlibat kasus dan menjadi buronan pihak kepolisian,” ujarnya sambil menunjuk ke arah salah satu poster buronan yang ada di dinding rumah Bang Auron. “Sangat disayangkan. Padahal Auron itu orang baik. Saya rasa pasti ada kesalahpahaman yang terjadi.”


Dawn mengeluarkan beberapa patah kata untuk menanggapi perkataan ibu itu. Kemudian mengajakku menarik diri. Mungkin menurut Dawn, sangat berbahaya bila kami mengaku sedang mencari Bang Auron.


“Sial sekali, ibu itu tiba-tiba mengganggu dan kita tidak mendapatkan apa pun,” umpat Dawn kesal.


“Tidak,” bantahku. “Aku sudah tahu Bang Auron di mana.”

__ADS_1


Di salah satu bagian di dinding rumahnya, ada sebuah tulisan yang selama ini tak pernah kulihat sebelumnya. Tulisan itu mungkin ditulis dengan spidol. Letaknya di dekat kusen jendela. “Harpy”. Sesuai dugaan, mungkin Bang Auron sengaja meninggalkan pesan itu sebelum ia menyembunyikan dirinya.


 


__ADS_2