
Sabtu, 24 Maret 2046, aku dan Yuva membolos kuliah untuk pertama kali. Perburuan orang-orang yang membutuhkan pertolongan kami lakukan lagi. Kali ini dengan metode yang kurancang sendiri. Dengan membuat mimik wajah polos seperti anak kecil dan melakukan beberapa gerakan yang bisa sedikit menghibur. Meniru gerakan kucing misalnya. Hal ini dilakukan untuk merefleksikan ketulusan hatinya dalam menolong orang lain. Mendengar saranku ini wajah Yuva mengeluarkan raut wajah melihat kotoran. Jijik.
Begitupun aku tetap menyokongnya terus seperti yang kusarankan. Kuberikan contoh mimik wajah dan gerakan penghibur padanya. Yuva langsung membuang muka dan mual. Meski begitu dia tetap mempraktekkannya dengan muka malas. Kuhardik ia agar lebih serius. Saat ia mengulangi lagi, dia malah seperti wanita penggoda.
“Lihat! Di sana ada seorang ibu tua yang hendak menyeberang jalan. Lekas bantu dia!” seruku.
Yuva mengikuti seruanku dengan cepat. Seorang ibu membawa tas belanjaan sambil memegangi payung di bawah teriknya matahari menunggu celah besar dari deretan kendaraan yang melintasi jalan. Yuva segera menyapanya dengan ramah lalu membantunya menyeberang. Bantuan dari Yuva selesai dalam sekejap, ia segera kembali padaku dengan wajah cerah.
“Aku dapat tiga poin hari. Wajah ibu itu kelihatan senang,” komentarnya.
“Bagus. Kalau begitu kita keliling lagi mencari yang lain,” ajakku.
Baru beberapa langkah kami berdua beranjak, dari arah belakang, seseorang dari dalam truk pembawa barang memanggil kami.
“Kalian, kalian ini yang biasanya memberikan bantuan pada orang-orang, kan?” ujarnya begitu kami sudah menyahut panggilannya.
Kepala kami bergerak mengiyakan. Seorang pria dewasa yang duduk di sebelah sopir truk kontainer mini itu turun menghampiri kami.
__ADS_1
“Aku Dian. Kami sedang mengangkut barang-barang pindahan ke kelurahan Siumbut-umbut. Kalian bisa membantu kami? Kami sedang butuh tenaga sukarela tanpa dibayar,” ujarnya tanpa basa-basi.
Beruntung sekali pikirku. Kadang-kadang kesempatan bisa datang sendiri tanpa harus dicari. Aku mengangguk menyanggupi sementara Yuva hanya diam saja dengan senyum di bibir. Pintu kontainer dibuka oleh pria itu dan dia menyuruh kami berdua untuk masuk ke dalamnya.
“Yang bisa duduk di depan cuma dua orang. Kalian duduklah di dalam kontainer ini,” katanya.
Yuva mendekatkan bibirnya ke telingaku dan mengatakan bahwa pria ini kelihatan tidak ramah. Kemudian ia bertanya dengan nada bergurau, “Hey, hey, kami ini bukan mau diculik, kan?”
“Tentu saja tidak. Aku akan membiarkan pintu kontainernya terbuka agar kalian tidak curiga. Dan bisa melompat sewaktu-waktu bila kalian merasa tak aman,” ujar Dian.
“Nggak, nggak, aku hanya bercanda kok,” balas Yuva dengan menggaetku untuk naik ke dalam kontainer. “Tapi memang sebaiknya kontainer jangan ditutup agar kami tidak merasa pengap,” katanya lagi.
“Aku rasa mereka ini hanya memanfaatkan kita saja,” gumam Yuva tiba-tiba membuka pembicaraan baru.
“Eh, kenapa? Aku rasa ini malah kesempatan yang bagus. Kita nggak perlu cari-cari ke sana ke mari,” tanggapku.
Yuva mengeluarkan napas panjang. “Kau ini memang polos dan berhati bersih atau bodoh, sih Eldan? Tak heran kalau kau bisa sebegitu tulusnya dan mendapat banyak Life Point.”
“Ha? Aku tak mengerti. Tugas kita adalah membantu sesama. Selagi ada yang meminta bantuan, kenapa kita tak menolongnya?”
__ADS_1
“Makanya kubilang tak heran jika kau bisa dapat banyak Life Point,” Yuva terlihat agak kesal mendengar ucapanku.
Kalau sudah memasang wajah kesal begitu, aku takkan lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Takut kalau-kalau dia akan makin berang dan menyemprotku lebih banyak dengan kata-katanya. Atau bisa-bisa mood-nya berubah dan malas untuk melakukan apa pun. Wanita. Selalu saja sensitif dengan hal-hal yang tak bisa kumengerti.
“Kalau kau menyimak apa yang dikatakan orang itu saat pertama tadi, kau pasti mengerti. Tapi ya sudahlah, kita lihat saja nanti apa yang terjadi. Siapa tahu dugaanku meleset,” lanjutnya lagi setelah memberikan jeda untukku berpikir. Aku mengangguk saja tanpa membalas ucapannya.
Waktu dan keadaan adalah roda-roda gigi yang mampu menggerakkan apa saja. Saat keduanya bersatu padu, semuanya bisa berubah. Sejak mendengar perkataan Tante Viola kemarin Yuva agak berbeda sikapnya hari ini. Ia seperti semakin sensitif, tampak semakin peka, dan semakin sering menganalisis hal-hal yang menurutku wajar-wajar saja. Sedari kemarin malam. Saat baru saja keluar dari rumah Tante Viola. Saat berboncengan mencari buruan yang sedang butuh pertolongan. Bahkan setelah selesai mengantarnya sampai ke rumah. Dia seperti ditarik ke dalam dunia yang lain. Dia berpikir seorang diri. Aku seperti tak dipersilakan masuk ke dalamnya bila aku tak bisa memahami kata-katanya. Dia tak peduli bila aku tidak paham. Dia hanya meluapkannya dengan ocehan kesal.
Truk ini lantas berhenti di sebuah rumah dengan halaman yang masih kosong dari pohon atau pot-pot tanaman. Tumpukan beberapa kaleng cat masih terlihat di dekat sisi pagar. Juga beberapa alat bangunan lainnya masih ada di sana-sini. Aku dan Yuva yang sudah turun dari dalam kontainer saling bertatapan dengan sepasang suami isteri yang sepertinya akan menempati rumah baru ini. Sang isteri yang tengah hamil berbisik pada suaminya dengan sesekali menatap jijik pada kami berdua.
“Kuharap aku bisa mencolok dan mencongkel biji matanya hingga keluar,” umpat Yuva pelan padaku. Bibirku merekah geli mendengarnya.
Kedua orang yang membawa kami itu langsung mengajak aku dan Yuva untuk membantu menurunkan barang-barang. Belum sempat aku ikut mengambil barang itu, suami dari pemilik rumah mendatangi kami. Ia menanyakan seputar penyakit apa yang kami derita. Yuva dan aku menjawab bergantian. Dari jawaban kami, ia mengambil keputusan untuk melarangku ikut membantu dalam pekerjaan ini. Dengan alasan ia tak ingin kalau-kalau ada bercak darahku tertinggal pada perabotan miliknya.
Hal ini terjadi lagi. Cukup membuat hatiku terjerembab renyah ke dalam cairan dingin. Tidak mengapa. Aku berusaha maklum dengan sikapnya itu karena aku juga paham dengan yang mereka cemaskan dariku.
“Seharusnya kau berbohong saja tentang penyakitmu,” usul Yuva terlambat. Aku mengulas senyum lagi.
Kuyakinkan Yuva agar ia tetap meneruskannya tanpa mengkhawatirkanku. Karena yang sebenarnya membutuhkan pekerjaan ini adalah Yuva. Yuva menurut, namun wajah kesalnya itu masih sedikit terlihat.
__ADS_1