
Rabu, 25 April 2046 siang hari pukul 13.30. Bang Auron, Kak Alma, dan aku pergi ke pusat penelitian medis. Pembuatan kaldier dan penelitian semua penyakit dari yang ringan hingga yang berat dilakukan di sini. Termasuk penyakit-penyakit baru yang muncul secara tiba-tiba akibat mutasi. Bangunan ini sangat besar. Tepat di sebelahnya adalah rumah sakit terbesar di kota ini.
Ada aroma obat beserta bahan-bahan kimia lain yang mengusik hidung. Obat? Masih ada obat-obatan di era serba gelombang Dier ini? Tentu saja ada. Itu adalah obat-obatan untuk penyakit yang masih ringan. Yang masih bisa sembuh dengan mengonsumsi obat. Seperti demam misalnya. Adapula terlihat beberapa peralatan medis yang masih disusun rapi seperti stetoskop, kardiograf, alat bantu pernapasan, kaldier, dan lainnya di dalam ruang yang berdinding kaca. Kami bertiga menunggu di ruang tunggu untuk bisa berbicara langsung dengan pimpinan perusahaan medis ini. Menurut pengakuan sang resepsionis, kami beruntung bisa langsung menemuinya. Biasanya kita butuh perjanjian dulu dikarenakan beliau sangat sibuk.
Tak berangsur begitu lama – sekitar dua puluh menit – kami dipanggil untuk segera masuk ke dalam ruangan beliau. Bapak dengan postur tubuh sedikit berisi dengan tinggi tubuh medium mempersilakan duduk. Sejenak kami memperkenalkan diri dan dilanjutkan dengan mengutarakan permasalahan yang kami hadapi. Tentu saja, mengenai Yuva dan sederet tindakan kriminal yang disebabkan olehnya tidak kami tuturkan terlebih dahulu. Bapak itu tak langsung menanggapi. Dengan mimik wajah serius, ia berjalan menuju arah jendela kaca yang besar memandang ke luar.
“Mengenai masalah itu juga sudah kami perbincangkan sebelumnya,” ujar bapak bernama Fredi itu sambil membalikkan badannya ke arah kami. “Kami sudah mewanti-wanti bila masalah seperti ini akan datang, tetapi hal ini masih dalam diskusi kami,” jelasnya.
Mimik wajahnya yang terlihat lesu itu seperti berusaha meyakinkan bola mata dan pikiran. Bahwa ia dan segenap paramedis sudah berusaha mengatasi permasalahan ini.
“Jadi, belum ada jalan keluarnya?” tanyaku cepat. “Apa tidak ada cara yang mudah untuk memberikan life point secara cuma-cuma pada pengguna kaldier yang sedang kritis sisa hidupnya?”
Pak Fredi melirikku sesaat sebelum menjawab pertanyaan. Otot-otot pipinya menarik bibirnya ke sudut hingga terlihat lebih horizontal. “Kehidupan tidak bisa didapat dengan cara gratisan. Kau harus berjuang sendiri untuk mempertahankannya. Kami bukanlah Tuhan yang bisa memperpanjang usia manusia. Kami hanya bisa memberikan bantuan berupa alat, selanjutnya kalianlah yang berusaha memperolehnya sendiri.”
Betapa kejinya ia dan penjelasannya yang masuk akal itu. Dengan bahasa yang logis dan mudah dipahami, serta dengan tutur kata yang santun itu. Pak Fredi memberikan penjelasan yang tidak bisa kusela lagi.
“Bapak tidak menyembunyikan sesuatu, kan?” tiba-tiba saja Bang Auron menanyakan hal yang tak diduga. Kini bola mataku dan bola mata Kak Alma beradu mengutarakan kata heran. Bang Auron berani lancang. Sedang yang gemetaran adalah aku.
“Maksudmu?” balas Pak Fredi tenang.
Bang Auron tak segera menjawab. Matanya masih enggan beralih dari Pak Fredi yang membalas tatapannya. Tangan Kak Alma menoel-noel tubuh Bang Auron sambil membisikkan beberapa patah kata untuk menghentikan niat Bang Auron.
“Ah, tidak. Mungkin hanya firasatku saja kalau Bapak menyembunyikan sesuatu. Maaf, Pak. Aku tak bermaksud kasar,” ujar Bang Auron.
Pak Fredi tampak tak terlalu menyinggungnya. Ia mengangguk begitu saja. Dengan penjelasan beliau barusan, kami mengakhiri pertemuan yang singkat ini dan segera pergi meninggalkan bangunan yang tiap sudutnya penuh dengan aroma obat.
__ADS_1
*
“Eldan.” Terdengar suara perempuan menyapaku dari arah belakang saat aku sedang duduk sendirian di bangku panjang yang berjejer di taman kampus.
Suara itu memaksaku untuk menolehkan pandangan ke arah belakang. Mataku membelalak mendapati sesosok wanita yang sudah sering tak terlihat di kampusku. “Kristal?” ucapku kaget.
“Krista!” balasnya untuk menyangkalku yang salah menyebutkan namanya.
“Ah, maaf. Namamu serasa tanggung sih,” ujarku beralasan. Kemudian aku bangkit dari posisi dudukku lantas mendekatinya. “Aku dengar kau sedang dirawat di rumah sakit. Kau sudah ...?” Kalimatku terhenti saat bola mataku menangkap sesuatu yang tak asing tertaut di lehernya.
“Iya,” katanya sambil mengembangkan senyum. Sambil menyentuh kaldiernya, Krista berujar lagi, “Kanker darahku sudah pada tahap stadium yang membahayakan. Aku tak bisa lebih lama lagi membiarkannya. Jadinya aku menukar hidupku dengan alat ini.”
“Kanker darah? Kenapa selama ini kau tak pernah bilang?” tanyaku cepat. Krista hanya membalasnya dengan tersenyum sambil menjulurkan lidah.
Kaldier yang terpasang pada lehernya menunjukkan angka 352 hari. Dia masih punya waktu sekitar satu tahun untuk mengumpulkan lebih banyak lagi Life Point.
“Tolong bantu aku mengumpulkan Life Point, ya? Aku belum tahu banyak,” pintanya lembut.
Aku mengiyakan. Tanpa memberitahunya tentang peristiwa yang sedang berlangsung di kalangan para pengguna kaldier. Untuk sesaat, sepertinya aku melupakan masalahku. Entah kenapa dengan hadirnya Krista yang tiba-tiba meminta bantuan padaku bukannya membuatku semakin pusing, justru sebaliknya. Semangatku kembali lagi.
“Ah, tapi aku nggak memaksa. Siapa namanya? Yuva ya? Kalau kau merasa terbebani ya tidak usah dipaksakan. Aku juga agak tidak enak padanya,” tutur Krista lagi.
“Tidak apa-apa. Yuva sedang sangat sibuk belakangan. Aku akan menjelaskan padanya nanti.”
Wajah Krista mencerah. Aku tersenyum tipis. Tiba-tiba mataku teralih ke arah belakang Krista. Sosok Yuva melintas tak cukup jauh dari posisi kami berdiri. Ia melirikku sepintas dengan tatapan seperti orang yang tak pernah mengenalku, lalu membuang mukanya ke arah depan. Sebuah tas berbentuk persegi dijinjingnya di pundak sebelah kirinya. Pikiranku mulai meraba isi tas yang dijinjingnya itu. Mungkin itu adalah perangkat peretasnya yang baru. Yuva akan meretas lagi.
“Ada apa?” suara Krista menarik kembali arah pandanganku ke arahnya.
__ADS_1
“Ah, tidak-.”
Seperti tidak percaya, Krista langsung membalikkan badannya untuk melihat hal yang kulihat. “Itu Yuva, kan? Kenapa kau tidak menyapanya?” tanyanya lagi sambil menoleh balik ke arahku.
“Ah, itu ... ada ...,” aku menjawab dengan terbata. Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Apalagi aku dan Krista memang tak pernah dekat sebelumnya. Untuk membahas sesuatu yang sifatnya personal rasanya belum bisa.
“Tidak apa. Tidak perlu dijawab. Aku ngerti kok,” ujarnya lagi dengan senyum dan lidah menjulur sedikit. Aku hanya bisa mengangguk. Krista melirik arloji mini berwarna perak mengkilap di lengan kirinya. Sudah saatnya kami berdua masuk ke kelas selanjutnya. “Ayo!” ajaknya.
Kelas mendadak hening saat aku dan Krista masuk. Di dalam sudah banyak teman sekelas yang duduk di bangkunya masing-masing. Satu hal yang membuat mereka hening adalah kehadiran Krista yang terlihat berbeda. Sebagian dari mereka menunjukkan wajah panik, sebagian ada yang terlihat jijik dan mengerutkan dahi mereka.
“Krista punya penyakit kanker darah. Bukan penyakit menular sepertiku. Jangan khawatir,” ungkapku cepat untuk mencairkan suasana.
Wajah-wajah tegang itu kemudian mengendur. Krista segera menoleh ke arahku dengan wajahnya yang terlihat mencemaskanku. Kubalas tatapannya itu dengan kata-kata yang menjelaskan bahwa aku baik-baik saja. Lalu aku segera melangkah menuju tempat dudukku. Sementara Krista berbaur dengan teman-teman yang lain.
Sebagai pengguna kaldier di kelas ini, aku adalah satu-satunya orang yang dikucilkan. Mereka masih takut pada orang yang membawa-bawa virus penyakit berbahaya dengan tubuh yang seperti orang sehat. Takut sakit itu hal yang wajar. Dan tak perlu ada yang disalahkan di dunia ini. Maka kursi paling belakang dan terpisah dari teman\-teman yang lain adalah tempat yang paling pas untukku.
“Bau! Sudah kubilang wajah murungmu itu bau sekali!” celetuk salah seorang teman dan merapatkan kursinya di sebelahku.
“Di wajahku ini nggak ada sampah bungkusan makanan dua hari yang lalu!” kubalas gurauannya itu sambil nyengir.
“Memang nggak ada. Tapi kata ‘toilet belum disiram’ tuh tertulis jelas di wajahmu,” ledeknya lagi.
“Sialan!” Tanganku mencoba menepuk kepalanya namun yang berhasil kusambar hanyalah udara.
Dia adalah Dawn, satu-satunya teman sekelas yang tidak pernah memandang statusku dan malahan menganggapku setara. Hanya dialah teman baikku di sini. Postur tubuhnya hampir sama denganku yang berpostur sedang. Bedanya, rambutnya saja yang menggulung parah namun dia sangat ahli membuatnya terlihat modis. Dia juga sangat suka ber-cosplay. Nama aslinya adalah Fajar. Tetapi dia lebih suka – atau bisa dikatakan ia mengklaim dirinya sebagai Dawn dan memaksa kami semua untuk memanggilnya seperti itu. Iya, dia hanya menerjemahkan namanya saja ke Bahasa Inggris.
Kemudian suara langkah berat yang masuk melewati pintu kelas menarik perhatian tiap pasang bola mata. Langkah itu langsung menuju meja yang menghadap ke arah kami. Gurauanku pada Dawn terpaksa berhenti. Kemudian kelas berjalan seperti biasa.
__ADS_1