
Kamis, 12 April 2046 pukul 12.30. Aku mengajak Yuva makan siang di kantin kampus seperti biasa. Raut wajah Yuva terlihat tenang. Seperti tak menandakan adanya kejadian yang ia perbuat semalam.
“Kau tahu, Yuva? Tadi malam sekitar pukul dua kurang, aku merasa gelisah,” ungkapku membuka obrolan sesantai mungkin.
“Nah, terus?” tanggapnya kemudian memasukkan sesendok nasi gurih ke dalam mulutnya. Suara kunyahannya tidak terdengar.
“Aku segera meneleponmu. Tapi nomormu nggak aktif. Padahal aku gelisah karena memikirkanmu saat itu.”
Yuva tersenyum sambil masih mengunyah makanannya. Kemudian ditelannya. “Iyalah, aku kan sudah tidur jam segitu. Biasa juga telepon genggamku kumatikan,” jawabnya.
“Aku khawatir jika tindakanmu tadi malam bersama Tante Viola dan empat pria asing itu ketahuan dan kau tertangkap oleh aparat keamanan.”
Kalimat itu terlontar bagai biji ketapel yang tak sengaja terlepas dari genggaman. Jantungku saat ini berdegup dengan kencang. Seluruh tubuhku seperti bisa merasakan seluruh desiran darahku yang melaju kencang. Aku sudah mempersiapkan diri untuk mengatakan ini sebelumnya. Tapi entah kenapa rasa gugup itu masih ada.
Gerakan mulut Yuva terhenti. Sendok yang digenggamnya berpindah ke atas piring. Raut wajahnya berubah. Senyum yang tadi ia sunggingkan sirna dan kini tinggallah wajah tenang namun seolah membuat suasana menjadi tegang. Yuva tak menunjukkan tanda-tanda ia panik, resah, ataupun terkejut. Ia hanya bersikap tenang.
“Eldan, sejak kapan kau jadi penguntit sekarang?” tanyanya santai.
“Jadi kau tidak menyangkalnya? Bisa kau jelaskan kenapa kau sampai melakukan itu?”
“Seharusnya kau jawab dulu pertanyaanku baru kau balik bertanya.”
“Otodidak. Aku menguntitmu secara otodidak. Dan kenapa kau bisa melakukan tindakan-.”
“Bukankah seharusnya kau sudah tahu?” potong Yuva sedikit menghardikku dengan tatapan tajam.
__ADS_1
“Aku tak mengerti, makanya butuh penjerlasan darimu.”
“Kau masih saja lambat dalam berpikir,” ujarnya. Kemudian meneguk segelas air putih tapi tak menghabiskannya. “Aku melakukan hal ini untuk memperpanjang usiaku,” jawabnya tegas.
Jawaban Yuva seolah hidrolik yang dipasang di dalam mulutku. Aku ternganga. Hening menyapaku sesaat hingga aku membutuhkan jeda untuk bisa mengumpulkan kata-kata lagi. “Bagaimana mungkin? Untuk mendapatkan Life Point, kita harus-.”
“Membantu dan menolong orang lain, kan?” potong Yuva lagi.
Yuva, di tiap perkataannya semakin terlihat tegas dan percaya diri. Seperti bukan Yuva biasa yang kukenal. Begitupun kali ini. Padahal saat ini aku sedang menginterogasinya. Ibarat mengadili, seorang yang sudah terbukti tertangkap mata melakukan perbuatan jahat, biasanya mentalnya akan melemah dan menjawab semua pertanyaan dengan pasrah. Namun Yuva tak seperti itu.
“Sejak awal sistem kaldier ini sudah eror, Eldan,” lanjut Yuva lagi. Ia masih menatapku dengan tatapan seriusnya dan dengan nada bicara yang tegas. “Sistem yang dipakai untuk melumpuhkan penyakit dan mengonversinya sebagai angka sisa kehidupan. Kemudian para pengguna kaldier diharuskan untuk membantu orang-orang normal demi menambah Life Point-nya. Dengan cara memindai kepuasan orang-orang yang telah dibantu, pemindai akan mengonversi emosi kepuasan itu sebagai angka-angka dengan jumlah tertentu untuk ditambahkan pada Life Point yang ada. Dan apa kau tahu di mana letak kesalahannya?”
Yuva membalikkan pertanyaan. Dahiku berkerut dengan pandangan tertunduk untuk mencari-cari jawaban atas pertanyaannya. Otakku berpikir keras. Otakku yang lemah ini tak berhasil mendapatkan jawabannya. Kupandangi lagi wajah Yuva yang masih memasang raut serius. Kemudian aku menggeleng.
“Dari penelitian dan pengumpulan dataku. Tidak ada satu pun peraturan yang menyebutkan bahwa kita harus menolong atau membantu dalam kebaikan!” ucap Yuva. “Peraturan hanya menyebutkan bahwa kita harus menolong orang yang meminta bantuan atau tertimpa masalah.”
“Jika menolong dalam kebaikan tidak membuahkan banyak Life Point, maka kuputuskan untuk menolong dalam hal kejahatan. Prinsipnya sama, kan? Memindai kepuasan orang yang telah kita tolong. Dan kau tahu?” ucapan Yuva terhenti untuk beberapa saat. Ia merendahkan dan memajukan kepalanya untuk mendekatkan wajahnya padaku. Lantas ia berujar lagi dengan suara yang pelan. “Menolong orang-orang melakukan hal jahat itu membuahkan banyak sekali Life Point. Hanya dengan membantu mereka meretas sistem keamanan suatu tempat, mereka bisa mencuri dengan tenang. Mereka sangat puas saat berhasil mencurinya. Tawa mereka kencang, kebahagiaan terpancar, dan aku bisa mendapat tambahan Life Point seratus dua ratus dalam waktu sekejap. Kau bisa lihat sendiri kan?” paparnya sambil menyentuh kaldier miliknya.
Mataku hendak merangkak keluar dari kelopaknya saat mendengar pengakuan Yuva barusan. Tubuhku serasa kaku. Jemariku rasanya menggeletar untuk meneriakkan bahwa perbuatan yang dilakukan Yuva itu salah. Itu tidak sesuai dengan akal pikiran sehatku. Tanpa sadar aku menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Pasti kau sedang beranggapan bahwa yang kulakukan ini salah, kan? Ah itu sudah pasti bahkan tanpa ditebak sekalipun,” ujarnya lagi.
“Oleh karena itu,” aku berusaha membalas ucapannya. “Oleh karena itu kau harus segera meninggalkan perbuatan itu.”
“Kenapa? Apa ada yang salah?” Yuva justru membalikkan pertanyaan lagi. “Bukankah tadi sudah kukatakan, sistem kaldier sudah eror sejak awal. Apa salahnya memanfaatkan kesalahan sistem ini demi keuntungan? Bahkan,” Yuva mengambil jeda sesaat. “Kurasa para ilmuwan yang menciptakan alat ini sengaja membiarkan kesalahan ini agar kita bisa berpikir lebih efisien lagi.”
“Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu? Para ilmuwan yang menciptakan sistem ini adalah orang-orang baik yang ingin menyelamatkan umat manusia dari penyakit-penyakit mematikan. Agar kita yang berpenyakit ini masih bisa menikmati hidup tanpa harus berbaring di rumah sakit. Aku tidak bisa terima bila kau berprasangka buruk terhadap mereka,” bantahku tercuat spontan. Pemikiran Yuva semakin gila saja dan aku tak menyukainya.
__ADS_1
“Lantas, kenapa mereka tak memprogramnya untuk membedakan mana kepuasan yang didapatkan melalui perbuatan baik dan perbuatan jahat? Kenapa tidak memberitahukan secara jelas kalau harus menolong dalam kebaikan?”
“Itu ... itu ....” Pandanganku kembali tertunduk dan tak bisa menjawab apapun.
“Kau tak bisa menjawabnya, kan? Berarti spekulasiku tidaklah salah.” Yuva menutup kalimatnya dengan tegas lantas memalingkan wajahnya ke arah lain. Situasi yang mendiam di antara kami menjadi canggung.
Otakku berpikir keras untuk mencari cara agar Yuva mau menghentikan perbuatannya ini. Tanganku mengepal. “Tolong hentikan ini, Yuva. Aku sangat menentang bila kau sampai melakukan tindakan jahat seperti itu.”
“Jangan paksakan pemikiran idealismu itu padaku, Eldan,” tanggapnya semakin dingin. “Aku memiliki pemikiran sendiri. Apa pemikiran naifmu itu bisa menyelamatkanku?”
Dadaku bak diterjang ombak besar. Raut wajah Yuva tiba-tiba berubah lagi. Raut wajah itu seperti menunjukkan kesedihan, beban, marah, namun penuh keteguhan diri. Bila melihat ekspresi wajahnya itu, pendirianku serasa goyah. Aku bahkan tak sampai hati untuk memperingatkannya kembali. Ini sungguh rumit. Kepalaku tak sanggup lagi memikirkan apa yang seharusnya kukatakan dan kulakukan.
“Sudahlah, tidak apa. Bila kau masih tetap bersikeras untuk melarangku, aku tak keberatan. Itu artinya kau tak menginginkanku untuk hidup lebih lama lagi,” ungkapnya dengan wajah yang kembali terlihat tegas.
“Bukan begitu maksudku,” bibirku reflek membalas pernyataannya. Pembicaraan ini semakin rumit. “Aku hanya ingin membantumu mendulang Life Point dengan cara yang benar,” tambahku.
“Cara yang benar menurutmu, kan? Tapi tidak menurutku,” bantah Yuva. “Tak ada siapapun yang bisa menolongku saat ini. Tidak juga kau. Yang bisa menolongku hanyalah diriku sendiri. Dan aku akan melakukannya dengan caraku sendiri.”
“Yuva!”
“Kalau kau tak mendukung perbuatanku, setidaknya jangan menghalangiku. Aku tidak sepertimu yang beruntung, yang bisa mendapat angka-angka kehidupan dengan mudah. Aku masih ingin hidup lebih lama lagi.” Yuva mengakhiri kalimatnya seraya beranjak meninggalkanku.
Kemudian retakan pemisah yang selama ini sudah ada itu mulai melebar seperti jurang. Dengan peryataannya, dengan kalimatnya barusan, seolah\-olah Yuva memperlebar jarak di antara kami. Aku hanya bisa terpaku. Menerima konsekuensi atas apa yang telah kulakukan. Aku hanyalah seorang anak bodoh yang tak bisa berpikir dengan baik untuk menyelamatkan seseorang yang sangat kusayangi.
Yuva bilang aku hanyalah seorang anak yang selalu beruntung. Aku heran dari mana dia bisa menyimpulkan hal seperti itu. Takkan mungkin ada anak beruntung yang lahir tanpa ayah. Takkan mungkin ada anak beruntung yang lahir dengan membawa virus penyakit dari orang tuanya. Yuva seperti sudah melupakan bahwa aku juga berbagi nasib yang sama dengannya.
Terserahlah. Mungkin hanya itu yang bisa kudenguskan lewat napasku. Bila Yuva memang berpikiran seperti itu padaku, biarlah. Menjelaskan padanya juga takkan menghasilkan hal yang bisa membuatnya berhenti untuk menolong kejahatan. Sebaiknya aku harus memikirkan cara untuk menghentikan dan membuatnya yakin untuk menggunakan cara yang lebih baik. Andai aku sendiri tak bisa melakukannya, tidak ada salahnya meminta bantuan.
__ADS_1