Ksatria Altair

Ksatria Altair
Melihat ke langit


__ADS_3

Inaho memasuki kamarnya setelah mandi. Ia mengenakan jubahnya dan duduk di jendela memandangi bulan. Dua sosok muncul dan duduk di atas kepalanya dengan ukuran setinggi telapak tangan. Mereka duduk dengan tenang di atas rambut Inaho.


Inaho mengeluarkan sebuah seruling, itu adalah hadiah yang diberikan neneknya. Seruling dengan ukiran naga yang panjang berwarna biru muda. Ia meletakkannya pada bibirnya lalu meniupnya.


Ia memainkan seruling itu dengan merdu memenuhi tempat tinggal. Orang-orang yang berada di sekitar menikmati merdu suara seruling ini. Kalau diperhatikan dari musik yang dinyanyikan Inaho, itu mengandung sedikit kesedihan dalam hatinya.


Ayah dan ibunya yang melihat Inaho duduk di jendela seperti itu merasakan berbeda. Mereka paling tahu tentang anak mereka.


"Sepertinya ia mendapatkan peri ketika ia pergi ke hutan"


"Aku harap ia bisa memperkenalkannya kepada kita"


Ibu menempelkan kepalanya ke bahu suaminya. Duduk di bawah sinar rembulan membuat mereka mengenang masa lalu yang panjang.


---


Di sisi lain


Miyuki duduk di dalam pavilium batu sambil memandang bulan. Ia mengeluarkan sisik yang ia kalungi. Ia mengingat Inaho.


Putri Hou yang duduk di depannya dengan wujud Avatar kecilnya meminum secangkir teh.


"Apa kau memikirkannya?"

__ADS_1


Muka Miyuki menjadi memerah langsung melirik putri Hou "Apa yang kau bilang?"


"Oo, terlihat dari raut wajahmu sepertinya kau sangat sedih berpisah dengannya"


Miyuki menundukkan kepalanya "Aku tidak tahu kapan kami bisa bertemu, atau apakah kami bisa bersama?"


"Aku yakin kalian pasti bertemu" ia berdiri di atas meja dengan badan yang mungil imut. "Itulah kenapa ia memberikanmu sisiknya untuk ia bisa menjagamu dan menemukanmu"


Miyuki terkejut dengan apa yang putri Hou katakan


"Kaisar altair juga dulu memberikan sisiknya kepadaku, walaupun dalam keadaan sesulit apapun ia melindungi ku bahkan ia selalu mengunakan tubuhnya untuk memblokir serangan yang menuju ke arahku"


"Sepertinya ia sangat menyukaimu" Miyuki tersenyum kepada putri Hou


"Apa yang kalian bicarakan?" sosok perempuan dengan rambut merah kebiruan muncul


Miyuki langsung menengok lalu memeluk sosok tersebut "Ibu, apa yang Ibu lakukan malam seperti ini?"


"Seharusnya ibu yang bertanya kepadamu apa yang kau lakukan, ibu melihatmu termenung melihat bulan tidak seperti biasanya" Ia pun membawa putrinya duduk di sebelahnya


Gaun merah mencolok membuat sosoknya bersinar


"Ia sedang jatuh cinta" Kata-kata putri Hou membuat ibu Miyuki terkejut lalu memandang anak perempuannya yang telah memerah malu

__ADS_1


"Bagaimana laki-laki yang membuat putri ibu jatuh hati kepadanya? coba ceritakan kepada ibu"


"Ibu jangan menggodaku"


"Ibu hanya penasaran, siapa yang membuat putri ibu yang sedingin es meleleh"


Miyuki menjadi semakin merah dibuat oleh ibunya


"Ia sangat tampan" putri Hou berubah menjadi proyeksi besar dengan ukuran tubuh setinggi ibu Miyuki.


"Apa kau mengenalnya?"


"Itu pertemuan ketiga mereka, pemuda itu cukup berani dan rela mengambil resiko untuk Miyuki"


Miyuki tidak bisa berkata apa-apa lagi dibuat oleh putri Hou


"Mereka sangatlah cocok"


"Banyak dari clan menyukaimu tapi kau menyukai laki-laki yang kau temukan" ibunya menggelengkan kepala


"Sepertinya kau mewarisi sifat seperti ibu"


Miyuki memandangi ibunya

__ADS_1


"Cucu para tetua berebutan siapa yang ingin menjadi tunanganmu tapi dengan ini ibu bisa menutup mulut para tetua"


__ADS_2