
Wahai bintang kecil
Bersinar dengan terang
Terlihat sangat indah
Melangkahlah... bawa serta cintaku
Seperti memainkan sebuah musik
Aku percaya padamu, tak peduli apapun yang terjadib
Yang terjatuh bersamaan dengan air mata
Menyelimuti diriku dengan kelembutan hati
Aku ingin melihatmu tersenyum sekali lagi
Ada apa di dalam hatimu?
Melangkahlah... menjadi cinta
Di dalam cahaya
Semuanya akan baik-baik saja,tak peduli bagaimana masa depan kita nanti
Karena esok matahari kan terbit
***
Musim semi... Apa yang kau pikirkan saat mendengar kata musim semi ?
Kebanyakan akan membayangkan bunga-bunga cantik bermekaran.
Tapi, sepasang insan yang berdiri berhadapan di belakang taman sekolah tampaknya tak terganggu atau bahkan tak peduli dengan datangnya musim semi.
"Aku sudah lama memikirkan ini, dan aku rasa aku menyukaimu." begitulah ucap anak laki-laki yang berseragam sekolah itu. Terdengar Klise memang, tapi itulah yang dirasakannya saat ini dan dulu. Hingga keberaniannya dipupuk dari kemarin malam agar di berani mengucapkannya.
Gadis itu mengangguk tak lama kemudian setelah memikirkan beberapa saat berpikir, lantas membuat laki-laki yang berdiri dihadapannya tersenyum dan menarik dirinya kedalam dekapannya.
"Ini hari pertama kita." ucapnya pada gadis yang ada di dekapannya.
"Iyah, ini hari pertama kita." jawab gadis itu tersenyum manis.
EPS 1
"Ternyata bener ya kata mereka,
'Kamu'
__ADS_1
terlalu salah untukku perjuangkan."
________________________________________
"Lia...Sesilia Ayunda!"
Yang dipanggil tak kunjung merespon membuat sang pemanggil berdecak sebal.
"Nona Sesilia Ayunda, apa anda punya waktu sebentar ? saya ingin mengatakan sesuatu." ucapnya dengan sopan membuat gadis bernama Lia terkekeh.
"Apaansih Za,gak usah pake kata seformal itu juga kali Zahra Lingling."
"Ih...situ dipanggil gak denggar, tiba pake bahasa formal baru deh ngerespon." ujar Zahra sebel dan duduk disamping Lia yang lagi sibuk makan baso. "Jangan-jangan lo keturunan ningrat Li,makanya kaya gitu. Coba deh lu periksa silsilah keluarga lo. Pasti ada! mungkin eyang lo,atau eyangnya eyang lo." cerocos Zahara tanpa henti.
"Apaan sih Za, mana ada yang gitu-gitu di keluarga aku. Udah aku cek 1 bulan 30 hari!"
"Jodoh lo mungkin. Kalo bukan keluarga lo kan bisa jadi jodoh lo yang keturunan nigrat."
"Udah deh Za, jadi lo mau ngomong apaan tadi makanya nyamperin kesini?"
"Bener-bener aku sampe lupa. Seluruh kelas gosipin lo. Kabarnya sih mereka lihat lo di belakang taman sekolah bareng kakak kelas. Siapa sih namanya? susah banget diingat. Itu...yang anak basket." ujar Zahra nunjuk-nunjuk lapangan basket.
"Oh...Marchel."
"Bukan, seinget aku ada Ano-ano nya deh. Bukan itu."
"Yah bener dong gue Za, namanyakan Marcheliano Alderic."
"Kenapa ? mau lo tikung?"
"Ih kok gitu si lo Li. Serius nih,beneran gak?"
"Beneran. Terus kenapa?"
"Traktir dong...masa jadian gak ada makan-makannya sih." ujar Zahara memelas,tersenyum merayu Lia. Tak kunjung mendapat respon Zahra lantas langsung memesan makanannya, "Bu, Baso pedesnya satu yah." teriaknya pada Ibu kantin.
"Eh,kok dipesan? Aku belum bilang 'Iya' loh yah." ujar Lia menatap Zahra.
"Lama,keburu lapar akunya." cengir Zahra.
"Habisin. Gue balik luan ke kelas." ujar Lia seraya meletakkan uang baso untuk dua porsi dan cabut meninggalkan Zahra di kantin.
"Mau kekelas apa kekelas abang kelas nih ? Kan searah gitu. Sekalian dong yah." goda Zahra pada Lia yang menutup wajahnya karena malu.
"**** amat. Mau-mau aja nerima Marceliano jadi pacar. Kok **** gitu sih Li. Percuma deh lo anak ranking 1 di kelas." ujar Zahra geleng-geleng kepala menatap kepergian Lia.
_________________________________________
Musim semi tahun ini mungkin lebih cerah dari musim semi beberapa tahun yang lalu. Mungkin itulah mengapa sosok gadis yang berjalan diabawah pepohonan di pinggir jalan trotoar itu tersenyum sambil mendengarkan sebuah lagu yang keluar dari earphone miliknya. Jarang sekali ia memulai harinya dengan sebuah senyuman.
__ADS_1
"Lia, sini. Barengan yah masuknya."
Lia tersenyum dan mengangguk tanda setuju pada siswa yang berdiri disampingnya kini.
"Hari ini aku ada pertandingan. Nonton tidak?"
"Hari ini yah ? aku pikir aku gak bisa,aku harus jemput sepupu aku di bandara pulang sekolah nanti." jelas Lia pada Marchel.
"Tidak apa-apa. Ini hanya tanding biasa bukan event besar."
Lia tau Marchel hanya mencoba mengerti meski kenyataannya yang katanya hanya tanding biasa adalah sebuah pertandingan basket antar Provinsi.
"Nanti kalo jemput sepupu aku lebih cepat kelarnya aku bakal nonton deh." ujar Lia membuat Marchel mengangguk meski tak berharap banyak untuk itu.
"Aku duluan. Makasih udah diantar." ujar Lia dan masuk kedalam kelasnya.
Marchel mengangguk meski ingin sekali mengatakan, "Sejalan kali,makanya gue tawarin masuk gedung sekolah bareng." Tapi Marchel masih punya hati,takut dikata sebagai cowo yang tak ada romantis-romantisnya atau cowo yang pacaran hanya sekedar biar status jomblo hilang.
Karena pada dasarnya pasti semua akan bertanya ketika Marchel mengatakan kalimat itu, 'Kalo beda arah,berarti gak diantar dong yah.' atau 'Kalo beda arah lo antar dia apa enggak?' kalimat-kalimat sejenis itulah yang akan terdengar nantinya.
Marchel melanjutkan langkahnya ke kelas nya, meninggalkan kelas Lia yang ribut akibat dia mengantarkan Lia sampai ke depan kelas pagi ini.
Marchel jadi kebayang apa kabar nanti ributnya jika ia dan Lia diantar sampai pelampinan? putus kali yah itu pita suara sakin kuatnya teriak-teriak.
"Eh Chel,tau gak ? mantan lo udah pacaran lagi."
Hayalan Marchel seketika buyar akibat suara bass milik temannya atau mungkin teman Iya-iya versi mereka.
"Pagi-pagi berita lo buruk banget. Gue pingsan lo sanggup gak ngangkatnya sampe UKS?" ujar Marcel meletakkan tasnya di bangkunya dan berjalan menghampiri Vino yang tengah duduk bersama Raja dan Riki di belakang kelas.
"No, lo tau dari mana? lo stalker yah?" hardik Marcel menunjuk Vino.
"Bukan gue, noh...si Raja....di stalker sampe ke akar-akarnya."jelas Vino menunjuk Raja yang tengah menscroll layar ponselnya.
"Gile banget si loh Ja, gue masih ada nomornya nih. Mau?" Marchel mengeluarkan ponselnya. "Udah gue kirim tuh. Sikat lah." ujar Marchel mengundang tawa Riki dan Vino.
"Eh, lo gak sedih atau apa gitu? secara kan lo pacaran sama dia itu bukan hitungan bulan. Hitungan tahun man." ujar Riki.
"Yailah, mantan ngapain disedihin. Udah mantan juga." jawab Marchel yakin.
"Bener bray." ujar Vino dan menepuk pundak Marchel bangga.
"Mantan terindah kan paling sulit di lupain. Ntar juga pas ketemu lo bakal salting sendiri." ramal Riki.
"Ki lu kayaknya perlu pacar deh. Biar tau artinya mantan. Mantan, mana ada yang terindah. Kalo indah gak bakal putus kami dulu." jelas Marchel.
"Bener. Cari pacar dulu sana." ulang Vino.
"Lo diem aja. Lo juga gak ada pacar." ujar Riki.
__ADS_1
"Udah gak usah ribut. Raja keganggu nih stalker nya." potong Raja membuat ketinganya diam.
_________________________________________