Kumpulan Novel

Kumpulan Novel
8


__ADS_3

"Kai, lihat apa?" tanya Xiumin.


Kai yang sedang melirik lirik keluar jendela cafe langsung menoleh pada Xiumin sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Kupikir... aku mengenal gadis yang baru saja lewat."


"Emang siapa?" giliran Suho yang bertanya.


"Ehm, Syera?" Kai malah bertanya bukannya menjawab pertanyaan. Jenius memang.


Xiumin yang lebih mengenal Kai tentu tau siapa itu Syera bagi seorang Kai, namun bukannya menghibur Xiumin malah menertawainya. "Dengerin yah Kai, belum move on sih bisa... Tapi jangan berhalusinasi juga. Syera gak mungkin ada di Korea."


"Kan orang tuanya sendiri yang bilang kalo Syera udah pergi keluar negeri." lanjut Xiumin.


"Siapa itu Syera?" akhirnya Suho bersuara setelah membiarkan Xiumin menyelesaikan pembicaraannya.


Xiumin melirik Kai sebelum menjawab pertanyaan Suho yang diberi tanda gelengan Oleh Kai. Namun saat Kai  menggeleng Suho malah melihatnya, membuat Kai mendegus pasrah yang membuat Xiumin terkekeh.


Suho melihat kearah Xiumin, menuntut untuk segera menjawab pertanyaannya.


"Mantan kekasihnya." jawab Xiumin singkat.


"Hyeong... " ucap Kai pelan.


"Apa ? Dia kan memang mantan kekasih mu." Xiumin membela dirinya sendiri.


"Kami belum putus. Jadi belum ada kata mantan kekasih." jawab Kai tegas yang membuat Xiumin tertawa lagi.


"Kau ini bodoh yah?" tanyanya pada Kai. Namun kemudian ia melihat kearah Suho, "Suho, jika kau memiliki kekasih dan kekasih mu pergi selama 2 tahun. Kau anggap dia apa? Dan apa hubungan mu dengannya?" tanyanya.


Suho yang tiba-tiba dilontarkan pertanyaan merasa bingung, "Aku?"


Xiumin mengangguk.


Suho mengambil minumannya, duduk bersandar pada kursi sambil menyeruput minumanannya. "Jika aku memiliki kekasih dan dia pergi selama 2 tahun? Kuanggap berakhir sudah. End." jawab Suho enteng.  "Emang kenapa?" tanya Suho bingung.


"Itu, kekasih Kai pergi selama 3 tahun tanpa kabar dan Kai kekeuh nganggap Syera itu kekasih nya." jelas Xiumin.


"Wah, segitu cintanya yah?" tanya Suho.


Kai diam. Tak ingin menjawab pertanyaan.


"Cinta pertamanya waktu SMP." Xiumin menjawab.


"Cinta pertama memang jarang berhasil dan paling sulit di lupain." ujar Suho pada Kai.


"Hyeong, Syera itu berarti untukku. Kalian pikir aku bisa bermain basket karena siapa? Syera." jelas Kai.


"Oke, dia memang berarti untukmu. Bagaimana dia? Kau berarti untuk dirinya?" Xiumin bertanya lagi.


"Kai, tadi kau melihat dia jalan dengan siapa? Laki-laki bukan? Itu tandanya dirimu tidak terlalu penting baginya. Bahkan dia sudah memiliki laki-laki yang akan terus berdiri disampingnya. Sadarlah!?" lanjut Xiumin.


"Hyeong, aku pulang duluan." ucap Kai. Ia meraih tasnya dan menyampirkannya dibahunya. Berjalan keluar dari Cafe. Meninggalkan Xiumin dan Suho disana.


"Hyeong, apa kau tidak terlalu kasar bicara padanya?" tanya Suho.


"Suho, sudah 3 tahun berlalu. Itu waktu yang lebih dari cukup untuk memperbaiki hati yang hancur. Aku tidak punya cara lain."


"Tapi Hyeon--"


"Sudahlah, biarkan saja. Dia sudah lama hidup dalam bayang-bayang Syera."


Suho akhirnya mengangguk.



Angin yang berhembus dan suasana yang hening membuat Krystal termenung di bawah pohon di taman perumahan mereka.


"Kau ingin menjelaskan pada mereka? Lupakan. Jika kau ingin menjelaskannya, jelaskan saja. Aku tidak peduli." ucap Krystal.


Sehun berjalan mendekat kearah Krystal, berdiri tepat disampingnya. "Krys, ayo jelaskan semuanya bersama-sama." kali ini Sehun berucap lembut.


"Tidak. Aku tidak punya waktu hanya untuk menjelaskan masa lalu atau apapun itu. Aku harus segera menyelesaikan laporan masa pertukaran pelajar ku." jelas Krystal seraya berjalan menjauhi Sehun.


Sehun menggenggam pergelangan tangan Krystal. Menahan gadis itu agar tidak berjalan barang selangkah pun.


"Kau sudah mau pergi lagi? Bahkan ini belum genap satu bulan kau belajar disini?"


"Aku tidak butuh berlama-lama disini. Aku sudah mendapatkan apa yang kumau. Dan seharusnya aku tidak meminta lebih." jawab Krystal sambil melihat tangannya yang di pegang oleh Sehun dan dilepaskannya secara perlahan. Berjalan menjauhi Sehun.


"Krys, aku sungguh minta maaf untuk itu." teriak Sehun.


Dering ponsel membuyarkan lamunan Krystal. Lantas melihat siapa yang meneleponnya.

__ADS_1


"Ada apa Syera?"


"Aku hanya ingin keluar apartemen. Di kulkas tidak ada makanan. Kau kapan pulang?"


"Siang nanti. Aku masih ada urusan dirumahku. Kau bisa berjalan lurus dan belok ke arah kiri. Kau akan menemukan supermarket disitu. Jagan tersesat. Itu sudah rute yang paling mudah." Krystal mengingatkan. Jika Syera tersesat juga, mungkin dia harus menggambarkan peta untuk Syera atau mengajarkan Syera untuk menggunakan google maps.


"Baiklah. Hati-hati dijalan. Aku pergi dulu." ucap Syera dan panggilan terputus setelahnya.


Krystal meletakkan ponselnya kembali, memandangi taman yang hanya ada dirinya disana.


Mengingat-ingat moment apa yang pernah ada ditaman ini.


Airmata Krystal menetes, kala ingatan Sehun dan dirinya yang bermain di taman ini lebih banyak teringat.


Ingatan ketika dia sering datang dengan Sehun kesini, bermain sepeda, menemani Sehun bermain basket dan hal lainnya.


Krystal terisak,kala ia menyadari tidak akan ada lagi Sehun disisinya. Tidak ada lagi laki-laki yang bernama Sehun dalam hidupnya.


"Kenaa--pa harus Dia yang kulihat ha--ri itu." ucap Krystal di sela-sela tangisnya.



Rambutnya ia tata dengan rapi, lengan bajunya digulung hingga batas siku, dan juga sebuah jam yang tak lupa di lingkaran pada pergelangan tangan.


Satu kata untuk penampilan Chanyeol hari ini, Tampan.


Di hari minggu yang cerah, Chanyeol rela bangun pagi-pagi untuk menemani kekasih sahabatnya sekedar jalan-jalan.


Setelah puas memandangi diri di depan cermin Chanyeol melangkah keluar dari kamarnya. Baru beberapa langkah menuruni anak tangga, Chanyeol berbalik dan manaiki anak tangga dan berjalan ke kamarnya.


"Disini rupanya kau." ucap Chanyeol pada kunci mobil yang tertinggal di atas meja disamping tempat tidurnya. Kemudian berjalan keluar dari kamarnya.


Penampilannya mungkin rapi, tapi sifat sembrono masih pelakat padanya.



"Yoona-ah, mau pergi kemana?" tanya Hee Jo pada Putrinya yang menuruni anak tangga dengan terburu-buru dan juga berpakaian rapi.


"Oh, Eomma." ucap Yoona refleks ketika melihat Hee Jo dan Seungho tengah duduk santai.


"Mau kemana Yoon?"tanya Seungho.


"Mau keluar sebentar Appa." jawab Yoona singkat.


"Chanyeol. Aku pergi dulu Ma, Pa." ujar Yoona sambil melambaikan tangannya.


Yoona mengambil ponselnya, mencari nomor seseorang dan meneleponnya.


Terhubung, Yoona bernapas lega.


"Halo" jawab seeorang diseberang sana.


"Aku sudah didepan rumah, kau sudah sampai mana?"


"Hampir sampai aku sudah bisa melihat mu dari sini."


Yoona menoleh dan benar saja ada mobil yang mendekat. Yoona memutuskan panggilannya. Membuka pintu mobil dan masuk kedalam.


"Kau lama sekali Chan. " desis Yoona.


"Maaf, aku ke lupaan menaruh kunci mobil." jawab Chanyeol.


"Jalan." ujar Yoona kesal.


Chanyeol mengemudikan mobilnya meninggalkan kawasan rumah Yoona.


"Kita akan kemana?" tanya Chanyeol pada Yoona.


"Kemana saja. Yang penting ramai dan banyak hiburan." jawab Yoona.


"Baiklah. Kita ke Cafe Destiny." ucap Chanyeol pasrah. Padahal semalam Yoona yang mengajaknya keluar, dan sekarang? Dia bertingkah seperti Chanyeol yang memaksanya pergi.



Final semakin dekat membuat Sehun harus lebih keras lagi latihan. Diambilnya bola basket dan berjalan keluar dari rumahnya menuju lapangan basket didekat taman.


Ia bermain basket sendiri.Mendrible bola, shoot semuanya di latihnya.


Waktu terus berjalan, tak kenal lelah Sehun terus melakukan hal itu berulang-ulang.


Sampai suara itu menghentikan pergerakannya.

__ADS_1


"Sehun, kau disini rupanya."


Sehun menahan bola yang ingin di shoot nya. Menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang memanggilnya barusan.


"Chanyeol ternyata kau. Suara mu sedikit aneh." ujar Sehun.


Chanyeol melangkah semakin mendekat, berdiri tepat didepan Sehun.


"Aku ingin mengatakan sesuatu." ucap Chanyeol datar.


Sehun terkekeh, "Ya! Kalo mau bicara, bicara saja. Serius sekali." ujar Sehun dan berbalik untuk melakukan Shootnya yang tertunda.


Chanyeol menghela nafas, menyakinkan bahwa tindakannya ini benar. "Aku menyukai Yoona kekasihmu." ujar Chanyeol dalam satu kali tarikan nafas.


Bola yang dipegang Sehun tergelinding kebawah. Sehun masih tetap diam membelakangi Chanyeol.


Melihat kediaman Sehun, Chanyeol melanjutkan ucapannya. "Aku menyukai Yoona sebelum kau menyukainya. Aku menyukai Yoona selama 17 tahun."


Sehun menunduk, berpikir jawaban apa yang harus diberikan-nya. sehun Menghela nafas berat sebelum berbalik menghadap Chanyeol.


"Maaf Chan, aku tidak bisa."


Chanyeol mendengus tidak suka. Ingin sekali rasanya menghantam wajah Sehun dengan kepalan tangannya. Kenyataan bawa Sehun adalah sahabatnya membuatnya harus menekan emosinya dalam-dalam.


"Baiklah. Kalo begitu berikan aku Krystal." ujar Chanyeol santai.


Sehun menggeleng. Membuat Chanyeol semakin frustasi dan mungkin benar-benar akan menghantam wajah Sehun.


"Ya! Brengsek! Kau tidak bisa memiliki keduanya. Kau harus melepaskan salah satunya!Brengsek!." maki Chanyeol.


"Chanyeol, aku juga ingin seperti itu. Tapi mereka berdua penting bagiku." jawab Sehun.


"Tidak. Bukan mereka, tapi hanya Krystal." ujar Chanyeol. "Aku menanti keputusanmu." lanjut Chanyeol sebelum meninggalkan Sehun.


2 jam yang lalu


"Chan, menurutmu Sehun mencintaiku?" tanya Yoona.


Chanyeol terdiam, berpikir jawaban apa yang harus dia berikan. Menurut pandangannya, Sehun tidak mencintai Yoona dan tidak juga menyukai Yoona. Sehun hanya ingin Yoona tetap disisinya.


Tak menerima jawaban, Yoona menedang kaki Chanyeol tepat ditulang keringnya. Membuat Chanyeol secara refleks berteriak kesakitan.


"Jadi jawabannya apa?" Yoona bertanya lagi. Menghiraukan rasa sakit yang diterima Chanyeol oleh perbuatannya sendiri.


"Ya! Kenapa kau tendang?" ucap Chanyeol sambil mengelus-elus kakinya.


"Jadi?" tanya Yoona.


"Dia mencintaimu." akhirnya Chanyeol memilih menyakiti hatinya sendiri demi Yoona.


"Tapi rasanya dia seperti menyukai seseorang." ujar Yoona.


Tentu, dia masih menyukainya. Tidak tidak, dia masih mencintai Krystal.


"Mungkin hanya perasaanmu saja." jawab Chanyeol.


"Kau benar, mungkin hanya perasaanku saja." ujar Yoona.


Chanyeol mengangguk.


Dalam selang 30 menit di Cafe Yoona sudah menanyakan hal yang sama selam 2 kali dan kejadiannya masih sama. Tulang kering Chanyeol selalu ditendang karna tak kunjung memberi jawaban.


Jika Yoona bertanya 1 kali lagi, mungkin Chanyeol akan benar-benar mengatakan jawaban yang sesungguhnya pada Yoona.


Namun Yoona hanya diam menikmat Ice Cream coklat miliknya, membuat Chanyeol bernafas lega karena tidak harus berbohong lagi. Jujur, Chanyeol paling anti berbohong.


Namun selang beberapa menit, Yoona bertanya lagi. Membuat Chanyeol menjawab segalanya dengan jujur menurut pandangannya pada hubungan yang dijalaninya dengan Sehun.


"Chan, aku yakin Sehun menyukai seseorang."


"Tentu dia masih menyukai Krystal, tidak, dia mencintai Krystal menurutku."


Yoona terdiam, lantas tersenyum sedih pada Chanyeol. Chanyeol yang melihat itu rasanya ingin menghilangkan Oh Sehun dari dunia ini.


"Tidak heran dia masih mencintai Krystal. Dan pantas saja terkadang dia memanggilku Krys." ucap Yoona pelan. "Mungkin, balasan atas perbuatanku sudah semakin dekat." lanjut Yoona bergumam.


Chanyeol diam,tapi tangannya sudah mengepal dibawah meja. Jika tidak ada Yoona dihadapannya, dia sudah berteriak dan memukul meja di hadapannya ini.


"Ayo kuantar pulang, tiba-tiba aku mengingat aku memilki urusan mendadak." ujar Chanyeol.


Chanyeol melangkah keluar diikuti Yoona yang berjalan tanpa semangat dibelakangnya.

__ADS_1


Setelah mengantarkan Yoona, Chanyeol langsung bergegas mengemudikan mobilnya mencari si brengsek Sehun yang membuat orang yang dicintainya sedih.


__ADS_2