Kumpulan Novel

Kumpulan Novel
02


__ADS_3

"I gave you the world because you are my everything"


_________________________________________


Lia mendegus kesal lantaran seisi kelasnya berteriak padanya. Bukan menghujat, tapi berteriak karena dirinya akhirnya memiliki seorang pacar.


"Yang punya pacar mah enak yah, dijemput dari rumah terus dianter ke sekolah sampe kelas lagi. Irit ongkos." goda Zahra bak seorang antis yang menentang hubungan idol yang seharusnya cukup seperti kata sindiran.


"Apaan sih Za,ketemu di depan tadi. Gak usah halu gitu deh."


"Halu gak salah Lia, asal yang lo haluin kenal sama lo. Gak kaya noh si Ajeng,halu bias mulu. Kenal juga gak tuh bias sama dia apalagi tau kalo si Ajeng hidup atau enggak, jangankan itu hal yang paling kecil aja dia tau gak ada nama Ajeng di dunia ini?" cerocos Zahra.


"Udah deh Za. Lo kaya gak pernah halu deh. Dan rasa gue halu lo lebih kebangetan dari dia. So please shut up, I want to study right now!" ujar Lia tegas membuat Zahra diam.


30 menit berlalu, 1 jam berlalu Lia masih tetap pada kegiatannya 'Belajar'.


Zahra memdengus kesal tandanya ia semakin bosan, kelas lagi kosong tak ada guru yang masuk untuk mengajar dari jam pelajaran pertama hingga pelajaran kedua saat ini, tapi nona yang duduk disebelahnya malah repot-repot belajar dimana seharusnya mereka tengah sibuk bergosip di kantin sambil makan.


"Lia,udahan dong belajarnya. Kantin aja yuk, lapar gue." rayu Zahra.


"Bentar, udah mau siap kok." jawab Lia dan masih berkutat dengan buku pelajarannya.


"Ya elah, lo udah bilang gitu setengah jam yang lalu, tapu gak kelar-kelar dari tadi." cibir Zahra.


"Sabar dong Za, ini juga tinggal satu soal doang." Lia menatap Zahra dan bukunya bergantian. "Dan selesai."ujar Lia dan menutup bukunya.


"Lumutan gue nunggu lo selesai jawab soal-soal kimia." ujar Zahra dan berjalan keluar kelas diiringi Lia yang berjalan disampingnya.


***


"Bu,baksonya dua yah." ujar Lia memesan makanan, "Es Teh nya juga Bu, 2 yah."


"Li, gue bingung deh...kenapa lo mau-mau aja terima Marchel, udah gitu gak pake diskusi sama gue lagi." Zahra menatap Lia dan Marcel yang duduk di sudut kantin secara bergantian.


"Makasih yah bu." jawab Lia dan Zahra bersamaan saat Ibu kantin memberikan pesanan mereka.


"Za, emang harus yah gue diskusiin semuanya sama lo? serius deh Za,ini masalah pribadi,kisah cinta gue. So, i don't have a reason to tell you about it. Lagian Za, Marcel baik kok."


"Ini nih mungkin yang dikatakan 'Tiba-tiba jadi **** pas kenal sama namanya Cinta.' bucin banget deh lo Li." ujar Zahra kesel sendiri.


"Wait, kok lo jadi kesel sih? Emang lo tau tentang Marchel? emang lo tau gue secinta apa sama Marchel makanya bilang gue bucin? Za, please stop say anything if you don't know the fact!."


"Okay, I'm stop say anything. So, can i tell you about one story who can make you changes your opinion about him?"


"Tell me." jawab Lia dan menatap Zahra penasaran.


***


"Cel, gue binggung kenapa si Lia mau sama Lo? udah jelas-jelas lo--" Vino menatap Marchel dari atas kebawah,geleng-geleng kepala saat sifat Marchel terpikirkan olehnya.


"Gue kenapa ? penampilan boleh urak-urakkan. So don't judge me from the cover." Merchel tersenyum menyerigai, menatap Vino, Riki dan Raja bergantian. "Dia diluar dugaanku atau bisa dikatakan, dia tidak sepintar yang kupirkan." jelasnya menatap Lia dan Zahra di bawah sana yang tengah jalan berdua keluar gerbang sekolah.


"She forget anything." Ujar Marchel bergumam.


"Hah? lo bilang apaan ?" Ujar Vino menatap Marchel yang geleng-geleng padanya. "Pulang yuk,gak betah gue diatap lama-lama." ujar Marchel dan hengkang duluan dari sana.


"Apa cuma gue yang denger?" tatap Vino pada Riki dan Raja bergantian yang dijawab dengan menganggkat bahunya dan meninggalkan Vino sendiri.

__ADS_1


"Sepertinya emang salah dengar. Tapi masa sih? telinga gue masih bagus." ujar Vino pada dirinya sendiri seraya menyurai rambutnya.


Vino berjalan keparkiran,masuk kedalam mobilnya dan menunggu para sahabat iya-iya nya datang.


"Lama amat jalannya. Gue tinggal kasihan lo pada." ceramah Marchel pada ketiga temannya.


"Buruan jalan, Pak LM galak. Telat di hari tanding bisa tewas kita." ujar Raja.


Marchel pun menghidupkan mesin mobilnya, dan mengendarai nya menuju lokasi pertandingan.


***


"Za, gue duluan yah. Gak bisa bareng lo pulangnya. Udah dijemput." pamit Lia dan menunjul mobil yang baru saja berhenti tepat di depan gerbang sekolah.


"Iya, pikirin baik-baik tentang yang gue ceritain Li." ujar Zahra seraya melambaikan tanggannya.


Lia hanya mengangguk sebagai jawabannya, "Pak,kita langsung ke bandara yah." pesan Lia pada supirnya.


"Baik Mba."


Lia meraih ponselnya,mengotak atik ponselnya sebelum mengapit ponselnya diatara teling dan tangannya.


"Halo." sapa Lia saat nada sambung terdengar.


"Ini Sesilia, wah...lama tak bertemu kau melupanku, hah? Sudah berapa lama yah ? hmmm jika dipikir-pikir sudah 7 tahun." ucap Lia terkekeh. "Aku lagi dijalan,kau sudah sampai? oh,cepat juga...Iyah, jangan kemana-mana, tunggu aku disitu. Sampai nanti." Lia memutuskan panggilannya dan menyimpan ponselnya kembali.


Pikiran akan ucapan Zahra kembali tergiang di pikirannya. "Tidak, Marcel bukan orang seperti itu." ujar Lia menepis pikiran-pikirannya.


"Ada apa Mba?"


"Ga ada pak." jawab Lia tersenyum kikuk.


"Gak kebayang pak, udah lama pisahnya udah 7 tahun. Kira-kira kelas 5 SD pisahnya. Lia udah mana ingat lagi. Tapi Lia yakin makin ganteng."


"Kalo itu Bapak yakin Mba, Mas Arvin pasti makin ganteng. Kecilnya aja udah gitu gantengnya."


"Bapak ini bisw aja. Kalo Arvin denger dia bisa kepedean loh pak." ujar Lia mengibaskan tangannya kearah pak Bandi.


Bagi Lia, Pak Bandi sudah seperti  keluarganya. Pak Bandi sudah menjadi supir keluarganya sejak ia kecil hingga sekarang ini. Lia juga merasa nyaman, Pak Bandi serasa sudah menjadi Ayah baginya.


"Mba, sudah sampai. Bapak tunggu disini saja yah."


"Ah iyah Pak. Lia aja yang jemput Arvin."


Lia pun beranjak membuka pintu mobil dan memasuki area bandara. Cukup lama mondar mandir sana sini karena lupa membawa ponsel, Lia dikejutkan oleh sentakan tangan yang menepuk pundaknya. Lia berbalik dan orang yang sedang ia cari-cari berdiri di hadapannya saat ini.


Dugaannya tak meleset sedikitpun, Arvin semakin tampan. Well, kadar ketampannya meningkat akibat ulah kacamatanya yang sedang dipakainya.


"Hello? Lia ?" ujar Arvin mengibaskan tanggannya di depan wajah Lia,akbiat keterdiaman Lia.


"Oh, iyah. Wah, Semakin tinggi aja yah Vin." ujar Lia kikuk.


"Semakin tampan juga kan ?" tanya Arvin sambil membuka kacamatanya.


"You know my answer,Vin." jawab Lia dan berjalan meninggalkan Arvin yang rasanya akan semakin narsis jika diladeni.


"Kesini bareng siapa? tante? om ? sendiri? kalo sendiri gak mungkin sih, kan gak dikasih nyetir sendiri." ejek Arvin diakhir kalimatnya.

__ADS_1


Lia mendengus. Iyah, Lia adalah putri keluarga Ayunda, berumur 18 tahun dan dimanja oleh keluarganya. Hingga detik ini, jam ini, hingga tahun berikutnya dan berikutnya lagi sangat kecil kemungkinannya ia boleh membawa mobil sendiri.


"Sama Pak Bandi. Tuh, bisa lihatkan ?" ujar Lia kesal dan langsung merengsek masuk kedalam mobil tanpa memperdulikan Arvin.


"Mas Arvin nya dimana Mba?" tanya Pak Bandi yang melihat Lia datang sendiri.


"Lagi dijalan menuju kemari. Itu, udah mau sampai pak."


"Mba ini, udah kelas 3 SMA loh...masa terus berantem sama Mas Arvin asal ketemu." ujar Pak Bandi yang sudah paham betul jika keduanya dipertemukan.


"Gak tau ah Pak. Arvin rese banget." jawab Lia dan langsung meraih ponselnya dan earpohone saat Arvin sudah membuka pintu mobil disamping Pak Bandi.


"Pak, bukain bagasinya yah."


"Oke Mas."


Arvin memasukkan barang bawaannya kedalam bagasi kemudian membuka pintu depan dan duduk di samping Pak Bandi.


"Kenapa dia?" tanya Arvin menoleh pada Lia yang menutup mata dan kedua telinganya memakai earphone.


"Marah sama mas mungkin." ujar Pak Bandi yang menatap fokus pada jalanan.


"Padahal saya hanya bilang faktanya loh Pak." ujar Arvin yang melihat Lia yang menutup mata dan kedua earphone yang terpasang di kedua telinganya.


"Mas ini sudah tau Mba Lia nya gak suka disinggung tentang masalah nyetir,malah di bahas dan di buat jadi bahan ejekan."


"Iyah Pak,saya yang salah." jawab Arvin pada Pak Bandi kemudian melihat Lia. "Ok, What do you want? I will answer 'yes' for all about you want?"


Lia membuka matanya, melepas earphonenya setelah mendegar ucapan Arvin. "Are you serious? really?"


"Of course."


"Kita nonton Basket sekolah aku. Gak boleh nolak karna lo udah bilang akan bilang ia untuk semua keinginan gue."


Arvin menggeram,bukan karena marah pada Lia tapi karena bahasa yang Lia gunakan.


"Oops, Maaf Vin. Gak sengaja."ucap Lia cegigiran pada Arvin.


Arvin, tidak bukan Arvin tepatnya keluarga Arvin terbiasa menggunakan bahasa yang sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Itulah mengapa,hingga detik ini Arvin tidak suka mendengarkan orang berbicara menggunakan bahasa 'lo gue'.


Padahal keluarga Arvin bukanlah seorang keturunan Nigrat,tapi yah...karena Om dan Tante Thahir mendidik anaknya dengan begitu,jadilah hingga sekarang Arvin menjadi begini.


"Pak ke Sekolah Nusa dua aja yah pak." ujar Lia yang memainkan ponselnya.


‘Acaranya udah selesai belum? kalo belum aku mau kesana.’ send to Marchel ❤


‘Gak jadi tandingnya,menang KO karena lawannya gak datang.’   Marchel❤


‘Yaudah,aku langsung balik aja yah. Bye  send to Marchel ❤


Lia mengehla napas dan menyimpan kembali ponselnya. "Pak kita pulang aja yah, udah selesai tandingnya."


***


Lia membuka pintu mobil dan langsung melenggang masuk kedalam rumah.


"Bi,buatan makanan untuk Arvin yah." ujar Lia dan menaiki anak tangga.

__ADS_1


Pikirannya kembali kalut. Ucapan-ucapan Zahra entah mengapa kembali terbayang-terbayang di pikirannya. Sekeras apapun ia meyakinkan diri untuk percaya pada Arvin, tapi ucapan Zahra seolah-olah nyata dan benar ada kejadiannya.


"What do I can do If he truly like that? Broke up is the one way I have." ujar Lia lirih.


__ADS_2