
Malam yang gelap telah sirna. Sorot hangat mentari mulai menerangi bumi. Di Gene Island, yang merupakan tetangga dari Kerajaan Cordovan, 4 musim masih terjadi. Seluruh Benua Britani tidak terkena imbas kutukan penyihir Maxi, hanya Cordovan saja. Kisah detailnya, tidak ada yang mengetahui. Rumor-rumor mengatakan, kejadian ini ada kaitannya dengan bangkitnya Ratu Jelliza dari kematian. Tapi, belum pernah ada yang menyelidiki kebenaran rumor tersebut.
Bibbi masih terkulai tak berdaya dengan punggung gosong dan baju sobek akibat sambaran petir semalam. Wajahnya tampak berdarah karena menghantam tanah berbatu. Barang bawaannya berantakan dan sedang dicuri oleh beberapa hewan pengerat kecil yang sejak tadi mengawasi. Mereka bergerak begitu mengetahui Bibbi tidak mencoba menghardik kawannya yang menjadi umpan. Tikus-tikus dan tupai-tupai berebut remah roti serta buah dan rerumputan yang terhambur di sepanjang jalan.
*
"Kita sudah sampai di Gene Island, Yang Mulia,"
Sir Albert yang sedang memandu jalan, melapor kepada atasannya. Raja Cordovan mengangguk dan memintanya meneruskan perjalanan. Semakin lama ditunda, semakin buruk akibatnya untuk Isyana. Ia tak tahu harus berbuat apa jika nyawa istrinya terancam hanya gara-gara durasi perjalanan yang panjang.
"Lapor! Panglima! Ada seseorang yang terluka," seorang Ksatria Suci yang ada di barisan terdepan sebagai telik-sandi, tergopoh-gopoh melapor pada komandan tertinggi kuil suci.
"Dimana?"
"Di sana, Tuan Panglima!" Ksatria itu menunjukkan lokasi penemuan korban. Rombongan pasukan pencari berderap menuju ke arah yang disebutkan. Seorang wanita terlihat pingsan di jalan. Bajunya sobek dan wajahnya terluka. Barang bawaannya terlihat berserakan.
"Bantu dia!" Perintah Panglima Suci pada bawahannya. Dua orang ksatria mengangkat gadis itu ke pinggir jalan dan mulai membersihkannya sebelum memulai proses penyembuhan.
Panglima Suci turun dari kuda dan memantau perkembangan gadis yang baru saja mereka temukan. Ksatria suci yang bertugas membersihkan lukanya mengangguk, tanda proses selanjutnya dapat dilakukan. Panglima Suci berlutut dan berdoa, kemudian mengumpulkan mana penyembuhan dari kedua tangannya.
Cahaya putih berkilat muncul di antara tangan kanan dan kiri milik Panglima Suci. Ketika telah membulat sempurna, ia lalu melemparkan bola sihir penyembuhan itu pada gadis malang yang sedang terbaring di bawah pohon rindang.
PYAAASSSHH
__ADS_1
DUNG
BLARRRR
Bola sihir penyembuhan memantul dan terbakar di udara. Semua orang terperanjat tak percaya. Panglima Suci sudah memperkirakan bahwa hal ini bisa saja terjadi, sehingga, para ksatria yang tidak berkepentingan harus menjaga jarak.
"Bagaimana itu bisa terjadi, Tuan?" Salah seorang ksatria suci bertanya keheranan. Panglima Suci mencoba menganalisis gadis yang sedang terbaring itu.
"Coba periksa lehernya, ada liontin biru atau tidak?" ujarnya kemudian. Dua ksatria yang tadi membopong si gadis lalu memeriksa leher pasien, benar rupanya, ada sebuah kalung dengan liontin biru yang menggantung pada leher kecilnya.
"Dia adalah penyihir," tukas Panglima Suci kemudian menghela nafas panjang dan mengurungkan aksinya untuk mentrasfer mana sihir penyembuhan pada gadis tersebut. Seorang penyihir tidak bisa menerima kekuatan suci karena energi sihir mereka bertentangan. Padahal, sihir penyembuhan dapat menyembuhkan luka apapun dalam sekali pakai. Sayangnya, penyihir tak bisa menerima kekuatan dari dewa karena esensi mana mereka berbeda. Sihir hitam dan sihir putih tak bisa bersama.
"Lalu, bagaimana nasibnya, Tuan?" salah seorang ksatria yang sedang di samping gadis itu merasa kasihan atas nasibnya. Jika tak segera ditolong, kemungkinan nyawanya akan berada dalam bahaya. Panglima Suci menggeleng dan merasa tak bisa melakukan apa-apa. Rajs Cordovan yang sedari tadi hanya menyaksikan, kali ini maju mendekat dan memanggil Sir Roy untuk memeriksa kondisi gadis itu.
"Biarkan dia yang memeriksanya, Sir Roy adalah paramedis di kesatuan kami," titah Raja. Sir Roy pun mendekat dan mendapati luka bakar yang cukup parah ada di punggung gadis itu. Dengan sigap, Sir Roy mengoleskan salep herbal yang dapat menyembuhkan luka bakar secara efektif. Salep itu berasal dari air liur penyu dan juga sisik ikan duyung yang harganya sangat mahal. Paramedis kerajaan memiliki stok salep ajaib itu karena harus merawat ksatria bahkan raja yang kemungkinan terluka ketika berperang.
"Kau gila? Kau saja yang di sini, Sir Hugh, kau temani dia. Pasukan lain, bergerak sesuai rencana," perintah Raja Markian.
Sir Roy merengut, Sir Hugh yang ada di belakangnya menepuk pundaknya untuk menghibur. Nasib mereka agak sial, harus ditinggal rombongan di pulau hantu seperti ini.
"Jahat ya, Sir Hugh, kita ditinggal," desis Sir Roy sambil menggelar peralatan medis yang dipunyainya di samping gadis itu. Meski tampak kesal, namun, Sir Roy adalah orang yang bertanggung jawab dan berhati hangat. Tentu saja ia juga tak akan tega meninggalkan seorang pasien begitu saja.
Aneka macam salep, obat dan juga perban tersedia kotak medis Sir Roy. Secara berkala, Sir Roy akan menindaklanjuti penanganan setelah reaksi salep terlihat baik.
"Sabar.. Sabar.. Nasib kita sedang sial," Hibur Sir Hugh. Ia lalu membantu Sir Roy menumbuk ramuan penurun demam. Kantong tanaman herbal yang ada di samping pelana kuda Sir Roy membawa bermacam-macam rumput dan akar herba untuk ditumbuk sebagai obat. Meski tak terlalu lengkap, namun, sebagai pertolongan pertama, tanaman-tanaman itu cukup berkhasiat.
__ADS_1
"Baiklah, kalian jaga diri baik-baik. Jika sudah bisa ditinggal, segera susul kami, HIYAH!" Raja Markian memacu kudanya supaya berlari kencang. Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu lebih lama lagi. Perjalanan mereka untuk sampai ke Menara tua hanya kurang dari sejam. Medan yang dilalui juga cukup mudah, tidak terlalu sulit seperti Hutan Padenville karena Hutan di Gene Island cenderung seperti hutan mati.
*
"Dimana aku? Akhhh... Sakit.... "
Isyana bertanya pada dirinya sendiri. Tangan dan kakinya terikat rantai besi. Posturnya tertekuk dengan wajah mencium dasar jeruji. Kali ini, kandang untuk mengurung Isyana menjadi lebih kecil. Ia tak bisa berbaring atau bahkan berdiri. Sungguh, kejam sekali perbuatan Venn pada gadis yang bahkan tak pernah mencuci baju sendiri.
"Aaaarrrggghhh!!! Keluarkan aku!!!" Teriak Isyana tersadar bahwa ia sedang disandera kembali. Ingatannya kabur akibat peristiwa semalam.
"Bibbi... " gumamnya teringat nasib sahabatnya yang terluka.
"Heh!! Nenek tua jahat!!! Kau apakan Bibbi!!! Dasar jahanam!!! " Umpat Isyana sambil terus meronta. Venn tidak sedang berada di Menara. Ia sedang berkeliling mencari bulu burung Abbys yang cukup besar sebagai aksesori pajangan di topi penyihir Maxi jika sudah bangkit nanti.
Suara Isyana yang memekik dan bergema di Menara tua itu hanya membuat takut burung-burung yang bersarang di atas atap. Mereka kabur berterbangan karena panik dengan pekikan putri yang mirip suara elang.
"HEH! BRISIK!!!!!"
Venn tiba-tiba muncul dari pintu depan, dengan jubah baru dan sebuah bulu indah dari burung Abbys yang baru saja dibunuhnya.
"KELUARKAN AKU!!!" Pekik Isyana tanpa lelah.
"IYA IYAA.. NANTI MALAM! BAWEL!" Venn mendelik, lalu beringsut ke kamarnya di lantai 2. Isyana kelalahan karena harus berteriak-teriak dan meronta tanpa henti. Suaranya menjadi serak, teriakannya mereda dan berganti isak tangis.
"Huuuu... Huuu.... Hikss... Hikks....Mark... Tolong aku... Hu.... Hu....," desisnya sambil berurai air mata. Tubuhnya sangat lelah dan sakit. Jeratan rantai di tangan dan kakinya sangat erat. Kurungan besi yang terlalu kecil membuat seluruh tubuhnya terasa dicabik-cabik. Isyana telah berputus-asa. Ia ingin mengakhiri hidupnya yang menyakitkan ini.
__ADS_1
...****************...
(bersambung)