Kutukan Penyihir

Kutukan Penyihir
The Royal Duel


__ADS_3


Raja Markian menyabetkan pedang emasnya dengan gagah berani, namun sayangnya, serangannya tidak berhasil.


Syung!


Blarrr!


Bola api berhasil menangkis kabut sihir yang ditimbulkan oleh Pedang Aura.


"Sial!" Raja berdecak dengan rasa kesal.


"Ha... Ha... Ha...! Manusia hina sepertimu tak akan bisa menyentuhku!" tukas Penyihir Maxi dengan kepercayaan diri penuh.


Mereka saling menatap dengan intensitas yang tajam. Raja Markian mengatur strategi, ia harus selalu mendekat ke arah Penyihir Maxi agar pertarungan dapat dikuasai. Sihir bola api milik Sang Penyihir tak dapat digunakan dalam pertempuran jarak dekat. Raja harus maju dengan gesit, agar penyihir terjepit.


"Hiyat!"


Raja melompat dan mendekat ke arah Sang Penyihir. Kali ini, sabetan pedangnya diayunkan dengan sekuat tenaga hingga hampir mengenai lengan Penyihir Maxi.


Set.


Penyihir berhasil menghindari serangan. Jubah hitamnya berkibar dalam embusan angin ketika ia berhasil melompat dan mengambang di udara.


Siuut


Blarrrr!!!


Lagi-lagi, serangan bola api dilontarkan. Kekuatannya setara dengan 3 kilogram meriam. Beruntung, Raja Markian berhasil lolos dengan kelincahannya menghindar. Lantai marmer istana yang awalnya begitu indah dan mempesona, kini, porak-poranda.


Raja kembali bangkit dengan tekad yang lebih membara. Pedangnya yang berkilau menyinari sedikit pojok istana yang gulita. Tidak ada siapapun, tidak ada suara apapun, hanya embusan napasnya dan tawa mengejek dari musuh yang sedang terbang di langit-langit istana.


"Turun, Kau! Dasar penyihir jahat!" Hardik Sang Raja, namun tak dihiraukannya. Penyihir itu sibuk membulatkan mana sihirnya untuk membuat bola api yang dapat menyerang Raja Kembali.


Siuuuut.....


"Hyaat!"


Blaarrr!!!

__ADS_1


Ledakan Bola api hampir kembali pada Sang Penyihir dengan ayunan pedang Sang Raja yang mengembalikan serangan. Pedangnya bertabrakan dengan bola api Sang Penyihir, sehingga menyebabkan ledakan energi dahsyat yang menerpa sekeliling.


"Tsk! Kurang ajar!"


Kali ini, Sang Penyihir mendekat dan menciptakan pedang dari sihir hitam. Ia pun melompat ke arah Raja dengan ayunan pedang yang membabi-buta.


"Hyaaat!"


"Hyaaaat!!"


Tring!


Tring!


Tring!


Dentingan Pedang Aura dengan Pedang Sang Penyihir menggema di seluruh Istana. Serangan demi serangan terjadi, dengan kedua pihak berusaha untuk mengalahkan satu sama lain. Pertarungan sengit yang mengancam jiwa itu terjadi begitu saja. Penyihir, yang tak memiliki kemampuan berpedang, hanya mengandalkan serangan yang membabi buta. Ia hanya piawai menangkis, tanpa dapat mencari celah untuk menebaskan pedang ke arah lawan.


"Hyaat!"


Penyihir menyabetkan pedang dengan lontaran mantra untuk memanipulasi energi gelap dalam melawan Raja. Namun, Raja dengan keahliannya yang terlatih, dengan sigap menghindari serangan tersebut.


"Uukkhhh!"


Raja terhempas dan terdorong cukup jauh, namun, tidak tumbang. Ia berhasil menyeimbangkan dirinya kembali berkat bantuan Pedang Aura. Dengan mata yang membara, kali ini, Raja melompat ke arah Penyihir dan menyerang dengan kekuatan penuh. Pedangnya menusuk ke arah tubuh Penyihir, menghasilkan ledakan cahaya yang menghancurkan perisai sihirnya.


BLAARRRR!


Perisai sihir telah rusak. Raja Markian tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyerang kembali dehgan serangan yang lebih mematikan.


"Hyaat!!!"


Crak!


Raja berhasil menyabetkan pedangnya dan melukai lengan Penyihir Maxi. Pedangnya berputar dengan kecepatan yang memukau sampai tak dapat dihindari oleh Sang Penyihir. Namun, sayang sekali, kondisi tubuh Sang Raja kurang prima, sehingga membuat serangan yang ditargetkan menjadi kurang mengena.


"Tsk! Hampir saja," gumam Sang Raja kurang puas dengan hasil serangannya. Seharusnya, ia menyerang dengan serangan yang lebih cepat dan mematikan.


"Aakkk!"

__ADS_1


Penyihir yang lengannya terluka parah, tampak berteriak kesakitan. Ia mundur sejenak, kemudian, dengan rasa amarah yang membuncah, ia mulai merapal mantra-mantra. Raja tak ingin kehilangan momen emas ini untuk sekali lagi mencoba peruntungannya. Kali ini, Raja menargetkan untuk menebas leher Sang Penyihir.


"MATI KAU!!"


Sedetik kemudian, Raja Markian menyerang Sang Penyihir yang terlihat sekarat dengan linangan darah pekat yang menggenangi lantai di kakinya.


SYUUUUK


DHUAAAARR!!!


Bukannya terkena serangan dan tewas, Penyihir Maxi justru bangkit menyergap dengan ledakan dahsyat yang muncul dari perisai sihir hitam yang kembali melindunginya. Raja Markian yang baru saja melancarkan serangan dengan tebasan pedang, terpental hingga menabrak dinding istana.


"Aakkkh.... Uhuk! Uhuk!" teriak Raja kesakitan dengan terbatuk darah.


"Ha.. Ha.. Ha.. Rasakan!! Kau memang Raja yang lemah! Tak pantas memimpin kerajaan! Menyerahlah! Kau takkan mampu menghadapiku!" ejek Penyihir Maxi dengan kesombongan dan ancaman, meski dengan lengan yang hampir putus.


Raja Markian tidak putus asa. Ia terlihat berusaha untuk bangkit kembali, meski terjatuh lagi. Agaknya, ledakan tadi melukai seluruh tubuhnya dengan cukup parah. Raja berusaha bangkit dengan bantuan pedangnya, namun, ia terjatuh dan limbung.


"Waktumu telah habis, Raja! Rasakan kekuatanku!"


Secara mendadak, Penyihir menciptakan jurang gelap di bawah kaki Raja yang tak dapat berdiri tegak. Melihat lantai marmer istana yang retak dengan tiba-tiba, Raja berusaha keras untuk menjauhinya. Ia dengan sigap melompati satu demi satu lantai yang hampir hancur itu agar tidak jatuh ke dalam jurang ciptaan Sang Penyihir.


"Sial!" rutuknya dengan suara lirih. Tenaga Raja hampir habis, ia merasakan staminanya menurun ke titik terendah. Namun, Raja tetap berusaha menghindari jebakan yang dibuat oleh Penyihir Maxi supaya tak sampai jatuh ke lubang hitam nan gelap di ujung bumi.


"Berlarilah! Berlarilah! Kau tak akan bisa kabur!" Hardik Penyihir Maxi dengan tenang. Seluruh lantai istana hampir menghilang dan digantikan oleh lubang gelap yang menganga dengan lahar panas di dalamnya. Lubang itu persis seperti kawah gunung berapi yang mendadak ada di Istana Cordovan. Raja Markian sebetulnya sangat panik dan frustasi, karena ia tak akan mungkin lepas dari situasi ini. Salah-salah, dalam hitungan detik saja, Raja akan tewas terpanggang di dalam kobaran jurang berapi yang saat ini sedang menanti kedatangannya.


"Hyat!"


Kaki Raja tetap melompat lincah menghindar retakan lantai yang menganga menjadi jurang, namun, sayang sekali, itu adalah lantai terakhir yang dapat ia pijak.


"Aaarrrrggggghhhh!!! "


Raja tergelincir dan akhirnya jatuh ke dalam jurang berapi, sesuai dengan rencana Sang Penyihir.


"Haa... Haa... Ha....!! Tamatlah riwayatmu! Dasar Raja bodoh!"


...****************...


...Bersambung...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2