Kutukan Penyihir

Kutukan Penyihir
Awal Mula Kutukan


__ADS_3


Raja Cordovan dan Panglima Suci telah tiba di Kuil Suci. Mereka disambut oleh para pimpinan korps ksatria dari berbagai penjuru. Sesampainya di gerbang kuil, Raja Cordovan dan Panglima Suci langsung berkumpul di ruang rapat di area utama kuil, Altar Suci. Paladin memimpin rombongan dan mempersiapkan tempat duduk mereka menghadap ke arah meja bundar.


"Salam pada Yang Mulia Raja,"


"Salam pada Yang Mulia Raja,"


"Salam pada Yang Mulia Raja,"


Seluruh pimpinan memberi salam ketika Yang Mulia Raja sudah tiba di Altar Suci.


"Ya, duduklah. Paladin, laporkan situasi,"


"Baik, Yang Mulia. Keadaan aman terkendali. Saat ini di Kuil Suci ada 1000 pengungsi dari berbagai wilayah. Kami dapat mencukupi kebutuhan pokok mereka selama 7 hari ke depan dengan membongkar lumbung yang berada di area belakang. Para ksatria juga mulai memanen kentang dan umbi-umbi untuk pasokan darurat. Ada pertanian sihir di bangunan tua dekat dengan lumbung. Kami menyelimuti area tersebut dengan sihir fertilisasi agar dapat memproduksi makanan,"


"Bagus. Lalu, bagaimana dengan keamanan?"


"Saat ini, 100 orang ksatria berjaga bergiliran setiap 2 shift di 4 pos jaga sesuai mata angin. Belum ada serangan apapun, tapi baru saja ada kelompok The Sacred Flowers yang menawarkan aliansi," jelas Paladin membahas tentang para gadis The Sacred Flowers.


"Jelaskan lebih lanjut,"


"Mereka adalah keturunan penyihir. Madam Velocia menawarkan aliansi untuk melumpuhkan Penyihir Maxi,"


"Panggil Velocia kemari,"


"Siap!"


Paladin lalu memerintahkan ksatria suci untuk menghadirkan Madam Velocia ke ruang rapat. Tak lama kemudian, Madam hadir di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Salam pada Yang Mulia Raja," ujarnya dengan lutut menekuk seperti seorang lady.


"Tak perlu berbasa-basi, jelaskan apa tujuanmu?"


"Yang Mulia, saya adalah Penyihir Turin. Saya menggunakan nama baru sebagai Madam Velocia ketika kerajaan ini berdiri. Jika anda pernah membaca sejarah penyihir, anda pasti mengetahui nama saya,"


"Aku belum pernah mendengar namamu,"


"Saya adalah asisten Penyihir Maxi, ketika ia masih menjadi ajudan Penyihir Agung,"


Madam Velocia kemudian menceritakan asal muasal dendam Penyihir Maxi pada Kekaisaran Britania, dan juga ambisinya untuk menguasai benua. Ia bahkan membunuh Penyihir Agung yang melawan kehendaknya. Tiga pilar kekaisaran yang hidup berdampingan akhirnya saling bermusuhan dan menjadikan Kaisar Britania terbunuh. Panglima Suci yang menyaksikan tewasnya Kaisar di tangan Penyihir Maxi tidak tinggal diam. Ia kemudian memanggik arwah naga emas dan menghunuskan pedang untuk membunuh Penyihir Maxi dan memberantas semua penyihir. Sayangnya, usahanya tidak seratus persen berhasil, karena, Bulan Merah sedang terbit. Kekuatan Penyihir Maxi meningkat pesat. Terkena serangan dari Pedang Naga seharusnya dapat mematikannya seketika, namun, kekuatan penyihir yang diterangi Bulan Merah menjadi sangat dahsyat. Serangan Pedang Naga hanya menyakitinya secara hebat, namun tidak menghilangkan jiwanya.


"Jadi, apa rencanamu?"


"Kami akan menyusup ke dalam istana, untuk mencuri bokor mas,"


"Benar, Yang Mulia. Bokor itu berisi aliran mana cadangan yang menyimpan energi Bulan Merah. Saya mengetahui, bokor itu berada di Istana Ratu ketika Sang Ratu bangkit dari kematian," jelas Madam Velocia seperti seorang peramal yang mengetahui apapun.


"Bagaimana kau tahu bahwa Ibunda Ratu bangkit dari kematian???" tanya Raja dengan nada tinggi seperti sedang menahan amarah. Ia masih tidak menerima bahwa ibunya bersekongkol dengan iblis untuk hidup kembali.


"Yang Mulia, tenangkan diri anda. Ini bukanlah rumor. Baginda Raja Arthur pada awalnya memanggil saya untuk membangkitkan Ratu Jelliza. Namun, saya menolaknya. Saya tidak boleh melawan kehendak alam dan membuat iblis bangkit kembali. Penyihir Blue Phoenix memang dapat membangkitkan seseorang dari kematian," Madam Velocia mulai menjelaskan.


"Dusta!"


"Saya bersumpah atas nyawa saya, Yang Mulia,"


Tubuh Raja tampak bergetar. Semua orang yang berada di dalam ruangan tidak berkomentar. Tidak ada seorang pun dari mereka yang berani membahas soal kebangkitan ratu dari kematian.


"Lanjutkan.... " ujar Markian memerintahkan, meski dengan wajah pucat.

__ADS_1


"Baginda Raja bersedia menjual masa depan kerajaannya asal Yang Mulia Ratu hidup kembali. Bayaran dari kebangkitan Ratu Jelliza adalah kutukan yang menyelimuti kerajaan. Saya tak sanggup memulai kutukan dengan tangan saya sendiri. Saya sudah hidup sangat lama dan saya baru menemukan ketenangan di Cordovan, Yang Mulia," ujar Madam Velocia sambil menitikkan air mata. Seisi ruangan tampak hening, semuanya merasakan aura kesedihan dari cerita Madam Velocia.


"Lantas? Kalau bukan kau? Siapa yang melakukannya?" tanya Markian kemudian. Ia sedang berdamai dengan hatinya dan mencoba menerima kebenaran.


"Venn, Yang Mulia. Asisten Penyihir Maxi yang baru itu. Dia pengkhianat bangsa kami," jelasnya. Madam Velocia kemudian melanjutkan ceritanya.


"Venn berhasil membangkitkan Ratu dari kematian. Ia meminta dua bayaran, yang pertama adalah kutukan, yang kedua adalah jantung ratu sebagai pengganti jantung Penyihir Maxi yang terbelah oleh Pedang Naga. Burung pengintai milik saya yang berada di Istana, memberitahukan bahwa, Venn ditikam oleh Raja karena mengatakan permintaan yang tak masuk akal. Ia pun marah dan dendam, Venn tak bisa mati karena menyerap energi Bulan Merah. Kutukan pun menyebar tak terkendali hingga sekarang. Kali ini, Venn tampaknya telah berhasil menagih bayaran yang kedua. Jadi...." Madam Velocia tidak mampu melanjutkan ceritanya. Dengan logika Penyihir Maxi bangkit kembali, sudah jelas bahwa jantung Sang Penyihir telah terganti.


Tes....


Tes....


"Hiks...,"


Air mata Raja tumpah, tak dapat dibendung. Monster perang yang tak terkalahkan itu tumbang jua, setelah mendengar pengakuan dari Madam Velocia.


"Yang Mulia,"


Duke Gelael ikut sesak, karena ia lah yang membawa jadad Yang Mulia Ratu.


"An... Antarkan aku kepada Isyana,"


Raja Markian bangkit dengan langkah yang gontai. Rapat strategi malam ini, terpaksa ditunda karena keadaan mental Raja yang terganggu. Para pimpinan korps mengekor di belakang Raja untuk ikut serta ke dalam bilik duka yang berada di belakang kuil.


...****************...


...bersambung...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2