
'Auuuuuuuuu!!!'
'Auuuuuuu!!!!'
Suara lolongan serigala terdengar bersahut-sahutan. Connelly yang sedang berada di kamarnya, melongok ke luar jendela. Suasana malam yang biasanya tenang dan lengang tampak kacau. Gadis itu mengucek-ucek matanya seakan hendak memastikan bahwa penglihatannya tak bermasalah. Gerombolan manusia serigala berderap menuju ke arah kota! Beruntung, kediaman duke sedang sepi dan tak menarik perhatian mereka. Para predator cenderung mengejar mangsa yang bergerak, sehingga, orang-orang yang sedang menari dan berpesta lebih menarik daripada rumah sepi milik Connelly.
"Jess! Jess! Ada apa?" Connelly yang panik segera memanggil pelayannya.
"Nona.. Nona... Anda harus tetap di kamar! Keadaan di luar sangat gawat!" ujar Jess dengan tangan bergetar. Connelly menyuruhnya untuk masuk ke kamar dan mengunci pintu serta jendela.
"Di mana para ksatria?"
"Ksatria sedang melawan para monster di gerbang depan, Nona! Semoga mereka tidak sampai ke sini!"
"Oh, tidak!"
Connelly kembali melongok melalui jendela kamarnya. Tampak semburat api berkobar dan suara pedang berdenting lirih dari kejauhan. Amukan monster serupa manusia itu tak terelakkan. Suasana malam begitu tragis dan mencekam. Connelly kemudian mengumpulkan tekad, dan berganti pakaian.
"Nona, anda mau ke mana?" tanya Jess yang sedang meringkuk di dekat perapian. Ia baru saja menutup lubang dengan perabot-perabot agar tak ada serigala yang merangsek masuk dari atap.
"Jess, aku akan mencari kakakku," tukasnya. Connelly pun mengganti gaun tidurnya dengan kemeja dan celana panjang. Ia lantas menyembunyikan rambut panjangnya di dalam topi.
"Tidak, Nona! Anda harus berada di kamar ini supaya aman!" Jess menarik lengan Connelly dengan mimik khawatir.
"Tenanglah, aku bisa mengangkat pedang, kok," sahut Connelly melepaskan tangan Jess dengan lembut. Meski ia juga takut, namun, Connelly tak mungkin berdiam diri melihat kejadian yang memilukan tepat di depan matanya. Apalagi tragedi ini terjadi di wilayah kekuasaan keluarganya. Connelly ingin ikut membantu rakyat Gonovan. Jika tak bisa berperang, minimal, ia akan ikut andil dalam proses evakuasi.
*
BRAK!
BRAK!
BRAK!
"KAKAK!! KAKAK!!!"
Connelly mengetuk keras pintu kamar kakaknya. Ia kini telah berpakaian lengkap sebagai seorang pria, dan bersiap untuk ikut bertempur bersama pasukan ksatria.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
"KAKAK!!!"
"Lady!!!"
Fillipe-- Kepala pelayan kediaman Duke Gonovan-- terjingkat melihat Lady Connelly sedang mengenakan pakaian pria dan tampak mengamuk di depan kamar Duke Elliot von Gonovan.
"MANA KAKAKKU???" tanya Connelly bersungut-sungut ke arah Fillipe.
"Tu.. Tuan.. Tuan sedang tidak berada di tempat..." ujarnya lirih.
"Apa? Dasar gila! Keadaan Dukedom sedang gawat, dan dia tidak ada di tempat???" Connelly makin ngamuk.
"Dimana kepala ksatria?" tanyanya lagi.
"I... Itu... Sama juga, nona. Ksatria pribadi kita sedang mengawal Tuan Duke," jelasnya.
Dada Connelly bergemuruh. Amarahnya memuncak. Bagaimana seorang penguasa meninggalkan rakyatnya di saat seperti ini?
"Mereka pergi bersama para dewan?" Connelly memastikan. Fillipe tertunduk tak berani menjawab.
"Dasar, Gila!"
Tanpa menunggu jawaban Fillipe, Connelly bisa langsung menyimpulkan, ini pasti ada hubungannya dengan pergerakan pemberontakan yang sedang direncanakan oleh kubu Elliot! Kakak Connelly tentu sengaja bergerak lebih awal untuk menduduki ibu kota. Mereka tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas untuk memulai pemberontakan ketika Sang Raja tidak berada di singgasananya. Fenomena Blood Moon, ditambah ramainya rumor yang sedang tersebar, akan menjadi kekuatan eksternal yang dapat memuluskan rencananya.
__ADS_1
Connelly berlari menuruni tangga, namun dicegah oleh Fillipe. Ia bersama dua ksatria mengangkat tubuh Lady yang tak begitu berat itu, lalu menguncinya di kamar pribadinya.
"Lepaskan aku!!!" Connelly memberontak.
"Lady! Maafkan kami! Ini demi kebaikan anda. Jess!!! Jaga Lady supaya tidak keluar kamar!" perintah Fillipe yang menemukan Jess sedang meringkuk ketakutan di dalam kamar Connelly.
"Ba.. baik, Tuan,"
Jess memeluk Connelly yang dari tadi meronta-ronta.
"Nona, mohon tenanglah. Nanti serigalanya kesini," desis Jess pelan. Connelly melepaskan kedua tangan pengawalnya, dan menurut, karena ia juga tak ingin mengundang makhluk buas itu merusak kediaman Gonovan.
"Apa yang harus aku lakukan," Connelly tertunduk tak berdaya memandangi langit kemerahan dari jendela kamarnya. Air matanya menetes ketika memikirkan tragedi yang akan menimpa rakyat Gonovan, sedangkan ia berpangku tangan.
"Mi Lady, anda tidak melakukan kesalahan," Jess yang sedari tadi berada di belakang, memeluknya dengan lembut. Connelly menangis tanpa daya dalam pelukan pelayannya. Seandainya ayah mereka masih hidup, pasti keadaan bisa dibalikkan dengan mudah. Ayah Connelly adalah seorang ksatria sejati yang rela berkorban nyawa demi tanah airnya. Itulah jiwa seorang penguasa. Bukan menari di atas penderitaan rakyatnya.
*
"Hiyahhhh!"
Drap
Drap
Drap
Suara derap kuda dan gemerincing senjata terdengar beriringan. Rombongan pasukan Duke Elliot menuju ke Ibu kota. Mereka tidak menyadari bahwa telah terjadi kekacauan di wilayah Gonovan. Gelapnya malam dan sorot sinar bulan yang kemerahan membuat suasana semakin mencekam.
"Tuan Duke, sebentar lagi kita akan tiba," seru panglima pemberontakan, Sir Hans, dari arah depan.
"Pacu kuda kalian!" perintah Sang Duke seketika.
Kuda perang mereka berpacu semakin kencang agar lekas sampai ke tujuan.
'Auuuuuuu!!'
Suara lolongan serigala terdengar lirih dari arah bukit.
"Biarkan saja, hewan buas, biasa ada di hutan!" cetusnya tanpa menoleh.
'Auuuuuuuu!!!'
Drap
Drap
Drap
CRAK!!!
"Yang mulia! Kita diserang!!"
"Apa????" Duke Elliot menoleh ke belakang. Ia terperanjat melihat kekacauan yang sedang terjadi.
"Pasukan, berbalik!!!" Perintahnya
"Serang!!!"
Mereka kemudian menyerang balik para serigala yang mencoba menerkam salah seorang ksatria. Pedang terhunus siap ditebaskan. Kali ini, tentu saja efeknya lebih besar ketimbang serangan dari ksatria penjaga kota. Tingkat kemahiran bertarung ksatria pemberontak setara ksatria kerajaan.
CRAAAAKK!!
Satu per satu serangan werewolves berhasil ditaklukkan. Gerigi tajam dan cakar yang panjang tak sehebat pedang perang yang dipasok oleh Marquess Wangler. Duke Elliot tersenyum sinis, namun ia tetap fokus menyerang para serigala.
"Anggap pemanasan sebelum berperang!" serunya di atas angin.
KLANG!
CRAK!
__ADS_1
GRRRRRR?!!!!
CRAKKK!!!
Kericuhan tak terelakkan. Beberapa ksatria tumbang, kuda-kuda pun ambruk terkena terkaman binatang buas yang mewujud manusia itu. Badan mereka tiga kali lipat lebih besar dari pada serigala pada umumnya. Namun, jumlahnya sedikit. Kawanan werewolves yang seharusnya berjumlah ratusan, kini hanya puluhan saja. Banyak yang sudah hangus terbakar oleh bola api Madam Velocia yang murka karena mereka mengacaukan ritual tariannya.
'Auuuuu!!!'
CRAK!
"Aaaaakkkhhhh!!!"
Duke Elliot yang sedang lengah, terkena serangan serigala. Lengannya sobek, darahnya bercucuran.
"Sial!! Habisi mereka! Aarrghhhh!" Ia mengersng kesakitan.
"Yang Mulia!!" Ajudannya menghalau serangan monster yang mengincar tuannya.
CRAKK!
Kepala werewolf itu pun menggelinding akibat tebasan pedang Sir Ken, ajudan Duke Elliot.
"Aaarrrgghhh!!!" Elliot mengerang kesakitan di atas kudanya, Sir Ken segera mengambil-alih tali kekang kuda Duke dan menangkap tuannya yang hampir terjatuh. Kuda Sir Ken dibiarkan begitu saja. Baginya, nyawa tuannya lebih penting daripada nyawanya sendiri.
"Kami akan menepi!" Seru Sir Ken pada pimpinan pleton 1.
"Hiyaaahh"
Ia pun memacu kuda Duke membelah hutan dan menuju ke desa terdekat untuk meminta bantuan.
"Tuan! Kita harus bertahan," ujar ksatria yang masih bergulat dengan serangan sang monster serigala.
'Auuuuuuuuuu!'
Ajaib, serigala itu berhenti menyerang. Mereka mendongakkan kepala dan seakan mencari sumber suara tuannya. Sedetik kemudian, kawanan serigala berpacu lebih cepat, menuju ke ibu kota, tanpa memedulikan lagi kelompok ksatria yang bersinggungan dengan mereka di hutan. Duke Elliot dan Sir Ken yang memisahkan diri dan berpapasan dengan kawanan werewolves pun tak digubris oleh mereka. Para monster seperti telah diperintah untuk segera tiba di ibu kota, dan memulai pekerjaan resmi mereka.
"Tuan, sepertinya rencana kita gagal," bisik Sir Ken, tak ingin menarik perhatian para serigala yang sudah melesat tak jauh dari mereka. Derap kuda dipelankannya agar tak mendahului kawanan serigala yang seperti kesetanan agar segera sampai ke tujuan mereka.
"Arrghhkk... Entahlah... Arrggh..... Aku sudah mau mati," rengek Elliot dengan bersimbah darah. Lengannya yang sobek memang mengeluarkan banyak darah, namun sudah dibebat kain oleh Sir Ken sebelum mereka menemukan tabib atau dokter di desa terdekat.
"Bertahanlsh, Yang Mulia. Kita akan segera sampai," ujar Sir Ken menenangkan.
Sementara itu, pasukan pemberontakan dipimpin oleh Count Yale, menggantikan Duke Elliot yang terluka. Mereka tetap teguh terhadap rencana awal untuk menduduki ibu kota.
*
"Yang Mulia, ada kekacauan di kerajaan, anda harus kembali sekarang juga bersama Panglima Suci. Penyihir Hebat telah bangkit dan menyerang ibu kota,"
Tuan Penasihat Agung tiba-tiba muncul dari lingkaran sihir di hadapan pasukan Raja Cordovan. Tentu saja mereka semua terkejut tak mengira, bahwa, Pertapa tua itu dapat melakukan teleportasi. Pasukan Raja sedang menaiki bukit untuk sampai di lokasi Sang Ratu yang dipanggilnya melalui gelombang Batu Peri.
"Tapi... Bagaimana dengan Ratu?" sahut Markian bimbang.
"Serahkan pada kami, Yang Mulia," Duke Gelael menawarkan diri. Raja dan Panglima tampak berpandangan selama beberapa saat, kemudian menuruti ajakan Tuan Penasihat untuk kembali ke Kerajaan Cordovan. Mereka bertiga berteleportasi menuju ke ibu kota dan hanya dalam hitungan menit, Rombongan kecil Markian pun sampai di Istana.
*
"Oh, Tidak!!"
Batu Peri telah menuntun mereka hingga ke Bukit Sembunyi. Sesampainya di sana, Duke Gelael terperanjat dan tak bisa berkata-kata. Ia langsung menghambur ke arah Ratu mereka yang sudah membiru di atas batu raksasa.
"Sang Ratu telah meninggal dunia!" jeritnya pilu. Hati Duke perih bagai tersayat sembilu. Air matanya menitik ikut merasakan rasa sakit Baginda Raja bila mengetahui kabar ini.
Bagaimana Duke Gelael harus menjelaskan keadaan Sang Ratu yang sudah menutup mata untuk selamanya pada Sang Raja?
****************
(Bersambung)
__ADS_1
****************