
Raja Markian dan Para pasukan bersiap dalam posisi siaga. Hanya dengan satu komando, pasukan akan merangsek masuk melibas kawanan makhluk sihir yang ada di pelataran Istana. Langit malam yang gulita, dan hanya terang oleh pendaran sinar bulan, menjadi saksi pecahnya perang yang akan segera terjadi.
"Bersiap! Formasi!" teriak Panglima Suci menggelegar memenuhi kesenyapan dan tegangnya suasana di area pertempuran. Pasukan infanteri kerajaan bergerak maju ke medan pertempuran yang gelap. Mereka membawa tekad yang membara dalam hati masing-masing. Pasukan bersiap sesuai formasi yang telah ditentukan sebelumnya, dalam hitungan detik saja.
"Serang!!"
"Hu... Ha!!"
Tak butuh waktu lama, peperangan yang telah dinantikan, pecah juga.
'Auuuuuuuuu'
'Groaaaaar'
Zzzzzt.. . .
Di pelataran istana yang dikelilingi oleh hutan lebat dan gelap, para makhluk sihir mulai menampakkan cakar mereka. Mata merah dan aroma busuk yang menyeruak dalam kabut hitam para monster, menambah kengerian di medan perang.
'Sriiiing'
'Jleeeb'
'Craakkk!'
Suara senjata pasukan berdenting ketika mengenai para musuh yang menyerang dari segala arah. Baju zirah mereka yang sama-sama berkilau terkena pantulan rembulan, berubah semerah darah. Kelincahan werewolves dan beruang hutan yang mengenakan baju zirah menjadi lebih lambat. Hal ini menjadi keuntungan bagi pasukan kerajaan.
'Craak!'
'Kaaaaaakk'
Beberapa werewolves telah tumbang akibat sabetan Pedang Aura. Pasukan Kerajaan berhasil menguasai awal pertempuran. Namun, tak berselang lama, segerombolan werewolves lainnya tampak berderap dari arah hutan. Suara lolongan mereka menggetarkan udara.
"Bersiap! Serang!!" Pekik komandan pleton 3 yang berada di luar pelataran istana, lebih condong ke area hutan. Pasukan infanteri pleton 3 bertugas menghalau serangan werewolves yang baru saja datang dari arah hutan. Para Werewolves berlari dengan kecepatan yang di luar nalar, bulu-bulu mereka menggembung dengan gigi tajam yang mencuat diantaranya. Kabut hitam dari dalam tubuh mereka tampak mengkilap dalam pendaran cahaya bulan.
'Auuuuuuuuu'
'Crakk! Crakkk!'
Nahas, para pasukan terpojok. Beberapa dari mereka tewas diterkam serigala jadi-jadian tersebut. Gerakan werewolves yang lincah, dan otot tubuh yang kuat, menjadikan monster yang baru saja tiba dari hutan itu menjadi musuh yang tangguh.
"Back up!!" Seru komandan pleton. Paladin yang juga sedang sibuk menebas kawanan beruang hutan yang mengamuk di lini tengah, mendengar permintaan bantuan dari komandan pleton.
"Attack!"
Blaar!!
Kawanan beruang hutan yang berjumlah tiga ekor itu mati seketika oleh serangsn bola sihir dari Paladin. Melihat mangsanya telah melebur dengan api, Paladin, lantas berlari ke arah pintu gerbang untuk menebas kawanan werewolves yang baru datang.
"Yang mulia, kita harus memproduksi monster kembali," Ujar Venn yang berada di atas air mancur Istana. Penyihir Maxi yang dari tadi mengamati situasi dari balkon istana, hanya menyeringai ringan.
"Biarkan saja dulu, kita main-main," Tukasnya. Namun, tak lama, sebuah bola api hampir saja mengenainya.
__ADS_1
Siuuuuut
Blarrr!!
Blarrr!!
"Kurang ajar!!" Teriak Penyihir Maxi dengan amarah yang membuncah. Bola api yang berusaha menyerangnya, meledak di udara oleh bola api lain yang baru saja diluncurkan oleh sang penyihir.
"Turun kau, dasar iblis jahat!" Seru Panglima Suci dengan pedang teracung ke angkasa.
"Lalat hina! Beraninya kau mengusikku!" Cetus Penyihir Maxi tidak terprovokasi. Ia bersiap di balkon untuk bersiaga dalam proses produksi bala tentara dengan bantuan Bokor Mas yang ada di ruang dalam istana.
"Panglima awas!" Teriak Raja Markian dari arah selatan. Panglima suci yang sedari tadi ingin memprovokasi Penyihir agar turun dari balkon istana, tak menyadari kedatangan serangan dari beruang hutan yang berderap ke arahnya.
'Craak!'
"Akkh!"
Lengan Panglima berhasil tercabik oleh cakar tajam si beruang. Namun, untungnya, tangan kirinya reflek menebas beruang itu sebelum serangannya lebih parah. Lengan Panglima sobek separuh, namun, segera dapat ia sembuhkan dengan kekuatan suci.
'Nguuung... Nguuung.... '
Lengan Panglima yang tercabik, lambat laun menjadi utuh kembali. Venn yang menyaksikan adegan tersebut dari atas air mancur, bergidik ngeri. Rupanya, Panglima suci memiliki sihir penyembuhan yang sangat hebat.
Di sisi lain, Pasukan Aliansi masih sibuk menyingkirkan gerombolan monster yang tak kunjung berkurang jumlahnya, meski telah dibasmi sejak tadi. Mereka terlihat kewalahan dan semakin melemahkan serangan.
"Seraaaang!!" Pekik Paladin, kali ini, mengomando pasukan kavaleri yang baru saja bergabung dari kerajaan lain. Seratus orang pasukan membawa busur panah dan tombak tajam, siap untuk dilontarkan pada musuh-musuh dari jarak yang cukup jauh.
'Jleeb'
'Groaaaaaar'
Para buaya rawa dan beruang hutan yang menyerang dengan membabi-buta di lini tengah, terkesiap dan menggelepar. Para monster tak melihat adanya musuh yang muncul dari arah bukit.
"Serang ke bukit!!" Perintah Penyihir Maxi pada para werewolves yang lagi-lagi datang mendadak dari arah hutan. Terdengar lolongan rendah yang memenuhi udara saat para werewolves menuju ke bukit tempat pasukan kavaleri berkumpul.
'Auuuuu'
Drap
Drap
Drap
"Kalian juga! Serang mereka!" Perintah Penyihir Maxi pada para beruang hutan yang bangkit dari arah goa.
'Groaaaaar'
Bum
Bum
Bum
__ADS_1
Beruang hutan yang penuh dengan amarah, muncul dengan cakar tajam dan rahang yang menggigit kuat. Aura sihir hitam yang menyelimuti tubuh beruang membuat ngeri siapapun yang mendekat. Mereka bergerak menuju ke bukit, sebagian, dan kawanan lain, menyerang ke arah pasukan kerajaan yang sedang mengayunkan pedang tanpa henti.
Pasukan infanteri yang berada di pelataran istana, meluncur ke depan, mengejar para werewolves yang bergerak cepat sebelum sampai ke bukit. Pasukan Kavaleri yang menjadi target mereka, melepaskan busur-busur panah tajam dan beracun. Mereka harus fokus, agar tidak mengenai rekan mereka sendiri. Para monster terhentak dan tergelepar ketika terkena serangan panah. Racun magis menjalar kedalam pembuluh darah mereka yang terkontaminasi sihir hitam.
'Kaaaaaak' jerit para monster yang terkena serangan racun. Tak lama kemudian, mereka tewas. Namun, tidak semua monster dapat terkena serangan udara dengan mudah. Para Werewolves muda yang lebih lincah melompati panah-panah itu secepat kilat, sehingga tak sampai mengenai tubuh mereka.
'Auuuuuuuu'
'Crakkk'
Seekor werewolf yang telah sampai di atas bukit, berhasil menjatuhkan satu prajurit yang tidak sempat mengarahkan serangan. Prajurit itu tewas di tempat.
"Formasi! Serang!" teriak komandan kavaleri, kali ini dengan memegang tombak.
'Crak!! Crakk!!'
Satu per satu werewolves yang telah sampai, dapat dihalau dengan tombak Pertarungan sengit dari atas bukit tak terhindarkan. Bukan hanya werewolves yang jadi ancaman, namun juga beruang hutan. Beberapa ekor beruang yang berhasil bertahan dalam serangan pasukan infanteri, segera merangsek menuju bukit untuk menghabisi pasukan kavaleri, sesuai perintah Penyihir Maxi. Para beruang berdatangan dalam keadaan marah dan juga haus darah. Para prajurit yang berada di bukit pun harus bersiap dengan serangan mematikan lainnya untuk mempertahankan hidup mereka.
Dalam kekacauan yang melanda, para komandan tertinggi yang sedang melawan musuh di Istana, berpencar.
"Paladin! Bantu pasukan di atas bukit," perintah Raja Markian yang kali ini sudah semakin mendekati pintu istana.
"Baik, Yang Mulia!" Paladin bergegas membelah kekacauan yang ada, dan berlari ke arah bukit dengan hentakan Pedang Aura. Hentakan sihir dari pedang aura dapat mematikan musuh dalam radius 100 meter. Meski para monster terus tumbuh dan berdatangan, jika inti monster terbelah dengan pedang aura, ia tak akan dapat bereproduksi dan tewas seketika.
"Aaaakkk!"
'Crak!'
"Aaakkk! Tolong!"
Jeritan para prajurit dari arah bukit, memilukan siapapun yang mendengar. Pasukan kavaleri tidak memiliki pedang, jadi mereka hanya mengandalkan tajamnya tombak bermata satu yang dapat membalikkan serangan. Tentu saja, serangan tidak efektif karena para monster sangat lincah dan gesit. Beruang raksasa berhasil merobek prajurit-prajurit dengan cakarnya yang kuat, sementara werewolves meluncur ke dalam rapatnya formasi barisan dan mengacak-acak prajurit dengan gigitannya yang tajam. Beberapa monster juga mengejar prajurit yang terpisah dari kelompok. Pasukan kavaleri harus melawan musuh dari dua arah sekaligus, dan berusaha melindungi diri mereka dari cakaran dan gigitan yang mematikan.
"Itu Paladin!" teriak salah seorang prajurit yang membahagiakan pasukan.
"Bertahan!!" teriak Komandan, meski dengan lengan yang terluka. Ia tidak akan tumbang, sebelum serangan ini dimenangkan oleh pasukannya.
Tak butuh waktu lama, Paladin akhirnya tiba. Serangan di bukit dapat ditaklukkan dengan Pedang Aura. Para werewolves dan beruang hutan yang berderap, tewas seketika dengan tiga kali tebasan sihir Pedang Aura milik Paladin. Tidak ada monster yang bereproduksi karena inti mereka telah musnah. Pasukan kavaleri, bersuka-cita dalam kemenangan pertempuran di bukit, untuk sementara.
"Mari kita bergerak ke istana!" Perintah Paladin bergegas ke lautan tempur yang sengit di istana. Di sana, Raja Markian telah berhadapan dengan Penyihir Maxi yang telah turun dari balkon, dan menyambut Sang Raja di dalam istana.
"Mau ambil kembali kerajaanmu" tanya Penyihir Maxi mengejek.
Raja Markian yang telah bersusah payah untuk dapat sampai ke istana, memandangnya dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
"Iblis jahat! Kau telah menghancurkan negaraku! Mati kau! Hiyaah!"
Raja Markian menyabetkan pedang emasnya dengan gagah berani, namun sayangnya, serangannya tidak berhasil.
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1