
Suara lolongan serigala dan dengkuran burung hantu terdengar lirih bersahutan. Aroma kayu basah yang pekat menusuk indera penciuman. Suasan hening yang menyeramkan dirasakan Isyana. Tubuh ringkihnya menindih permukaan yang keras dan kasar, namun ia tak tahu itu apa. Isyana merasa terganggu. Kaki dan tangannya juga dingin dan membiru akibat jeratan rantai besi yang diikat di dua batang pohon. Pasir kecil dan kerikil terserak di sekitarnya. Sepertinya, Isyana tidak berada di pembaringan biasa, tapi di mana? Matanya tak bisa menangkap cahaya apapun. Semua serba gulita. Hanya suara-suara yang terdengar, itu pun bukan suara orang.
Lamat-lamat,
Pendar cahaya mulai terlihat.
Seseorang berjalan ke arahnya dengan membawa obor. Api kecil yang bergerak dari kejauhan, tampak makin terang dan menyilaukan. Isyana mengedarkan pandang ke sekitarnya, ia sedang terbaring di sebuah batu raksasa. Kaki dan tangannya terikat, begitu pun mulutnya. Sehelai kain dililitkan rapat-rapat hingga suara tak dapat terucap. Isyana hanya bisa berontak dengan gerak tubuh yang terbatas. Sia-sia saja. Tak mungkin ia bisa melepaskan rantai besi di tangan dan kakinya. Jangankan melarikan diri, bahkan kini, keberadaannya saja entah ada di mana. Isyana sangat takut dan tak bisa menerka situasi apa yang sedang dihadapinya.
'Ayo berpikir, Izz... Kamu habis ngapain.... '
Isyana mencoba mengingat hal terakhir yang dilakukannya. Kepalanya berdenyut, akibat efek sihir yang sering kali digunakan Venn untuk menyiksanya. Memori yang dapat ia temukan hanyalah pertikaian Pasukan Kerajaan dengan Penyihir Venn yang berujung pada perpindahan lokasi hingga ke batu-batuan ini.
Setelah menyerang pasukan dengan asap hitam, Venn membawa Isyana jauh sekali dari Menara Mercusuar tua dengan teleportasi. Isyana tak tahu sekarang dia ada dimana. Namun, keinginannya untuk hidup mulai bangkit kembali. Harapan yang tadinya sirna, sedikit demi sedikit ada. Markian rupanya tak lelah mencari dirinya, meski sudah begitu lama tak ditemukan. Dalam hati, Isyana merasa bahagia dan bersyukur karena calon suaminya itu tak melupakannya. Keputusasaan yang menyergap telah sirna. Kini, hanya harapan yang mengisi relung hatinya.
"Heh! Gadis Bodoh! Sudah bangun rupanya," hardik Venn melihat Isyana yang telah membuka mata.
"Gimana? Seger kan di sini? Muahahanaa..... " Venn bermonolog. Ia sadar kalau Isyana tak dapat berbicara. Venn sendiri yang menyumpalkan kain pada mulutnya supaya diam.
"Ini kuburan, loh. Hiiiyy.. Takut nggak tuh? Muahahahaa...... "
Menurut Venn, mereka kini berada di peristirahatan Penyihir Hebat Maximilian yang berada di Bukit Sembunyi, kawasan yang paling tandus di Gene Island. Tak jauh dari tempat Isyana berbaring, ada sebuah pohon besar yang strukturnya mirip manusia. Begitu tinggi dan kokoh, dengan ranting hanya dua.
"Masteeeeerr... Sebentar lagi, kebangkitanmu akan terjadi.... Muahahahaahaaha......... " Venn mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Burung-burung gagak yang sedari tadi mengikutinya untuk mengais sisa daging-dagingan yang mungkin ada, mulai berhamburan. Burung-burung itu terkejut dengan suara Venn yang menggelegar. Insting burung sangat tajam, Venn bukanlah lawan yang sepadan.
*
Langit malam yang tadinya indah bertabur cahaya bintang, kini makin kelam. Awan hitam menyelimuti cakrawala. Suasana gelap sempurna menandakan adanya perubahan fenomena alam langka. Bulan Merah akan segera tiba.
__ADS_1
Venn mulai menggambar segi enam dan juga simbol-simbol mantra di sekitar batu pembaringan Isyana. Lilin-lilin kecil ditata sedemikian rupa sebagai penanda. Rapalan mantra mengiringi aktivitas menggambarnya. Aroma bukit yang tadinya pekat, kini harum mencekat. Keharuman yang asing, seperti sesajen yang tak lazim.
Lolongan serigala kembali terdengar, kali ini diikuti rintihan, seperti ada sesuatu yang menyakitkan dari dalam tubuhnya. Suaranya semakin jelas, tidak samar-samar seperti waktu awal. Semburat merah tampak mewarnai gelapnya langit malam. Lambat laun, bulatan besar berwarna seperti darah terbit di angkasa. Blood Moon-- Bulan merah-- Akhirnya muncul juga. Lautan di sekitar Gene Island bergejolak. Gelombang air laut yang tadinya hanya beriak-riak kini naik tinggi, ombak besar yang mengamuk menjadi momok bagi nelayan sehingga mereka mengurungkan niat untuk mencari ikan. Pasangnya Lautan Britani membuat warga pesisir ketakutan. Mereka mengungsi ke kota terdekat supaya tak terkena imbasnya.
"Baguuuss... Baguuuss.. Sudah datang! Muahahaaaaa...... " Venn berteriak kegirangan.
CTAAARRR!
Ia lalu melempar petir kecil untuk memecah batang pohon manusia yang merupakan peti Penyihir Maxi.
KRATAK
KRATAK
KRAAAK
Batang itu pun pecah perlahan, menampilkan sesosok tulang-belulang yang masih tersusun rapi seperti asal mulanya, seorang manusia. Anehnya, kerangka itu masih menyimpan jantung terbelah yang berpendar dari dalam. Jantung itu kemudian mengambang terbang ke arah Venn, dan ditangkapnya pelan-pelan.
Isyana tidak paham sama sekali. Siapa yang berhutang, kenapa dia yang membayar? Siapa juga yang sudah menjadi Ratu? Bahkan, pernikahannya saja belum dilakukan. Tentu saja Isyana tak tahu-menahu soal pernikahan jiwa yang sudah terjadi. Hanya para peri dan penyihir yang bisa merasakan perbedaan aliran mana antara seseorang yang belum atau sudah menikah. Gelombangnya sungguh berbeda.
"Jangan membenciku, anak manis. Bencilah Mertuamu, Raja terdahulu yang ingkar janji. Demi nyawa istri dan anaknya, ia rela menjual masa depan kerajaannya sendiri. Tapi, lelaki tua itu malah berkhianat! Janjinya untuk memberikan jantung ratu tidak ditepati! Aku malah ditikam!! Kebangkitan Penyihir Hebat harus tertunda gara-gara bedebah itu! Nah, sekarang Ratu.... Kemarikan jantungmu, Muahahaaaaaa!!!"
CRAKKK!
Belati kecil yang digenggam Venn menancap dalam ke dada Isyana. Ia lalu membelahnya dan mengeluarkan jantung Isyana dalam sekali tarikan.
"AAAAAAKKKK!!!" Pekik Isyana yang kemudian tewas seketika. Darah mengalir deras memenuhi batu yang menangkap tubuhnya. Alirannya menuju ke segi enam gambaran Venn dengan mantra-mantra di dalamnya. Pendaran cahaya kemudian mulai tampak, dengan jantung Isyana yang masih berdegup-degup mendambakan kehidupan. Venn meletakkan jantung berlumur darah itu ke dalam tengkorak Penyihir Hebat Maximilian. Secara ajaib, tengkorak itu mewujud kembali ke bentuk aslinya, seorang manusia.
Swwaaaasssshhh....
__ADS_1
Deg
Deg
Deg
Degupan jantung Sang Ratu memompa aliran sihir Sang Penyihir Hebat. Lambat-laun, tulang belulang berubah menjadi daging dan membentuk struktur tubuh manusia secara sempurna. Kaki, tangan, badan hingga rupa, semuanya menjadi sedia kala. Master Maximilian telah bangkit dari tidur panjangnya.
"Master..... "
Venn berlutut dan menyembah ke arah majikannya. Penyihir Hebat Maximilian telah merupa. Kilatan petir menyambar dari balik awan yang memerah akibat pantulan rembulan. Kabut hitam mulai beredar, dan semua tanaman yang dilewatinya akan mati.
"Venn..... " panggilnya.
"Ya, Tuanku," sahut Venn masih dalam posisi menyembah.
"Mari kita membalas dendam," sunggingan senyum sinis menghiasi wajahnya. Venn kemudian menyelimutkan kain hitam ke tubuhnya yang telanjang dan memakaian pakaian kebesaran seorang penyihir, sebuah jubah. Tak lupa, topi tinggi berbentuk kerucut, dengan hiasan bulu burung Abbys yang baru saja diburunya.
"Sempurna, Master. Mari kita pergi,"
Master Maxi tersenyum licik. Tidak ada kata indah yang dapat menjadi predikatnya. Semua serba suram, namun, aura berbahaya tidak dapat disembunyikan. Kekuatan Penyihir Maxi tak sembarangan. Dengan kebangkitannya, ia tentu bisa melancarkan kembali misinya untuk menguasai benua.
"Saudariku, waktu kita telah tiba...... "
Penyihir Hebat Maxi dan Venn, berteleportasi menuju ke Kerajaan Cordovan untuk merebut takhta dan menghancurkan benua.
...****************...
(Bersambung)
__ADS_1
...****************...