
Pertarungan pun dimulai. Mereka berdua saling menyerang dengan gerakan yang cepat dan penuh kedigdayaan. Sayap naga emas menyapu udara, mengundang angin topan yang menggetarkan istana. Sedangkan, lawannya tak kalah cerdik, ia memblokir serangan dengan kepakan kedua sayap yang menghasilkan angin panas dan bara api yang berkobar. Ledakan pun tak terelakkan.
DHUAAARRR!!!!
Mereka berdua terpental ke udara, akibat tabrakan kekuatan yang hampir serupa.
"Naga! Hati-hati!" teriak Raja mencoba menyemangati. Sang Naga yang tergeletak akibat ledakan itu, segera bangkit untuk membalikkan keadaan.
Di sekitar mereka, pilar-pilar istana mulai runtuh akibat serangan yang dahsyat. Pilar-pilar besar itu pun roboh, menimbulkan dentuman dan debu-debu kasar yang berterbangan. Istana berguncang seketika. Raja bersiaga agar tak tertimbun reruntuhan yang sedang berlangsung. Beberapa pilar masih tampak kokoh, meski sedikit retak. Raja berpindah tempat mencari lokasi yang aman sambil memantau pertarungan sahabat barunya. Kekacauan tampak nyata di sekeliling mereka. Namun, Naga emas dan Burung Neraka tidak goyah. Mereka terus beradu cakar dan juga kelihaian mengendalikan angin dari kedua sayap mereka. Ledakan dan dentuman terdengar, seiring berlangsung pertikaian dua binatang legendaris itu. Belum tampak siapa yang bakal memenangkan pertarungan, karena serangan demi serangan masih melaju sengit tanpa henti sedari tadi. Raja bahkan sampai mencari tempat perlindungan berkali-kali, karena hampir setiap sudut istana roboh dan hancur akibat ulah para hewan raksasa tersebut.
'Grooooooaaaarrrrr!!!'
Dalam posisi terjepit, Naga Emas menggunakan kekuatan naga legendarisnya untuk melontarkan bola-bola api raksasa yang berwarna biru. Sedangkan Burung Neraka meneriakkan lengkingan tajam yang memekakkan telinga dan menyerang dengan kecepatan kilat.
DHUAAAAKKK!
Mereka bertabrakan, dan saling terhuyung. Pertarungan masih berlangsung seimbang. Namun, celah kemenangan seperti berpihak pada Sang Burung yang begitu gesit dan lincah dalam memimpin pertarungan.
Sang Naga tak kekurangan akal. Meski badannya besar dan berat, namun, hadirnya sayap membuat pergerakannya cukup cepat. Ia lantas terbang dengan kecepatan tinggi untuk menabrak burung neraka yang mulai bersiap dalam posisi menyerang dan hendak menghempaskan bara api ke arah mereka.
DHUAAAAAAK
'KAAAAAAAAKKKKKK'
Burung itu tepental jauh ke sisi selatan istana. Badannya yang sangat besar dan kuat, merobohkan pilar-pilar yang melintasinya. Dinding yang ditabraknya pun porak-poranda. Lubang besar menganga diantaranya.
"Raja! Berlindung!" seru Sang Naga dengan sayap lebarnya yang membentuk barikade. Ia bersiaga jika Burung Neraka bangkit dan kembali mengobarkan bara api untuk serangan berikutnya.
__ADS_1
"Hooo... Bisa bicara rupanya, hebat...." ucap Penyihir Maxi dengan nada mengejek. Sang Naga tidak memedulikannya. Burung Neraka kembali bangkit dan mengepak-ngepakkan sayap apinya membentuk tornado dengan angin panas yang membara.
Syuuuuuuuuuuttt
Wuuuussshhhhh
DHUAAARRR!!!
Angin panas yang berasal dari sayap burung neraka, dibakar dengan nafas api milik sang Naga. Ledakkan pun tak terelakkan. Mereka berdua terpental cukup jauh dan merobohkan sebagian bangunan istana lainnya.
"Serang dengan paruh tajammu, dasar burung bodoh!!" Hardik Penyihir Maxi dengan suara parau. Burung yang baru saja terjatuh, tampak kembali berdiri, meski agak terhuyung. Ia lalu mengepak-ngepakkan sayapnya kembali dan bersiap dalam posisi menukik untuk menyerang secara langsung. Paruh tajamnya bak tombak perang yang sanggup menusuk lawan hingga kedalaman 100 meter.
'Kaaaaaaaaaaakkk'
Sriiiiiiinnngg
Pyaaaaaassshhh
'Grooooooaaarrrr'
Sang Naga terpental dengan pandangan kabur. Bola itu hampir mengenai matanya.
"Bodoh! Incar matanya!!!" Teriak Penyihir Maxi pada Sang Burung yang kembali menukik dari arah langit-langit istana.
'Kaaaaaaakkkkkk'
Paruh tajamnya meluncur dengan kecepatan kilat menuju ke arah target-- mata Sang Naga. Kepakan sayap Sang Burung yang mengundang abu panas menghalangi penglihatan Naga. Ia tampak terdistraksi dalan keadaan berbaring setelah mendapat serangan bola api dari Penyihir. Sedetik kemudian.
Craaaaakkk
__ADS_1
"Aaaaaaakkkkkkh"
Sang Naga mengerang kesakitan, karena mata sebelah kanan terluka, akibat tusukan paruh tajam Sang Burung Neraka.
"Bagus!! Habisi dia!!"
Sang Burung kembali mengambil ancang-ancang untuk melakukan serangan serupa. Namun, Raja segera saja berlari menaiki punggung naga dan menyabetkan Pedang Aura, sehingga membentuk perisai sihir berwarna ungu kemerahan.
BLAAARRRR!
Ledakan tak terelakkan ketika serangan Sang Burung Neraka mengenai perisai pelindung.
"Pengecut!!" Cetus Penyihir Maxi jengkel. Ia lantas melontarkan bola api ke arah mereka berdua. Raja tetap dalam stamina cukup untuk menahan serangan.
BLAAARRRRR
BLAAARRRRR
Ledakan kedua terjadi. Kali ini, Raja merasakan, punggung Sang Naga bergerak dengan teratur dan cepat. Mata kanannya yang terluka, kembali pulih.
"Kau bisa beregenerasi dengan cepat rupanya?" tanya Sang Raja dengan nada yang bangga.
"Betul, Yang Mulia. Terima kasih telah memberi saya waktu. Sekarang, izinkan saya menyelesaikan pertarungan ini,"
Naga Emas menyemburkan api biru yang semakin kuat dan menghantam burung neraka dengan keras. Burung itu menghindari dengan sekuat tenaga. Namun sayang sekali, gerakannya rupanya sia-sia saja.
...****************...
...Bersambung...
__ADS_1
...****************...