Kutukan Penyihir

Kutukan Penyihir
The Legendary Duel (3)


__ADS_3



Naga Emas menyemburkan api biru yang semakin kuat dan menghantam burung neraka dengan keras. Burung itu menghindari dengan sekuat tenaga. Namun sayang sekali, gerakannya rupanya sia-sia saja.


Kadal raksasa bersayap itu kini di atas angin. Bangkitnya kekuatan Sang Naga menjadi titik balik perlawanan yang akan segera dimenangkannya.


'Groooooooaaaarrr'


BLAAAAR


BLAAAARRR


BLAAAAARRR


'Kaaaaaaaakkkk'


Kali ini, Burung Neraka tak dapat menghindari serangan brutal Sang Naga. Staminanya telah sampai di titik terendah. Penyihir Maxi masih belum meregenerasi kekuatannya.


"Dasar burung tolol!! Mana bokorku??!!!!" teriak Penyihir Maxi kebingungan karena jagoannya sekarat dalam api biru sang naga. Ia berlarian mencari-cari Bokor Mas-nya untuk kembali memanggil kekuatan dari neraka, namun, tak kunjung ditemukannya.


"Apa kau sedang mencari ini, Iblis jahat?" tanya seseorang dari seberang balkon yang terpisah oleh pertarungan Naga dan Burung Neraka. Suaranya yang lantang dan penuh ejekan, menarik perhatian Penyihir Maxi.


"Kau?? Kau apakan bokorku?" tanyanya dengan teriakan. Penyihir Maxi terlihat terkejut dengan kehadiran Madam Velocia di tengah-tengah pertarungan.


"Mau kubuang," jawabnya tenang.


"Sialan! Pengkhianat!!! Kemarikan bokorku!!" teriak Penyihir Maxi dengan amarah memuncak. Kali ini, asap hitam menyembur seperti tali yang siap melilit mati siapapun yang melintas.


"Uppssss!"


Madam Velocia berhasil menghindari serangannya. Bokor itu masih aman dalam pelukannya.


"Nggak kena tuh? Ho.. Ho... Ho... " tukasnya dengan nada mencemooh.


"Berikan itu padaku!" Sergah Penyihir Maxi kali ini sedang mengambil ancang-ancang untuk melompat ke arah Madam Velocia.


"Apakah anda lupa siapa saya, Master?" tanya Madam Velocia sambil bermain teka-teki. Penyihir Maxi yang marah, tidak memedulikannya. Ia melompat ke seberang balkon, dan telah sampai di hadapannya.


"Lancang kau!! Kupikir kalian adalah sekutu!! Rupanya tikus pengkhianat busuk!"


"Master, tidakkah anda ingat saya?" tanya Madam Velocia lagi, kali ini dengan wajah yang menyeramkan. Ia bersiap dengan kekuatannya yang dapat menandingi Penyihir Maxi.


"Siapa kau, jalangg busuk?"


"Ini saya, Turin, Master. Kau telah membuangku!"


BLAAARRRRR!!!!


Serangan bola api mendadak terjadi.


"Uhuk.. Uhuk... "


Penyihir Maxi berhasil menghindar, namun, tak dapat menghentikan serangan tersebut.


"Turin? Kau sialan!!!" Penyihir Maxi kali ini marah besar. Ia mundur lima langkah, untuk kemudian menyerang balik dengan energi yang tersisa. Baru saja ia hendak meregenerasi kekuatan dengan bantuan Bokor Mas, namun, sia-sia. Apa boleh buat, Penyihir Maxi akan menghabisi Turin terlebih dahulu, sebelum melancarkan aksi selanjutnya.

__ADS_1


'Siuuuuuuuuut'


BLAAAAAARR


BLAAAAARRR


BLAAARRRRR


Bola-bola api menyerang dengan membabi-buta. Madam Velocia lihai melewati serangannya, namun, yang terakhir, tak terdeteksi olehnya.


BLAAARRR


"Aaakkh.... "


Madam terluka dengan kobaran api yang menyala-nyala. Ia segera memulihkan dirinya, Sang Naga yang perkasa, datang membantunya. Naga itu lantas membawa pergi Bokor Mas yang sedang diincar oleh Si Penyihir Jahat.


"Kembalikan Bokorku!!!"


PYAAARRR!!!


DEG.


Bokor yang baru saja dihempaskan ke angkasa, akhirnya pecah berkeping-keping. Aliran mana dahsyat yang berputar-putar di dalamnya sejak tadi, turut menghilang ditelan bumi.


"Ha... Ha... Ha... Rasakan!! Penyihir jahat!" Ejek Madam Velocia setelah berhasil lolos dari kobaran api.


CRAKKK!


Penyihir Maxi yang tak terima, menusuk jantungnya dengan kuku tajamnya. Energi mana penyihir masih dikuasainya meski tak seberapa.


"Tutup mulutmu, dasar jalangg!"


"Kehancuranmu juga akan segera tiba.... Master....," Bisik Madam lirih dengan darah yang mengucur deras.


Bug.


Tubuh Madam menghantam lantai marmer yang kokoh. Kulitnya menjadi dingin dan membiru. Sesaat kemudian, jasadnya melebur menjadi abu, dan menguar menuju ketiadaan. Para penyihir menyatu kembali dengan alam yang tak ada di dunia manusia.


"Oh tidak! Madam!" Pekik Raja Markian dari arah sebrang, sesaat sebelum Madam menjadi abu. Ia menyayangkan pengorbanan Sang Madam yang rela bertaruh nyawa demi kehancuran Bokor Mas.


"Aaaaaakkkhhhhh!!!!!" Penyihir Maxi meraung dengan murka. Ia kini tak memiliki senjata pamungkas untuk melawan Sang Raja.


"Menyerahlah! Waktumu sudah tiba," ujar Raja dengan nada yang dalam dan sikap tegas seperti pada awal bertemu.


"Sial!! Siaal!! Hiyaaaahhhh!!!!"


Burung raksasa yang tergelepar, tampak membaur, menjadi satuan burung kecil lagi, lantas mewujud menjadi pedang hitam nan gelap dengan aura yang mencekat.


"Mati kau RAJA SIALAN!"


Teriak Penyihir Maxi dengan suara melengking. Raja yang sedang bersiaga, tentu langsung menghalau serangannya. Sang Naga yang berada di bawah raja, terbang ke udara, lalu menukik dan mewujud menjadi pedang, sama seperti Sang Burung Neraka.


"Gunakan aku, Yang Mulia. Mari selesaikan pertarungan ini," ujar Sang Naga percaya diri.


"Baiklah! Hiyaahhh!!!"


Syuuuuk

__ADS_1


Syuukkk


Crakk!!


Raja mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh, dan berhasil mengenai penyihir yang tak memiliki kemampuan bertarung dengan pedang.


"Aaakkkkk!!"


Penyihir Maxi terpojok. Raja menunjuk dagunya dengan Pedang Naga yang sedang dipegangnya.


"Menyerahlah!" titah Sang Raja dengan etiket ksatria. Ia akan membiarkan Penyihir hidup, jika mengaku kalah. Namun, tentu, akan dihukum sesuai perbuatannya.


"Hiyaahh!!"


Penyihir berhasil menusuk lengan Raja. Kali ini, ia terkena serangan.


"Urrghhh," erang Raja sambil memegangi lengannya yang tersayat pedang Penyihir Maxi.


"Raja! Incar jantungnya!" teriak Naga yang kini menjadi pedangnya.


"Hiyaaahhh!!!"


CRAKKK


"Aaaaakkkkkk!!"


Raja menyabetkan pedang untuk melukai tubuh Sang Penyihir. Ia pun limbung dan terkapar tak berdaya.


JLEBBBB!


CSSSS....


Tak memerlukan waktu yang lama, jantung Penyihir Maxi telah tertusuk dan terbelah. Kali ini, tidak ada kesempatan untuknya bangun.


"Si... Al..... " gumamnya tanpa arti.


Penyihir Maxi menyusul Turin dan melebur menjadi abu. Para penyihir, kembali kepada ketiadaan.


Raja dan Naga kembali berhadapan, kali ini, dengan suasana lengang. Kemenangan yang mereka impikan, akhirnya terjadi dengan sangat dramatis. Istana yang hancur, menjadi saksi bisu atas pertarungan epik yang terjadi. Naga Emas berdiri di atas reruntuhan, menunjukkan keanggunannya yang tak tergoyahkan dan memancarkan cahaya emas yang mempesona. Raja berlutut dengan takzim, menghadap Sang Naga, yang telah menyelamatkan nyawanya dan juga kerajaannya.


Raja memandangi wajah naga emas dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih, Naga," kata Raja dengan suara tergetar.


"Engkau telah menyelamatkan nyawaku dan kerajaanku."


Naga emas memahami pentingnya tugasnya untuk melindungi kerajaan dan mengorbankan dirinya demi kebaikan. Ia menatap Raja dengan anggun dan penuh kelembutan, kemudian mengangguk dan berkata, "Sudah sepantasnya saya melakukannya. Karena ini adalah kerajaan kita,"


Raja tak mengerti arti dari tanggapannya. Ia menatap Sang Naga dengan rasa ingin tahu yang mendalam.


"Apakah kau berasal dari Cordovan?"


Naga itu kemudian terbang ke udara, dan menghilang.


...****************...


...Kemanakah perginya Sang Naga??...


...****************...

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2