Kutukan Penyihir

Kutukan Penyihir
The Heartbreak


__ADS_3


"Istriku....."


Markian terduduk lemas di sebelah peti mati kerajaan yang menjadi pembaringan terakhir Sang Ratu.


Raja baru saja sampai di bilik duka dan mendapati jenazah Ratu Cordovan sedang terbujur kaku di dalam peti berselimut mana suci. Paladin mengawetkan jasad Sang Ratu agar dapat ditemui dengan baik oleh Raja, sebelum pergi berperang dengan bala tentara penyihir.


"Kami turut berduka cita, Yang Mulia," ucap semua pimpinan korps hampir bersamaan. Markian membuka peti itu, dan mengelus-elus wajah Isyana yang sudah mengeras tanpa aliran darah. Rona merah muda yang biasa nampak dari kedua pipinya, telah tiada. Sekarang, tak ada lagi canda tawa dan dengus kesal Isyana yang biasa didengar oleh Markian sepanjang mereka bersama. Duke Gelael telah menceritakan proses penemuan Ratu Cordovan di batu raksasa, Bukit Sembunyi, beberapa saat yang lalu. Kemudian, mereka membawa jenazah Ratu kembali ke Tanah Cordovan untuk dimakamkan. Moti dan Magda tidak tampak di sekitar area, seorang ksatria mengatakan bahwa para pelayan yang dibawa oleh ratu dari Kerajaan Puth belum siuman selama beberapa hari karena syok hebat.


"Astaga...,"


Markian kehilangan kata-kata. Semua orang ikut larut dalam kesedihan yang mendalam. Namun, sebuah suara, menggemparkan bilik duka.


"Salam pada Yang Mulia Raja," sapa seorang pria bertubuh besar dan kulit legam seperti telah lama terkena sengatan sinar matahari.


"Bukankah kau adalah ajudan Putera Mahkota Kerajaan Puth?" Markian mencoba mengingat.


"Benar, Yang Mulia. Saya adalah Shahrazan. Dan ini adalah Azzam. Ksatria pelindung putri, atau mendiang Ratu Cordovan," ucap Razan dengan hati-hati.


"Ya. Terima kasih sudah datang kemari. Sekarang kau boleh kembali dan menyampaikan kabar duka ini pada Baginda Raja," perintah Raja Cordovan dengan suara bergetar.


"Saya kira, tidak bisa, Yang Mulia," jawab Razan dengan optimis.


"Apa maksudmu?"


"Maksud kedatangan kami berdua adalah untuk menghidupkan Putri kembali, Maaf, saya tidak, terbiasa memanggil Ratu. Maksud saya, menghidupkan Yang Mulia Ratu,"


Markian langsung berdiri dari posisinya dan mendekat ke arah Shahrazan sambil mencekik lehernya.


"Jangan macam-macam!" hardik Markian tanpa menahan amarah. Ia tidak menginginkan lelucon gelap di saat seperti ini.


"Ka.. Kami adalah keturunan naga emas, Yang Mulia," ujar Azzam mencoba membela Shahrazan.


"Apa? Bagaimana mungkin?"


"Perkenalkan, Yang Mulia. Saya Ksatria Azzam. Saya bertugas menjadu ksatria bayangan Sang Putri. Ketika Putri diculik, saya kehilangan jejaknya. Jadi, saya kembali ke Kerajaan Puth untuk melapor pada Baginda Raja Zanzabir," Azzam mulai menjelaskan.


"Benar, Yang Mulia. Anda bisa meminta tebusan nyawanya karena gagal melindungi Ratu Isyana," sahut Shahrazan yang sudah terlepas dari cekikan Raja.


"Lanjutkan,"


"Setelah melapor kepada Baginda, saya ditugaakan kembali kesini dengan airmata naga, Yang Mulia. Saya juga datang bersama Ksatria Naga Emas yang tersisa, Shahrazan," jelas Azzam sambil menunjukkan botol kristal berisi air keemasan yang berpendar-pendar.

__ADS_1


"Luar biasa!"


"Tidak mungkin!"


"Jadi, klan naga emas masih ada? Itu kabar yang baik!"


Seru para ksatria dan pimpinan korps yang berada di dalam bilik duka. Madam Velocia langsung mendekat ke arah Shahrazan dan menyobek kulit pria itu dengan belati kecil yang dibawanya. Darah merah mengalir, sama seperti manusia pada umumnya, namun, segera saja darah itu berhenti, dan bekas luka menghilang.


"Maaf, aku harus mengecek kebenaran kata-katamu," ujar Madam Velocia sambil membungkuk ke arah Shahrazan. Pria itu hanya tersenyum dan berkata bahwa ia tidak apa-apa.


"Benar, Yang Mulia, dia adalah Ksatria Naga Emas," ujar Madam Velocia memverifikasi.


Raja Markian terbelalak. Ia menghambur ke arah Shahrazan rona wajah lega.


"Jadi, katakan. Bagaimana caranya menghidupkan ratu kembali?" tanya Markian berapi-api.


"Kami butuh bantuan, seorang penyihir yang sangat sakti yang dapat mengekstrak airmata naga menjadi jantung buatan untuk membangkitkannya," ujar Shahrazan pesimis. Tidak ada penyihir yang dapat melakukan itu jika mereka ada di pihak lawan.


"Izinkan saya melakukannya, Yang Mulia," ujar Madam Velocia alias Penyihir Turin. Shahrazan menyerahkan botol kristal yang dibawa oleh Azzam kepadanya.


Madam Velocia mendekat ke arah peti. Ia mulai merapalkan mantra-mantra dan juga membuat tarian ritual pembangkitan jiwa.


"Shasa, beri aku ramuan. Tuan-tuan, tolong angkat peti ini ke luar di bawah cahay rembulan," perintah Madam Velocia dengan segera.


Para ksatria langsung menggotong peti Ratu secara bersamaan.


"Hup. Hah,"


Peti Ratu Cordovan telah diletakkan di pelataran Kuil. Madam kembali mengukang tarian ritualnya, kali ini dengan mengucurkan ramuan pembangkit jiwa dan meletakkan botol kristal itu di dekat jantung ratu yang terbelah.


"Vivanza... Vivavoom.... Varavaan.... Virchaaaa..."


"Vivanza... Vivavoom.... Varavaan.... Virchaaaa..."


"Vivanza... Vivavoom.... Varavaan.... Virchaaaa..."


Trak..


Trak..


Dum...


Dum..

__ADS_1


Para gadis The Sacred Flowers mengikuti tarian Madam Velocia dengan gemulai. Mereka melenggang dengan cantik dan fasih. Para gadis menyerap sinar rembulan dan menyebarkan ke sekitar peti, ke arah Ratu Cordovan.


"Vavavooommm!"


"Vavavooommm!"


"Vavavooommm!"


Sinar kemerahan rembulan menyebar dan menyinari seluruh permukaan peti Sang Ratu. Raja Markian terpesona dengan keindahan sesaat yang dilihatnya. Para gadis cantik, indahnya tarian, dan sorotan sinar rembulan menyatu bagaikan sihir yang memabukkan. Semua orang tak melewatkan tontonan ini begitu saja. Mereka memandang dengan tatapan kekaguman dan rasa khidmat, seperti selayaknya mengikuti sebuah ritual suci.


Perlahan, sinar yang menyorot merasuk ke dalam jantung ratu.


Semua orang menunggu keajaiban yang seharusnya datang.


Satu menit,


Dua menit,


Sepuluh menit,


Tidak ada reaksi.


Botol kristal pecah dan air mata naga merasuk ke dalam jantung ratu.


BLAAAAR!


Botol yang pecah, tiba-tiba tergelincir dan terbakar.


"Oh, Tidak!!" Shahrazan memekik. Conelly yang baru saja tiba di pelataran, tak dapat menghentikan rasa penasarannya. Ia pun merangsek ke arah suara Razan dengan melewati beberapa kerumunan orang yang sudah berkumpul.


"Ada apa, Razan?" tanyanya menyelidik. Shahrazan sudah berlari ke arah botol yang terbakar.


"Oh tidak! Ini tidak berhasil!" ia memekik pilu. Raja Markian ikut terduduk dengan wajah pucat. Harapannya telah sirna. Harapan terakhir yang dapat menyelamatkan Sang Ratu sudah pupus musnah.


Conelly mendekat ke arah Shahrazan untuk menenangkannya. Pria berbadan besar itu menangis sesenggukan, sama halnya dengan Raja Markian. Madam Velocia dan para gadis The Sacred Flowers tak kalah terpukul. Mereka mematung di tempat masing-masing.


"Yang Mulia! Gawat! Gawat!!! Pasukan penyihir sedang bersiap bertempur! Pasukan mereka membentuk formasi di pelataran istana!"


Seorang telik sandi yang dikirim Paladin beberapa jam yang lalu, datang membawa kabar yang mendesak.


Raja Markian yang hatinya hancur berkeping-keping, tak dapat menunda pertempuran. Ia meminta waktu untuk memulihkan diri sebentar, sebelum mulai masuk ke ruang strategi untuk menyiapkan pasukan perang yang jumlahnya tiga kali lebih besar dari saat pertempuran pertama.


...****************...

__ADS_1


...bersambung...


...****************...


__ADS_2