
BZZZZTTTT!
Sebuah lingkaran sihir tampak membulat hampir sempurna di depan pintu istana. Penjaga yang sedang berada di pos, menghambur ke arah dengungan suara yang tercipta di dekat mereka.
NGUUUNG
NGUUUNG
"Perhatikan!! Apakah itu penyihir?" tanya seorang ksatria yang tengah mengacungkan senjata. Mereka sedang bersiap untuk bertempur melawan serigala dan juga tentara pemberontakan yang baru saja diinformasikan oleh telik sandi istana. Bagai jatuh tertimpa tangga, kemalangan Cordovan bukan hanya diciptakan oleh penyihir yang tiba-tiba muncul, tapi juga penguasa serakah yang ingin menduduki istana.
"Bersiap!"
BZZZZZTTT
Lingkaran sihir sudah membulat sempurna, kabut asap pekat menyelimutinya. Pendar cahaya berkilat-kilat menyilaukan mata.
"Hati-hati!"
KLANG!
Para ksatria dalam posisi siap menyerang siapapun yang akan keluar dari balik lingkaran. Mereka sebenarnya ketakutan karena tidak ada yang memiliki pedang atribut yang dapat mengalahkan penyihir. Usaha yang paling mungkin dilakukan hanya bertempur sebisanya dengan sekuat tenaga.
Tak lama kemudian, Raja Cordovan, Panglima Suci dan Penasihat Agung muncul dari balik lingkaran.
"Ya.... Yang Mulia?"
Para ksatria terheran dengan apa yang mereka lihat. Namun, tak ada yang berani menyangsikan kekuatan Kuil Suci. Mereka lalu menurunkan senjata dan berlutut di hadapan tuannya.
"Bangunlah. Kalian sudah berusaha," Ujar Raja Cordovan kemudian memasuki Istana.
"Sir Gray, laporkan situasinya," perintah Markian kemudian.
"Lapor, Yang Mulia! Para werewolves sedang menuju ibu kota, penyihir juga sudah ada di bukit dekat kita. Mereka bersiap menyerang kurang dari satu jam lagi. Tentara pemberontakan juga akan datang ke ibu kota, hampir bersamaan dengan penyihir. Warga sekitar sudah kami evakuasi sebisanya,"
"Apa? Tentara Pemberontakan?"
"Ya, Baginda. Tentara Duke Elliot sedang akan menduduki ibu kota,"
"Kurang ajar! Mereka sudah gila! Bisa-bisanya berpikir seperti itu di situasi begini," Markian merutuk. Tapi ia tak akan membuang waktu.
"Panglima, bersiap bertempur!"
"Baik, Yang Mulia!"
Mereka berdua menuju ke gudang senjata yang tak berada jauh dari Istana Raja. Panglima Suci hanya perlu mengisi tenaganya dan mengasah pedang auranya. Markian, meski tidak memiliki kekuatan sihir, namun, ia adalah keturunan Blue Phoenix yang punya mana beratribut es. Pedang milik Markian dapat memancarkan sihir es bahkan tanpa berusaha. Para musuh yang mencoba melawannya akan hancur dengan kristal es yang muncul dari sabetan pedangnya.
*
"Formasi!"
"Siap!"
"Berangkat!"
Drap
Drap
Drap
Drap
__ADS_1
Pasukan kerajaan yang terdiri atas 10 pleton berbaris dan berderap menuju ibu kota. Mereka akan disambut oleh kekacauan yang membabi-buta. Raja Cordovan tak bisa menunggang kuda kesayangannya karena tertinggal di Gene Island. Ada kuda perang favorit lainnya, yakni, Iron Feet. Seekor kuda putih yang perkasa, dengan kaki sekuat baja yang staminanya selalu prima, bahkan di medan laga yang tak bersahabat.
Pasukan berjalan beriringan dengan zirah besi dan senjata yang terasah dalam genggaman. Dalam waktu kurang dari satu jam, mereka akan sampai di ibu kota.
*
BLAAARRRRR
BLAAAARRRR
"Tolooongg"
"Aaaakkkkk"
"Selamatkan akuu!"
Suara teriakan minta tolong terdengar bersahut-sahutan. Orang-orang yang tidak mau dievakuasi akhirnya menuai akibat dari kekeras-kepalaan mereka. Kota telah kacau balau, banyak rumah terbakar, karena sengaja dibakar oleh Penyihir Maxi yang sangat menyukai api.
"Muahahaahaa.. Dasar orang-orang bodoh! Kok nggak lari dari tadi? Muahaahaaa... " Venn tertawa sinis melihat banyak orang lari terbirit-birit karena rumah mereka dibakar oleh Penyihir Hebat Maxi. Venn yang memang sejak awal adalah penyihir spesialis ramuan, tidak terlalu bisa bertarung. Tapi, kesetiaan Venn pada Penyihir Maxi bisa diandalkan.
"Mana pasukan kita?" tanya Penyihir Maxi ke arah Venn.
"Sedang berlari ke sini, Master,"
Penyihir Maxi lalu mengangkat kedua tangannya ke angkasa dan merapalkan mantra-mantra. Tak lama, langit gelap terbelah dan menghujani mereka dengan kawanan burung-burung hitam yang siap menjadi abdi Sang Penyihir.
"Whoaa... Burung neraka! Hebaat! Hebaat! Muahaahaaa..... " Venn memekik dengan riang. Burung-burung itu pun segera memadati kota dengan kawanannya untuk mencari mangsa yang merupakan daging manusia.
"Tidaaaakkk! Anakku!!" seorang ibu berteriak melihat anak bayinya disambar oleh burung neraka. Bayi itu lalu dimakan mentah-mentah dan menjadi rebutan para burung di udara. Ibunya berteriak histeris menyaksikan pemandangan mengerikan itu. Ia menangis meraung-raung namun kemalangan makin bertambah. Seekor serigala jadi-jadian menerkamnya dan ia pun tewas seketika.
*
Pasukan Kerajaan telah sampai di gerbang utama ibu kota. Mereka berderap dengan cepat untuk menuju ke alun-alun, karena mendengar teriakan dan tangis ketakutan dari para warga.
"Wah! Rajanya sudah datang!" Venn berceloteh. Penyihir Maxi yang berada di atas atap gedung tertinggi di alun-alun, menoleh ke arah Markian.
"Masih muda, rupanya,"
"Loh, itu yang pernah ke rumahku," Venn mencoba mengingat insiden penyergapan di Menara Tua. Sedangkan Penyihir Maxi membandingkan usia Markian dengan Kaisar Britani yang pernah ia bunuh seribu tahun yang lalu.
BLARR!
Bola api menyambar ke arah Markian, namun berhasil ditepisnya dengan Pedang Aura.
"Sakti juga," Senyuman sinis tersungging dari bibir Penyihir Maxi. Kali ini, ia turun dan bersiap bertempur dengan Markian.
Markian bersiap menyerang.
Venn meneriakkan sesuatu yang mengganggu.
"Jantung bidadarimu ada di situ loh!"
DEG!
"Apa katanya?" desis Markian dalam hati.
"Istrimu sudah mati! Muahahaaaa.... "
Tes...
Air mata Markian menitik tanpa diperintah. Dadanya sakit. Apakah benar Isyana sudah tewas?
BLAR!!
__ADS_1
KLANG!
Serangan api dari Penyihir Maxi menyadarkan Markian dari lamunan. Ia tak akan goyah. Jika memang Isyana sudah tewas, ia akan memastikannya dengan mata kepalanya sendiri seusai bertempur mengalahkan penyihir-penyihir jahat ini.
'GROOOWWLLL'
"SERANG!"
Seekor werewolf berusaha mengoyak tubuh Markian, namun berhasil dihentikan oleh Panglima Suci. Pasukan pun bergerak melibas kawanan serigala jadi-jadian yang sudah datang dari arah hutan.
'Auuuuuuu'
Mereka melolong bersahut-sahutan sambil mencakar dan menerkam. Beberapa ksatria tidak bisa bertahan karena monster serigala itu bentuknya sangat besar.
"Akkkkkkh!"
Satu ksatria tumbang. Pedangnya tak bisa menembus kulit werewolf yang sangat keras. Ia pun tewas terkena cakar tajam dan koyakan gigi serigala yang merupakan senjata alami mereka.
CRAAAKKK!
Pedang suci menebas leher seekor serigala. Hanya pedang aura yang bisa melukai dan membunuh werewolf.
"Fokus!!" Perintah Panglima Suci yang masih sibuk melibas kawanan werewolves. Kali ini, bukan hanya serigala saja yang harus dipukul-mundur, tapi juga burung-burung neraka.
'KOAAAAAK'
'KOAAAAAK'
"Hiyah!"
Serbuan burung-burung neraka cukup mengganggu pandangan. Meski serangan mereka tidak mematikan, namun, cukup melukai dan menyakitkan seperti serangan Elang. Sabetan pedang para ksatria berhasil menumbangkan beberapa kelompok burung yang berhamburan. Namun, jumlah mereka sangat banyak, dan kehadiran mereka akan terus ada jika dipanggil oleh Penyihir Maxi.
'Klang'
'Blaaar'
Penyihir Maxi masih berduel dengan Raja Cordovan. Mereka berdua tidak banyak bicara. Tidak seperti Venn yang suka mengoceh, Penyihir Maxi memang pendiam, namun, ia juga pendendam.
"Kau boleh juga," ujar Penyihir Maxi yang cukup kewalahan melawan Markian. Keahliannya berpedang dan nyalinya tak bisa dianggap enteng. Sabetan pedangnya hampir mengenai Penyihir Maxi, namun dapat dihalau oleh kekuatan sihirnya.
"Tidak usah banyak omong! Hiyah!!"
Hampir saja lengan Penyihir Maxi terpotong jadi dua, namun, ia berhasil menghindar. Kali ini, Penyihir Maxi sangat murka, dan petir pun dipanggilnya.
CTAAAARRR!
"Hhhhggggghhhh"
Napas Markian tersengal. Ia sedang berusaha sekuat tenaga untuk menghalau petir yang menyambar ke arahnya.
"Yang mulia!" ksatria yang ada di dekatnya, ikut menopang tubuh Sang Raja dari arah belakang. Mereka terjungkal, namun masih aman, petir berhasil dihalau. Tentu saja Penyihir Maxi tidak tinggal diam, ia memanggil petir kembali, dan...
CTAAAARRRR
BZZZZZZZZTTT
Markian yang berusaha bangkit, tak bisa menghindari serangan kedua.
****************
(Bersambung)
****************
__ADS_1