Kutukan Penyihir

Kutukan Penyihir
Kekaisaran Britania


__ADS_3


Perang telah usai.


Naga yang menghilang dari pandangan Sang Raja, rupanya sedang menyelesaikan misi untuk menghapus kegelapan terakhir yang melanda benua. Kehancuran Penyihir Maxi menyisakan berbagai kabut sihir hitam yang tak bisa hilang begitu saja.


'Groaaaaaarrr'


Naga yang terbang dengan keanggunan dan gagah berani, menyemburkan api biru untuk membakar segala makhluk sihir yang tersisa.


"AWAS! BERLINDUNG!!" teriak Paladin pada para ksatria. Ia belum mengetahui bahwa Sang Naga adalah sekutu, bukan musuhnya.


"Tenanglah, Ksatria. Aku bukanlah musuhmu. Aku hanya sedang membakar makhluk sihir yang tersisa," ujar Sang Naga dengan lembut.


Para ksatria yang sedang berperang dan sangat lelah, tampak takjub dengan keajaiban yang sedang terjadi di akhir pertempuran mereka.


"Apakah Si Penyihir sudah mati?" tanya Panglima Suci pada Sang Naga.


"Ya, benar. Raja juga selamat," jawab Sang Naga.


"Syukurlah," desis Panglima dengan raut wajah yang lega. Senyuman merekah diantara wajahnya yang lelah. Paladin, yang mendengar kabar dari Sang Naga, segera meneriakkannya pada pasukan.


"PENYIHIR TELAH MATI! KITA MENANG!!"


Teriakan Paladin menggema diantara kekacauan yang telah mereda.


"PENYIHIR TELAH MATI! KITA MENANG!!"


"PENYIHIR TELAH MATI! KITA MENANG!!"


"HIDUP CORDOVAN!!"


"HIDUP ELSAVADOR!!"


"HIDUP SALVAS!!"


"HIDUP ARAZON!!!"


Pekikan kemenangan menggema bersahut-sahutan. Kabut hitam yang awalnya berkumpul dan menggelap diantara para makhluk sihir, lenyap, beserta para monster yang telah susah payah mereka kalahkan.


Tak tampak lagi kemunculan monster yang selalu bereproduksi tanpa henti. Mereka tewas terbakar, dan menguar bersama abu hitam begitu saja. Kutukan penyihir telah hilang, sihir hitam telah memudar. Kegelapan yang awalnya dominan, kini berganti dengan terang keindahan dari alam benua yang asri dan mempesona. Tanah Cordovan masih tampak mempesona meski telah luluh lantak. Keadaan seusai perang sungguh memilukan. Banyak ksatria gugur, dengan mayat yang bercampur bangkai para monster. Bekas-bekas pertempuran juga tak hilang begitu saja, asap-asap yang memudar sedikit demi sedikit, ditambah bau anyir darah berceceran, membuat suasana kemenangan masih diliputi perasaan getir dan was-was.


"Syukurlah, semua sudah berakhir," ujar Komandan Pleton kemudian terduduk lemas, setelah memeras tenaga dan kekuatannya untuk menumpas para musuh.


Sisa-sisa tentara yang terluka dan selamat dari berbagai kerajaan tampak berkumpul sesuai panji pasukan mereka. Mereka memang sedang terdampar di tengah-tengah kehancuran, kelelahan, namun penuh dengan harapan akan masa depan yang gemilang, usai memenangi pertempuran.


"Pasukan! Berkumpul sesuai negara masing-masing," Perintah Raja dari balik puing kastil yang telah hancur. Kehadiran Raja menambah semangat para prajurit yang telah bersusah-payah bertempur di medan perang. Dengan sigap, Raja memberikan arahan dan semangat kepada para ksatria yang telah bertarung mati-matian dan selamat dari maut yang mengancam. Wajahnya yang tegar, menggambarkan kepuasan atas kemenangan yang telah digenggam. Namun, tak dapat dipungkiri, Raja juga bersedih atas kerugian yang mereka derita akibat peperangan ini. Tanah, bangunan, dan nyawa telah banyak berkurang. Kemenangan ini tak layak untuk dirayakan secara berlebihan.


"HIDUP RAJA CORDOVAN!"


"HIDUP RAJA CORDOVAN!"

__ADS_1


"HIDUP RAJA CORDOVAN!"


Para ksatria telah berkumpul sesuai dengan negara mereka masing-masing. Raja Cordovan kemudian mengundang Para Raja untuk berdiskusi hal yang mendesak. Raja dari keempat kerajaan yang ada di Benua Britania, berkumpul dan membahas sesuatu yang penting, soal keberlangsungan aliansi.


Di tengah-tengah pembahasan yang mereka upayakan, tampak kabut sihir menguar di udara, menyapu segala kekacauan yang ada.


"Itu Sang Naga!"


"Astaga! Besar sekali!"


"Indah sekali!!"


Naga menghentakkan kakinya dengan langkah yang pelan dan agung. Kehadirannya mengheningkan suasana. Ia lalu terbang kembali, dan mulai mengepakkan sayapnya untuk menginisiasi sihir pemulihan. Sihir itulah yang lantas membuat kastil-kastil Cordovan yang hancur dapat kembali utuh, begitu pula, lahan dan tanaman yang porak-poranda dapat kembali menyatu dengan indah.


Kutukan Penyihir juga turut musnah, dengan berakhirnya kegelapan dari sihir hitam. Tak tampak lagi tabir penyihir yang menyelimuti Cordovan, pun dengan tanah di sekitar selatan benua--Arazon, Gene Island juga termasuk. Segala ketandusan dan kehancuran pulih dengan keajaiban sihir Sang Naga Emas yang bangkit kembali setelah tertidur selama seribu tahun lamanya.


Semua orang memekik gembira atas keajaiban yang mereka saksikan. Meski Sang Naga tak dapat membangkitkan rekan-rekan mereka yang telah mati, namun, pulihnya tanah dan juga hilangnya kutukan membuat masa depan kerajaan cerah dan gemilang. Tidak ada yang menyangka bahwa hari ini akan terjadi. Ramalan para leluhur tentang berakhirnya penderitaan, meski dalam kurun waktu yang lama, pada akhirnya terwujud. Para ksatria dan rakyat bersuka-cita dengan kemenangan dan juga berkat agung yang diperoleh mereka mulai hari ini.


"HIDUP SANG NAGA!!"


"HIDUP SANG NAGA!!"


"HIDUP SANG NAGA!!"


Naga tersenyum mendengar namanya dielu-elukan oleh para ksatria. Ia lantas terbang rendah, dan mendekat ke arah Sang Raja.


"Berikan aku berkatmu, Yang Mulia. Maka aku akan kembali menjadi manusia," ujar Sang Naga yang merasa telah menyelesaikan misinya. Ia kini meletakkan kepalanya di tanah, dan meminta berkat dari Raja Cordovan. Sang Raja tak mengerti maksud dari ucapan Naga.


"Cepatlah,"


"Baiklah. Aku memberikan berkat Cordovan kepadamu, Wahai Temanku yang Agung. Terima kasih atas kerja keras dan pertolonganmu," ucap Sang Raja seperti sedang membaiat ksatria.


"Terima kasih, Rajaku,"


Di tengah kerumunan, Sang Naga memancarkan sinar kuning yang menyilaukan. Sosok yang besar dan agung itu, kemudian menghilang, dan mewujud menjadi seorang wanita cantik yang dikenal baik oleh Raja Markian.


"Isyana??"


"Ya, Rajaku. Aku adalah Isyana, istrimu,"


"Oh! Benarkah itu??"


"Benar, Yang Mulia,"


Raja menghambur ke arah istrinya dengan perasaan sukacita. Ia tak menyangka, bahwa, selama ini, rekan bertempurnya adalah istri yang dianggapnya telah tiada.


"Bagaimana mungkin kau menjadi seekor naga, Isyana?"


"Panjang ceritanya, Yang Mulia, anda akan segera tahu dari Tuan Penasihat Agung,"


Raja Markian tak begitu mempedulikan fakta yang ada. Ia hanya akan menikmati momen kebersamaan dengan istrinya tanpa memikirkan apapun. Isyana tak akan mengetahui bagaimana hampanya hidup Markian tanpa kehadirannya.

__ADS_1


"Omong-omong, mengapa aku jadi istrimu? Sepertinya kita belum melangsungkan acara pernikahan?" protes Isyana, meski dengan bercanda.


Raja yang terlihat masih melingkarkan lengan ke arahnya, menanggapi dengan serius dan menceritakan soal pernikahan jiwa. Isyana tergelak dan mencium suaminya dengan penuh cinta. Ia telah mengetahuinya, meski masih juga ingin menggoda Sang Raja dengan membahas hal itu. Raja tak dapat membalas perbuatan usil Sang Ratu karena hanyut dengan perasaan bahagia yang meluap-luap. Ia tak pernah berpikir untuk bertemu kembali dengan istrinya yang telah tiada.


"Yang Mulia, mari kita lanjutkan pembahasan yang tertunda?" ajak Ratu Slavina, membuyarkan kemesraan antara Raja dan Ratu Cordovan.


"Baiklah, mari.... "


Mereka berjalan beriringan, menuju, ke arah tenda pimpinan untuk melanjutkan pembahasan tentang aliansi kerajaan.


"HIDUP RATU CORDOVAN!!"


"HIDUP RATU CORDOVAN!!"


"HIDUP RATU CORDOVAN!!"


Pekikan kemenangan yang mengelu-elukan Sang Ratu, mengudara seketika, mengiringi rapat darurat para pimpinan kerajaan.


"Raja, ada baiknya kita satukan aliansi ini untuk waktu yang lama," ucap Raja Timon dengan suara yang dalam.


"Bagaimanakah ide itu dapat terwujud?" tanya Sang Raja Cordovan yang menjadi pimpinan tertinggi aliansi kali ini.


"Kita dapat menyatukan kerajaan dan membuat kekaisaran, seperti leluhur kita sebelumnya," cetus Ratu Slavina dengan bijak.


Raja Arazon dan raja lain yang mendengar ide tersebut, tentu saja menyepakatinya. Kekuatan militer dari kerajaan lain tidak ada yang sebanding dengan kekuatan militer dari Kerajaan Cordovan. Keempat pimpinan memahami pentingnya pertahanan militer dalam menghadapi situasi genting, seperti yang terjadi saat ini. Mereka harus mengakui bahwa, kemampuan Raja Cordovan-lah yang paling mumpuni.


"Kami telah sepakat untuk menunjuk anda sebagai Kaisar Britania, Yang Mulia. Apalagi, Yang Mulia Ratu jugalah yang telah memusnahkan kutukan penyihir dan menghempaskan pasukan sihir hitam tanpa sisa. Kekuatan gabungan dari anda berdua akan menjadi kemakmuran bagi Benua kita. Bagaimana menurut anda," tanya Ratu Slavina dengan penuh harap.


Raja Markian menggenggam erat tangan istrinya yang tersenyum ke arahnya. Ratu mengangguk lembut, seperti menyetujui gagasan para pimpinan kerajaan.


"Baiklah, jika itu demi kemakmuran kita semua," tukas Raja dengan tegas, diiringi genggaman erat Sang Istri.


Raja memandang sekeliling, mengamati medan perang yang luluh lantak. Ada desir keharuan yang menyeruak dalam batinnya, menyaksikan betapa banyak nyawa yang telah hilang dalam perang kali ini.


"HIDUP KEKAISARAN BRITANIA!" Pekik Raja Timon, Ratu Slavina, dan Raja Arazon kompak.


Para prajurit yang tertatih dan mencoba berdiri kembali, mendengar teriakan dari arah lini depan. Mereka kembali bersemangat dan menggaungkan hal yang sama.


"HIDUP KEKAISARAN BRITANIA!"


"HIDUP KEKAISARAN BRITANIA!"


Tepat setelah sihir hitam mereda, dan peperangan dimenangkan oleh Tentara Aliansi, Kekaisaran Britania bangkit kembali.


Kekaisaran Britania, akan mengulang kejayaan panjang yang pernah mereka torehkan di dalam sejarah peradaban dunia.


...****************...


...Bersambung...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2