
Connelly terkesiap di waktu pertama ia membuka mata. Kepalanya berat, efek mabuk semalam. Ingatannya kabur, namun, ia yakin sedang berada di Bar di tengah kota. Dipindainya tubuh, tangan dan kakinya, bagaimana ia bisa berganti baju? Lalu pandangannya meluas ke seluruh ruangan.
"Ini kamarku?" tanyanya pada diri sendiri. Connelly tak ingat bahwa ia sudah berpindah tempat dari Bar menuju kamarnya. Ia lalu membunyikan lonceng, dan tampak Jess, pelayan pribadinya memasuki kamar.
"Ya, Nona? Ada yang anda butuhkan?" tanyanya sopan. Jess adalah pelayan baru yang mulai bekerja seminggu lalu. Semua pelayan lama Connelly diganti kakaknya karena sering kehilangan Connelly yang pergi menyamar. Meski tak punya teman lagi, Connelly tak patah semangat. Ia selalu menentang ambisi kakaknya untuk merebut takhta. Connelly berkeyakinan bahwa takhta baik-baik saja dalam pemerintahan Raja Markian. Oleh karena itu, Connelly sering menyamar untuk mengetahui rumor dan situasi politik yang sedang terjadi.
"Sejak kapan aku ada di sini?" tanyanya.
"Kemarin malam penjaga kota mengantarkan anda kesini, nona," jawab Jess pasti.
"Kakakku tau?" Connelly mulai khawatir.
"Tidak, tuan sedang tidak di sini,"
"Fyuh... " Connelly menghela nafas lega. Ia lalu meminta untuk disiapkan air mandi dan mulai berdandan. Ada yang harus dilakukannya hari ini.
*
"Kau yakin lady itu akan kembali lagi ke sini?" tanya Razan sambil menyeruput kopi yang dipesannya barusan. Orang-orang Cordovan agak asing dengan kopi sebagai menu sarapan. Mereka hanya menyantap roti kering dengan teh panas sebagai amunisi untuk memulai hari.
"Yakin lah. Pasti dia lagi bingung. 80% lady itu akan mencari kita lagi untuk menanyakan kekacauan kemarin supaya reputasinya tidak tercemar. Kau itu sangat ahli berpedang, tapi sangat bodoh jika bergaul dengan wanita," Azzam terkekeh mencemooh Shahrazan. Atasannya itu hanya merengut tapi tak membela diri. Kepekaannya dalam mendeteksi bahaya lebih tinggi ketimbang mendeteksi perasaan wanita.
Klinting!
Pintu utama toko nampak terbuka. Seseorang berjalan agak cepat namun tetap mempertahankan keanggunannya.
"Tuh, dateng," Azzam menyikut Razan supaya menoleh ke belakang. Connelly nampak mencari seseorang yang dikenalnya. Azzam melambaikan tangan, gadis itu pun tersenyum lalu mendekat ke arah mereka.
__ADS_1
"Selamat pagi, tuan-tuan," sapanya ramah, kali ini, sebagai seorang lady sejati, bukan anak remaja bengal yang sedang dalam penyamaran.
"Selamat pagi, nona," jawab mereka.
"Mau pesan teh?" tanya Azzam sambil tersenyum.
"Ya, boleh.... " jawab Connelly lantas memasang mimik serius.
"Jadi, katakan. Apa yang terjadi kemarin?" tanyanya. Azzam terkikik dan memandang ke arah Razan. Bola mata Razan memutar lalu senyum sinis tersungging dari balik bibirnya.
"Kau mabuk, lalu kami membawamu ke petugas pos, itu saja," Razan menjawab secara lugas.
"Astaga," Connelly menenggelamkan wajah di antara kedua tangannya. Ia sangat malu karena telah bersikal ceroboh pada teman yang baru saja dikenalnya.
"Tolong rahasiakan ini," pintanya memelas.
Razan menaikkan kedua bahunya sambil menggoyangkan kepalanya, khas respon orang-orang Benua Indiyah. Azzam terkekeh melihat kelakuan mereka berdua.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membalas budi?"
"Ceritakan pada kami, apa yang sedang terjadi di sini? Apakah pernikahan raja batal?" tanya Azzam menyelidik.
"Bukan batal, hanya saja, mereka belum sampai," jawabnya.
Connelly awalnya tak yakin, harus menceritakan hal ini pada orang asing atau tidak. Namun, sudah jadi rahasia umum bahwa Rombongan Raja dan mempelainya gagal datang sesuai jadwal. Jika bukan dia yang bercerita, Razan dan Azzam mungkin akan bertanya pada orang lain dan beritanya bisa saja salah.
Connelly lalu menceritakan legenda Blood Moon-- Fenomena Bulan Merah yang terjadi 50 tahun sekali-- yang sedang dikaitkan dengan gagalnya pernikahan raja.
Blood Moon akan terjadi malam ini. Jika pernikahan belum digelar, konon, Kerajaan ini akan hancur dan dikuasai oleh penyihir.
__ADS_1
"Rombongan raja belum datang? Bagaimana bisa?" Razan terhenyak kaget. Rombongan Raja Cordovan sudah 3 hari berangkat lebih dulu daripada mereka. Sangat aneh dan tak lazim jika hingga detik ini mereka belum sampai di Cordovan.
"Nah, itulah. Aku juga tak tahu," jawab Connelly. "Rumor aneh jadi makin tersebar, kepalaku sangat sakit," lanjutnya. Sebagai seorang bangsawan dan keluarga penguasa Dukedom Gonovan, Connelly tentu mengkhawatirkan kondisi politik tanah airnya yang sedang tidak baik-baik saja. Kakaknya hanya mengeruk keuntungan dari ketidakstabilan pemerintahan Raja Markian. Connelly yakin bahwa Duke Elliot sedang bersuka-cita dan merencanakan aksi pemberontakan bersama dewan-dewan yang mendukung suksesinya.
"Apa tak ada kabar resmi?" Razan mencoba mengorek informasi. Connelly menggeleng.
"Aku sungguh berharap, mereka tiba malam ini, sehingga, Blood Moon bisa terbit sebagai fenomena alam biasa, bukan sebagai pertanda kutukan, seperti yang sedang dibicarakan orang-orang," ujar Connelly dengan suara pasrah.
"Baiklah, terima kasih informasinya," ucap Razan, kemudian pamit untuk melanjutkan perjalanan. Mereka berpisah di kedai itu, dan, entah kapan akan bertemu kembali. Hati Connelly terasa sepi. Berat rasanya melepas kepergian Razan dan Azzam, dua pria yang baru saja ia temui. Razan menoleh kembali ketika sudah melangkah menjauhi kedai. Ia melihat Connelly agak lama, lalu berpaling dan melangkahkan kakinya lagi ke jalan setapak menuju ke Istana Kerajaan.
Connelly tampak duduk sendiri sambil menghabiskan sisa teh yang tak panas lagi. Suram sekali rasanya pagi ini. Ia lalu bangkit dan kembali ke Kediaman Gonovan. Kereta kuda cantik yang terparkir tak jauh dari kedai tampak bersiap untuk mengantarkan Sang Lady kembali ke tempat asal mereka.
*
"Madam! Bagaimana ritual malam ini? Apakah kita akan menari?" tanya seorang gadis cantik yang berpakaian agak terbuka di bagian dada. Tahi lalat di bibir kiri bawahnya tampak menggoda jika dilihat secara seksama karena berbaur dengan aroma melati dan semburat merah dari gincu yang sedang dipakainya.
"Ya, anak-anak. Kita akan menari di pelataran dan menyerap semua energi Bulan Merah agar awet muda," sahut Madam Velocia, kekasih Duke, yang juga pimpinan rumah bordil terkenal di Gonovan.
"Horaaaayyyy!" para anak gadisnya memekik kegirangan. Mereka lalu menyiapkan pakaian terbaik dan melatih koreografi tarian penyihir untuk menyambut Fenomena Bulan Merah yang akan segera tiba.
Rumah Bordil Sacred Flowers adalah rumah bordil terkenal yang menyajikan gadis-gadis cantik dan penuh pesona. Tidak ada satu klien pun yang akan pulang tanpa mencoba layanan mereka. Dan, jika sudah memulai, akan sulit berhenti, seperti ada mantra yang menjerat hasrat para lelaki yang pernah menjadi pelanggan mereka.
Madam Velocia bukan hanya pebisnis andal, namun ia adalah pribadi yang hebat. Benar-benar hebat secara garis biologis. Madam Velocia adalah keturunan seorang penyihir. Mantra-mantra pengikat hasrat tentu saja dapat ia rapalkan dengan mudah, sehingga bisnisnya bisa berkembang pesat. Setiap gadis yang masuk menjadi pekerja di Sacred Flowers akan dibaiat secara khusus dan dipastikan, pesona mereka akan naik 100 kali lipat. Jangankan bermain cinta, hanya menghirup embusan nafas para gadis ketika berbicara saja, sudah bisa membuat pria mabuk kepayang. Rumah Bordil Sacred Flowers menjadi landmark penting di Dukedom Gonovan. Betapa tidak, penguasa Gonovan sendiri adalah pelanggan tetap Madam Velocia dari tahun ke tahun dan tak pernah bosan.
Malam ini, adalah malam yang dinantikan semua wanita keturunan penyihir. Blood Moon, fenomena yang muncul 50 tahun sekali, adalah fenomena langka yang harus dimanfaatkan. Namun, siapa yang mengira, bahwa, fenomena ini akan menjadi malam berdarah yang tidak bisa dilupakan oleh siapapun di Kerajaan Cordovan.
...****************...
(Bersambung)
__ADS_1
...****************...