
CTAAAARRRR
BZZZZZZZZTTT
Markian yang berusaha bangkit, tak bisa menghindari serangan kedua.
"YANG MULIA!!" Ksatria yang ada di sebelahnya memekik panik melihat Sang Raja tergelepar akibat sengatan petir yang dahsyat.
"Aaaarrrggggg!" Markian mengerang kesakitan. Ia terjerembab dengan punggung yang gosong akibat sambaran kilat. Panglima Suci yang masih berada di barisan belakang, segera melesat ke arah Raja Cordovan.
"Hiyaaatt!!!!"
Tebasan pedang aura-nya melibas dua ekor werewolves sepanjang perjalanan menuju ke lokasi Yang Mulia Raja.
'Khaaaaaak'
Suara tercekat para serigala yang tak sempat menyerang. Mereka tewas seketika akibat tebasan Pedang Aura Sang Panglima. Darah segar berwarna merah kebiruan mengalir seperti anak sungai. Bau amis dan busuk menyeruak di antara bangkai para monster. Darah itu bahkan beracun. Tanaman-tanaman gulma yang tumbuh liar di sekitarnya hangus terbakar terkena aliran darah mereka.
Suasana di medan pertempuran menjadi semakin mencekam. Ambruknya Sang Raja seakan jadi sebab gentarnya serangan pasukan kerajaan. Mereka terpaksa berperang dengan makhluk mitologi, meski kekuatan tak seimbang. Para ksatria menjadi semakin terpojok. Ah. Seandainya saja mereka juga makhluk berperisai sihir, tentu ini akan menjadi hal lain. Ketidakseimbangan sumber kekuatan antara pasukan manusia dengan tentara sihir menjadi ambang batas perlawanan. Sepanjang mata melihat, hanya ada kobaran api, makhluk jahat dan dominasi sihir hitam yang sedang mengamuk mengacaukan medan perang.
"Haa..... Haa.... Haa...... Bagaimana bisa manusia lemah seperti kalian memimpin benua?" seru Penyihir Maxi dari atap air mancur alun-alun yang telah berhenti beroperasi. Kedua tangannya menengadah ke atas, dan memanggil kawanan burung neraka yang segera turun seperti hujan.
"Aaaakkkkkhhh" Ksatria lain yang sedang bertarung, tak dapat menghindari sambaran burung bermata merah, dan bercakar ganas, yang mendadak muncul di antara langit dan kabut asap. Kepalanya yang berpelindung baja tak bisa menghindari kibasan sayap burung neraka yang menerbangkan pasir panas. Mata ksatria menjadi buta, sehingga ia tak mampu menangkis cengkeraman tajam si burung yang merobek pipi dan matanya seperti belati. Leher ksatria itu pun patah terkena benturan keras tanah ketika terjatuh. Tak butuh waktu lama bagi burung-burung neraka untuk kemudian menyantapnya sebagai hidangan pembuka.
SIUUUUUT!
BLAAAARR!
Bola api kembali mengobrak-abrik formasi pasukan kerajaan yang sudah susah payah bertahan akibat serangan manusia serigala. Penyihir Maxi yang melajukan serangan dari atas air mancur juga tak banyak berpikir. Bidikan apinya diarahkan begitu saja tanpa mempertimbangkan bala tentaranya yang mungkin terkena serangannya.
'Kaaaaing.... Kaaaaiiing.. '
Seekor serigala terbakar dan tenggelam dalam kepanikan akibat bulu-bulu yang mengobarkan api besar. Ia lalu tewas dalam keadaan mengenaskan dengan menjadi abu.
"Pasukan! Bersiap mundur!" Perintah Panglima Suci yang menaksir kondisi pasukannya yang sudah kewalahan. Kali ini, Buaya-buaya rawa yang ukurannya dua kali lebih besar tampak menyembul dari balik hutan. Lagi-lagi, mata merahnya menyala-nyala seakan sedang mematuhi instruksi tuannya. Ukurannya yang tak seperti biasanya membuat takut semua orang. Sunyi senyap tanpa suara, ia lalu menerkam siapapun yang melintas.
"Aaaaaakkkk".
Korban mulai berjatuhan krmbali. Tubuhnya hancur dikoyak-koyak predator air yang datang tanpa diprediksi. Kondisi para pasukan kerajaan ada di titik nadir. Sepuluh pleton pasukan, kini hanya tinggal lima, kira-kira. Separuh dari mereka tewas di tangan para musuh. Panji-panji yang awalnya berkibar gagah, kini hangus tak tersisa. Kuda-kuda sudah melarikan diri dalam kepanikan. Mereka terlepas dari kekangan para komandan pleton yang turun dan melakukan serangan dari bawah agar efektif. Namun, rupanya, tidak juga. Serangan jarak dekat yang mereka lakukan juga sia-sia.
Panglima Suci yang berusaha melindungi Raja tampak kuwalahan. Maka, ia memanggil mundur pasukan untuk menyusun rencana susulan.
"Shield!"
__ADS_1
Panglima Suci memasang mantra pelindung. Sebuah perisai suci berwarna putih kebiruan menyelimutknya beserta orang-orang dalam jarak 200 meter.
SIUUUT
BLAAARR
Bahkan bola sihir tak dapat menembus perisai tersebut.
"Berlindung!" serunya memanggil para ksatria untuk mendekat. Para ksatria yang sudah tak memiliki daya, mendekat ke arah Panglima.
CRAK!
"Aaakhhhh"
Salah seorang ksatria tak mampu bertahan. Seekor monster buaya menerkamnya yang sedang lengah hampir tanpa suara. Ia gagal mengidentifikasi musuh baru yang mendadak tergabung dalam tentara sihir Penyihir Maxi.
"Licik! Sihir perlindungan sialan!" rutuk Penyihir Maxi yang merasa terprovokasi.
"Petir... Petir.. Oh... Petir dari neraka! Datanglah padaku!"
Kedua tangan Sang Penyihir Menengadah ke atas memanggil petir yang bergetar-getar di langit. Sebuah kilatan putih besar tertangkap tangannya, lalu dihempaskannya ke bumi.
CTAARRRR!!!!!!!
BZZZZZZZTTTTT
"Super shiled!!!"
"Super shield, back up!"
Terdengar suara lain dari belakangnya. Dorongan Panglima untuk menjauhkan serangan petir dari perisainya supaya tak mengenai pasukan yang sedang dilindungi, mengejutkannya.
"Panglima! Kami akan membantumu!" kata Paladin dengan pedang aura yang menyala-nyala dan memancarkan sihir perlindungan untuk mengoptimalkan perisai tuannya.
"Paladin!" Panglima berseru dengan lega. Ia begitu senang mendapatkan bantuan yang tak terduga dari bawahannya.
"Ksatria Suci! Formasi!" Perintah Paladin. Kali ini, serangan pasukan dengan mana sihir akan berbeda dengan pasukan kerajaan biasa.
Pasukan Ksatria Suci telah sampai di ibu kota. Meski memakan perjalanan yang cukup lama. Akhirnya mereka tiba juga dan bisa ikut bergabung dengan pasukan kerajaan di medan perang.
"Sial! Siapa mereka, Master?" tanya Venn yang sedang beringsut dari balik air mancur. Ia tampak memakan sayap burung neraka yang baru saja tergelepar karena tebasan ksatria. Dipanggangnya burung itu untuk mengganjal perut. Venn tampak mengunyah bangkai burung itu dengan sangat rakus.
"Mereka adalah pasukan suci, Cih! Tidak terduga," Penyihir Maxi memandang sinis ke arah pasukan yang baru saja tiba.
SIUUUUUT
BLAARRRR
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, ia memulai serangan. Bola api sihir Penyihir Maxi dengan sangat mudah ditangkis oleh Paladin.
"Attack!"
BLAARRR
Sebuah kilatan emas menyambar ke arah Penyihir Maxi.
"Aaakkkh!"
Penyihir Maxi terkena serangan. Baru kali ini dia memekik kesakitan. Jika tadi Panglima Suci sibuk bertarung dengan bala tentaranya, kali ini, Paladin akan langsung menyerang bos mereka.
"Kurang ajar!! Nyam.. Nyam.. Nyam.... " Venn berteriak sambil makan. Ia lantas membuang makanannya dan mengelap tangannya terlebih dahulu, sebelum mengambil tongkat sihirnya.
"Vicectum Petrovinum!" Venn merapal mantra dengan mengangkat tongkat sihirnya ke angkasa. Sebuah bola api kembali meluncur dari langit ke arah pasukan ksatria suci.
Venn tidak memiliki mana penyihir, sehingga ia memerlukan alat bantu berupa tongkat sihir. Tugasnya sebagai ahli ramuan sejak seribu tahun yang lalu, membuat Venn tidak pernah belajar optimasi mana penyihir. Terkadang, ia menyesal telah melewatkan pelajaran yang begitu berharga. Seperti berlatih ballet sejak kecil, optimasi mana penyihir juga hanya berhasil jika berlatih sejak awal menjadi penyihir. Pelatihan ini akan membuat mana sihir selalu terpanggil ke aliran tubuh mereka dan bakat alami akan muncul secara berkala.
"Shield!"
Bola api Venn tidak menyebabkan siapapun terluka. Paladin berhasil menghalaunya dengan mudah.
"Tsk!" Venn berdecak. Ia merasa telah menyia-nyiakan makan malam yang dihabiskannya cepat-cepat. Penyihir Maxi yang berada di belakangnya, lagi-lagi memanggil petir neraka.
"Paladin, kuserahkan padamu. Aku harus mengamankan Yang Mulia terlebih dahulu," ujar Panglima yang masih menahan perisai sihir.
"Baik, Tuan Panglima! Jangan khawatir! Sir Tom, Sir Yang, Sir Hovard!"
"Siap, Komandan!"
"Ambil alih shield Panglima, lindungi pasukan kerajaan!"
"Siap, Komandan!"
Ketiga ksatria itu pun mempertahankan perisai suci dengan pedang suci mereka. Jika Panglima Suci dapat melakukannya seorang diri, maka, tugas itu berarti harus dilakukan oleh 3 orang agar kekuatan ysng diperlukan seimbang. Afinitas mana ksatria suci tidak sebesar milik Panglima. Sehingga, mereka tak akan mampu menahan serangan seorang diri.
Panglima Suci kemudian mencari tempat perlindungan sementara untuk memulihkan kondisi Raja. Ia dibantu lima orang ksatria yang menjaga supaya musuh tak mendekat. Panglima akan kewalahan jika harus melindungi dan bertarung sendirian.
"Tuan! Lihat! Panji-panji dari Gonovan!" seru seorang ksatria pada Panglima.
"Astaga! Tentara pemberontakan?"
"Benar, Tuan!"
"Dasar bodoh!"
****************
__ADS_1
(Bersambung)
****************