Kutukan Penyihir

Kutukan Penyihir
Bangkitnya Sang Naga


__ADS_3



Bibbi-- sahabat sekaligus tabib pribadi Isyana, sedang terisak, ketika mendapati kabar bahwa Isyana telah meninggal dunia. Ia yang telah selamat berkat pertolongan ksatria kerajaan, akhirnya ikut mengungsi ke dalam Kuil Suci, ketika perang di Cordovan pecah. Bibbi belum menyadari bahwa ia baru saja bangkit dari koma akibat ledakan petir yang dilontarkan oleh Venn padanya. Ketika Bibbi siuman, ksatria kerajaan mulai menceritakan kondisinya yang ditemukan pingsan di tengah hutan. Bibbi kemudian sadar bahwa ia telah kehilangan Isyana. Beruntung, Sir Roy-- penolongnya, dapat memahami bahasa isyarat, sehingga Bibbi mudah menceritakan kisahnya hingga sekarat dan terdampar di tengah hutan. Mengetahui asal-usul Bibbi, Sir Roy dan Sir Hugh membawanya menuju rombongan Duke Gelael. Nahas, rombongan itu malah berbalik arah dengan mengusung jenazah Ratu Cordovan. Bibbi sangat panik dan histeris, seperti halnya Moti dan Magda. Mereka bertiga yang paling sakit hatinya ketika mendengar kabar bahwa Ratu Isyana telah meninggal dunia, tentu saja karena Raja Cordovan belum mengetahui kabar duka ini. Bibbi lantas ikut rombongan untuk bertolak ke Dukedom Gelael, sebelum akhirnya mengungsi ke Kuil Suci.



'Oh, Isyana. Bagaimana lagi kami harus membantumu?' batin Bibbi sambil mengelus peti megah milik Sang Ratu. Ia baru mengetahui bahwa Isyana adalah seorang ratu, lewat penuturan Sir Roy ketika merawatnya. Bibbi tidak lantas menyerah dan meninggalkan jasad Sang Ratu tanpa penjagaan, ia masih setia di sisinya sambil memikirkan cara lain yang mungkin bisa dilakukan.


Lamat-lamat, dari arah luar, terdengar sebuah suara langkah kaki yang ringan, sedang menuju ke ruang duka. Bibbi yang sedang merenung sendiri, menoleh dan memandang ke asal suara. Rupanya, Penasehat Agung sedang berdiri di sana.


Bibbi berdiri lalu menundukkan punggung untuk memberi hormat. Tuan Penasihat Agung mengangguk dan berjalan mendekat ke arahnya. Tuan Penasihat Agung adalah seseorang yang memiliki pengetahuan yang mendalam tentang sihir dan kekuatan mistis kuno. Ia juga tak tampak menyerah dengan keadaan dan mencoba untuk mencari cara lain, seperti Bibbi. Tuan Penasihat Agung menilai bahwa ada suatu celah kesalahan dalam ritual pembangkitan, karena, jika Klan Naga sudah maju dan membuat maklumat, maka kecil kemungkinan untuk gagal.


"Apakah kau tau sesuatu?" tanya Tuan Penasihat Agung pada Bibbi. Gadis itu mengangkat bahunya.


"Tidak adakah petunjuk lain? Apakah kau temannya?" tanyanya lagi. Bibbi mencoba mengingat-ingat. Ia berdiam cukup lama untuk memanggil memori yang ada dalam otaknya. Namun, Bibbi tak dapat menemukan apapun. Ia melihat ke arah Tuan Penasihat Agung dengan mimik wajah gundah gulana. Pria tua itu juga menghela nafas dalam, seakan, pada akhirnya, merelakan kepergian Sang Ratu untuk selamanya.


Bibbi mengusap wajah Sang Ratu dengan takzim. Ia akan mengucapkan salam perpisahan terakhir untuk sahabatnya. Jemarinya membelai lembut wajah Sang Ratu yang telah membiru. Sampai akhirnya, ujung jarinya menyentuh kalung Sang Ratu yang tertutup gaun. Kalung itu menyembul, seakan memberi pertanda. Bibbi tersentak. Ia lalu ingat bahwa Isyana memiliki bekal rahasia yang diwariskan kepadanya. Bibbi segera memberitahu Tuan Penasihat Agung, pria itu lantas memerintahkan seorang ksatria untuk mencari bekal yang dimaksud kepada pelayan pribadi Ratu Isyana. Tak lama kemudian, bekal itu sampai di Ruang Duka. Benar saja, ada sebuah buku berisi mantra pembangkit yang ditinggalkan oleh ibunya. Buku itu tak lagi kosong, ketika terkena percikan air mata naga. Tuan Penasihat Agung mencoba cara ini untuk mengetahui apakah buku itu benar-benar kosong ataukah berisi sebuah pesan rahasia? Rupanya benar, buku itu adalah buku dengan pembacaan khusus yang hanya dapat dibaca ketika takdir yang digariskan telah terjadi.


"Siapkan ritual kembali! Kita akan mencobanya lagi!" Titah Tuan Penasihat Agung pada sekelompok Ksatria yang membersamai mereka.

__ADS_1


"Siap!" Para ksatria lalu menyeret peti Sang Ratu di pelataran, dan memulai ritual pembangkitan jiwa Sang Ratu untuk kali kedua.


Dengan hati yang penuh tekad, Tuan Penasihat Agung mempersiapkan ritual yang langka dan lebih kuat. Ia mulai mencari bahan-bahan magis yang diperlukan untuk kebangkitan Sang Ratu. Seorang pesuruhnya mulai menata bahan-bahan tersebut di meja altar. Tampak di sana, ada cawan perak yang berisi air mata naga yang berkilauan-- meski hanya sedikit, karena botol kristalnya sempat pecah. Lalu ada lontin sihir yang bersinar terang, serta sisik naga yang didapatkan dari Shahrazan-- kerabat Ratu. Tuan Penasihat Agung berdiri tak jauh dari meja altar dan peti mati Sang Ratu. Ia lalu membuat lingkaran sihir berwarna keunguan yang berpendar di sekitar mereka.


Shahrazan yang sempat putus asa, dipanggil kembali oleh pesuruh Tuan Penasihat Agung untuk menyaksikan ritual kedua. Ia diminta untuk membawakan sisik naga yang tadi disimpan kembali. Dengan wajah berbinar, Razan, Connelly dan Azzam, melaju menuju ke Ruang Duka sambil membawakan sisik naga.


"Semua sudah siap? Kita mulai ritualnya," ujar Tuan Penasihat Agung dengan suara yang dalam. Semua orang yang hadir di ruangan tersebut terdiam dengan hati bergetar. Mereka tak sabar untuk menyaksikan Sang Ratu bangkit kembali dengan ritual yang benar.


Di dalam lingkaran sihir, Tuan Penasihat Agung tampak merapal mantra yang didapatnya dari pelayan Isyana. Sedetik kemudian, cahaya keemasan muncul dari inti tubuh Sang Ratu.


"Ber.. Berhasilkah?" bisik Razan pada Connelly. Gadis itu mengangkat bahu. "Diam, dan lihat saja, Okay?" pintanya. Razan mengangguk pelan. Mereka kemudian fokus kembali dan menanti keajaiban yang mungkin ada.


Dengan gerakan tangan yang lembut, Tuan Penasihat Agung mengambil air mata naga dan meneteskan setetes kecil ke atas liontin sihir milik Sang Ratu. Cahaya keajaiban memancar dari liontin tersebut ketika menyatu dengan air mata naga. Sorot cahaya yang lemah, menjadi lebih terang, ketika Tuan Penasihat Agung merapal mantra kembali. Penasihat Agung lalu mengambil sisik naga yang langka dan menempatkannya dengan hati-hati di atas cawan perak. Sisik itu memancarkan sinar keemasan yang memenuhi ruangan. Semua orang takjub dengan keindahannya. Dalam keheningan yang khusyuk, Tuan Penasihat Agung merapalkan mantra kembali dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan.


Razan diberitahu oleh ayahnya, bahwa, ibunda Putri Isyana merupakan bibi tiri Shahrazan. Kakek buyut Razan adalah Pemimpin Klan Naga Emas yang disembunyikan oleh Raja Kerajaan Puth, ketika terjadi Perang Blood Moon seribu tahun yang lalu. Merasa berhutang budi, Keluarga Razan--Klan Naga Emas, mengabdikan diri menjadi pilar Kerajaan Puth, dan bertahan sebagai bangsawan berpengaruh hingga saat ini.


Keluarga Razan selalu menjadi ksatria pelindung keluarga kerajaan karena sumpah setia yang mengikat mereka sejak kakek buyutnya. Ketika Ibunda Isyana lahir, ia ditunangkan dengan Raja ketiga, agar persatuan kedua keluarga semakin erat. Ibunda dari Ratu Isyana adalah seorang penyihir yang diselamatkan oleh kakek Razan ketika Perang 50 tahun yang lalu pecah. Sungguh, kebetulan yang tragis. Dua keluarga kembali terhubung akibat perang.


Saat rapalan mantra Tuan Penasihat Agung mencapai puncaknya, kehidupan baru mulai menyeruak dari balik peti mati Sang Ratu. Limpahan mana yang menjalar, bergabung dengan bahan-bahan magis mengakibatkan sorotan sinar terang yang dahsyat. Cahaya itu menari-nari dengan energi yang mempesona. Sedetik kemudian, sebuah getaran hebat mengguncang ruangan. Seluruh ruangan tenggelam dalam cahaya emas yang menyilaukan. Sisik naga memancarkan energi yang membara, mengalir melalui tubuh ratu dengan kekuatan penyembuhan. Dalam suatu keajaiban yang indah, tubuh ratu mulai bergetar dan bercahaya. Matanya yang dahulu mati, kini berkilau dengan kehidupan baru. Nafasnya yang terhenti, kini kembali mengisi udara dengan kekuatan yang luar biasa.


"Ratu!!!" Pekik Razan dengan sukacita. Semua orang terlena dengan keajaiban yang ada, mereka tak dapat menahan luapan kegembiraan, mengetahui bahwa Sang Ratu telah bangkit dari kematiannya. Tubuhnya yang awalnya membiru, dingin dan kaku, kini dipenuhi dengan kehidupan dan kekuatan baru. Wajahnya yang indah dan penuh dengan kebijaksanaan memancarkan keanggunan yang memukau. Namun, tak berlangsung lama. Sang Ratu keluar dari peti matinya, dan berubah menjadi sesosok naga emas, seperti para leluhurnya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi??" tanya Tuan Penasihat Agung pada Shahrazan yang mematung di hadapan Naga Emas.


Ksatria pelindung itu kemudian berlutut takzim, dan menjelaskan situasi yang sedang terjadi. "Ini adalah kebangkitan dengan misi. Ratu harus melawan kegelapan, untuk bisa kembali menjadi manusia seutuhnya".


Tuan Penasihat Agung menarik nafas lega. Rupanya, ritualnya tidak sia-sia. Ratu harus pergi berperang membantu Sang Raja, untuk dapat kembali ke dalam bentuk manusia, sesuai tugas utamanya sebagai Pelindung Benua. Ramalan ini termaktub dalam kitab yang dibawa sendiri olehnya, dan ditulis oleh leluhur Sang Ratu yang merupakan hybrid penyihir dan klan naga. Mereka ditakdirkan sebagai penghancur kekuatan jahat yang melanda Benua, sejak beribu tahun silam.


Semua orang berlutut di hadapan Sang Naga dengan takzim. Mereka mengantar pahlawan baru untuk pergi ke Medan Perang dengan harapan kuat agar dapat memenangkan pertempuran.


"Berhati-hatilah, Ratu," ucap Tuan Penasihat Agung dengan perasaan was-was.


"Baiklah, terima kasih atas usahamu selama ini. Kemudian, Bibbi, Razan, terima kasih karena tetap setia kepadaku," ucap Naga itu dengan suara manusia yang mempesona. Bibbi dan Razan terperanjat tak percaya, bahwa, Sang Naga Bisa bicara. Bibbi mengangguk penuh haru, begitu pula Razan yang bangga dengan keteguhan hati Sang Ratu. Selama ini, ia menganggap Isyana adalah anak kecil yang belum tumbuh dewasa, rupanya, perkiraannya salah. Isyana telah menjadi Ibu Negara yang siap berkorban demi rakyatnya.


"Berhati-hatilah, Ratu Isyana," ucap Razan dengan air mata yang tertahan. Ia berjanji, akan memberi bantuan jika dibutuhkan. Saat ini, Kuil Suci lebih memerlukan perlindungan, karena ksatria yang ada jumlahnya kurang dari perkiraan. Razan bertugas sebagai komandan di Kuil Suci dan bersiaga jika ada serangan mendadak yang mengintai kedamaian para pengungsi.


"Aakkh... "


Sang Naga mengerang. Pendar keemasan muncul dari balik jantungnya, seakan memberi pertanda, bahwa pasangannya dalam bahaya.


"Aku harus pergi! Sampai jumpa, Semua!" ucapnya, kemudian menghilang dalam gelapnya kabut sihir di malam itu.


...****************...

__ADS_1


...Bersambung...


...****************...


__ADS_2