
Suasana malam di ibu kota Cordovan yang kacau mulai memanas. Hanya lewat tiga jam sejak Bulan Merah tampak di angkasa, keadaan kota sudah porak-poranda. Perubahan fenomena alam ini mengakibatkan berbagai kerusuhan. Sudah banyak mayat bergelimpangan, mulai dari mayat orang hingga bangkai binatang dan monster-monster yang telah tewas di tangan pasukan kerajaan.
Meski begitu, perang masih berlangsung dan kian panas. Munculnya pasukan ksatria suci menambah armada bantuan bagi pihak Cordovan. Namun, kemunculan buaya rawa dan juga burung-burung neraka seakan menjadi musuh baru yang harus dibasmi dari tentara Penyihir Maxi. Raja yang terluka dan Panglima Suci yang mundur sementara untuk menyembuhkan Sang Raja, juga menjadi momentum berkurangnya kekuatan Cordovan. Panglima terpaksa mundur untuk menyelamatkan Raja, karena jika tak segera ditolong, keadaan Raja bisa gawat. Korps pasukan kerajaan yang sedang bertempur akhirnya dipimpin oleh Paladin sebagai jenderal tertinggi di medan perang.
'NGUUUUNG'
Perisai sihir masih berfungsi seperti sedia kala untuk menghalau serangan udara yang diakibatkan oleh Penyihir Maxi dan burung-burung neraka. Pasukan kerajaan jadi bisa fokus membasmi monster daratan yang keberadaannya semakin berkurang.
"HIYAAAAH!" Paladin menyabetkan pedangnya dengan teknik angin topan. Dua ekor werewolves pun tumbang. Pedang Aura milik Paladin memiliki afinitas mana tinggi seperti Pedang Aura milik Panglima Suci. Tentu saja mana ksatria yang menggunakan pedang aura juga memengaruhi kesaktian serangan. Tidak ada yang dapat mengalahkan kesaktian dari Panglima Suci yang memiliki kemampuan menyerang dan menyembuhkan. Dua kekuatan yang bertolak belakang seperti itu hanya dimiliki oleh seorang Panglima, Sir Luxio.
*
Sementara Panglima Suci mencari tempat yang aman untuk memulai penyembuhan, seorang ksatria yang sedang mengawal di depan terjingkat, kemudian melaporkan apa yang sudah dilihatnya.
"Tuan! Lihat! Panji-panji dari Gonovan!" serunya pada Panglima.
"Astaga! Tentara pemberontakan?"
"Benar, Tuan!"
"Dasar bodoh!" seru Panglima dengan amarah yang memuncak. Ia tak menyangka, dalam kondisi yang terdesak seperti ini, bukan bala bantuan yang tiba, malah sekelompok musuh yang ingin mengkhianati tanah airnya.
"Ayo, cepat! Kita harus bersembunyi. Akan melelahkan kalau harus bertempur dengan kondisi Raja seperti ini," perintah Panglima. Mereka pun mempercepat langkah dan mencari tempat perlindungan yang aman. Panglima mencium aroma basah dedaunan dan juga humus tanah yang menyeruak, tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Musim dingin Cordovan menghilang sementara akibat hawa panas yang disebabkan oleh Penyihir. Daun-daun dan rumput-rumput yang awalnya beku mulai menghijau, seperti sedang menyongsong musim semi. Kondisi yang sungguh ironis. Jika tak ada perang, mungkin tak akan ada musim semi palsu seperti ini. Panglima menghela nafas panjang menyadari keadaan negaranya yang kacau balau. Namun, ia tak bisa meratapi nasib. Perubahan hanya bisa dilakukan dengan tindakan, bukan ratapan.
"Kemari!" perintah Panglima kepada pasukan. Mereka bergarak lebih cepat mengikuti aliran rumput basah yang berasal dari hulu sungai di atas bukit. Air-air mulai mengalir mengikuti perubahan cuaca, sehingga jalanan menjadi agak licin.
"Hati-hati,"
"Siap!"
Akhirnya, mereka sampai di sebuah gua yang cukup besarm Gua itu berada di atas bukit yang ada di dalam Hutan Nymphea, hutan yang ada di tepi barat perbatasan ibu kota dengan negara tetangga.
"Kita berlindung di sini," ujar Panglima sambil mengoper Raja ke arah dua ksatria.
"Tunggu di sini, biar kuperiksa dulu," perintahnya.
"Siap!"
Panglima menyusur ke dalam gua dengan batang pohon yang disulapnya menjadi obor dari api sihir. Ia ingin memastikan bahwa tak ada binatang buas, seperti beruang ataupun harimau hutan, yang sedang tertidur di dalamnya.
'Ciiiit Ciiit Ciiit'
Segerombol kelelawar menghambur keluar akibat hawa panas dan sinar terang dari obor yang baru saja memasuki sarang mereka. Panglima menghindari rombongan makhluk malam yang hendak keluar itu, lalu memerintahkan para ksatria untuk masuk ke dalam gua.
__ADS_1
"Kita aman di sini. Dua orang berjaga di mulut gua, lainnya, bantu aku melepaskan baju zirah Yang Mulia ini,"
Panglima kemudian memulai proses sihir penyembuhan untuk Raja CordovanRaja Gonovan.
"Apakah mana anda sudah pulih, tuan?" tanya seorang ksatria khawatir.
"Tenang saja, aku tidak apa-apa," ujar Panglima Suci meski dengan wajah agak pucat.
"Heal!!"
'NGUUUUUNG'
Semburat keemasan dari Sihir Penyembuhan mengalir ke seluruh tubuh Yang Mulia Raja Cordovan. Pelan tapi pasti, aliran mana menyelusup ke dalam tubuh dan meregenerasi sel-sel yang rusak akibat sengatan petir penyihir. Punggung Raja Cordovan yang menghitam mulai tampak sehat seperti sedia kala. Aura mana Raja yang melemah, kini meningkat, ia pun siuman dan dapat menggerakkan anggota tubuhnya.
"Yang Mulia?" Panglima menyapa Raja. Penguasa Cordovan itu pun mulai membuka mata, dan mencoba berdiri dari pembaringannya.
"Dimana kita?" tanyanya kemudian.
Panglima menghentikan aliran sihir penyembuhan, keadaan raja sudah membaik. Ia kemudian bersender ke dinding gua dan mulai mengatur napasnya.
"Kita di dalam Gua di Hutan Nymphea, Yang Mulia," sahut salah satu ksatria, Sir Eden.
"Bagaimana dengan pasukan lainnya?"
"Mereka masih bertempur. Yang Mulia pingsan terkena sengatan petir penyihir," jelasnya.
Panglima mengalirkan sihir penyembuhan ke dirinya sendiri dengan bertapa. Tidak ada yang berani mengganggu proses healing yang sedang dilakukannya.
"Siap!"
"Kalian beristirahat dulu dan makan ransum yang sudah disiapkan,"
"Siap!"
Tak selang beberapa lama, mereka bersiap untuk kembali lagi ke medan laga. Namun, sebuah kilat cahaya kecil menghentikan perjalanan mereka.
'kyuuu'
"Apa itu?" tanya Raja Markian terkejut. Kilatan cahaya kecil berpendar dari arah belakang. Raja pun mendekat ke arah cahaya kecil itu, namun cahaya itu malah menjauhkan diri. Panglima mencoba ikut mendekat, beruntung, cahaya itu kemudian diam.
"Itu peri hutan!" seru Panglima.
"Apa? Bagaimana seorang peri bisa kemari?" Raja nampak bingung.
Panglima lalu mengundang peri itu ke telapak tangannya. Dengan bantuan sihir, Panglima mencoba berdialog dengan peri kecil itu.
'Wahai peri hutan, ada apakah gerangan engkau kemari?' tanya Panglima dengan bahasa peri.
'Wahai manusia, aku kemari untuk mengintai, kamu bukanlah musuh kami,' ujar peri itu dengan senyuman.
'Siapakah musuhmu?'
__ADS_1
'Para golem, mereka telah bangkit dan kehadiran mereka bisa menghancurkan kerajaan kami,'
'Apa? Golem? Monster batu? Darimna mereka?'
'Ya, monster batu. Mereka bangkit dari pegunungan Gonovan di Cordovan. Pegununagn itu berbatasan dengan Kerajaan Peri Hutan di Elsavador. Aku adalah peri telik sandi yang bertugas mengintai disini. Tapi aku takut. Rupanya penyihir yang telah membangunkan mereka,' ujar peri itu gemetar. Rupanya ia sedang menjalankan tugas namun tak diselesaikannya karena keadaan di luar sngat berbahaya.
Panglima Suci kemudian menawarkan perlindungan pada peri kecil itu dengan syarat membawanya ke Kerajaan Elsavador sebagai aliansi. Panglima memikirkan strategi lain untuk Perang kali ini, tentu saja atas izin Sang Raja.
"Baiklah, jika itu yang terbaik," Raja Cordovan memberi izin.
Perjalanan mereka pun berbalik arah, bukan kembali ke Ibu kota, tapi bergeser ke arah barat, ke Kerajaan Elsavador, tempat peri-peri hutan berada.
*
"Hiyaaaat!!!" Paladin menebas kuda perang berpanji Gonovan. Ia sudah mengetahui bahwa Dukedom Gonovan berniat memberontak, sehingga, mereka bukanlah kawan, tapi lawan. Kesibukannya menjadi bertambah karena tak hanya melawan musuh berupa monster tapi juga kelompok ksatria pemberontak.
"Tidaaaakkk!!!" ksatria yang ada di atas kuda jatuh terjerembab. Bunyi klontang keras dari baju zirah yang dipakai sang ksatria menggema di sekitarnya.
"Bodohhh! Toloool!!! Kibarkan bendera putih!" Seru Count Yale yang berada di barisan belakang. Tentara pemberontakan dari Dukedom Gonovan berhamburan. Mereka tak tampak dalam formasi siap berperang. Kelompok itu terlihat seperti sedang melarikan diri dari sesuatu yang mengejar mereka.
"Tolong kami!! Tolong kami!!" Teriak Count Yale kemudian. Paladin menghentikan amukan pedang auranya dan menilai situasi.
Dari arah belakang, terdengar dentuman keras batu yang seakan bergerak ke arah mereka. Bagaimana mungkin batu dapat bergerak dengan langkah teratur? Jika batu menggelinding, bunyinya tidak akan seperti tentara yang sedang berderap maju ke medan perang.
"Tolooong.. Tolonggg!!" ksatria Gonovan berhambur ke arah ibu kota.
"Apa itu?" tanya Paladin tak terlalu paham dengan keadaan tentara gonovan yang ketakutan.
"Toloooong, kami diserang Golem!" seru seorang Ksatria Gonovan yang menghambur ke Pasukan Suci.
Tentara Pemberontakan rupanya telah terpecah belah dan mengurungkan aksi mereka untuk menyabotase takhta. Di tengah hutan menuju ke ibu kota, pasukan dikejutkan oleh serangan lain yang tak terduga. Baru saja mereka berhasil lolos dari serangan werewolves yang tiba-tiba muncul, kali ini, nasib mereka sungguh nahas.
Golem-golem--monster batu-- yang telah bangun dari tidurnya, menghantam pasukan ksatria. Dentuman keras dari balik tangan dan tubuh Golem yang kesemuanya terbuat dari batu, telah menghancurkan tiga pleton tentara. Tak banyak anggota pasukan yang tersisa. Mereka pun menghambur ke arah aliansi ksatria yang ada di ibu kita untuk meminta perlindungan.
"Tidak akan! Urus saja nasibmu sendiri!"
Begitu respon Paladin yang begitu dingin dan melanjutkan aksi pembasmian monster beserta pasukannya.
Pasukan Gonovan pun mau tak mau harus menyelamatkan diri mereka sendiri karena tak dilindungi oleh perisai sihir dari Pasukan Suci. Satu per satu tentara pemberontakan tewas di tangan para musuh.
"Sial!!! Aaaakk!! Tidak akan kubiarkan!!" Count Yale dan Marquees Wangler yang ada di barisan paling belakang merutuk. Namun, tak butuh waktu lama, tubuh tua mereka tercerai-berai akibat terkaman buaya rawa. Tidak ada yang tersisa dari tentara pemberontakan. Tentu saja hasil yang berbeda dengan pasukan kerajaan yang dilindungi oleh perisai sihir, mereka dapat dengan leluasa menyerang dan bertahan secara imbang.
"Bagaimana cara kita mengalahkan Golem?" desis Paladin mencoba berpikir. Tangan dan tubuhnya tetap lincah bergerak membelah tubuh musuh. Namun, cara yang sama tak akan berhasil jika harus melawan monster batu.
"Baguuuss! Baguuuss!! Pasukan kita tambah banyak!!! Huahahaah," Venn berteriak girang. Penyihir Maxi mulai merapalkan mantra-mantra untuk memanggil semua bala tentaranya.
****************
(Bersambung)
__ADS_1
****************