
"Yang Mulia, anda cocok berada di sana! Hahahahaha!!" Venn memuji Penyihir Maxi yang mulai menduduki di singgasan Raja. Istana Kerajaan telah lumpuh dan dikuasai sihir hitam. Pelayan-pelayan yang gagal melarikan diri, tewas di tempat, akibat serangan Penyihir Maxi yang menetralkan aroma manusia.
"Venn, panggil tentara kita kemari," perintahnya Penyihir Maxi pada ajudan setianya. Venn lantas bergegas terbang ke puncak atap istana dan melakukan ritual pemanggilan makhluk sihir.
Para golem, buaya rawa, serta werewolves yang tersisa, dan juga burung-burung neraka, tampak berbondong-bondong melesat ke arah istana.
Bulan Merah hanya akan bertahan tak lebih dari dua jam. Penyihir Maxi harus mengoptimalkan penyerapan mana rembulan sebelum habis ditelan matahari. Setelah ini, tidak akan ada reproduksi kekuatan, sehingga ia harus mempertahankan bala tentaranya dengan energi sihir yang tersisa.
"Yang Mulia! Ada tamu!! Seru Venn dari balik atap istana.
"Siapa?"
"Sekelompok manusia!"
"Cari mati mereka?" dengus Penyihir Maxi sambil bersiap untuk melancarkan serangan.
"SALAM KEPADA YANG MULIA PENYIHIR AGUNG MAXIMILIAN!" seorang wanita meneriakkan salam hormat kepada Penyihir Maxi dari arah pelataran istana, setelah melumpuhkan beberapa makhluk sihir yang berjaga di sana. Serangan petir Penyihir Maxi tak jadi diluncurkan. Ia keluar dari istana dan menemui kelompok itu secara langsung.
Venn yang sedang berada di atas atap, terbang meluncur ke bawah dengan sangat cepat.
"Siapa kalian?" tanya Venn dengan wajah menyelidik. Para wanita itu sungguh sangat cantik dan beraroma seperti penyihir.
"Kami adalah bangsamu, Yang Mulia Penyihir Maxi," ujar Madam Velocia memperkenalkan diri. Venn memicingkan matanya, kemudian berlari ke arah mereka untuk mengendus-endus pakaian yang dikenakan.
"Baumu memang seperti penyihir. Apakah kalian survivor?"
"Ya, benar. Kami menjadi warga kerajaan dan mencari nafkah seperti orang-orang," jelas Madam Velocia.
"Benar, Yang Mulia. Anda bisa mengandalkan kami. Tentu saja bantuan kami akan berharga," ujar salah satu gadis dari The Sacred Flowers sambil berlenggak-lenggok memberi tarian hiburan.
"Baiklah. Kalian diterima. Venn. Siapkan kamar untuk mereka. Para monster, kembali berjaga di pelataran istana!"
"Baik, Yang Mulia,"
'Auuuuuuuuuu'
'Zzzzzzttttt'
__ADS_1
Dum.. Dum... Dum...
Para makhluk sihir mengikuti perintah Penyihir Maxi dengan taat. Mereka segera menyebar ke pos jaga masing-masing.
"Waah.. Kalian sangat cantik... Ha... Ha... Ha...," Venn berjalan beriringan dengan para gadis, meski tampak tak nyaman, para gadis harus berpura-pura senang. Mereka akan segera beristirahat di kamar istana sebagai tamu.
*
"Sebutkan identitas kalian!" perintah ksatria suci yang sedang berjaga di barikade gerbang kuil.
"Kami adalah gadis-gadis The Sacred Flowers," ujar Madam Velocia.
"Kalian warga kerajaan? Mengapa kalian tidak bisa melangkah melalui barikade sihir?"
"Ka... Kami.... Kami adalah keturunan penyihir,"
"Apa? Penyihir? Pasukan! Formasi!! Ada penyihir!!" ksatria itu lantas memanggil rekan-rekannya untuk bersiap menyerang.
"Tidak! Tidak! Kami tidak ingin berperang! Kami ingin menawarkan aliansi! Panggilkan Panglima, tolong!" ujar Madam memohon. Meski ia memiliki kekuatan yang mumpuni untuk menyerang para ksatria, namun, ia tak ingin memecah kedamaian kuil suci. Tujuan kedatangan pun bukan untuk berperang, melainkan, menjadi sekutu.
"Siap!"
Tak berselang lama, Paladin tampak muncul di area gerbang kuil suci.
"Sebutkan identitasmu, wahai penyihir,"
"Saya Madam Velocia. Saya adalah penyihir survivor berusia seribu tahun. Saya dapat membantu anda mengalahkan Penyihir Maxi," jelas Madam Velocia meyakinkan Paladib yang sedang menghunuskan pedangnya.
"Dan kau pikir kami akan mempercayaimu?"
"Saya tidak berbahaya. Ini, anda dapat mengambil liontin saya," ujar Madam Velocia masih berusaha untuk menjadi sekutu kerajaan. Liontin sihir adalah jantung penyihir. Selain penyihir agung dan penyihir hebat seperti Penyihir Maxi, para penyihir kelas bawah hanya dapat menggunakan sihir dengan bantuan liontin sihir.
Paladin menerima liontin itu sebagai asuransi keselamatan dan penyerahan diri untuk tunduk pada aturan kuil suci. Mereka lantas membuka barikade sihir yang menahan masuknya gadis-gadus The Sacred Flowers ke kuil suci.
"Tundukkan pandangan kalian," perintah Paladin pada anak buahnya yang mulai saat ini harus bertemu dengan pelacur-pelacur legendaris di Kerajaan Cordovan setiap hari.
"Ba... Baik.... Eh, Siap, Komandan!" jawab mereka serentak dengan tubuh gemetar karena sedang dilewati oleh gadis-gadis bertubuh molek dengan kulit yang sangat putih dan dada menyembul indah. Paladin memerintahkan seorang ksatria untuk mengantar mereka ke bilik doa. Ksatria itu lantas bertugas untuk menyiapkan pakaian ganti agar para pelacur itu tidak mengganggu kenyamanan para pengungsi lainnya.
__ADS_1
"Jelaskan, mengapa kau ingin beraliansi dengan kami?" tanya Paladin pada Madam Velocia yang sedang berada di hadapannya. Setelah berganti pakaian, Madam secara pribadi menemui Paladin untuk berbincang.
"Paladin, kami mungkin keturunan penyihir. Saya adalah penyihir survivor, anak-anak adalah hybrid penyihir dengan para manusia. Kami tidak mau menjadi anak buah Penyihir Maxi. Kami senang menjadi manusia dan melakukan pekerjaan selayaknya manusia," jelasnya.
"Memangnya apa bedanya?"
"Jika kami menjadi anak buah Penyihir Maxi, kami harus bertingkah seperti para monster dan tidak memiliki kebebasan. Kami tidak mau. Kami ingin bekerja seperti biasanya. Saya bisa membantu melawan Penyihir Maxi,"
"Baiklah. Istirahatlah terlebih dahulu. Besok kita akan menyusun strategi sambil menunggu telik sandi dari Yang Mulia Raja," ujar Paladin kemudian pergi ke ruang ksatria.
*
"Tuan! Tuan! Raja dan Panglima sedang menuju kemari," salah seorang ksatria tergopoh-gopoh mencari Paladin.
"Benarkah???"
"Ya, Tuan!"
"Panggil Duke Gelael,"
"Siap!"
Ksatria itu pun melesat ke paviliun barat untuk menemui Duke beserta rombongannya yang baru saja tiba kemarin malam. Mereka tiba agak lambat dari perkiraan, karena mengangkut jasad Putri Isyana. Kereta kuda tak bisa melaju terlalu cepat agar jasad putri tidak terjatuh di jalan.
"Duke... Yang Mulia Duke... Baginda Raja sedang menuju kemari," ksatria itu akhirnya sampai di paviliun barat dan langsung bergegas ke kamar Duke Rhonda Gelael.
"Benarkah? Astaga. Baiklah. Aku akan bersiap ke sana,"
Mereka pun bergegas ke pelataran kuil untuk menyambut Raja mereka. Panglima Suci dan Baginda Raja tampak melaju dengan cepat dari arah hutan, diiri tiga ksatria di belakang mereka.
"Hiyah!"
Drap
Drap
Drap
Kuda-kuda berderap ke arah kuil yang sudah dipenuhi oleh ksatria dan pemimpin-pemimpin korps pasukan yang siap bertempur kapanpun diminta oleh Sang Baginda Raja. Tampak dua orang asing yang bukan penduduk Cordovan ikut menyambut kedatangan Raja Markian. Ia baru mengingat, itu adalah ajudan putra mahkota, Shahrazan dan seorang yang tidak ia kenal.
...****************...
__ADS_1
...bersambung...
...****************...