
GRADAK
GRADAK
GRADAK
Menara Kuil suci tiba-tiba berguncang. Tuan Penasihat Agung yang sedang bertapa tergopoh-gopoh keluar dari bilik doa. Ia segera melaju ke pelataran yang ada di luar menara, kemudian, mendongak ke atas. Matanya menatap lekat-lekat ke arah langit yang mendadak gelap.
"Pukul berapa sekarang?" tanyanya pada salah satu ksatria suci.
"Pukul 11:30 malam, Tuan," jawab Ksatria itu setelah melihat arloji saku yang dipegangnya. Beberapa ksatria lain yang tampak berjaga berkeliling, berhenti sejenak di dekat Tuan Penasihat. Mereka penasaran dengan apa yang dilakukannya.
"Gawat. Gawat. Gawat!!! Dia akan bangkit!! Dia akan bangkit!!! Aaaakkkhhh,"
Tuan Penasihat ambruk dengan memegangi dadanya yang terasa nyeri. Kali ini, ia tak sampai pingsan. Para ksatria yang berdiri di sana pun menghambur ke arahnya dan memapah Tuan Penasihat untuk masuk ke dalam Menara. Segelas teh hangat tersaji di dekatnya, keadaannya mulai membaik.
"Tuan, anda kenapa?" tanya ksatria yang berhasil menolongnya.
"Dimana panglima suci? Kita harus bersiap!" Perintahnya.
Para ksatria saling berpandangan, apakah Tuan Penasihat sudah melupakan insiden Batu Peri? Bukankah, dia yang memerintahkan Panglima Suci untuk mengawal Raja mencari Ratu Cordovan?
"Maaf, Tuan. Panglima sedang tidak di tempat,"
Mengingat usia Tuan Penasihat yang sangat tua, lebih dari 100 tahun, para ksatria mulai paham jika terkadang Tuan Penasihat melupakan hal-hal kecil yang tidak sesuai dengan rutinitas berdoa.
"Dimana Paladin?"
"Tuan Paladin, ada di puncak Menara, Tuan. Ia sedang berjaga," sahut ksatria itu kemudian.
"Suruh dia kemari! Ada keadaan darurat!" tukas Tuan Penasihat kemudian mulai bangkit kembali. Ia meminta tongkat untuk menopang langkahnya, lalu, berjalan pelan menuju ke Altar Suci.
Tak selang beberapa lama, Paladin menghadap Tuan Penasihat. Pria tua itu tampak sedang bersemedi di tengah Altar dan merapal doa-doa. Secercah cahaya putih menyorot hingga memenuhi seluruh ruangan. Paladin tak berani mengganggu, ia hanya menunggu. Tuan Penasihat kemudian membuka kedua matanya, dan mengangguk ke arah Paladin. Ia mendekat ke arah Penasihat.
"Ya, Tuan? Ada apa gerangan?" tanya Paladin keheranan. Tuan Penasihat memandangnya dengan wajah pucat.
"Dia telah bangkit! Kerajaan akan berada dalam kekacauan!" oceh Tuan Penasihat yang tak dimengerti oleh Paladin.
__ADS_1
"Ya? Dia siapa?"
"Dia! Dia yang sangat jahat!!"
"Siapa, Tuan? Saya tidak mengerti,"
"Penyihir! Penyihir Hebat yang sangat jahat! Oh tidak!" Tuan Penasihat terlihat panik.
"Paladin, ayo kita jemput Panglima dan Raja! Mereka harus berperang!" ucapnya kemudian. Paladin berpikir sejenak, mencoba menaksir durasi waktu yang diperlukan untuk menjemput dan membawa kembali Panglima beserta Raja kembali ke Cordovan. Saat ini, mereka sedang dalam perjalanan menuju ke Gene Island, atau mungkin, sudah sampai di sana untuk menemukan Ratu.
"Tenanglah, Tuan. Anda harus menenangkan diri terlebih dahulu. Apakah itu ramalan yang tampak?" Paladin mencoba berpikir rasional dan memastikan situasi yang sedang terjadi.
"Ini sudah bukan ramalan! Ini kenyataan!" tukas Tuan Penasihat dengan amarah tertahan. Langit di luar menara yang tadinya gelap gulita, kini nampak berwarna kemerahan. Sedetik kemudian, Blood Moon terbit di angkasa. Waktu telah menunjukkan pukul 12 malam. Suara lolongan Serigala Kewini terdengar bersahut-sahutan. Serigala Kewini adalah jenis ras serigala yang merupakan hibrida dari anjing hutan dengan makhluk mitologi kewn-- sejenis monster predator, tentu saja belum ada yang pernah melihatnya. Serigala jenis ini sangat ganas, dan dihindari oleh para pemburu.
Suara lolongan berbaur dengan erangan. Kali ini, tidak terdengar lazim. Para ksatria suci nampak bersiap dengan posisi bertahan di pos jaga masing-masing. Firasat buruk menyeruak dari benak mereka. Tuan Penasihat Agung gemetar. Ia kembali terduduk bersila dan merapalkan doa-doa. Tak lama, cahaya biru menyelimuti tubuhnya. Sebuah lingkaran sihir dengan pendar keunguan dan berasap putih pekat tiba-tiba muncul di hadapan Sang Penasihat. Ia pun melangkahkan kaki memasuki lingkaran, sebelum lingkaran itu menutup, ia berpesan, "Paladin! Kau harus ke ibu kota bersama para ksatria! Akan ada kekacauan yang terjadi di sana! Aku akan menjemput Yang Mulia dan Panglima Suci,"
Paladin terkesiap tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Tuan Penasihat Agung rupanya bisa berteleportasi? Selama ini hanya penyihir dan peri yang dapat melakukannya. Paladin tidak membuang waktu, ia segera melaksanakan perintah Tuan Penasihat Agung.
"Pasukan! Berkumpul!" perintahnya pada komando pasukan suci yang sedang berjaga. Pasukan yang sedang ada di posisi mereka, menghambur ke arah Paladin dan mulai berbaris dengan formasi seperti hendak berperang.
"Pleton 1 tetap di Menaea Suci, Pleton 2,3 dan 4 ikut aku ke Ibu Kota. Kita akan berangkat 10 menit lagi. Persiapkan peralatan tempur, kuda, dan perlengkapan lainnya!" Seru Paladin dengan mengangkat Pedang Aura yang mulai bersinar.
"Siap! Laksanakan!"
Suara langkah berderap-derap menggema di seluruh ruangan. Beberapa pasukan juga sudah mengenakan baju zirah mereka, sehingga, tak hanya derap langkah berat yang terdengar, namun juga kerincing logam yang saling bergesekan. Suara peralatan tempur yang saling berdenting ketika dimasukkan ke dalam peti-peti kayu, mengiringi suasana tegang dan panas di dalam Menara.
Seluruh Ksatria tampak sangat serius dan bersiap dengan baik sebelum bertempur di ibu kota. Namun, tidak semua ksatria begitu, ada satu ksatria muda yang baru bergabung dan perangainya tak teguh seperti rekan ksatria lainnya. Tubuh kecilnya tampak bergetar. Ia tak menyangka harus berperang di masa pelatihannya yang baru saja dimulai. Pedang yang dipegangnya terjatuh dan menimbulkan bunyi yang membuat rekan-rekannya terkejut.
"Ma...Maaf.... " ujarnya lalu memungut kembali pedangnya yang terjatuh, namun, pedang itu meluncur lagi ke bawah karena telapak tangannya sangat basah oleh dengan keringat.
Klontang!
Kali ini, bunyinya sangat keras. Pemuda itu memungutnya lagi dengan kedua tangannya agar tidak terjatuh seperti sebelumnya.
Seorang Ksatria senior yang berada tak jauh darinya, mulai mendekat dengan wajah garang. Ksatria muda itu makin gemetar. Ksatria senior itu lalu menepuk pundaknya dan mengangkat kedua bahunya.
"FOKUSLAH! Ini bukan latihan! Ini adalah medan perang! Kau harus tabah dan berani!" serunya. Pemuda itu menitikkan air mata yang sudah tak bisa ditahan.
"Beranilah dan jangan bertindak bodoh! Kita akan saling melindungi satu sama lain," ujar Sang Senior kali ini dengan melengkungkan senyuman. Ksatria muda yang awalnya gugup dan sangat takut, kini mencoba untuk mengumpulkan tekadnya. Ia memilih menjadi berani dan mengangkat senjata untuk membela tanah air serta martabat Kuil Suci yang telah diucapkan dalam sumpahnya sewaktu mendaftarkan diri sebagai ksatria. Sang senior tampak bangga dengan perubahan sikapnya. Mereka lalu bersiap untuk berkumpul kembali di pelataran utama lalu bertolak menuju Ibu Kota.
"Gawat!! Para werewolves menyerang gerbang menara!!!"
__ADS_1
Seorang ksatria menghambur ke gudang senjata dan memberi pengumuman yang mencengangkan. Para anggota Pleton 2 yang sedang bersiap, langsung mengangkat senjata mereka dan berlari menuju gerbang depan untuk melibas para werewolves-- manusia serigala, sebelum menuju ke ibukota.
*
"Whoaa... Indah... Cantiik... Suwiwiit!!"
"Aaahh... Yeaaah... Yeaah.... "
"Lirik sini, dong! Cantik!!"
"Aku mau kamu!!!"
Suara para pria bersahut-sahutan mengiringi lenggak-lenggok tarian sensual gadis-gadis dari The Sacred Flowers-- gadis yang berasal dari rumah bordil paling terkenal di Cordovan.
Mereka sedang merayakan terbitnya Bulan Merah dengan ritual khas The Sacred Flowers, The Blood Moon Dancing, yang bisa ditonton gratis oleh semua orang tapi tidak boleh bersentuhan. Ritual 50 tahun sekali ini sangat langka, dan hanya orang tertentu yang bisa menontonnya dua kali, karena fenomena Blood Moon hanya terjadi tiap setengah abad sekali. Seorang kakek tua yang duduk di barisan terdepan, tengah mabuk kepayang dengan tarian para gadis. Ia sesumbar pernah menonton tarian ini sewaktu masih kuat dan perkasa dulu, entah berapa usia tepatnya jika dihitung per hari ini. Bisa saja ia berbohong, tidak ada juga yang peduli.
"Ah.. Aku merasa seperti terlahir kembali," ujar seorang gadis yang mulai membuka pakaian yang menutupi kedua dadanya. Energi bulan merah yang berharga akan diserap oleh tubuhnya secara optimal.
"Aaakkhh!! Tolongg!! Monster!! Monsterrr!"
Salah seorang warga berteriak ketakutan dari arah belakang kursi penonton. Para pria dan wanita yang sedang menikmati pertunjukan tampak terkejut dan tak percaya. Namun, suara lolongan serigala membuyarkan keraguan mereka. Para penonton pun berlarian tak tentu arah karena sedang mencoba menyelamatkan diri. Terdengar suara raungan binatang buas dan juga sorot merah menyeramkan yang datang dari balik bukit. Suasana malam yang tadinya syahdu dan indah menjadi kacau balau.
Monster-monster mulai menginvasi kota. Para gadis berteriak ketakutan dan berlari menuju ke rumah bordil. Penjaga kota mengangkat senjata dan mencoba menghentikan monster-monster yang mulai mencakar dan menerkam siapapun yang lewat. Mereka tak tampak kelaparan, namun, penuh dengan nafsu dendam. Mangsa yang sudah diterkam tidak dimakan, hanya dilukai. Para monstrer kembali mencari mangsa lain supaya dahaga amarah mereka mereda.
SIUUUUTT
BLAARRR
Sebuah bola api menyerang para monster. Seorang wanita misterius dengan gaun terpancang dari salah satu kakinya, tampak membalikkan keadaan.
"Lancang! Dasar makhluk hina!"
BLAARRR!
Wanita itu kembali membakar monster-monster dengan kekuatan sihirnya. Semua orang terkejut dan tidak menyangka, bahwa wanita yang sedang menyerang monster itu adalah.......
...****************...
(Bersambung)
__ADS_1
...****************...