Kutukan Penyihir

Kutukan Penyihir
The Royal Battle Reload


__ADS_3



Suasana malam di Kuil Suci kian mencekam. Hanya dalam waktu kurang dari 1 jam, Pasukan kembali bersiap untuk berperang menuju ke Istana. Malam itu, Pasukan Kerajaan yang merupakan aliansi dari Pasukan Dukedom Gelael, Pasukan Suci, dan Pasukan Raja Markian, bersatu padu menyamakan langkah untuk melumpuhkan sihir jahat yang menyerang benua. Kekuatan Penyihir Maxi tak bisa dianggap remeh, hanya dalam hitungan jam, pengaruhnya sudah sampai ke kerajaan-kerajaan lain di sekitar Cordovan. Suasan gelap dan mencekam kini tak hanya dirasakan oleh penduduk Raja Markian, namun juga penduduk kerajaan lain yang ada di Benua Britani.


"Yang Mulia, pasukan sudah siap!" seru Paladin yang baru saja menyiagakan pasukan agar segera terjun ke medan perang. Mereka kini telah berbaris sesuai formasi di pelataran Kuil dan dalam posisi siap untuk diberangkatkan.


"Baiklah, aku akan segera ke sana," ujar Raja Markian kembali dengan tekad teguh, meski hatinya hancur lebur karena kematian sang istri. Jenazah Ratu Cordovan yang gagal bangkit, telah disemayamkan kembali di rumah duka dan dijaga oleh sihir suci agar tak diganggu oleh apapun jua. Pemakaman resmi kerajaan akan dilangsungkan setelah perang berakhir.


Raja Markian dengan gagah berani bergabung ke dalam pasukan untuk berangkat ke medan tempur yang kedua. Hanya berselang sehari semalam, perang kedua akhirnya pecah. Rembulan merah telah kembali ke penciptaNya. Kali ini, di langit Cordovan yang muram, rembulan bulat sempurna tampak bersinar, menyinari malam yang awalnya gulita.


Kehadiran Bulan Merah pada hari sebelumnya telah mengisi penuh kekuatan Penyihir Maxi yang bangkit kembali. Ia kini menjadi lebih kuat dan lebih jahat. Sihir hitamnya membuat atmosfer benua yang awalnya sejuk menjadi sepanas neraka. Tidak ada lagi es yang membeku, semua tanaman terbakar dan mati. Kabut gelap menyelimuti seluruh kerajaan, ketika mendekat ke arah istana, kabut itu akan menjadi asap beracun yang dapat memusnahkan siapa saja.


"Pasukan!! Bersiap!! Formasi!!"


"Huuuu... Ha!"


"Pasukan! Berangkat!"


"Huuuu... Ha!"


Drap


Drap


Drap


Drap


Panglima Suci kembali memimpin pasukan, diikuti Paladin yang berada di sisinya, dan Sang Raja yang ada di depan mereka. Pasukan Kerajaan yang berjumlah 500 orang sedang bertolak menuju ke istana dengan langkah berderap-derap dan tekad membara. Para pengungsi tetap berada di bawah perlindungan Kuil Suci, dengan 50 orang ksatria suci yang siap menjaga mereka.


"Pasukan aliansi antarbenua telah berkumpul di titik utama Gonovan. Kita akan bertemu di sana," ujar Sang Raja pada Panglima dan Paladin setelah menerima informasi dari telik sandi yang baru saja tiba. Mereka berdua mengangguk paham, dan meneruskan perjalanan ke istana.


*


Selama perjalanan menuju ke Istana, Pasukan Kerajaan berada dalam ketegangan yang paripurna, mengingat, kekuatan musuh mereka meningkat hingga berkali-kali lipat. Suasana yang mencekam, dan gelap, disertai angin malam yang dingin, mengiringi langkah-langkah pasukan yang sedang bersiap untuk perang kedua. Perang melawan sihir jahat hampir menjadi misi mustahil, jika tidak disertai bantuan dari para Ksatria Suci yang juga punya mana dan kekuatan sihir putih. Kemampuan berpedang biasa, tak akan bisa menembus kekuatan sihir yang tak kasat mata.


"Itu mereka!" Pekik Paladin ketika melihat panji-panji milik kerajaan lain berkibar samar di tengah gelapnya malam. Ia memacu kudanya lebih cepat, agar dapat menggabungkan beberapa kekuatan sehingga dapat menjadi pasukan yang lebih besar dan lebih tangguh lagi.


"Salam kepada Panglima!"


"Salam! Siapa anda?" tanya Panglima Aliansi yang sedang berada di atas kuda putih dengan zirah besi emas yang berkilau.


"Saya Paladin, Ajudan Panglima Suci dari Cordovan,"


"Salam Tuan Paladin,"


"Inikah pasukan aliansi? Berapa jumlahnya?"


"Kami berkisar 500 orang. Ada berapa pasukan anda?" tanya Panglima kembali.

__ADS_1


"Kami juga berkisar 500 orang,"


"Kyuu.... "


"Hu.. Ha... Hu.. Ha... "


Bangsa peri dan kurcaci juga tampak diantara Pasukan Aliansi, tentu saja, mereka terlihat mencolok dengan aura sihir seperti makhluk ajaib pada umumnya.


"Baiklah. Mari bergabung!" Titah Raja Markian yang baru saja muncul dari balik kerumunan. Pasukan Kerajaan kini berjumlah hampir seribu orang, yang terdiri atas pasukan dari Dukedom Gelael, Pasukan Raja Markian, Pasukan Suci, dan Pasukan Aliansi Benua.


Para prajurit kembali bergerak dengan formasi gabungan, melangkahkan kaki dengan gagah berani ke dalam medan tempur yang tak terlalu jauh dari lokasi saat ini. Dalam kurun waktu sekitar dua puluh menit, mereka akan tiba di pelataran istana. Lolongan serigala jadi-jadian terdengar lirih menyambut langkah mereka. Sepertinya, makhluk sihir itu berada tak jauh dari posisi pasukan saat ini. Dengungan mantra kematian seakan melambai untuk didatangi. Para prajurit yang tidak terlalu kuat mentalnya, seketika tumbang, dan kekacauan dalam formasi pasukan menjadi tak terelakkan.


"Aaakhhh!"


"Aakkkhhh!!"


"Ibuuuuu!!"


Beberapa prajurit tumbang, hanya dengan mendengar nyanyian kematian. Mereka adalah prajurit-prajurit yang takut untuk pergi berperang.


"Jangan takut! Bulatkan tekad kalian!" seru Sang Raja yang tak merasakan apa-apa. Pasukan yang tersisa, tentu saja gemetar, namun mereka mencoba bertahan. Mereka bahkan belum mengayunkan pedang, bagaimana mungkin bisa tumbang sia-sia seperti ini?


"Sebentar lagi kita sampai! Bertahanlah!" Teriak Pangliman Aliansi.


"Huuu... Ha!" Jawab para pasukan serempak. Mereka berdiri tegak dengan langkah kaki serasi dan kecepatan hampir serupa. Senjata-senjata para ksatria tampak berkilauan di bawah pancaran sinar rembulan.


'Kaaak... Kaaak.. '


"Serang!!!"


'Kaaak... Kaaak.. Kaaaaak....'


"Aaakkkkk!!!"


Sriiing


Sriingg


Jleeebbbb


Pasukan bertarung melawan serangan burung neraka yang membabi-buta. Tak jauh dari posisi mereka, tampak kawanan werewolves siap menyergap dan mengoyak Pasukan Aliansi yang menghunus pedang.


'Auuuuuuuu'


Crakkk!!!


Serangan demi serangan muncul begitu saja, setibanya pasukan di area ibu kota. Letak istana masih beberapa ratus meter, namun, Pasukan Aliansi sudah bersusah-payah bertahan dari intaian makhluk sihir yang menyergap secara tiba-tiba.


Di tengah-tengah kerumunan prajurit yang kacau, terdengar pekikan Sang Pemimpin yang memecah keramaian. Ia menghunus pedang emasnya dengan berani dan teguh.


"Bertahan!!" Titahnya dengan suara lantang.

__ADS_1


Pemimpin pemberani itu adalah Raja Markian, seorang Raja yang dihormati dan disegani oleh seluruh Pasukan Aliansi. Dengan pedangnya yang mendongak ke langit, ia mengkomando pasukannya dengan tegas. Tatapan matanya yang penuh tekad memancarkan keberanian dan nyali pantang mundur. Raja Markian tak takut untuk melawan ancaman yang ditimbulkan oleh sihir jahat.


Para pasukan berusaha sekuat tenaga dalam posisi bertahan. Ketika keadaan sudah cenderung aman, Panglima memekikkan perintah untuk menyerang.


"Serang!!!"


"Huuu... Haaa!!"


Pasukan pun melakukan serangan bertubi-tubi. Para werewolves dan burung-burung neraka yang sedari tadi berkelabat, tak dapat menahan serangan mematikan dari para pasukan.


"Attackk!!!"


BLAAARRRR!


"Kyuuuu!!!"


Bantuan dari Panglima Suci, Paladin dan para peri yang berada di lokasi kejadian, juga menjadi kekuatan yang kemudian membalikkan keadaan. Bantuan sihir tak dapat digunakan sembarangan, karena mana Panglima dan Paladin akan menguras stamina mereka. Jika keadaan tidak terlalu terdesak, maka, serangan dari senjata biasa yang dipergunakan.


Kondisi pertempuran awal sudah membaik. Meski masih banyak sisa-sisa musuh yang perlu dibasmi.


"Pasukan!! Majuuu!!!" Titah Raja Markian dengan memacu kencang kudanya. Ia tak ingin terganggu fokusnya. Pleton pasukan tiga hingga sepuluh yang tak begitu sibuk membasmi sisa-sisa makhluk sihir, berderap lurus memecah kerumunan. Mereka mengikuti jalur Raja Cordovan untuk segera sampai ke Istana.


*


"Hiyaaahh!!"


Drap


Drap


Drap


Tak jauh dari pandangan Raja, gerbang istana telah tampak. Cahaya kegelapan menyelimuti area tersebut, bahkan, suara-suara sumbang yang berasal dari siluman terdengar saling bersahutan. Penyihir jahat, yang berambisi untuk menguasai benua, tampak muncul dari balik kabut hitam di balkon Istana. Ia adalah Penyihir Maxi. Dalam jubah hitamnya yang pekat dan berkibar-kibar, dia menatap dengan sinis ke bawah, menikmati pandangan dari kekuasaannya yang semakin meluas. Penyihir Maxi sudah satu langkah ke depan dalam meniti impiannya untuk menjadi penguasa benua.


"Haha.. Dasar manusia bodoh!" Pekiknya dengan penuh kesombongan. Venn, tak kalah sinis. Ia juga menari-nari dengan senang di pelataran istana. Beberapa kali, Venn terlihat menyantap burung neraka yang dicekiknya lalu dipanggang dengan api sihir. Tak jauh dari posisi Venn berada, tampak bala tentara yang membentuk formasi segitiga dan siap untuk bertempur melawan pasukan manusia. Rombongan baru yang menjadi aliansi penyihir adalah para gadis The Sacred Flowers yang berada di dalam istana, siap untuk memberi hiburan ketika kemenangan telah di tangan--meskipun mereka hanya sedang berpura-pura.


"Turunlah wahai jelmaan iblis!!" Hardik Raja Markian ketika hampir memasuki gerbang istana. Para bala tentara Penyihir Maxi yang didandani seperti ksatria dengan zirah besi, tampak menggeram namun tak menyerang secara tiba-tiba. Pasukan yang terdiri atas werewolves, buaya rawa, Golem dan beruang hutan jadi-jadian itu, tampak menunggu perintah dari tuan mereka.


"Kalian, manusia-manusia yang lemah! Mau apa datang ke kerajaanku? Hah?" tanya Penyihir Maxi dengan angkuh. Suaranya menggelegar hingga ke bukit Gonovan. Beberapa prajurit dari Pasukan Aliansi gemetar hanya dengan mendengar suaranya yang menakutkan.


"Iblis angkuh dan jahat sepertimu tidak akan pernah menjadi pemimpin benua! Wahai Penyihir busuk!" Balas Raja Markian tak kalah lantang.


"Ha... Ha... Ha.... Kalian hanyalah serangga yang akan mati dalam satu jentikan jari. Majulah!!!" Perintah Penyihir Maxi dengan suara yang berdenting.


Prajurit-prajurit Aliansi kemudian siap dalam posisi menyerang. Hanya dengan satu komando. Pasukan akan merangsek masuk melibas kawanan makhluk sihir yang ada di pelataran Istana.


...****************...


...bersambung...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2