
"Berita panas! Berita panas! Malam ini malam blood moon! Raja belum membawa pulang ratu. Akankah kutukan penyihir terulang kembali?"
Seorang anak laki-laki yang berprofesi sebagai loper koran tampak melompat-lompat dari seberang kereta kuda. Ia sedang mencoba menggapai kaca kereta untuk menarik perhatian lady yang berada di dalam sana. Sebuah gosip--digosok makin sip, tentu akan memuaskan hasrat ghibah para bangsawan muda.
Sayang sekali usahanya sia-sia. Kereta kuda incarannya rupanya dinaiki seorang tuan setengah tua. Jangankan bergosip, mendengar seseorang berbicara saja ia kesulitan. Wajah cerah anak itu berubah muram. Namun, hanya sedetik saja. Ia lalu menyemangati diri sendiri dan mencoba peruntungannya lagi.
"Berita panas! Berita panas! Malam ini malam blood moon! Raja belum membawa pulang ratu. Akankah kutukan penyihir terulang kembali?"
Kali ini, ia berjalan ke gang-gang kecil. Semoga saja ada orang yang mau membeli korannya karena ia sedang lapar. Perutnya sudah berdemo minta diisi.
"Dik... Dik... "
Seseorang memanggil loper koran cilik itu, namun, karena terlalu pelan, suaranya jadi tak terdengar.
"Diiiikkkk!!"
Kali ini suaranya ditinggikan, namun, masih saja kurang kencang.
Anak itu sudah berbelok ke gang lain yang berada di ujung jalan. Connelly yang sedang dalam penyamaran, terpaksa mengikuti langkah kakinya agar bisa membeli koran.
"Hosh... Hosh... "
Nafas Connelly tersengal, tidak biasanya ia berlari kencang seperti itu. Sebagai seorang lady, berjalan anggun tanpa terguncang adalah etiket dasar yang harus dikuasai. Jangankan terguncang, kali ini, langkahnya berderap-derap seperti kuda perang! Madam Finn tentu akan terkena serangan jantung jika melihat situasi yang aneh ini.
"Diiiiikkk.... Hosh... Hossh.... " Connelly memanggil anak itu setelah berhasil menyusul langkahnya yang ringan namun sangat cepat seperti tupai. Anak laki-laki itu akhirnya menoleh, sedetik kemudian, dua orang besar berjubah hitam menghalangi pandangan anak tersebut, dan mengajaknya untuk pergi ke tempat lain.
__ADS_1
"Berapa harga koranmu?" tanya seseorang diantara mereka.
"2 koin tembaga, Tuan. Beli 2 bisa nego tipis no sadis," seloroh anak itu sambil menyeringai. Mereka membeli 1 koran dan mulai membaca beritanya. Connelly yang berhasil menyusul kembali anak itu, tanpa sengaja menarik jubah hitam pria yang ukurannya dua kali lebih besar darinya.
"Apa-apaan kau?" pria itu tampak tak senang dengan perlakuan Connelly yang saat ini tampak seperti remaja laki-laki bengal.
"Ma.. maaf.... " ucapnya lalu beringsut mundur. "Dik.. Dik... Aku mau beli koranmu," ujarnya kemudian, sambil melirik ke arah anak laki-laki yang sedari tadi sedang ia ikuti.
Pria yang ditarik jubahnya oleh Connelly tadi buru-buru memberi 1 keping emas, lalu memborong semua koran milik loper cilik tadi.
"Woww! Koin emas! Terima kasih tuan! Saya undur diri..... " anak itu menghilang dalam hitungan detik. Setelah mendapat koran-koran yang tersisa, pria itu membuang koran ke bak cucian berisi air di dekat gang. Connelly terperanjat tak percaya. Bagaimana pria itu bisa begitu usil dan seperti mengejek dirinya?
"Sudahlah.. Ayo kita pergi," Pria lain yang badannya lebih kecil menepuk pundak pria itu. Ia pun melangkah membiarkan Connelly mematung kesal atas perlakuannya.
"Heh! Apa maksudmu?" teriak Connelly memulai pertengkaran. Pria itu tidak menggubris dan tetap berjalan. Connelly segera berlari ke arahnya dan menarik jubah pria itu lagi, kali ini, jubahnya sobek. Connelly tak peduli. Ia meminta penjelasan.
"Masa ngga tau kalo dia cewek?" tanya pria itu. Pria berbadan besar itu kemudian tertegun. Gadis yang berada di depannya seperti orang yang berbeda. Baru kali ini ia melihat wanita yang sangat cantik dengan rambut pirang tergerai.
"Berikan padaku!" seloroh gadis itu kemudian menutup rambutnya kembali.
"Maaf nona, tolong jangan usili dia, dia itu pemarah," ujar pria berbadan kecil yang memperkenalkan diri sebagai Azzam. Pria berbadan besar itu bernama Razan. Connelly akhirnya meminta maaf karena telah berlaku kasar. Ia hanya ingin membacs berita di koran, mengapa sulit sekali?
Razan kemudian meminjamkan koran yang tadi dibelinya. Connelly membaca sebaris demi sebaris kata yang tercetak di dalamnya. Ia lalu berpikir sejenak, dan benar-benar tak mengira kalau kakaknya akan melakukan hal seperti ini.
"Nggak takut dipenggal ya anak itu?" tanya Azzam pada Connelly yang sedang serius membaca.
"Ya?" Connelly malah balik bertanya.
__ADS_1
"Kok bisa-bisanya ghibahin Raja mereka,"
"Oh, itu.. Iya. Aku setuju. Raja kami terkenal tiran di medan perang, tapi sangat lembek pada rakyat sendiri," Connelly mengangguk dan tak habis pikir. Mungkin, karena rasa bersalah Raja pada rakyatnya yang harus mengalami satu musim selama setahun. Raja jadi tak pernah mempermasalahkan rumor kutukan penyihir yang selalu dibahas ketika fase bulan merah tiba.
"Kalian dari kerajaan mana? Kayaknya bukan orang Britani, ya?" tanya Connelly melihat sekilas penampilan pria-pria berbadan besar dan berkulit legam yang tidak pernah ia jumpai.
"Ya benar, kami adalah pengelana dari benua tetangga, Kerajaan X," jawab Razan tanpa menyebutkan identitas asli mereka. Ia sedang menjalankan misi untuk bertemu Putri Isyana secara rahasia.
"Baiklah... Mari aku traktir minum!" ajak Connelly gembira. Pria-pria itu pun tak menolak. Mereka berpindah tempat ke Bar terdekat.
*
"SEEEHGEELLAAASHH LAAAHGIIIII...... "
Connelly sudah mabuk walau hanya minum segelas bir. Razan dan Azzam kebingungan meladeni permintaan gadis itu. Karena perjalanan mereka harus segera lanjut, Razan dan Azzam pun mengantar Connelly ke pos jaga terdekat.
"Lady Connelly??"
Penjaga kota mengenali adik penguasa mereka, Lady Connelly von Gonovan. Mereka pun meminta penjelasan dari Razan dan Azzam bagaimana mereka bisa bertemu sang lady. Razan menjelaskan bahwa mereka tak sengaja bertemu di Bar. Connelly pun diantar pulang oleh petugas ke kediaman sang duke.
*
"Lady itu mungkin berguna, bagaimana jika kita menginap semalam di sini?" kata Azzam sepulang mengantar Connelly ke pos jaga. Razan mengangguk setuju, mereka pun menginap di motel terdekat dan mencoba mendekati Conelly lagi esok hari.
****************
(bersambung)
__ADS_1