Kutukan Penyihir

Kutukan Penyihir
Bala Bantuan


__ADS_3


Suasana di Dukedom Gonovan sangat kacau. Isak tangis dan jeritan rakyat kerajaan menggema memecah sunyi malam yang hampir tanpa cahaya. Siluet-siluet asing terpancar dari semburat merah yang berpendar di angkasa. Bulan merah menguasai cakrawala. Semua sumber cahaya lenyap tak tersisa. Lampu-lampu padam karena pembangkit listrik ambruk. Obor api berserakan. Lilin-lilin tak sempat menyala di tengah kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan monster yang membabi-buta.


"Toloooongg... Selamatkan aku!!!"


"Oeeek... Oeeeek...."


"Lariiii!!!!!"


Pekikan putus asa tak henti terdengar. Semua orang berhambur menyelamatkan diri masing-masing. Rumah-rumah terbakar akibat bara api dari obor yang terjatuh tak tentu arah. Banyak ibu melupakan anaknya, dan suami-suami meninggalkan istri-istrinya. Tidak sempat mereka berpikir dua kali untuk lolos dari maut yang segera datang di hadapan mereka. Bahkan, para ksatria penjaga kota pun tak mampu menahan serangan monster yang bertubi-tubi.


"Tuan! Selamatkan aku!"


Tidak ada yang bisa menolong satu sama lain, mereka berhambur ketakutan. Keganasan para monster membuat orang-orang tak berkutik, sungguh kejamnya mereka di atas rata-rata. Pedang biasa patah dikunyah olehnya. Tombak-tombak kurang tajam untuk bisa menembus kulit mereka.


"Bertahan!"


Seru salah seorang ksatria dengan nafas tersengal tanpa arti. Usaha mereka nyaris sia-sia karena senjata-senjata biasa tak dapat melukai tubuh monster yang makin sakti akibat suntikan energi dari Sang Bulan Merah. Kendati demikian, tak ada pilihan lain bagi para ksatria selain melindungi rakyat kerajaan.


"Jangan Menyerah!!" Pekik pria-pria yang masih memiliki nyali. Mereka tak gentar untuk ikut mengangkat senjata. Sabit, palu, pedang kayu, tombak, panah untuk berburu, apapun yang bisa ditemukan, langsung diambil sebagai alat bela diri.


"Hiyaaaahh!!!"


Sabetan sabit seorang petani yang tidak piawai berkelahi, nekat menebas kepala monster serigala. Bukannya terpotong, leher mereka hanya terluka. Serigala yang terprovokasi malah balik menyerang dan mengoyak habis petani yang tak berdaya. Ia pun tewas seketika. Pria-pria lain mencoba menyerang dari sisi yang berbeda. Kali ini, hantaman palu baja diarahkan ke moncong mereka, lagi-lagi gagal. Palu itu juga penyok dikunyah gigi-gigi yang mencengkeram beserta tangan penyerangnya. Di atas genting, ada pemanah yang meluncurkan anak panah mereka seperti sedang berburu rusa. Nahas, tidak, mengenai titik vital monster serigala. Ia pun semakin marah dan menyergap pemanah, kemudian mengoyak-ngoyak tubuh mereka hingga terbelah menjadi dua.


Tak ada satu pun orang yang berhasil menghalau para monster serigala. Para pria dan ksatria yang tersisa, mundur teratur dan menahan serangan. Mereka gemetar ketakutan. Para predator yang mendominasi pertarungan, mulai merangsek maju ke depan. Mereka melolong-lolong seakan merayakan kemenangan. Air liur mereka menetes dari balik gerigi tajam. Mata merah serupa rembulan itu sedang membidik target selanjutnya untuk diserang.


Para monster merangsek, membelah barikade ksatria yang hanya tinggal separuh pasukan. Rekan-rekan seperjuangan para ksatria telah tewas dibuat mainan oleh para monster. Kini, dengan tekad yang tersisa dan juga keberuntungan yang mungkin ada, ksatria dan para pria, bersiap untuk memukul mundur monster-monster yang tidak terlihat kepayahan sama sekali.


"Seraaaanggg!!!" Komando ksatria yang ada di barisan terdepan.


"Hiyaaaahhh!!!!"


Mereka memulai kembali perkelahian di tengah kobaran api yang menyambar dari balik rumah-rumah yang terbakar.


"Oh, tidak! Aku tak tahan lagi!" seru salah seorang pria yang terdesak oleh moncong serigala.

__ADS_1


"Bertahanlah! Hiyah!" salah seorang rekannya menyabetkan pedang ke arah serigala tersebut, namun tak melukai apa-apa.


"Grrrrr.... "


Serigala itu balik menyerang pria berpedang dan mencengkramnya.


"Aaaaakkkhh!!!"


Pria berpedang tewas tergigit oleh gigi monster yang setajam pedang. Darahnya bercucuran dan lehernya tersobek. Tulang dan daging menyembul berantakan.


"Zayn!!! Tidaaaakkk!" Pria yang tadinya terdesak, lantas nekat menyabetkan pedang kayunya meski ia tahu bahwa usahanya tak akan membuahkan hasil apa-apa.


"Grrrrrrr..... Haarrggggkkk!!!"


Pria itu pun tewas seperti Zayn-- rekannya.


Kekacauan tak terhindarkan. Saling serang dan saling bertahan menjadi ritme yang dilakukan silih berganti. Para ksatria dan pria-pria seakan berada di titik nadir. Mereka tak akan bisa bertahan lebih lama lagi.


"Toloooong... Toloooongg... "


Seorang wanita dan 2 anaknya yang bersembunyi di dalam rumah berteriak minta tolong. Mereka berada di bangunan yang terbakar dan tak dapat turun karena sama saja bunuh diri. Seorang pria berbadan besar tampak melompat dari genting rumah lain untuk menyelamatkan mereka bertiga. Sedangkan di bawahnya, masih berlangsung pertarungan sengit antara monster dengan para ksatria.


"Sembunyilah di tempat yang aman! Cepat!" perintah pria itu diikuti anggukan si wanita dan anak-anak mereka. Pria besar itu lalu berlari menuju ke barikade ksatria.


Bersamaan dengannya, sesosok monster terbesar tampak berjingkat dari arah belakang dan bersiap mencengkram serta mengobrak-abrik barikade pasukan.


"Rrrrrrrrrrrrr!!?!! Auuuuuu!!!??!!!"


BLARRRR!


Belum sempat mengoyak para ksatria, monster terbesar itu hangus terbakar oleh bola api yang baru saja terlontar dari barikade.


Monster-monster lain yang menyaksikan bola api menyala-nyala, tampak mundur perlahan.


"Auuuuuu...."


Mereka melolong bersiap untuk kembali menyerang.

__ADS_1


SIUUUUUUUUT


BLAAARRRRR


KRATAK


KRATAK


Seorang wanita misterius dengan gaun terpancang dari salah satu kakinya, tampak murka.


"Lancang! Dasar makhluk hina!"


BLAARRR!


Wanita itu kembali melontarkan bola api ke arah monster-monster dengan kekuatan sihirnya. Bola api itu menyambar berkobar-kobar mengenai para monster yang hendak menyerang. Monster-monster yang awalnya terlihat gagah perkasa dan tak terkalahkan, akhirnya tewas menemui ajal dengan cara terbakar.


'Kaing... Kaing... Kaing... '


Para monster melolong kesakitan. Mereka meronta-ronta dalam kobaran api yang membakar seluruh tubuh mereka. Beberapa monster lain yang selamat, berpencar ke berbagai arah untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing. Mereka menghindar dari bahaya yang baru saja tiba. Beberapa ekor monster kemudian kembali ke trek mereka untuk berkumpul di ibu kota dan meninggalkan Dukedom Gonovan.


Semua orang terkejut dan tidak menyangka, bahwa wanita yang sedang menyerang monster itu adalah Madam Velocia, pemilik The Sacred Flowers dan merupakan wanita terpanas di Dukedom Gonovan.


"Hidup, Madam! Hidup, Madam!!" Pekik orang-orang yang menyaksikan pertarungan sengit itu. Pertarungan yang hampir mustahil dimenangkan jika bukan tanpa bantuan sihir.


Pria besar yang awalnya hendak membantu pasukan, tampak mundur dan melanjutkan perjalanannya menuju ibukota. Dia adalah Shahrazan.


Melihat Wilayah Gonovan yang berkobar-kobar, Razan langsung berlari kembali padahal sudah ada di tengah jalan menuju ibu kota. Ia meninggalkan Azzam yang tetap berada di jalurnya untuk segera sampai ke Istana Kerajaan Cordovan demi menuntaskan misi. Razan teringat Lady Conelly yang berada di Dukedom Gonovan. Tentu saja ia tak mungkin pura-pura buta dengan situasi mencekam yang ada di Gonovan. Razan sangat mengkhawatirkan Conelly. Beruntung, situasi aman terkendali berkat penyihir yang berhasil memukul mundur para monster.


*


"Auuuuuuuu!!!!??!!!"


Monster serigala yang berhasil selamat, berderap menjauhi Dukedom Gonovan menuju ke ibu kota, titik awal berkumpulnya para makhluk sihir. Mereka dipanggil oleh Sang Penyihir Hebat Maxi untuk mejadi bala tentara yang menyerang ibu kota. Serigala-serigala itu datang berduyun-duyun dari hutan menuju ke ibu kota. Sialnya, mereka memilih untuk melewati Dukedom Gonovan karena terpikat dengan kemeriahan suasana festival Bulan Merah. Bukannya langsung bergerak sesuai arah, para monster mampir dulu untuk bersenang-senang dengan para manusia. Pada akhirnya, sebagian besar dari mereka tewas tak bersisa.


...****************...


(Bersambung)

__ADS_1


...****************...


__ADS_2