
Desir keputusasaan menjalar ke dalam tubuh Raja. Hanya dalam hitungan detik saja, ia akan tewas terpanggang ke dalam kobaran lava. Dari semua hal yang pernah dilaluinya, hanya ada satu penyesalan, terbunuhnya dirinya dengan sia-sia. Sebagai seseorang yang terlahir dengan marka penguasa, tewas di medan laga adalah impian mereka. Kematian itu akan menjadi legenda dan juga penghormatan, bahwa, Raja Negara telah berjuang melawan musuh hingga mengorbankan nyawa.
Air mata menetes bersamaan dengan peluh terakhir yang baru saja dipaksa untuk melawan musuh terkuat yang pernah ada.
"Selama tinggal, negriku tercinta," desis Markian dengan suara lirih, menyongsong kematiannya dari tebing yang curam, yang tak pernah ia bayangan sebelumnya. Tebing curam itu merupakan tebing buatan dari Penyihir Maxi yang dicipta dari ketiadaan, dan kini, menghampar di dalam bangunan dalam Istana, tempat awal Markian lahir hingga sekarang menjadi saksi bisunya dalam meregang nyawa.
Lamat-lamat, dalam keheningan yang sebentar, ia merasa lega. Markian merasa, kali ini, ia akan berkumpul dengan orang-orang yang dicintainya. Ayahanda Raja terdahulu, Ibunda Ratu dan juga mendiang istrinya. Senyum tipis menghiasi wajahnya sebelum bersatu dengan lahar yang menyala-nyala.
Nguuuuuung
'Grooooooaaaaaaar'
Syuuuuuuuuu
Embusan badai tiba-tiba datang bersamaan dengan sesosok makhluk misterius yang menyambar tubuh Raja. Lahar api menjadi mati seketika akibat angin topan yang memicu kristal es dari seekor...... NAGA?
Darimana datangnya NAGA?
"ASTAGA???!!!"
__ADS_1
Dalam keheningan dan keputusasaan yang baru saja melanda, Raja Markian terkejut tak percaya dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
Suara gemuruh dan gemerincing bersahut-sahutan mengisi udara. Pantulan kilat dari sisik-sisik keemasan naga berkilauan, menerangi gelapnya istana. Bangunan megah itu berguncang ketika Sang Naga menampakkan kehadirannya. Naga itu dengan sigap meluncur ke bawah. Kecepatannya yang menakjubkan menyusur angin seperti kilat. Ia lantas menangkap Raja yang terjun meluncur menuju ke kobaran lava. Semua terjadi begitu saja, dalam hitungan sepersekian detik, sehingga, nyawa Raja berhasil diselamatkan. Dengan keahlian terbang yang luar biasa, cakar naga melingkari tubuh Raja dengan erat. Cakar kuatnya itu menembus zirah Raja sehingga dapat menopangnya dengan kokoh.
'Grooooooooaaarrr'
"Lancang!! Makhluk hina darimana kau!" Teriak Penyihir Maxi dengan tubuh gemetar, tak kuasa menandingi aura Sang Naga. Ia mundur beberapa langkah dari arah balkon lantai tiga istana. Lengannya yang mengucurkan darah hitam sedari tadi, tampak mengayun lemah, meski tak mengancam nyawa pemiliknya.
'Groooooooaaaarrrrr'
Raja yang tertangkap naga, kini merambat hingga ke puncak punggung makhluk mistis tersebut. Dengan kekuatannya, Naga berhasil memadamkan lava, dan tiba-tiba, ada sinar keemasan yang memancar dari arah bawah, ketika kedua sayapnya dikepakkan. Lantai-lantai marmer yang tadinya hancur dan mendadak menjadi jurang, kini utuh kembali seperti sedia kala. Raja takjub dengan kemampuan sihir pemulihan dari Sang Naga. Penyihir Maxi berdecak kesal melihat kekacauan yang ditimbulkannya menjadi sia-sia. Ia lantas menghambur ke arah dalam istana, mencari penyelamat terakhirnya yang merupakan pengumpul sumber sihir dahsyat dari sinar bulan merah: BOKOR MAS.
"Sial!! Kemana perginya bokor itu???" gumam Penyihir Maxi dalam hati, namun, ia tak bisa berhenti berlari. Naga Emas menyembul dari arah seberang. Matanya yang sangat besar membulat, mencari-cari keberadaannya yang tiba-tiba menghilang.
Raungnya kesal dan suaranya menggema hingga ke sudut istana. Penyihir Maxi yang terdesak, akhirnya mengumpulkan kekuatan terakhirnya dan memanggil kumpulan burung neraka.
"Zaazoonsya Vavoooma Xyexyanzeya!!"
'Kaaak... Kaaaak..... Kaaaak'
Kawanan burung neraka yang sedari tadi mendistraksi pasukan dan membuat kekacauan di medan perang luar istana, melesat kilat ke dalam, sesuai perintah Sang Penyihir.
__ADS_1
"Bergabung!!"
Para burung yang tadinya kecil dan ganas, kini menggabungkan diri satu demi satu. Paruh-paruh mereka yang tajam bergemeletuk ketika menjadi satu kesatuan yang utuh. Tampak aura gelap memancar, dan kabut hitam berputar-putar di sekitar mereka.
'Koaaaaak..... Koaaaaakkk..... '
Tak berselang lama, burung neraka raksasa muncul dari balik asap pekat yang baru saja mereda.
"Astaga! Makhluk apa itu??" tanya Raja setengah berteriak. Ia sungguh terkejut dengan penampakan burung raksasa berwarna hitam pekat dengan sayap menyala-nyala seperti kobaran api neraka.
"Itu adalah burung neraka raksasa, Yang Mulia," jawab naga dengan anggunnya.
"Apaaa??? Kau bisa berbicara???" Mata raja membulat sempurna. Belum habis kekagetannya dengan burung raksasa, kali ini, Sang Naga juga rupanya dapat bercakap-cakap dengannya.
"Nanti Yang Mulia akan tahu, siapa saya. Untuk saat ini, berpijaklah di balkon seperti Penyihir pengecut itu. Saya yang akan maju melawan Burung Neraka itu," desis Naga dengan suara yang tenang dan dalam. Keanggunannya memancarkan pesona seorang wanita. Sepertinya, naga itu berkelamin betina.
"Baiklah, Naga. Aku akan menepi terlebih dahulu," ujar Sang Raja patuh. Naga itu lalu mendaratkan tubuh Raja dengan lembut di atas lantai balkon yang berada di sisi kiri sayapnya.
Setelah dirasa cukup akan, Sang Naga kini mengambang di udara, ia melangkah maju ke arah Burung Neraka. Mereka kini saling berhadapan, dengan mimik wajah menyeramkan seperti sedang membuat perjanjian sebelum maju berperang. Mereka pasti akan mati-matian mempertahankan wilayah kekuasaan mereka. Setelah dirasa cukup, ritual perkenalkan itu berakhir begitu saja. Saat ini, Naga Emas mengepakan sayapnya dan dengan cepat dan meluncur maju, menyemburkan api biru yang menyala-nyala ke arah lawannya. Burung Neraka yang ada di hadapannya, tak tinggal diam. Ia tentu saja menghindar dengan lincah. Burung itu lalu berputar di udara dan melancarkan serangan balasan menggunakan cakarnya yang tajam dan bara api dari balik sayap-sayapnya yang bergelora.
...****************...
__ADS_1
...Bersambung...
...****************...