Kutukan Penyihir

Kutukan Penyihir
Beberapa Jam Sebelum Blood Moon


__ADS_3


"Hiyaaahhhh!!!!"


Kuda Markian berpacu sangat kencang. Derap langkahnya menggema di antara pasukan yang sedang bersamanya. Kuda Raja adalah kuda terbaik yang dapat berlari sejauh 100 km/jam. Kuda perang kebanggaan Cordovan telah melayani Raja Markian selama bertahun-tahun lamanya. Stamina kuda bernama Black Knight itu sangat prima. Ksatria lain yang mengekor di belakangnya tampak kewalahan. Laju Black Knight tidak bisa dikejar hanya dengan derap sederhana. Kuda-kuda para ksatria harus berlari ekstra kencang untuk mengejar ketertinggalan.


"Yang Mulia, menara sudah terlihat!" Sir Albert memekik dari arah depan. Satu-satunya kuda ysng bisa melawan Black Knight adalah Black Shadow, kakaknya. Black Shadow adalah kuda perang milik Sir Albert yang usianya hanya terpaut 5 jam dari Black Knight. Ibu mereka melahirkan bayi kembar yang kemudian menjadi dua kuda perang yang sangat dibanggakan oleh Ksatria Cordovan.


"HIYAAAHHH!"


Markian mempercepat laju kudanya. Dalam waktu kurang dari 10 menit, mereka akan sampai di gerbang menara.


*


"Hoaaahmm... tidur magrib memang yang terbaik," Venn menggeliat ke kanan dan ke kiri setelah bangun dari tidurnya. ia menguap dengan sangat lebar sambil mengucek kedua matanya. Venn lalu menuruni tangga untuk memeriksa tawanan cantiknya yang sudah berubah bentuk menjadi jelek seperti dirinya. Rupanya, waktu dan siksaan dapat mengubah penampilan seseorang.


"Gimana kabarmu, anak bodoh? Ha... Ha... Ha.... " sapa Venn mengejek Isyana yang terkulai tak berdaya. Isyana sekarang memilih diam. Ia sudah tidak ingin berbuat apa-apa.


"Ngambek nih?? Ha... Ha... Ha.... " celoteh Venn tanpa henti namun tak digubris Isyana. Sebenarnya Isyana juga tidak mendengar perkataan Venn karena ia sedang pingsan. Tubuhnya kian lemah sehingga ia sudah tak bisa berteriak dan meronta-ronta seperti sebelumnya. Kurangnya asupan air dan makanan membuat Isyana tak berdaya. Ia menolak pemberian makan dan minum dari Venn karena takut diracuni olehnya.


Venn pun berhenti menggoda Isyana karena tak mendapat umpatan. Ia bosan jika menara hening begini. Venn sangat senang suara berisik yang disebabkan oleh Isyana selama menjadi tawanannya. Menara tempat tinggalnya jadi meriah.


"Huah.. Cari angin ah... " desis Venn bersiap untuk keluar.


Tiba-tiba, suara derap kuda bergema tak jauh dari menara. Venn cukup terkejut karena tak biasanya suasana di luar menara begitu ramai seperti pasar raya.


Sedetik kemudian...


BRUAAAAAKKK!!!

__ADS_1


HIIIYHEEEEEGGHHHHH


Seekor kuda putih terlihat menerobos masuk pintu menara sambil berjingkrak. Menara mercusuar tua yang sudah tersegel sihir tabir itu dapat dengan mudah ditaklukkan.


Venn yang terkejut, secara reflek bersembunyi di balik tiang menara. Ia marah sekaligus bingung dengan rombongan ksatria yang tiba-tiba menerobos rumahnya.


"KEPUNG!" Perintah Panglima Suci yang ada di barisan terdepan, diikuti Raja Markian. Kuda putih Sang Panglima memiliki kekuatan penangkal sihir hitam sehingga dapat merusak segel penyihir di mana pun.


Black Knight dan Black Shadow yang tadinya memimpin rombongan harus memelankan langkah mereka karena menara yang dituju tertutup tabir sihir.


Sunray, Kuda milik Panglima pun melaju kencang menggantikan dua kuda perang itu untuk merusak tabir sihir milik Venn. Setelah tabir rusak, para ksatria baru dapat merangsek masuk ke dalam bangunan menara tersebut.


"Siapa kalian, dasar lancang!" Teriak Venn masih dari balik tiang menara. Ia merasa tak terima, wilayahnya diterobos orang asing.


"Wahai Penyihir! Tunjukkan di mana Sang Putri?" Perintah Panglima Suci dengan pedang terhunus. Venn mundur pelan-pelan karena mengenali pedang suci milik Panglima. Pedang itulah yang telah membelah jantung junjungannya, Penyihir Hebat Maxi.


"Te.. Tenanglah tuan. Ada apa ini?" tanya Venn pura-pura bodoh. Isyana masih tertidur pingsan karena kehabisan tenaga. Venn bersyukur bahwa gadis itu belum bangun di situasi genting seperti ini.


Tubuh Venn berguncang hebat. Kepalanya menunduk. Tangan dan kakinya gemetar.


Semua orang yang menyaksikan keadaan Venn tentu berpikir bahwa penyihir itu sangat ketakutan. Namun, mereka salah. Venn gemetar karena menahan emosinya yang kegirangan. Bagaimana bisa ia mendapat rejeki nomplok seperti ini? Bulan Merah akan terbit beberapa jam lagi. Artinya, Penyihir Maxi dapat bangkit tanpa menunggu esok hari. Bangkitnya penyihir Maxi dan balas dendam akan jadi menu utama malam ini. Panglima Suci, Raja Cordovan dan Putri yang disebutkan, akan mati di tangan Penyihir Maxi.


"Haa... Haa... Haaa.... Baguus.. Baguss. Sekaliiii..... " Venn memekik kegirangan. Isyana terbangun. Ia tak percays melihat Markian berada di seberangnya.


"Mark?????!!!!! " Jerit Isyana penuh haru. Semangat hidupnya yang meredup kini bersinar kembali. Secercah harapan membuncah di dadanya.


"Izzz!!" Markian menghambur menuju Isyana, Belum sempat ia mendekat ke arah istrinya, sebuah asap pekat menyembul ke seluruh ruangan. Asap itu menghalanginya. Ia tercekat tak bisa bernapas.


"Markkk!! Marrrkkk!!" Isyana berteriak-teriak kebingungan. Para ksatria terbatuk dan berusaha menutup hidung serta mulut mereka agar tak menghisap kabut asap. Suasana menara menjadi sangat tegang. Suara tawa Venn mengiringi kepanikan semua orang.

__ADS_1


"Haaa.. Ha... Ha.... Rasakan.... Sate-satekuuu......" ujarnya penuh kegembiraan.


"Hati-hati! Asap sihir beracun!" Pekik Panglima Suci memperingatkan. Para ksatria yang berada di dalam menara pun berhambur keluar.


"Yang Mulia!! Selamatkan diri anda!!" Sir Albert berteriak. Mark bergeming. Ia menerobos kabut dan berlari ke arah Isyana.


"Izzz!! Izzz!!" teriak Mark mencari-cari istrinya. Pandangannya terhalang kabut.


"Marrrkk!! Aku disini.. Uhuk.. Uhukkk," jawab Isyana terbatuk akibat menelan kabut asap.


'Bertahanlah, aku kesana!"


Markian meneruskan langkahnya ke arah suara Isyana.


Panglima Suci yang sedari tadi mengumpulkan mana penyembuhan dari kedua tangannya. Akhirnya dapat melempar bola mana ke arah asap pekat yang mencekik mereka.


PYAAASSHHH


Kabut asap hitam yang menyelimuti ruangan lambat-laun menghilang. Menara itu kembali seperti sedia kala. Markian memindai seluruh ruangan untuk menemukan Isyana. Namun, nihil. Istrinya itu tak ada di mana pun.


"Izzz!? Dimana kau??" Teriak Mark frustasi. Sedetik lalu, suara Isyana masih menyahut panggilannya. Mengapa kali ini tidak terdengar?


"Izzzzzz!!!!"


Mark masih berusaha mencari istrinya di sudut-sudut ruangan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Aneh tapi nyata,


Suara Isyana yang tadinya kencang berangsur-angsur menghilang. Ketika asap pekat sudah disterilkan dan jarak pandang mereka normal kembali. Isyana dan Venn telah menghilang!

__ADS_1


****************


(bersambung)


__ADS_2