Kutukan Penyihir

Kutukan Penyihir
The Retreat


__ADS_3



"Bagaimana cara kita mengalahkan Golem?" desis Paladin mencoba berpikir. Tangan dan tubuhnya tetap lincah bergerak membelah tubuh musuh. Namun, cara yang sama tak akan berhasil jika harus melawan monster batu.


"Pasukan!! Bertahan!!" Seru Paladin dengan tetap mengayunksn pedangnya membentuk pertahanan yang kokoh. Tak berselang lama, muncul semburat putih di atas bukit, tak jauh dari tempat mereka bertempur. Semburat itu kemudian menyebar membentuk cincin berwarna kebiruan, seperti ketika sebuah bom atom dijatuhkan.


PUUUFFFSSHHH


BLAAAAARRR!


Anehnya, cincin putih kebiruan itu hanya meledak dan menghancurkan pengguna sihir hitam.


"Aaaakkk! Siaaalll!!" Penyihir Maxi mengamuk terkena ledakan cincin. Tubuhnya yang tegap tinggi dan memancarkan asap hitam kemerahan tepental hingga 200 meter. Venn yang sedari tadi ada di sebelahnya malah pingsan. Kepalanya menghantam tubuh Golem yang berbaris menuju ke arah mereka dari hutan. Serigala jejadian dan buaya rawa terbakar tak bersisa. Burung-burung neraka yang dari tadi rakus mencari daging manusia, kabur terkena amukan bola api yang balik menghajar mereka. Bola api ini berbeda dengan bola api Penyihir Maxi, skalanya lebih dahsyat dan dapat membedakan target. Hanya pengguna sihir hitam yang dapat tewas oleh serangannya.


"Itu Tuan Penasihat Agung!" seru ksatria suci yang berada di dalam perisai sihir.


"Semuanya! Masuk ke dalam perisai sihir!" perintah Tuan Penasihat Agung pada pasukan ksatria yang tersisa. Dari sepuluh ribu ksatria dari beberapa pleton aliansi, sekarang hanya tersisa sekitar 300 orang. Mereka berbondong-bondong masuk ke dalam perisai sihir karena musuh telah tewas, namun Golem hanya hancur sejenak, beberapa waktu kemudian, mereka akan segera hidup dan menyatu kembali. Monster batu hanya retak sesaat, namun, ia akan hidup lagi jika tersambung anggota tubuhnya, begitu seterusnya.


"Pasukan! Berkumpul!" Perintah Paladin ke arah lain. Pasukan yang berada di sisi utara ibu kota juga segera merapatkan barisan untuk dapat masuk ke dalam perisai sihir. Setelah dirasa aman dan semua pasukan sudah berada dalam perisai, Tuan Penasihat Agung yang memantau dari atas bukit, kemudian menyorot perisai dengan petir keemasan.


BZZZZZZTTTTTT


PUFF!


300 pasukan kerajaan yang tersisa menghilang dalam kedipan mata. Tuan Penasihat Agung ikut lenyap bersama mereka.


"Kurang ajar! Mereka berteleportasi!" rutuk Penyihir Agung Maxi kesal. Namun, di sisi lain, ia juga lega karena pasukannya juga harus direproduksi ulang. Monster-monster ganas telah mati, tersisa Golem dan juga asistennya yang tak berguna.


"Tunggulah! Akan segera kuhancurkan benua ini!" senyumnya merekah. Penyihir Maxi kemudian memanggil awan hitam untuk mengantarnya menuju ke Istana Cordovan. Istana itu telah sepi ditinggal pemiliknya. Para pekerja dan ksatria juga telah dievakuasi karena sadar akan bahaya penjajahan musuh yang mungkin terjadi. Penguasa tak akan membiarkan orang-orangnya berada dalam bahaya. Penyihir Maxi membuat perisai sihir hitam di sekeliling komplek istana. Tiga istana kerajaan sedang diambil alih olehnya, termasuk Istana Merah, milik Ratu Cordovan.


"Aku akan mengambil milikku kembali," desisnya sambil terbang melintasi jalanan setapak yang mengantarkannya ke pelataran Istana Merah.


Dua pintu kaca istana terbuka menyambut kedatangannya, meski tanpa pelayan yang bersiap di sana. Suasana sepi dan mencekam menguar dari balik tubuh Penyihir Maxi, sehingga dinding-dinding istana membeku dan memantulkan pendar-pendar kemerahan sepertinya. Pada akhirnya, Penyihir Maxi sampai di tengah taman dalam istana, milik mendiang Ratu Jelliza.


"Oh, kau masih di sini rupanya," tangan Penyihir Maxi yang runcing dan tajam seperti cakar elang, mengitari mulut bokor yang dingin. Pantulan cahaya kemerahan menyembur dari dalam Bokor dan menyorotkan sinar yang menyilaukan.


"Ha.. Ha... Ha.... Hari ini adalah hari pembayaran hutang, bukan?" desisnya pada diri sendiri. Ratu Cordovan akhirnya menyerahkan jantungnya. Bokor Mas merupakan saksi bisu transaksi nyawa yang pernah dilakukan oleh Yang Mulia Raja terdahulu.


'kembalikanlah Sang Ratu, maka, aku akan mengabulkan permintaanmu,'

__ADS_1


Ucap Raja Cordovan 50 tahun yang lalu. Venn pun setuju dan membuatkan ramuan pembangkit jiwa dalam paparan kesaktian bulan merah yang baru saja terbit di angkasa. Ratu Jelliza berhasil bangkit dari kematian, dan Venn meminta jantung ratu sebagai imbalan. Raja pun marah dan menikam jantung Venn sebagai ganti ucapannya yang kurang ajar. Bukannya mati, Venn malah membangkitkan kutukan. Musim dingin Cordovan yang seharusnya bisa berakhir dengan kelahiran putra mahkota, malah semakin panjang dan tak berujung akibat pengingkaran janji raja.


Penyihir Maxi gagal bangkit, Venn sekarat namun tidak mati. Bulan merah memenuhi afinitas mana-nya sehingga ia baik-baik saja. Namun, dendam kesumat terhadap keturunan raja, mengantarkan Venn dan Penyihir Maxi pada pembalasan hari ini. Eksekusi rencana penaklukan benua yang gagal seribu tahun lalu, juga akan dilaksanakan hari ini, meski pun 50 tahun lebih lambat dari perkiraan.


"Dasar manusia-manusia sialan!! Kalian sungguh membuatku murka!" Penyihir Maxi menatap tajam Bokor Mas sambil mengingat masa lalu dan kegagalan rencananya. Kali ini, ia bersumpah, kegagalan tak akan ada lagi dalam kamusnya.


*



"Tuan Penasihat Agung, kita kembali ke kuil?" Paladin yang baru saja menapakkan kaki ke luar perisai sihir, terlihat bingung.


"Ya, kita harus menarik pasukan dan menyusun strategi baru untuk melawan para Golem," ujarnya dengan memegangi kepala. Sedetik kemudian, Tuan Penasihat Agung pingsan di tempat.


"Tuan?! Hei! Panggil tabib!" Paladin yang berhasil menangkap Tuan Penasihat Agung langsung membawanya ke bilik doa.


"Sir Valv, laporkan situasi kuil,"


"Kuil aman, Tuan. Namun, kondisinya penuh sesak,"


"Ya, aku lihat banyak warga dievakuasi kemari, apakah benar? Mereka orang-orang ibu kota?"


"Benar, Tuan Paladin. Mereka dari ibu kota, juga Dukedom Gonovan, dan orang-orang istana,"


"Mereka hanyalah korban, Tuan. Mereka tak ada kaitannya dengan pemberontakan," Sir Valv meluruskan kesalah-pahaman. Paladin tampak memijit keningnya.


"Mereka dibawa oleh Lady Connelly dan pria bernama Shahrazan, tampaknya orang asing," lanjut Sir Valv kemudian.


"Lady Connelly? Antar aku menemuinya,"


Mereka berdua pun menemui Connelly dan Shahrazan untuk mendengarkan situasi yang terjadi di luar kuil. Di luar dugaan, tak hanya ibu kota yang porak-poranda tapi juga wilayah lain.


"Salam, Mi Lady," Paladin memberi salam pada Connelly yang sedang beristirahat di dalam bilik khusus untuk peziarah. Ia lelah setelah berjalan kaki menyusuri hutan untuk dapat sampai di kuil suci.


"Salam, ksatria suci. Siapakah nama anda?"


"Saya Sir Bright, seorang Paladin-- komandan tertinggi ksatria suci," jelas Paladin memperkenalkan diri.


"Oh, maafkan saya, Tuan Paladin karena tidak mengenali anda. Apakah ada yang bisa saya bantu?"


"Jika tidak keberatan, bisakan anda meringkas situasi di luar kuil? Saya baru saja kembali dari medan perang,"

__ADS_1


Connelly tampak terkejut. Ia kemudian meminta maaf atas tindakan kakaknya dan bersumpah bahwa pemberontakan itu di luar keinginan pendahulu-pendahulu Gonovan. Wilayah Gonovan yang seperti saudara bagi ibu kota karena lokasinya bersebelahan, tentu tidak berkeinginan untuk jadi penguasa Cordovan.


Paladin mencoba percaya karena ia juga tak memiliki hak untuk menindak pemberontakan. Biarlah Raja yang menilai apakah Lady Connelly mengatakan yang sebernarnya atau tidak. Connelly kemudian menceritakan keadaan di luar kuil yang kacau balau. Awalnya, Connelly berniat mengevakuasi penduduk Gonovan ke ibu kota, namun rupanya, situasi di sana lebih kacau. Ia lalu diajak Tuan Penasihat Agung untuk berlindung di Kuil Suci bersama penyintas dari ibu kota dan orang-orang istana. Mereka tidak berteleportasi seperti pasukan kerajaan karena situasi tidak mendesak. Tuan Penasihat Agung juga menghemat energinya supaya dapat memberi bantuan jika sewaktu-waktu dibutuhkan oleh pasukan kerajaan.


"Syukurlah kalau begitu, karena anda semua akan aman di sini," ujar Paladin percaya diri. Kuil suci dilindungi oleh pagar sihir yang tidak menghabiskan mana ksatria. Keberadaannya alami, karena berada di tanah berkat yang hanya ada satu-satunya di Cordovan. Berada di dalam gerbang kuil, artinya, makhluk sihir hitam tak akan bisa menembus perisainya. Namun, tentu saja tak berlaku jika yang menembusnya adalah manusia. Mereka harus dilawan dengan kekuatan manusia juga, yakni para ksatria.


"Saya dengar para Golem telah bangkit?"


"Benar, mi lady,"


"Sungguh saya sangat bersyukur bisa berada di sini bersama para warga. Struktur tanah Gonovan yang berbukit-bukit, pasti menjadi tanah kelahiran para Golem yang terbuat dari batu dan lahar panas gunung berapi," Connelly bergidik ngeri membayangkan kondisi mereka jika terlambat menyelamatkan diri barang sedetik saja. Korban jiwa tentu akan berlipat-ganda karena Golem tidak dapat dikalahkan oleh ksatria biasa.


"Tenanglah, nona. Anda aman di sini," ujar Paladin menenangkan Connelly yang terlihat bergetar.


"Kau tidak apa-apa?" tanya seorang pria yang baru saja tiba dari dapur untuk mengambil seteko air. Pria itu memberikan minum pada Connelly dan menyuruhnya duduk supaya posisinya lebih baik.


"Ya, aku baik-baik saja, hanya terkejut," ujarnya.


"Anda adalah?" tanya Paladin.


"Ah, maaf. Perkenalkan, saya Shahrazan. Saya adalah orang dari Kerajaan X. Dan ini rekan saya, Azzam,"


"Baiklah. Saya Paladin, komandan di sini. Silakan beristirahat kembali. Kami juga akan rehat. Kalau begitu, kami permisi," ujar Paladin undur diri.


*


"Apakah itu pria asing yang bersama Lady Connelly?" tanya Paladin pada Sir Valv ketika telah berada cukup jauh dari bilik peziarah.


"Ya, benar, Tuan. Ada apakah?"


"Mereka terlihat mencurigakan, awasi terus," perintah Paladin pada komandan pleton 1 yang menjaga kuil suci.


"Siap!"


*


Sementara itu, di Desa Pollock, tempat Duke Elliot dan Sir Ken bernaung untuk mencari tabib, rupanya telah sepi tanpa ada seorang pun warga yang tersisa. Para warga telah mengungsi untuk mencari tempat perlindungan agar dapat bertahan dari kekacauan yang ada.


Duke Elliot yang sudah kehilangan banyak darah, pada akhirnya, menghembuskan nafas terakhirnya tanpa pertolongan siapa-siapa. Sir Ken akhirnya kehilangan tuannya. Setelah mengubur Sang Duke, Ia pun mencari keberadaan pasukan Gonovan di ibu kota, namun tak juga ditemukannya. Sir Ken akhirnya berkelana mencari penerus Dukedom Gonovan yang tersisa, yakni Lady Connelly, untuk membuat sumpah ksatria padanya dan juga mengabarkan tentang Sang Duke yang telah tiada.


****************

__ADS_1


(Bersambung)


****************


__ADS_2