L Dream

L Dream
Pertemuan


__ADS_3

Dari ufuk timur tampak matahari malu-malu menunjukkan dirinya.


Devania Anggara, gadis berambut panjang sebahu bangun dari tidurnya tepat lima belas menit sebelum pukul enam pagi.


Dengan kesadaran minim Devania berangsur membuka tirai jendela, mengizinkan cahaya matahari untuk masuk menerangi kamarnya yang gelap.


Devania berniat merapikan tempat tidurnya. Namun, rasa kantuk masih menguasai dirinya sehingga gadis itu kembali berbaring mencari posisi yang nyaman untuk tidur.


Baru saja mendapat posisi yang nyaman, gadis itu teringat satu hal.


"Astaga, hari ini hari pertama sekolah!" serunya seketika langsung bangun dengan tergesa-gesa ke kamar mandi.


Beruntung semalam gadis berambut sebahu itu telah menyiapkan segala keperluannya untuk hari pertama sekolah, jadi meskipun lupa pagi ini Devania tidak begitu kerepotan.


Setelah selesai mandi dan bersiap diri, Devania meraih tasnya untuk bergegas pergi ke sekolah. Tak lupa terlebih dahulu gadis itu melihat kembali penampilannya dan mengecek ulang semua yang akan dibawanya.


...****************...


Setelah sampai di sekolah Devania langsung berjalan menuju aula seperti yang telah diinstruksikan kepadanya saat sampai di gerbang sekolah tadi.


Ketika sedang berjalan, Devania sadar bahwa banyak pasang mata sedang tertuju padanya. Dan benar saja, ketika gadis itu melirik ke sekitar, banyak siswa lain sedang menatapnya dengan tatapan kagum.


Tak urung beberapa di antaranya dengan terang-terangan mengatakan berbagai celetukan pujian untuk gadis berambut sebahu itu.


Meski tidak nyaman dengan kondisi tersebut, Devania tetap melempar senyum ramah ketika ada yang menyapa atau tersenyum padanya. Hingga tiba-tiba seseorang menarik tangannya dari antara orang-orang itu.

__ADS_1


"Eh, siapa ni? Kok aku diseret?" pertanyaan sontak dari Devania dengan raut penuh kebingungan.


Devania memutar kepalanya untuk melihat ke belakang, raut wajahnya menunjukkan seakan gadis berambut sebahu itu meminta pertolongan. Namun, orang-orang disana hanya menunjukkan wajah bingung dan kemudian bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa disana.


Dengan kesal Devania terus berontak melepas tangannya, pikirannya telah terbang jauh penuh rasa takut.


"Tolong lepasin!"


Lelaki berjaket hitam yang menarik Devania melepas genggaman tangannya, ia berhenti tepat ditengah salah satu taman sekolah yang tak banyak siswa ada di sana.


Laki-laki berjaket hitam itu berbalik menghadap Devania, "kenapa?" tanyanya tanpa rasa bersalah.


Mata Devania melotot sempurna, "heh! Harusnya gue yang nanya, kenapa kamu tarik-tarik aku? Dipikir tali tambang kali ya, ditarik-tarik." gerutu gadis itu.


"Lagian ngeselin banget, bukannya minta maaf malah ketawa" Devania melepas cubitannya.


"Ya, lo sih. Udah SMA bahasanya gado-gado. Balik deh sono ke taman kanak-kanak." sinis laki-laki itu Membuat Devania berpikir walau semakin kesal.


Maksudnya apa gado-gado? batin gadis itu.


Melihat kerutan tanda sedang bingung di dahi gadis didepannya, si jaket hitam semakin tersenyum


*L*ucu banget bingung gitu.


Setelah berpikir sekian detik Devania akhirnya mengerti apa yang dimaksud gado-gado oleh manusia didepannya ini.

__ADS_1


Ya ampun, Van! Kok bisa nggak konsisten banget sih. Masa udah pake aku, malah ditambah gue lagi, kan bodoh, Devania menepuk dahinya merutuki diri sendiri.


"Awas makin geger," peringat laki-laki itu atas tingkah Devania. Nada suaranya malah membuat Devania semakin kesal, terdengar sangat mengejek.


Devania menatap nyalang laki-laki didepannya, kemudian beranjak dari sana. Sebelum berhasil, tangannya terlebih dahulu dicengkam oleh laki-laki berjaket hitam.


"LEPASIN!" bentak Devania.


"Maaf," gumam laki-laki itu melepas genggamannya.


Devania menjadi tak enak hati karena telah membentak, "ada apa lagi?" tanyanya dengan lembut.


"Ehm, itu. Gue cuma pengen minta maaf. Tadi gue narik lo karena lo kelihatan risih banget di sana. Lagian kenapa lo nggak langsung cabut aja kalau risih?" jelasnya dengan lembut.


Devania terkejut mendengar pernyataan itu, laki-laki didepannya ini mengapa begitu peka? "Aku nggak apa-apa kok," jawabnya.


Mata laki-laki itu memicing, "bohong!" tuduhnya.


"Kamu siapa sih? Sok tahu deh." cibir Devania


Laki-laki itu tersenyum senang sembari menyodorkan tangannya, "kenalin ... "


"WOIII!"


Sebuah teriakan memancing atensi kedua manusia itu. Devania terlihat terkejut dan takut, sedang laki-laki berjaket hitam itu berdecak kesal.

__ADS_1


__ADS_2