
Devania sedang berjalan-jalan di taman dekat tempat kosannya, gadis itu memilih tempat duduk yang strategis untuk menikmati senja dan keindahan taman yang memanjakan matanya.
"Hai cewek!" goda seorang laki-laki yang terlihat lebih tua dari Devania, ia duduk di samping gadis itu dan membuatnya terkejut.
"Halo!" sahut Devania dengan canggung.
Laki-laki itu mengubah duduknya menjadi lebih dekat, "sendirian aja, nggak punya pacar ya?"
"Nggak sendirian, kok. Udah ada pacar juga." jawaban itu datang dari Leonardo. Laki-laki yang tadinya iseng mendekati Devania segera pergi dari sana ketika mendengar penuturan itu.
Devania terkejut melihat dan mendengar suara Leonardo. Dia segera bangun dari duduknya dan berdiri didepan laki-laki itu, "kamu ngapain disini?"
"Loh, emang nggak boleh ya? Ini kan tempat umum." jawab Leonardo.
"Maksudku, kenapa kamu bilang pacar aku, Leo?" tanya Devania meralat pertanyaannya.
Laki-laki itu tertawa, "gue nggak bilang pacar lo, gue cuma bilang lo udah ada pacar."
Malu. Tentu saja gadis itu sekarang malu setengah mati, wajahnya memerah seperti tomat. Apa-apaan dengan perkataannya!
"Lo kenapa cosplay jadi tomat?" tanya Leonardo dengan iseng. "Pipi gembul lo itu udah kemerahan, mata lo juga ... " niatnya menjahili Devania seketika terpaku pada kedua mata gadis berambut sebahu itu.
Devania melambaikan tangannya dihadapan Leonardo, "kenapa?"
__ADS_1
"Eh, enggak. Lo udah lama disini?" tanyanya mengalihkan pembahasan.
"Nggak juga, belum ada setengah jam disini." jawab Devania kembali duduk.
Leonardo turut duduk di samping gadis itu, menikmati pemandangan yang menurutnya begitu indah. "Karya Tuhan itu memang selalu indah ya," gumamnya dengan suara yang terdengar begitu penuh kekaguman.
Devania yang sedang memandang ke langit ikut penasaran dengan apa yang sedang dikagumi oleh laki-laki di sampingnya, "yang mana maksud kamu?"
"Yang di depan gue," jawab laki-laki itu dengan posisi yang maaih sama. Duduk mengarah ke samping kiri dengan mata menatap penuh arti, "lo." sambungnya.
...****************...
"Van, kerja kelompoknya dikerjain sore ini aja ya?" tanya Inaya meminta persetujuan Devania yang sedang merapikan peralatan sekolahnya. Mereka berdua menjadi teman sekelompok untuk tugas Kesenian.
"Di kosan lo aja, lo kan ngekos. Kalau di rumah gue nggak bisa soalnya rame."
"Nggak apa-apa. Jam empat sore, ya."
Setelah selesai membahas soal kerja kelompok, Inaya segera pulang sebab bel sudah berbunyi sejak tadi. Devania baru keluar setelah tersisa teman-teman yang berpiket membersihkan kelas.
Setelah keluar dari kelas, gadis itu tiba-tiba tertarik untuk pergi ke lapangan basket yang sedang ramai oleh para siswa-siswi yang mengambil ekstrakurikuler di kelas tersebut.
Memilih duduk di bawah sebuah pohon yang rindang di atas sebuah bangku panjang disana sambil menonton mereka yang sedang bermain basket, Devania terkejut dengan kehadiran laki-laki yang pernah mengajak kenalan di kantin -- Fatih berdiri tepat di sebelah gadis itu.
__ADS_1
"Sendirian aja, kenapa belum pulang?" tanya laki-laki itu.
Dengan wajah datar Devania menjawab, "pengen liat basket." Entah kenapa gadis itu merasa tidak nyaman dengan kehadiran Fatih.
"Gitu, ya." Fatih mengangguk paham, "pulang bareng gue mau nggak?" tawarnya.
"Makasih, nggak perlu."
"Sama gue aja, daripada lo sendirian juga kan" ujar Fatih dengan sedikit memaksa.
"Lebih nyaman sendiri, kok. Nggak usah repot-repot." balas Devania dengan tegas yang kemudian berdiri untuk segera pergi dari sana. Sepertinya keputusan untuk tidak langsung pulang tadi adalah keputusan yang salah.
Fatih terus saja mengikuti gadis itu, bahkan berulang kali menawarkan diri untuk mengantar pulang Devania meski tidak dihiraukan sama sekali. Dengan kesal laki-laki itu meraih tangan Devania dan mencengkramnya kuat-kuat.
"Gue udah bilang. Pulang. Bareng. Gue!" paksanya dengan penuh tekanan.
Devania terus saja berusaha melepas tangannya, sekolah tampak sepi saat ini. Hanya lapangan yang sedang ramai, tapi dari sini orang-orang di lapangan tidak dapat melihat mereka.
Tenaganya lebih kecil daripada Fatih, Devania tidak bisa melawan hanya dengan berontak saja. Ide cemerlang muncul di otaknya, gadis itu mengangkat lututnya untuk menghantam area sensitif laki-laki itu sekuat mungkin.
Beruntung karena hal itu, genggaman Fatih melemah sehingga gadis itu dapat melepasnya dan berlari keluar sekolah.
Karena buru-buru serta tidak hati-hati, Devania terkejut dirinya sudah sampai di tengah jalan raya.
__ADS_1