
Leonardo bernapas lega saat pesan dari Dewi yang masuk,
"Dea terakhir ke sanggar tanggal delapan? Artinya di hari kejadian itu Dea nggak ke sanggar." Leonardo menyimpulkan.
"Sial! Kenapa juga gue harus egois waktu itu!" Laki-laki bergelang merah itu kembali merutuki dirinya, "kalau aja gue nggak egois dan lebih gentle saat itu buat nemuin Dea duluan. Pasti kejadiannya nggak bakal kayak gini!" Dia terus menyalahkan dirinya.
Raisa beranjak dari tempat tidurnya berjalan menuju sofa dimana Leonardo duduk, "Van, lo masih merasa bersalah ya?" tanya gadis itu dengan lembut.
"Kak, gue kangen sama Dea," lirihnya.
"Kakak juga kangen sama dia. Tapi, lo nggak bisa tinggal terus dalam penyesalan kayak gini!" Raisa mengusap kepala adiknya dengan penuh rasa sayang, "pasti ada hal lain yang buat dia mengambil keputusan itu yang mungkin sebenarnya berat juga buat dia. Setidaknya lo pernah jadi sumber kebahagiaan dan alasan dia bertahan sejauh itu, Van."
"Tapi, kak ... " baru saja hendak memprotes, Raisa terlebih dahulu menyuruhnya diam dengan telunjuk yang menempel di bibir adiknya itu.
"Sehari sebelum Vania bunuh diri, dia ngajak ketemuan sama gue." Leonardo melebarkan matanya. Sebelumnya Pradipa, sekarang kakaknya yang sempat bertemu Devania sebelum gadis itu pergi. Tapi mengapa tidak dengan dirinya?
.
Setelah makan bersama, Devania menagih janjinya pada Raisa.
"Ayo, kak. Bayar hutangya!" Tagih gadis itu menjulurkan tangannya seperti sedang meminta uang.
Raisa sengaja memikirkan maksudnya Devania, "hutang apa ya, De?" Tanyanya iseng. Devania murung, bibirnya melengkung ke bawah dengan mata berkaca-kaca.
"Iya-iya, maaf. Sini peluk!" ajaknya mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk gadis itu.
Devania kembali mengembangkan senyumnya. Gadis itu berlari kecil masuk ke dalam dekapan kakak iparnya, "maaciih kakakkuuu!" serunya dalam pelukan Raisa.
"Hm, tapi kamu harus janji juga kalau kamu bakalan lebih sering main ke rumah!" titahnya masih tak mengurai pelukan mereka.
Devania tak menjawab, dirinya malah semakin mengeratkan pelukan. "Kenapa, De?" Tanya Raisa mulai khawatir. Ada apa dengan pacar adiknya ini.
Raisa mencoba untuk melepas pelukan mereka, tapi Devania tidak mengizinkan hal itu. Gadis dengan satu lesung pipi itu merasakan baju di bagian bahunya mulai basah, "kamu nangis?" paniknya.
Devania menggeleng dalam dekapan Raisa. Raisa mengizinkan gadis itu lebih lama dalam pelukannya, sepertinya Devania butuh waktu.
__ADS_1
Setelah beberapa menit kemudian barulah Devania mengurai pelukan mereka dan tertawa kecil dengan mata yang sembab dan hidung yang sudah memerah. "Makasih ya, kak. Sayang deh sama kakak!" serunya saat dirasa lebih baik.
"Sayang kakak yang mana, nih? Kak Raisa atau kak Love?" Raisa bertanya dengan nada iseng. "Tapi serius, De. Kamu kenapa, ada masalah?"
"Nggak, kak. Aku cuma lagi kangen sama kakak aku," jawabnya. Raisa tersenyum, "gemes banget, deh!" Dia mencubit-cubit pipi Devania.
.
"Dia bilang kangen sama kakaknya?" Tanya Leonardo dengan heboh.
"Iya, emangnya kenapa?" Raisa heran dengan reaksi adiknya yang terkesan begitu berlebihan, "gue nggak tahu kalau dia punya kakak," jawab Leonardo.
Raisa terkejut, kenyataan macam apa ini? "Memangnya selama pacaran, lo ngapain aja sampe nggak tahu?" sewot kakak perempuannya itu.
"Ya, Dea juga nggak pernah cerita. Mana gue tahu," tuturnya membela diri. Raisa menampol lengan adiknya itu, "lo memangnya nggak ada inisiatif buat nanya?"
"Sebenarnya gue pernah nanya ke Dea soal keluarganya. Tapi dia cuma nunjukkin foto kedua orang tuanya, nggak pernah nyinggung kalau dia punya saudara. Jadi, gue pikir dia anak tunggal." Leonardo menjelaskan dengan wajah sendu.
"Mana mungkin," cela Raisa.
"Lanjut aja kak, ceritanya!" tutur Leonardo.
.
Devania mengangguk, "besok aku mau nyusul kakak." Gumam gadis itu yang dapat didengar oleh Raisa, "besok kamu mau nyusul kakak kamu?" tanya gadis berlesung itu memastikan.
Devania mendongak, "eh. Nggak, kak!" jawabnya dengan cengiran khasnya yang lucu.
.
"Apa kakaknya udah meninggal juga?" Pikir Leonardo. Bukannya Raisa bilang Devania sempat bicara kalau dia mau menyusul kakaknya, dan besoknya adalah hari di mana gadis itu bunuh diri. Bukankah itu masuk akal?
"Heh, jangan ngomong sembarangan!" tegur Raisa.
"Tapi masuk akal, kan? Dia bilang mau nyusul kakaknya besok, dan besoknya dia malah bunuh diri. Wajar dong kalau gue beropini," kilah Leonardo tak mau salah.
"Masalahnya, kita nggak tahu opini lo itu fakta atau sekedar opini. Kalau misalnya kakaknya masih ada, gimana? Sama aja lo ngedoain kakaknya meninggal!" cecar kakaknya.
__ADS_1
"Ya, oke. Gue salah, sorry!" Setelah mengatakan itu, Leonardo segera keluar dari kamar kakaknya.
"Gue yang datang bulan, dia yang sensi!"
"Tapi rada aneh juga, sih. Waktu pemakaman Devania, nggak ada keluarganya yang dateng. Entah karena nggak ada yang ngabarin atau ... "
Gadis itu mengelak sendiri akan apa yang dipikirannya, "ah, nggak mungkin keluarganya nggak peduli. Siapa tahu aja memang nggak ada yang dapat kabar," imbuhnya.
...****************...
Leonardo masuk ke dalam kamarnya. Entah mengapa laki-laki itu jadi uring-uringan, dan obat satu-satunya bagi keadaannya sekarang adalah mengunjungi makam kekasihnya.
Laki-laki bergelang merah itu memutuskan untuk bersiap-siap agar tidak terlalu malam bertemu gadisnya, "tunggu aku, ya!" Serunya pada foto yang ada di layar kuncinya.
Saat di tengah perjalanan, Leonardo bertemu dengan sebuah tempat jual bunga. "Aku beliin Dea bunga aja, deh. Mawar putih kayaknya pilihan yang bagus! Hitung-hitung buat ganti bunga yang tahun lalu," ucapnya ketika berhenti di seberang jalan toko itu.
"Tapi kata Dipa ... " gumamnya mengingat Pradipa pernah bilang bahwa mawar putih bisa jadi kemungkinan masalah dirinya dan Devania, "mana ada kaitannya. Ngadi-ngadi aja Dipa," elaknya sendiri.
Leonardo turun dari motornya, dirinya menyebrang untuk membeli bunga bagi kekasihnya. Namun, karena tidak melihat ke kanan dan ke kiri terlebih dahulu dengan langkah buru-buru, hampir saja dirinya tertabrak oleh sebuah mobil.
Beruntung sang pengemudi dengan cepat menginjak pedal rem. Leonardo yang terkejut dengan suara decitan ban mobil itu menyadari bahwa dirinya bersalah dan segera menghampiri mobil itu dengan tujuan meminta maaf kepada pemiliknya.
Namun, ketika dirinya tinggal selangkah mendekat ke arah pintu kemudi mobil itu. Dengan segera pengemudi mobil itu menginjak pedal gas dan pergi dari sana, "kok kayak nggak asing sama orangnya." Meski hanya sepintas melihat pengemudi mobil itu, Leonardo merasa gadis itu sangat familier.
"Perasaan gue aja," tuturnya. Leonardo kembali melaksanakan tujuannya kemudian pergi dari sana menuju tempat tujuannya sejak tadi -- makam gadisnya.
...****************...
"Ini kayak mobil yang tadi, deh!" ucapnya menunjuk sebuah mobil yang dekat dengan tempat laki-laki bergelang merah itu memarkirkan motornya. Mobil yang sama saat di depan toko bunga tadi.
"Mirip aja kali, ya?" Tanyanya entah pada siapa.
Tidak mau peduli dengan kebetulan itu, Leonardo segera melangkahkan kakinya menuju makam Devania. Perasaan rindunya telah bergejolak.
Jika saja rasa rindu dapat tercium, Leonardo jamin keharuman bunga mawar putih dalam genggamannya ini pun akan kalah. Bukan cuma itu, bahkan bau khas TPU ini pun akan tertutupi oleh keharuman rasa rindunya.
Saat telah mendekati tempat gadisnya berada. Langkah laki-laki dengan gelang merah itu terhenti, dirinya memicingkan mata untuk memastikan penglihatannya tidak keliru.
__ADS_1
Di sana, di makam gadisnya. Ada seseorang yang parasnya dari belakang persis sama seperti Devania, "DEA!"