
"Kak, Rai! Gue nggak apa-apa. Boleh minta air minum?" Raisa segera mengambil air minum didekatnya dan membantu Leonardo untuk minum.
"Kamu mimpiin Dea, ya?" tanya Raisa, mengingat teriakan adiknya yang menyebut nama itu dalam tidurnya.
Belum sempat menjawab pintu ruangan terbuka, di sana terlihat Dokter yang pagi tadi mengurus Leonardo.
"Halo, Raisa! Hai, Leo! Apa sesuatu terjadi?"
"Tidak ada, Dok. Apa Dokter ingin memeriksa adik saya?" tanya Raisa.
"Iya, saya ingin mengecek keadaannya." jawab Dokter bernama Andi itu.
Raisa membungkukkan sedikit tubuhnya, "kalau begitu saya keluar sebentar. Silahkan, Dok!" gadis itu kemudian berlalu keluar.
"Kak, mau kemana?" tanya Leonardo sedikit berteriak. "Laparrr!" jawab Raisa yang sudah diluar pintu.
Melihat kakak pasiennya telah keluar, "saya akan bertanya kepada kamu. Karena pagi tadi tidak sempat," ungkap laki-laki berjas putih itu.
Leonardo menjawab dengan memberi anggukan, "tubuh kamu sudah merespon sejak tiga hari yang lalu. Artinya, sejak tiga hari yang lalu kamu sudah mulai pulih dari koma, benar begitu?" tanya sang Dokter.
__ADS_1
Laki-laki yang bernotabe sebagai pasien itu mengerutkan dahinya, "bapak kan Dokter, bapak yang lebih tahu dong." Dokter itu mengangguk.
"Harusnya begitu, tapi saya hanya ingin memastikannya dari kamu, Leo. Karena tubuh kamu sudah mulai merespon sejak tiga hari lalu, tetapi kamu tetap dalam kondisi kritis. Apa kamu ingat bahwa kamu bermimpi atau semacamnya sebelum sadar tadi pagi?"
Leonardo berpikir sejenak, "Kayaknya iya deh, Dok" jawabnya.
Lagi-lagi Dokter itu mengangguk paham, "bagaimana dengan kepalamu, apa masih sakit?"
"Nggak separah tadi pagi sih, Dok. Tapi masih pusing aja sedikit" jawab Leonardo.
"Syukurlah kalau begitu. Benturan di kepalamu tidak begitu parah, tapi efek kejut yang di transfer ke otakmu akibat kecelakaan membuat kamu tak sadarkan diri cukup lama. Sepertinya sebelum kecelakaan, kamu dalam kondisi yang tidak baik." Leonardo mendengarkan dengan seksama dan mengingat kembali kecelakaan itu.
"Saya sering minum obat tidur, Dok." pernyataan itu jelas bukan rahasia bagi sang Dokter.
"Seberapa sering kamu mengkonsumsinya?" Leonardo berpikir sejenak, "selama seminggu penuh sebelum kecelakaan. Tiga hari pertama saya hanya minum satu pil, sisanya saya tambahkan jadi dua atau tiga pil sebelum tidur."
"Baiklah, terima kasih sudah menjawab pertanyaan saya. Saya permisi dulu. Jika kakakmu sudah selesai makan dan ke sini, tolong sampaikan bahwa saya memintanya ke ruangan saya."
"Baik, Dok."
__ADS_1
...****************...
"Kata Dokter kondisi lo udah membaik, besok atau lusa lo udah boleh pulang. Dengan catatan lo belum boleh banyak beraktivitas, nggak banyak pikiran dan jangan minum obat tanpa resep dokter apalagi sampai overdosis." terang Raisa setelah kembali dari ruang Dokter.
"Iya," lirih Leonardo.
"Van, gue minta maaf karena nggak jaga lo dengan baik!" sesal Raisa dengan kepala tertunduk.
Leonardo menatap kakaknya, "nggak usah merasa bersalah gitu, ini bukan salah lo. Maafin gue karena udah ngerepotin lo! Gue janji gue bakal berubah, gue bakal tepatin janji gue ke lo dan ... "
Raisa mengangkat kepalanya memandang sang adik yang kini membuang muka ke arah berlawanan dari tempat dia duduk, "dan apa?" tanyanya penasaran.
"Dan nepatin janji gue ke Dea." imbuh laki-laki itu.
Raisa menatap sendu pada adik semata wayangnya mendengar ucapan adiknya itu, "dia udah bahagia, Van."
Laki-laki itu menggeleng tidak setuju, "nggak ada jaminannya, kak" celanya. "nggak ada jaminan dia bahagia, sedangkan saat dia disini aja dia nggak menemukan kebahagiaannya, kak. Dia cuma pengen temukan ketenangan dengan pindah ke sini, tapi sesederhana itu aja dia nggak dapetin itu kak!"
"Kamu salah! Kamu salah, Evano!" bentak Raisa.
__ADS_1