L Dream

L Dream
Dewi


__ADS_3

"LEO!"


"EVANO!" Seru Pradipa dan Raisa bersamaan.


Leonardo yang sedang memejamkan mata sambil memeluk nisan kekasihnya dibuat terkejut dengan teriakan dua orang yang tidak asing bagi dirinya.


"Kalian kenapa, sih?" Tanya laki-laki itu dengan kesal saat kakak dan sahabatnya tiba di tempatnya.


"Kakak pikir kamu kenapa-napa. Kakak khawatir," tukas kakaknya dengan wajah kuatir.


"Lo kenapa sih nggak bilang-bilang kakak lo dulu, mana nggak izin lagi!" omel Pradipa selaku sahabat Leonardo.


"Hari ini ulang tahun Dea," jawabnya.


"Tapi setidaknya lo kabarin kita dulu dong!" bentak Pradipa yang langsung ditenangkan Raisa, "udah."


"Gue nggak mau diganggu!"


"Kita nggak mungkin ganggu kalau lo ngabarin, Vano." Raisa menyentuh pundak adiknya, "gimana? Lo udah puas di sini sama Dea?" tanya gadis itu dengan lembut.


Leonardo menggeleng lemah.


"Tapi ini udah hampir jam enam sore. Lo dari kapan di sini?" tanya Pradipa sedikit sewot.


"Jam dua belas," jawab Leonardo seadanya. "Malam, " lanjutnya. Pradipa dan Raisa membulatkan mata mereka. Yang benar saja!


"Dek, lo udah makan?" Raisa beralih menggenggam tangan adiknya, "astaga lo panas banget!" serunya. Gadis itu berdiri, menarik adiknya untuk turut berdiri juga. "Ayo kita pulang!" titahnya.


Leonardo masih dalam posisi yang sama. Laki-laki itu berusaha melepas genggaman tangan kakaknya dengan mata yang masih terus menatap kubur gadisnya, "aku masih mau nemanin Dea, kak."


"Tapi lo belum makan. Nanti lo sakit, bego!" Pradipa sudah tidak bisa menahan emosinya. Laki-laki itu benci dengan sikap kekanak-kanakan sahabatnya itu. Pradipa turut menarik Leonardo dari sisi berlawanan dengan Raisa, "Ayo pulang!"


Laki-laki bergelang merah itu berdiri, "GUE BILANG, GUE MASIH MAU DI SINI!" teriaknya pada sahabatnya. "Lo ajak kak Rai pulang aja, gue masih mau di sini." Leonardo kembali berjongkok.


Baru saja Pradipa hendak bersuara, Raisa memegang tangannya. Gadis itu memberi kode agar sahabat adiknya itu tidak melakukan apa-apa lagi. Pradipa menurut.

__ADS_1


Raisa melihat sebuah cake mini diatas kuburan Devania. Setelah mengambil posisi jongkok di samping adiknya, "Selamat ulang tahun, cantik!" dia memberi ucapan pada Devania.


Gadis itu meraih kue yang ada di sana, "De, aku minta izin buat gantiin kamu potong kue ulang tahun ini!" Raisa melirik sekitar, didapatinya kotak cake tersebut yang berada agak jauh dari tempatnya.


Gadis berlesung itu mengambil kotak tersebut, dia meraih pisau kue di dalamnya. Raisa mulai memotong kue tersebut, "suapan pertama buat pacarnya Dea tercinta, kak Love." Dengan gaya bahasa yang menirukan Devania, gadis itu menyuapi sebuah potong kue kepada Leonardo.


Pradipa yang melihat itu tersenyum, "pintar banget," gumamnya takjub dengan ide Raisa. Di sebelahnya Leonardo membuka mulut menerima suapan itu, "thanks!" air matanya terjatuh saat laki-laki bergelang merah itu memejamkan matanya.


Bayangan dan kenangan dirinya bersama kekasihnya terputar jelas dalam kepalanya. Lagi dan lagi, laki-laki itu merindukan gadisnya.


Menyaksikan itu, Raisa turut meneteskan air matanya. Gadis itu merangkul adik kesayangannya, mengusap pundak Leonardo dengan lembut. Sedang makin banyak air mata yang jatuh dari matanya, Leonardo terisak. Dia memeluk kakaknya, menumpahkan segalanya di bahu perempuan itu.


"Hari ini harusnya jadi hari bahagia lo. Tapi lo nggak ada di sini, dan mereka harus merayakan hari ulang tahun lo dengan air mata." Batin Pradipa.


...****************...


Leonardo sedang menyusuri sebuah supermaket yang letaknya tidak begitu jauh dari kediamannya. Karena kakaknya sedang kedatangan tamu bulanan, jadinya dia yang harus berbelanja keperluan dapur seminggu sendirian.


Saat sedang menuju lemari pendingin untuk mendapatkan minuman karena haus, laki-laki itu menajamkan penglihatannya kepada sesosok gadis yang tampak familier dalam ingatannya.


"Kalau boleh tahu, kakak ini anak sanggar daerah ya? Soalnya, kalau nggak salah saya pernah liat muka kakak di foto bareng pacar saya," ungkapnya.


"Oh, itu. Iya, benar saya anak sanggar." jawabnya menganggukkan kepala, "memangnya pacar kakak siapa?" tanyanya balik.


"Dea. Eh, Devania Anggara namanya!" jawab Leonardo dengan cepat. Gadis didepannya tampak berpikir, "Devania Anggara, ya" gumamnya.


"Kakak tahu, nggak?" tanya Leonardo penasaran.


"Devania. Oh, saya inget! Devania yang ... " gadis itu menggantungkan kata-katanya sebentar, "maaf. Yang udah meninggal itu, kan?" sambungnya kemudian.


Leonardo mengangguk, "kalau itu saya tahu, kak. Tapi ada apa, ya?" Leonardo tersenyum, "seperti yang kakak tahu pacar saya udah meninggal akhir November lalu. Tapi saya ingin tahu, apa kakak ingat kapan terakhir kali Devania ke sanggar?" tanyanya dengan harapan ada titik terang dari kejadian tahun lalu.


"Kalau itu saya nggak ingat, kak. Tapi biasanya di sanggar ada buku absen buat siapa aja yang dateng ke sana, entah anggota atau pengunjung. Kebetulan buku absen anggotanya saya yang pegang." Pernyataan itu membuat Leonardo otomatis menarik bibirnya membentuk senyuman.


"Nanti setelah saya pulang, saya cek dulu. Terus saya hubungin kakaknya aja, gimana?" tawar gadis itu.

__ADS_1


Laki-laki bergelang merah itu mengangguk dengan cepat, "boleh, boleh. Kalau gitu kita tukaran kontak whatsapp aja, ya?" Gadis itu menyetujui.


"Nama kakaknya siapa?" tanya mereka berbarengan.


Keduanya tersenyum. Laki-laki bergelang merah itu memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, "saya Leonardo!" jawabnya mengulurkan jabatan tangan. Gadis itu meraihnya, "saya Dewi!"


"Oke, kalau gitu. Ehm, kamu mau nggak saya traktir sesuatu? Makan, mungkin?" tawar Leonardo.


Gadis itu menyunggingkan senyumnya, "ga usah, kak. Gapapa, kok!" tolaknya pada Leonardo.


"Ngga perlu nolak, kak! Anggap aja ini sebagai rasa terima kasih saya karena kamu sudah mau repot-repot membantu saya," ujar Leonardo mencoba agar gadis itu menerima tawarannya.


"Gausah, sebagai gantinya kita pakai bahasa informal aja. Biar lebih akrab, gimana?"


"Kalau gitu maunya kamu, eh? Maksudnya, kalau gitu maunya lo, gue ngikut aja. Tapi, thanks udah mau bantuin gue!" Putus laki-laki itu.


"Okay! So, gue pergi dulu. See you, when i see you!" Pamit gadis itu segera pergi, "hati-hati!" ujar Leonardo setengah berteriak.


...****************...


Dua jam telah berlalu setelah laki-laki bergelang merah itu tiba di rumahnya. Namun, kabar yang ditunggu tak juga kunjung tiba.


"Kamu kenapa kayak gelisah gitu sih, dek?" tanya Raisa yang memperhatikan gerak-gerik adiknya sejak tadi. Mereka sedang berada di kamar Raisa. Leonardo hanya ingin menemani kakaknya yang sesekali mengeluh karena nyeri tamu bulanannya.


"Nggak, kak!" Jawab Leonardo seadanya.


Laki-laki itu akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan terlebih dahulu,



"Online, tapi udah dua menit belum dibales." Lirih laki-laki itu terus memperhatikan ruang obrolannya dengan Dewi.


"Kamu nunggu chat dari siapa?" Tanya Raisa dengan penasaran. Adiknya bertingkah aneh.


Baru hendak menjawab kakaknya, pemberitahuan pesan masuk menarik kembali atensinya menuju ponsel.

__ADS_1


__ADS_2