
Setelah beberapa menit perjalanan, kini laki-laki bergelang merah dengan seragam sekolah di tubuhnya tiba di depan sebuah kedai ice cream dengan nama 'SweetTime'.
Kedai itu adalah tempat kencan pertama Leonardo dan Devania -- tempat Favorite gadisnya.
Leonardo masuk ke dalam kedai, matanya menyusuri setiap sudut tempat itu. Interior kedai dipenuhi dengan desain sederhana modern dipadu dengan perpaduan warna silver dan black coffee.
.
"Kak Love mau es krim apa?" tanya Devania pada laki-laki yang terus menggenggam tangannya.
"Ikut kamu aja, sayang." jawab Leonardo menampilkan senyum manis pada gadis dalam genggamannya.
"Kak, aku mau mix vanilla choco ice cream oreo nya dua!" ucap gadis itu menyampaikan pesanannya pada pelayan.
"Itu kesukaan kamu?" tanya Leonardo mendengar pesanan Devania. Gadis itu berbalik menatapnya, "nggak sih, tapi itu bakal cocok sama kamu. Kamu kan suka banget sama oreo, sama yang berbau vanila vanila gitu juga, kan."
"Trus mix choconya karena kesukaan kamu coklat, gitu?" tebak laki-laki itu menoel hidung mancung Devania. Gadis itu mengeluarkan cengirannya. Tepat sekali kata Leonardo.
"Kak, ini pesanannya!" pelayan itu menyodorkan 2 es krim coklat vanila oreo pesanan Devania.
"Maaf kak, saya pake tangan kiri. Makasih!" kalimat itu datang dari Leonardo yang mengambil es krim menggunakan tangan kirinya -- tangan kanannya setia menggenggam Devania.
Sedang gadis berambut sebahu itu tersenyum dengan sikap kekasihnya, "makasih ya, kak!" ucapnya sembari menerima es krim dengan tangan kanannya sekaligus memberi nominal uang sesuai harga yang harus dibayarnya menggunakan uang dari Leonardo.
"Kak, kita ke Library You ya?" tawar Devania dengan mata berbinar.
Tentu saja Leonardo tidak akan menolak, apapun untuk kekasih tercintanya. "Dimana itu, jauh nggak? Tapi kamu selesai mam es krimnya dulu, ya!"
"Di sana kak, Library You nya!" jawab pelayan yang mendengar mereka, menunjuk ke sebuah pintu di ujung ruangan tersebut, dimana terdapat tulisan 'Library You' di atasnya.
"Oh ada perpus disini. Maaf kak, saya nggak tahu" ungkap laki-laki bergelang merah itu dengan sedikit malu ditanggapi dengan senyum si pelayan.
__ADS_1
Sedang Devania menahan dirinya agar tidak tertawa, "yuk, kak!" ajaknya. Laki-laki itu menurut, "ketawanya nggak usah ditahan-tahan gitu." Perkataan itu sontak membuat Devania melepas tawanya yang ditahan sejak tadi. Hal itu membuatnya seketika menjadi pusat perhatian.
Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, gadis itu segera menyembunyikan dirinya di balik punggung Leonardo.
.
Leonardo masuk ke dalam Library You, "kalau kamu sekarang ada di sini pasti kamu senang banget, sayang."
Laki-laki itu mengarahkan dirinya menyusuri setiap sudut Library You. Setiap sudut tempat ini sudah pernah dia lewati karena gadisnya sering berkunjung ke tempat ini.
.
"Konsep kedai ini keren banget loh kak. Mereka nerapin konsep quality time banget, cocok banget buat kaum introvert. Jadi, selain bisa nikmatin es krimnya, kita juga bisa baca buku disini. Buku-bukunya juga bukan cuma novel, tapi ada buku motivasi, tips and trik, buku dongeng, pokoknya banyak deh!" gadis itu menjabarkan dengan lucu, bibirnya manyun ketika berbicara banyak.
"Keren kan, kak?" tanyanya memastikan bahwa Leonardo juga memikirkan hal yang sama.
"Iya. Keren." jawaban laki-laki itu membuatnya melebarkan senyum, "bentuknya udah kayak di gramed aja, bedanya nggak bisa di beli. Mirip perpustakaan daerah aja." imbuh Devania.
.
Leonardo kini berada di depan rak bagian buku-buku novel berjejeran rapi. Dirinya merasa sedang hidup dalam dua waktu yang berbeda di tempat yang sama ketika mengingat gadisnya, apalagi di tempat penuh kenangan seperti ini.
"Loh, mas yang tahun lalu sering dateng bareng pacarnya itu, kan?" tanya seorang pelayan yang sedang membawa beberapa buku, sepertinya ingin ditata.
Pertanyaan itu membuatnya tersenyum sekaligus sedih, "iya, kak. Masih ingat aja" jawabnya mencoba tetap ramah.
"Iyalah, kalian berdua itu paling sering datang ke sini. Apalagi pacarnya kakak, sebelum pertama kali kalian datang bareng dia udah setiap hari ke sini. Makanya saya hapal banget," jelasnya.
Leonardo tak tahu harus menjawab apa. Dirinya semakin merindukan gadis kesayangannya itu.
"Maaf sebelumnya, kak. Tapi apa kalian sudah putus ya?" pertanyaan itu jelas membuat kedua alis laki-laki itu menyatu. Kenapa tiba-tiba bertanya begitu sedangkan baru beberapa detik lalu dia berbicara seakan Leonardo dan Devania adalah pasangan paling romantis.
__ADS_1
Mengerti raut wajah Leonardo membuatnya kembali membuka suara, "tiba-tiba keingat aja mas. Hari ini masnya datang sendiri. Pacar mas juga terakhir datang ke sini sendirian, setelah itu nggak pernah kelihatan lagi."
Leonardo tertarik dengan bagian itu, "kapan terakhir kali dia ke sini, kak?" tanyanya. Tanpa pikir panjang gadis bernotabe pelayan itu menjawab, "lima belas November, mas. Tahun lalu"
"Saya ingat soalnya pas anniversary kedai ini. Waktu itu, kayaknya pacar mas lagi kacau banget. Dia masuk mesan gelato terus langsung duduk di situ tuh, meja nomor tiga." ungkapnya menunjukkan meja yang dimaksud.
"Oh, oke. Terima kasih buat infonya, kak! Kita nggak putus." Mendengar itu membuat gadis itu jadi merasa bersalah. "Maaf," tuturnya mendapat anggukan.
Setelah gadis itu pergi Leonardo terngiang dengan perkataannya, "lima belas November, ya."
"lima belas November berarti hari yang sama dengan kejadian itu karena kejadiannya adalah mensiv gue sama Dea. Artinya, alih-alih nemuin gue Dea langsung ke sini setelah kabur dari Fatih." simpul laki-laki bergelang merah itu.
Setelah mengirim pesan pada Pradipa, Leonardo segera pergi dari sana menuju rumahnya. Dia yakin Leonardo sudah ada di sana berhubung ini sudah waktu pulang sekolah.
...****************...
"Lo tahu gue di sini tapi masih ngirim pesan, aneh banget lo" perkataan itu menyambut sampainya Leonardo. "Dip, lo tahu maksud gue ngirim pesan duluan. Nggak usah pura-pura," tegur Leonardo.
"tegang amat mas bro," kelakarnya yang tak mendapat respon. Pradipa mengubah raut wajahnya menjadi serius, "jadi, setelah Devania kabur dari Fatih waktu itu, dia langsung ke sweet time? Lo tahu darimana?"
"Tadi gue ke sana, terus ada pelayan di sana yang ngenalin gue. Akhirnya dia cerita gitu lah" jawab laki-laki bergelang merah itu.
"Lo yakin? Emangnya udah pasti itu hari yang sama dengan kejadian waktu itu?" Leonardo memicing tak senang dengan pertanyaan Pradipa, kenapa sahabatnya seperti terlalu curiga.
"Dia bilang Dea terakhir ke sana tanggal lima belas November yang artinya sama kayak kejadian itu. Lo tahu sendiri waktu itu gue bermaksud kasih dia mawar putih untuk mensiv yang ke dua." jelasnya penuh kekesalan.
"Artinya lo sama Devania jadian di tanggal lima belas september, gitu?" sanggah Pradipa sepertinya dia mengetahui suatu hal.
"Leonardo Evano Eros, gue tahu lo ingatan lo memburuk setelah kecelakaan. Tapi gue nggak nyangka lo bisa lupa dengan tanggal jadian lo sendiri dengan cewek yang lo cinta banget itu," sindirnya.
__ADS_1