L Dream

L Dream
sweet time


__ADS_3

"DEA!" Teriak laki-laki itu segera mempercepat langkah menuju tempat gadisnya berada.


"Leo!" Seseorang memanggilnya dari belakang. Langkahnya terhenti, Leonardo berbalik mendapati orang itu.


"Hai!" sapanya pada Leonardo, "hai, Dew!" balas Leonardo dengan lambaian tangan.


"Lo ngapain ke sini? Mau ngunjungin Dea, ya?" tebak Dewi melihat laki-laki itu menggenggam sebuah buket mawar putih.


Laki-laki itu bergeming sejenak, "Sorry, gue nggak boleh nyebut Dea, ya?" Tanya Dewi saat merasa dirinya telah lancang menyebut nama panggilan Devania dari kekasihnya.


"Nggak apa-apa sih, kaget aja. And, ya. Seperti dugaan lo, gue emang mau ketemu Dea." Laki-laki itu menarik senyum simpul.


Astaga, Leonardo baru ingat! Bukankah tadi dia melihat sosok Deanya? Namun saat laki-laki itu berbalik kembali ke belakang, "nggak ada?" herannya.


"Apa yang nggak ada?" Tanya Dewi mengikuti arah pandang Leonardo, "nggak ada apa-apa." Jawab laki-laki bergelang merah itu kembali melihat ke arah Dewi.


"Lo sendiri ngapain di sini?" Tanya Leonardo.


"Ziarah ke makam nyokap," jawab gadis itu dengan senyum yang tak dapat diartikan. "Oh, sorry!" pinta Leonardo.


Gadis itu tertawa kecil, "ngapain minta maaf?"


"Kebetulan gue ketemu lo di sini. Tadi setelah gue chat lo, gue ke sanggar. Pas selesai latihan gue iseng liat absen pengunjung, siapa tahu ada nama cewek lo disana. Dan ternyata benar aja, ada nama Devania di sana." Papar Dewi.


"Kapan?" Tanya Leonardo, "gue udah tahu lo bakal nanyain itu. Jadi, terakhir kali Devania ke sana itu emang tanggal tujuh belas November. Gue baru ingat kalau hari itu gue nggak ke sana dan as you already know buku absen anggotanya di gue, makanya mereka absen di buku pengunjung."


"Hm, gitu ya? Terima kasih banyak ya Dewi, lo udah bantuin gue!" pintanya dengan tulus.


"Sama-sama!" jawab Dewi dengan senyum yang senantiasa terpatri di bibirnya.


"Tapi, untuk kali ini lo nggak boleh nolak permintaan gue buat traktir lo! Cuma bukan hari ini, besok aja, ya? Soalnya gue mau ziarah ke makam cewe gue dulu." ujar Leonardo.


"Okedeh, kalau lo MAKSA banget!" Dewi menyetujui dengan sengaja menekan kata maksa, "kalau gitu gue duluan, ya?" pamitnya kemudian.


"Oke, nanti gue chat lo buat kasih tahu tempatnya. Tapi, kalau lo punya rekomendasi, bilang aja!" Setelah mengatakan itu Leonardo juga berpamitan.


...****************...


Terlalu menikmati waktu di makam kekasihnya, Leonardo tidak sadar bahwa waktu telah menunjukkan pukul 20.39pm.


"Pantasan makin dingin aja," ucapnya ketika mengecek waktu pada jam tangannya.


Seusai berkata demikian dirinya dikejutkan dengan dering telpon yang berbunyi, "gue lupa ngabarin kak Raisa!" Leonardo menepuk dahinya saat mendapati kakaknya yang menelepon.


"Kak, ini aku mau pulang, kok!" ucapnya tanpa basa-basi sesudah mengangkat telpon dari kakaknya. Setelah mendapat jawaban, Leonardo segera berpamitan pada kekasihnya dan segera pergi dari sana.


"Loh, ni mobil masih di sini aja. Ngapain tu orang sampai jam segini? Ziarah ke makam pacarnya kali, ya? Pasti bucin banget," cetus Leonardo mendapati mobil yang parkir di sebelahnya, masih ada di sana.


"Kalau misal ini mobil yang sama, sama yang hampir nabrak gue, kan pemiliknya cewe? Apa nggak masalah cewe sendirian di jam segini? Di kuburan lagi," cerocosnya sendiri.


"Bukan urusan gue juga, kan?" Imbuhnya. Kemudian laki-laki bergelang merah itu pergi dari sana.


Meninggalkan parkiran yang kini hanya tersisa satu mobil terparkir di sana.


"Cih, ngomongnya nggak sadar diri!" umpat gadis dalam mobil tersebut.

__ADS_1


...****************...


Leonardo dalam perjalanan menuju kedai SweetTime. Setelah mendapat pesan dari Dewi bahwa gadis itu ingin ice cream di kedai tersebut, laki-laki itu segera bersiap dan meluncur ke sana.



"Dea, sayang. Maaf, hari ini aku ke sini sama cewek dan itu bukan kamu. Aku cuma mau nepatin janji aku sebagai rasa terima kasih karena dia udah bantu aku dapetin info tentang kamu. Aku harap kamu nggak marah!" Batin laki-laki itu, berdiri di depan kedai sweet time.


"Leo!" Panggil Dewi seraya melambaikan tangan ketika melihat sosok Leonardo memasuki kedai tersebut.


Melihat itu, Leonardo menyusul. Tempat Dewi tak jauh dari tempat laki-laki itu berdiri, hanya berjarak dua meja ke belakang.


"Kok, lo belum pesan?" Tanya laki-laki itu saat mendapati di atas meja mereka hanyalah ponsel gadis yang duduk di depannya.


"Kan, lo yang bayar!" kelakarnya, "enggak deh. Biar samaan aja berdua," lanjutnya lagi.


Leonardo hanya mengangguk, matanya memencari seisi ruangan tersebut. Tempat ini, lagi!


"Lo kenapa? Baru pertama kali ke sini, ya? Bagus, kan?" Tanya Dewi beruntun melihat gerak-gerik laki-laki di depannya.


Leonardo menggeleng, "lo suka tempat ini?" tanyanya balik.


"Gue baru beberapa kali kesini, sih. Tapi gue jatuh cinta banget sama tempat ini. Interior sama konsepnya gue banget! Apalagi bisa baca novel sepuasnya di sini," serunya dengan semangat.


"Gue sering ke sini sama Dea, tempat ini nggak berubah. Selalu bisa bikin gue hidup dalam dua waktu berbeda," ungkap laki-laki itu dengan mata sendu dan senyum penuh arti.


"Sorry, ya! Tahu gitu gue nggak ngajak lo ke sini," sesal Dewi.


"Santai aja!"


"Oh, ya. Lo mau pesan apa? Gue sih pengen gelato. Lo mau gelato juga atau ice cream aja?" Tanya Dewi menyampingkan kisah sedih itu.


"mix vanilla choco ice cream oreo?" Tanya Dewi memastikan. Leonardo mengangguk, "yaudah lo tunggu sini! Biar gue yang pesan aja," titahnya.


Ketika gadis itu beranjak dari duduknya. Laki-laki dengan gelang merah itu menahannya, "eh biar gue yang pesan aja! Lo mau gelato apa?" Meski dengan raut bingung Dewi menjawab, "dark chocolate!" jawabnya dan segera duduk saat Leonardo menuju tempat pemesanan.


"Dea nggak suka gelato," guman Leonardo.


.


"Kak, janji ya! Nggak boleh dateng ke sini sama cewe lain tanpa seizin aku?" Bujuk Devania pada Leonardo ketika mereka sedang menikmati ice cream dalam kedai SweetTime.


Leonardo menatap gadisnya dengan lembut, "iya sayang!" Laki-laki itu tersenyum penuh arti. "Mana mungkin aku bakal ke sini sama cewek lain." Batinnya.


"Kalaupun nanti kak Love ke sini sama cewek lain, jangan sampai dia yang mesanin buat kakak, ya? Itu kan udah jadi tugas aku yang tidak boleh tergantikan oleh siapapun!" Tutur gadis itu berujar lucu.


Leonardo tersenyum melihat gadisnya, "gimana mau sama cewek lain kalau cewek aku segemes ini!" serunya mencubit pipi Devania dengan gemas. Sedang pemiliknya hanya memberikan cengiran.


.


"Nggak ada yang bakal gantiin tugas kamu buat aku, sayang."


"Kak, saya pesan gelato dark chocolate satu sama mix vanilla choco ice cream oreonya satu. Saya tunggu di meja sana ya, kak!" Ucap Leonardo menunjuk meja keberadaan Dewi.


"Lo cinta banget ya, sama pacar lo?" Baru saja Leonardo mendudukkan bokongnya, pertanyaan itu sudah menyambutnya. Leonardo terkesiap, "maksudnya?"

__ADS_1


"Dari sudut pandang gue aja, sih. Setelah tujuh bulan cewek lo meninggal dan lo masih aja cari tahu tentang dia, mata lo juga ... " Gadis itu menatap kedua bola mata Leonardo, "mata lo juga nggak bisa bohong kalau lo cinta banget dan kehilangan banget di saat bersamaan setiap kali dengan namanya." sambung gadis itu.


"Permisi, kak! Ini pesanannya." Sang pelayan datang mengantar pesanan menginterupsi keduanya.


"Makasih ya, kak!" ucap mereka berbarengan.


Setelah pelayan itu pergi, Leonardo kembali membuka suaranya.


"Iya, Dea itu belahan jiwa gue."


Dewi tersedak mendengar penuturan itu, "emang bucin banget!"


Leonardo tertawa kecil melihat reaksi Dewi, "lo nggak tahu aja seberapa berartinya Dea buat gue."


"Tapi gue akuin, sih. Devania emang positif vibes banget. Anak-anak sanggar juga gue liat banyak kok yang suka sama dia," aku Dewi.


"Suka?" Ada raut tak suka di wajah Leonardo mendengar kata itu.


"Maksudnya, suka dalam artian berteman, cemburuan amat! Lagian di sanggar kebanyakan cewek." jelas Dewi cekikikan dengan respon yang diberikan Leonardo.


"Oh, sorry. Tapi, Dea gimana di sanggar? Setahu gue, dia nggak begitu dekat dengan sekitarnya. Maksudnya dia bukan type yang terlalu welcome dan cepat akrab gitu," Leonardo ingin tahu.


"Iya, sih. Gue juga nggak terlalu dekat sama dia karena gue seniornya dan lebih sibuk dibandingkan dengan seangkatan Devania. Tapi dari yang gue liat dia nggak setertutup itu, kok. Meski emang nggak dipungkiri sih kalau dia lebih suka diam aja kalau lagi kosong, kecuali kalau diajak ngobrol duluan."


"Tapi, ... "


"Tapi apa?" Tanya Leonardo tak sabaran.


.


Istirahat latihan berlangsung dengan durasi lima belas menit. Dewi merasa sedang menerima panggilan alam setelah mengambil beberapa teguk air minum, yang artinya gadis itu harus menuntaskannya di toilet.


Setelah ritualnya di toilet selesai, Dewi keluar dengan perasaan lega. Langkah kaki gadis itu menuntunnya kembali ke ruang latihan sebelum sebuah suara teriakan menarik perhatiannya.


Dengan langkah mengendap, Dewi berjalan menuju belakang toilet -- mengikuti sumber suara.


"Tapi kenapa harus cerai? Kenapa baru kasih tahu di saat kalian udah pisah?" Devania terlihat begitu frustasi, gadis itu tidak sadar telah menderaikan air matanya.


"Trus gimana sama kakak? Kakak udah tahu?"


"Terserah kalian, jangan hubungi Vania lagi!" Devania menutup telpon dengan penuh emosi setelah membentak.


Gadis itu terlihat terengah-engah, emosinya membara; kesedihan dan kemarahannya bercampur menjadi satu emosi yang membuat dirinya terjatuh lemah di atas tanah. Devania terus mencoba menghentikan emosinya -- sebagai gantinya, air mata gadis itu menderai dengan derasnya dengan dada yang naik turun secara tidak stabil.


Dewi yang sejak tadi menyaksikan dalam senyap -- turut iba. Di matanya terekam jelas gadis yang adalah juniornya itu terduduk rapuh sambil terus-terusan memukul dadanya, "sakit!" keluh Devania.


Ingin rasanya Dewi berlari mendapati Devania, memeluk gadis itu erat dan memenangkannya. Namun, entah mengapa kakinya seperti tak mampu bergerak.


Tidak ingin dirinya terbawa suasana, Dewi segera pergi dari sana. Meninggalkan Devania yang mulai berteriak meracau melemparkan rasa sakitnya.


"Eh, Devania belum ada kak!" seru seorang anggota saat latihan akan di mulai.


"Ehm, tadi aku sempat lihat dia toilet. Kelihatannya dia lagi sakit perut, mungkin lagi datang bulan. Mulai aja latihannya duluan," ungkap Dewi pada pelatih.


.

__ADS_1


"Kakak? Cerai? Jadi, Dea beneran punya kakak?" batin Leonardo beradu. Benarkah hanya dia yang tidak tahu bahwa gadisnya memiliki seorang kakak? Bagaimana mungkin itu terjadi meski dia memiliki hubungan yang paling dekat dengan Devania.


"Mungkinkah Dea broken home?"


__ADS_2