
Jumad, 09 September 2022
Kelas pertama hari ini untuk X MIPA 2 dan X MIPA 4 adalah Mata Pelajaran Penjas.
Devania berjalan seorang diri ke dalam ruang ganti dan menjadi yang pertama diantara para siswi yang kelihatannya masih ribet di dalam kelas.
Fatih, laki-laki itu tampak mengendap-endap berjalan di belakang Devania. Saat gadis itu hendak membuka ruang ganti siswi untuk masuk ke dalamnya, Fatih menarik lengan Devania dengan sedikit kencang hingga gadis itu menubruk dirinya.
Hal itu dijadikannya kesempatan untuk membuat Devania dinilai buruk, dengan sengaja menahan pinggang gadis itu agar tidak segera menjauh darinya.
Dan benar saja, sebelum gadis itu berhasil menjauh; beberapa siswa yang sekelas dengan mereka berdua telah menyaksikan posisi mereka.
"Wah apa-apaan, ni?" hardik Abimayu -- ketua kelas Devania.
"Abi, gue nggak sengaja nabrak dia," jelas Devania dengan sedikit gugup. Gadis itu benar-benar takut kejadian awal sekolahnya terulang lagi.
Hanya saja entah kenapa mulutnya kelu untuk menjelaskan yang sebenarnya. Dan sekarang, dia sepertinya dalam masalah karena kalimatnya mungkin akan membuat mereka memandang dirinya bersalah.
Sesil -- teman sekelas Fatih -- memicing atas penuturan Devania. Sepertinya gadis itu merasa curiga atas apa yang terjadi, "lagian Fatih lo ngapain sampe bisa di tabrak Devania?"
Laki-laki yang ditanya itu merasa terintimidasi, Sesil ini adalah salah satu dari komplotan teman kelasnya yang tidak suka padanya dan tidak percaya atas rumor buruk tentang Devania dan Fatih.
"Gue ngapain?" tanyanya dengan nyolot, "tanya aja ke si Devania. Masa gue segede gini nggak kelihatan," dalihnya.
"Sebenarnya tadi, -- " belum selesai Devania menjelaskan. Fatih terlebih dahulu memotong, "udah mending buruan ganti. Keburu dihukum nanti gara-gara kelamaan ditunggu sama pak Eko di lapangan!" titahnya yang ditanggapi oleh semua yang sudah disana.
Laki-laki itu bernapas lega, untung saja Devania belum sempat menjelaskan yang sebenarnya.
Sepanjang kelas Penjas dilaksanakan, Fatih terus berusaha diam-diam agar mendekati Devania dan mencari akal agar bisa menjebak gadis itu.
Sayang sekali usahanya tidak dapat berjalan, sebab Devania terus berada di tengah-tengah teman perempuan sekelas gadis itu.
Saat ini, materi yang mereka pelajari adalah tentang bola kecil; khususnya badminton. Fatih berseru senang dalam hati karena mereka akan dibagi perkelompok menurut tinggi yang sama, sedangkan tingginya dengan Devania mungkin hanya berselisih 5cm.
Dengan begitu, besar peluang untuk dirinya dapat berada dalam satu kelompok bersama Devania, mengingat pak Eko ingin kelompok yang terdiri dari empat orang; dua laki-laki dan dua perempuan, dari kedua kelas tersebut.
Dan ya, alam berpihak pada Fatih. Benar saja, dia dan Devania digabungkan dalam satu kelompok yang sama. Tapi Allah berpihak pada Devania, jadi kelompok mereka tidak sempat praktek hari ini dan akan diundur ke pertemuan berikut.
"Kenapa harus kelompok terakhir sih! Kan jadi gini urusannya," Fatih berdecak sebal karena jam pelajaran pertama telah usai.
__ADS_1
.
Amarah Leonardo yang sejak tadi bergejolak, kini mereda secara perlahan. Entah mengapa tiba-tiba hatinya dirasuki oleh perasaan rindu kepada kekasihnya, "kayaknya banyak hal yang terjadi. Tapi, nggak pernah Dea ceritain ke gue."
Lirihan Leonardo memang terdengar sangat pelan. Namun, tidak begitu pelan hingga Pradipa dapat mendengarnya.
Sahabat dari laki-laki bergelang merah itu menoleh ke sampingnya, "kenapa lo?" tanyanya sedikit berbisik.
Leonardo hanya menggeleng, matanya kembali melihat ke arah Fatih. Berusaha untuk tetap menyimak semua pengakuan Fatih.
.
Hari yang dinanti Fatih, akhirnya tiba.
Kalender menunjukkan bahwa hari ini adalah Jumad, dan itu berarti Fatih akan menjalankan rencananya untuk menjebak Devania. Naas, padahal Fatih sudah terlalu sabar, tapi kali ini alam pun tidak memihak padanya.
Devania. Gadis yang akan menjadi peran utama hari ini malah tidak hadir dengan alasan sedang sakit. Maka sia-sialah penantian Fatih seminggu ini.
"Devania Anggara," gumam Fatih dengan darah yang mendidih. "Lo udah mempermainkan gue. Jadi, tunggu pembalasan gue!"
...****************...
Sudah hampir 5menit laki-laki itu berdiri, mengetuk pintu seraya berteriak mekanggil Devania. Hingga dirinya lelah terus berada di sana seperti seorang dep-kolektor yang berusaha menggrebek orang tak bayar hutang, akhirnya Fatih pergi dari sana.
"Loh, dek. Temannya Vania, ya?" tanya seorang ibu-ibu pada Fatih.
"Eh, iya bu. Tapi kayaknya Vanianya nggak ada," jawab Fatih dengan sopan.
"Emang adeknya nggak kontakan dulu," Fatih menggeleng, "Vanianya ke rumah sakit sama kakaknya."
"Gitu ya, bu. Kalau gitu saya permisi dulu," pamit Fatih.
Fatih baru akan menaiki motornya untuk pulang, namun didepannya terlihat sebuah mobil memarkir --ada Devania di dalamnya--.
Laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk pulang, ia menghampiri dua sosok gadis yang salah satunya memang Devania.
"Fatih?"
Fatih tersenyum ketika Devania menyebut namanya, "hai!" sapanya.
__ADS_1
"Kamu kenal, De?" tanya Raisa --kakak Leonardo--yang bersama Devania.
"Teman sekolah, kak." Raisa menunjukkan gerak tanda mengerti.
Fatih menghampiri Raisa dan menyalami tangannya, "hallo!"
Raisa menerima uluran tangan Fatih dengan baik, "gue Raisa."
"Aku Fatih, kak!"
"Sekelas sama, Devania?"
Raisa tampak seperti seorang kakak laki-laki yang mulai menginterogasi Fatih.
Terlihat, laki-laki yang diinterogasi itu mulai merasa tak nyaman.
"Nggak, kak. Cuma satu angkatan," jawab Fatih berusaha sopan.
"Oh, gitu. Trus kamu ngapain di sini?"
"Tadi aku dengar di sekolah Devania sakit, makanya aku ke sini."
Raisa tampak memberikan raut lega yang entahlah alasannya apa, "mau jenguk aja ternyata."
"Fatih, aku udah baikkan kok. Kamu pulang aja," tutur Devania yang sudah berdiri di samping Raisa.
"Bagus deh, kalau gitu." Fatih tersenyum ke arah Devania.
Laki-laki itu akhirnya berpamitan, "yaudah, aku pulang dulu, ya."
Raisa dan Devania masuk ke dalam kosan Devania. Raisa menuntun Devania yang masih sedikit lemah, membawanya untuk berbaring, menyiapkan makanan dan apa saja yang sekiranya akan dibutuhkan pacar dari adiknya untuk memudahkan Devania yang masih sakit.
Setelah menemani gadis yang sakit itu berbincang-bincang sebentar, Devania terlelap dalam tidurnya. Raisa --kakak Leonardo-- pergi dari sana setelah memastikan semuanya aman, tetapi karena Devania tidur; Raisa hanya menutup pintu sekadarnya dan pergi dari sana.
Kepergian Raisa dari sana membuat seseorang --yang berdiri di seberang jalan dari tempat Devania-- tersenyum. Laki-laki itu mengendarai motornya, "ini saat yang tepat," gumam laki-laki itu.
Fatih. Laki-laki itu telah menunggu, dan ini adalah saat yang tepat untuk membalaskan dendam dan amarahnya pada Devania.
Laki-laki itu memperhatikan sekitar saat hendak masuk ke dalam kosnya Devania, setelah dipastikan bahwa tidak ada yang melihatnya; laki-laki itu segera masuk ke dalam dan mengunci pintu masuk itu dari dalam.
__ADS_1
Kakinya mengendap-endap menuju tempat Devania tidur, dengan senyum sumringah Fatih menjalankan aksinya.