
"Kamu salah! Kamu salah, Evano!" cecar Raisa, "Dea nemuin kebahagiaannya, dan itu ada di kamu."
"Kebahagiaan apa yang kakak maksud dari orang yang nekat bunuh diri, kak?"
Leonardo menggeleng. Sakit, rasanya sakit sekali mengingat bagaimana gadis itu berakhir dalam kubur.
Memangnya kebahagiaan apa yang membuat seseorang bunuh diri? Memangnya kebahagiaan apa yang seseorang dapatkan setelah bunuh diri?
Tidak, dia tidak boleh memikirkan itu lagi. Jika hanya membuatnya stres dan kembali melakukan hal-hal gila seperti sebelumnya, maka dia tidak boleh terus mengingat itu. Dia telah berjanji pada Devania, dia telah berjanji pada Deanya. Dia harus menepati itu.
"Kakak keluar aja, kakak yang bilang gue nggak boleh banyak pikiran." Kata-kata itu membuat Raisa tersadar setelah membeku mendengar pertanyaan pelan dan menusuk dari adik kesayangannya itu. Raisa meraih tangan adiknya, "maafin kakak."
Leonardo menghempas tangan kakaknya, "keluar, kak!" dengan suara pelan namun penuh tuntutan.
...***************...
Dua hari berlalu, Leonardo telah kembali ke rumahnya sendiri meski belum sepenuhnya pulih.
Sejak hari perdebatannya dengan Raisa, laki-laki itu belum berbicara sedikitpun dengan kakaknya. Bukan masih marah, dia hanya tidak mau jika mereka kembali berdebat -- mereka berdua adalah dua manusia egois.
Leonardo tentu tahu, kakaknya pasti sangat sedih dengan jarak yang tiba-tiba terbentang diantara mereka meski berada dalam satu atap, namun apa boleh buat selain mengabaikan kakaknya itu.
Dia berusaha untuk mengalihkan pikirannya tentang kakaknya, laki-laki itu meraih ponselnya yang dia taruh dibawah bantal di sampingnya. Leonardo tersenyum mendapati layar kuncinya yang menunjukkan foto dirinya merangkul Devania, gadisnya yang berpose dua jari.
Leonardo membuka Whatsapp menuju ke kontak yang sejak lama dia sematkan. Menggulirkan isi ruang obrolan itu
Dia tersenyum melihat isi ruang obrolan itu, seketika ia rindu pada gadisnya. Gadis dengan sejuta tingkah lucu dan ribuan luka. Gadis yang dia cintai hingga kini.
"Ada apa nih senyam-senyum sendiri?" interogasi sang kakak yang entah sejak kapan sudah berada dalam kamarnya. Leonardo hanya melirik sebentar sambil menunjukkan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Raisa tersenyum, "Lo mau nggak, menu makan siang kita hari ini, nasi goreng telor ceplok ekstra kecap manis kesukaan Dea?"
Leonardo berdeham sebagai jawaban, "kalau gitu gue keluar sebentar buat beli telur dulu, ya. Lo istirahat aja!"
"Hati-hati!" peringat Leonardo mendapat jempol dari kakaknya sebelum keluar kamar.
Setelah kakaknya keluar, laki-laki itu lanjut membaca pesan-pesan lamanya dengan Dea.
"Maaf, aku nggak peka waktu itu kalau kamu mengalami hal buruk. Aku udah cobain lucid dreamnya. Aku senang bisa liat kamu tersenyum ketika dalam lucid dream, tapi aku sadar, Dea. Aku nggak bisa terus-terusan jadi pecundang dengan memperbaiki semuanya hanya lewat mimpi, aku nggak bisa.
Sebagai gantinya aku akan hidup lebih baik, kamu udah ngajarin aku banyak hal. Maaf. Aku sesekali bakal nemuin kamu lewat mimpi lagi, aku juga bakal lebih sering berkunjung ke makam kamu cantik."
"Bahagia ya, Love!" kalimat itu terngiang di telinganya. Kalimat terakhir yang dia dengar dari gadisnya sebelum pergi. Kalimat terakhir yang dia dengar dalam mimpinya.
Tiga hari pertama laki-laki itu sadar dari komanya, dia bermimpi. Entah bagaimana dia sadar bahwa dia sedang bermimpi dan berharap agar dapat membuat kisah yang manis untuk gadisnya.
Namun, Raisa -- kakaknya -- yang menemani dan berharap dia bangun selama masa kritisnya itu membuatnya sadar bahwa kakaknya itu membutuhkan dirinya juga. Jika dia egois, maka dia tidak hanya kehilangan Devanianya tapi juga kehilangan kakaknya.
Oleh karena itu dia memilih untuk hidup, hidup untuk gadisnya yang telah pergi, hidup untuk kakaknya yang membutuhkan dirinya. Dan dia sadar, jika keegoisan dirinya terus dipertahankan dia akan kehilangan segalanya. Jadi, setelah ini Leonardo akan memperbaiki semuanya. Bukan hanya tentang Devania, tetapi dirinya dan kakak satu-satunya.
...****************...
Hari libur baginya telah selesai.
Laki-laki dengan gelang merah --pemberian kekasihnya-- yang melingkar manis di tangannya berjalan menyusuri koridar dengan langkah pasti menuju taman sekolah.
Taman yang dipenuhi berbagai bunga-bunga cantik dan dua bangku panjang di dalamnya. Taman itu berada di belakang aula sekolah --tempat yang sama seperti dalam mimpinya--
Leonardo mengingat, disinilah pertama kali dirinya berbicara dengan Devania.
__ADS_1
.
Seorang gadis tidak sengaja menabrak dirinya, "duh, maaf ya kak. Aku nggak sengaja. Tapi aku yang salah soalnya jalan sambil main HP. Maafin ya kak," tanpa aba-aba gadis itu menjelaskan dan meminta maaf sambil berulang membungkuk.
"Gapapa," jawab laki-laki itu sembari memegang pundak sang adik kelas --yang tidak dikenalnya-- agar tidak terus membungkuk bersalah padanya.
Gadis itu mengangkat kepalanya tersenyum, "makasih ya kak!" Leonardo hanya mengangguk.
Gadis itu hendak berbalik, tapi sebelum sampai 180° dia kembali menghadap Leonardo yang masih melihatnya. "Kak, boleh tanya nggak?"
"Itu udah nanya," jawab Leonardo seadanya.
Adik kelas itu tersenyum, "aula di mana ya kak? tadi aku pengen ke aula tapi nggak tahu dimana tempatnya," keluh gadis itu
Leonardo menunjuk pada gedung tepat di belakang gadis itu berdiri, "lo kedepan gedung itu aja, di sampingnya ada tangga ke lantai 2. Setelah lo naik, ruang pertama yang lo liat itu aula. Ada tulisannya didepan pintu."
"Makasih ya, kak. By the way, namaku Devania Anggara." Devania, gadis itu mengulurkan tangannya untuk berjabat sebagai tanda perkenalan mereka.
"Leonardo Evano Eros," sahut Leonardo.
Gadis berambut sebahu dengan pita merah muda di rambutnya itu tersenyum, "aku ke aula dulu ya, kak. semoga kita ketemu lagi." Devania melepas jabatan tangan mereka dan pergi ke arah yang telah di tunjukkan Leonardo.
.
"Ingatan gue nggak begitu bagus, Dea. Tapi kenapa gue bahkan ingat dengan jelas pertemuan pertama kita setahun yang lalu," lirihnya dengan frustasi.
"Rambut pendek lo, pita pink lo, senyum termanis di bibir tipis lo itu, mata bulat dan pipi chubby lo, semuanya tergambar jelas di benak gue. Gue kangen banget sama lo!"
Bel tanda masuk kelas berbunyi, hal itu membuyarkan pikiran Leonardo. Dia segera berjalan menuju ke kelasnya.
Saat hendak masuk ke kelas, laki-laki bergelang merah itu berpas-pasan dengan seseorang yang mendidihkan amarahnya -- Fatih, laki-laki yang merusak segalanya dalam hidupnya dan Devania.
"Ini hari pertama sekolah, Leo!" tuturnya pada diri sendiri, mencoba mengabaikan Fatih dan segera masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
"Woi, bro! Udah baikan lo?" pertanyaan Pradipa menjemput Leonardo, "aman." laki-laki itu duduk di samping Pradipa.
"Lo udah dapet buktinya?"