
Devania terkejut mendapati Fatih berada di depan toilet, seperti memang sengaja menunggunya.
"Kamu?" Satu kata itu membuat Fatih berbalik mendapati Devania. "Hai!" sapanya.
Tidak ingin berurusan dengan Fatih, Devania buru-buru pergi dari sana. "Tunggu dulu," pinta Fatih.
Laki-laki itu berjalan mendekat saat Devania berhenti, "gue minta maaf soal kemarin."
Devania diam.
"Gue benar-benar cuma kebawa emosi aja pas ngomong kata itu kemarin. Lo tahu sendiri gue udah nunggu lo kemarin, tapi ternyata lo malah pulang sama kakel OSIS itu." Fatih menjelaskan dengan lembut, "lo mau, kan? Maafin gue."
Devania tampak sedikit ragu. Namun, meskipun satu kata kemarin cukup untuk membuatnya sakit hati, bukankah Fatih bisa mendapatkan satu kesempatan?
"Gimana?" Tanya laki-laki itu memastikan. Devania mengangguk, "oke. Aku maafin!"
"Thank you!"
"Kalau gitu, aku pergi dulu." Devania hendak pergi dari sana, tapi laki-laki itu menahan dirinya.
"Lo mau kan, kali ini pulang bareng gue?" Tawar Fatih dengan penuh harap.
Devania baru saja hendak menolak, "Please. Lo kan baru aja maafin gue." Tapi diurungkan dengan kalimat itu.
"Baiklah, kali ini aja!"
"Thanks, Dev!"
...****************...
Sesuai persetujuan, kini Fatih dan Devania dalam perjalanan pulang bersama.
Dapat terbayangkan bagaimana perasaan Fatih yang berbunga-bunga dan Devania yang terus saja menampilkan wajah datar karena tidak nyaman berada dalam boncengan laki-laki itu.
"Dev, lo udah pernah pacaran belum?"
Mendengar pertanyaan itu, entah mengapa gadis berambut sebahu itu merasa muak. "Nggak," ketusnya.
"Masa sih, cewe secantik lo belum pernah pacaran." tuduh Fatih.
__ADS_1
Devania hanya diam, dia tidak suka dengan topik obrolan tersebut.
"Sorry, deh. Kalau lo nggak nyaman gue tanya begitu," ucap laki-laki itu.
"Lo tuh suka sama apa, sih?" Tanya Fatih lagi tak ingin mati topik.
Gadis berambut sebahu itu bingung. Pertanyaan Fatih terlalu universal baginya untuk dijawab, gadis itu memilih diam.
Fatih menurunkannya depan kios -- tempat Devania menunggu ojek tadi pagi -- atas permintaan Devania.
"Makasih, Fatih!"
Fatih mengangguk lembut, "anytime."
Devania menanggapi jawaban Fatih dengan senyum paksa.
"Kalau gitu, gue pergi dulu. Bye!" Pamit Fatih dan diangguki oleh Devania.
Setelah kepergian Fatih, gadis berambut sebahu itu bernapas lega. Huh, akhirnya.
...****************...
Hari telah berganti hari, minggu yang baru kini menyapa. Perasaan Devania campur aduk sebab ini adalah hari pertamanya sekolah secara resmi, alias hari ini ia akan mengawali kelas pertama sebagai siswi SMA.
Setelah menginjakkan kakinya di sekolah, entah hanya perasaannya saja atau memang benar ada tatapan-tatapan yang kini menganggunya.
Mungkin akan terkesan terlalu percaya diri, tapi Devania yakin bahwa selama 3 hari MPLS kemarin dirinya sering mendapat tatapan kagum bahkan senyuman dari siswa-siswi yang melihatnya.
Tak jarang beberapa orang memuji dirinya bahwa dia cantik, memiliki senyum yang manis, bahkan dibilang ramah. Sebab meskipun dirinya tak begitu banyak interaksi sosial dengan siswa lain, tetapi wajahnya tak pernah absen menebar senyum.
Tapi kali ini seperti berbeda. Banyak sekali orang-orang yang menatap tak suka pada dirinya, memberi tatapan jijik, dan tak sedikit pula yang langsung berbisik-bisik dengan teman mereka di sekitar ketika melihat dirinya.
Ada apa ini?
Devania benar-benar tidak mengerti mengapa semuanya tiba-tiba jadi begini, dia tidak nyaman berada dalam situasi seperti ini. Terlebih saat dirinya tidak tahu kesalahan seperti apa yang melayakkan dirinya mendapat perlakuan yang sedemikian.
Gadis berambut sebahu itu mempercepat langkahnya menuju kelas. Mengapa ini harus terjadi di hari pertama pembelajaran dimulai? Jika begini, Devania hanya berharap dirinya dapat fokus saat *** berjalan nanti. Apapun masalah ini, pendidikannya harus utama.
...****************...
__ADS_1
Waktu terus berjalan. Saat ini sedang berlangsung mata pelajaran ke-3, artinya waktu istirahat sudah lewat dan sekarang Devania lapar karena tidak keluar istirahat tadi. Demi menghindari tatapan-tatapan maut dari para siswa di sekolah, gadis itu harus merelakan cacing-cacing perutnya tidak dimanjakan.
Baiklah, sepertinya ini akan menjadi alasan yang bagus agar gadis itu bisa mengambil izin untuk pulang. Bodo amat soal hari pertama, teman-teman sekelasnya terang-terangan menghindari dirinya. Lantas untuk apa gadis harus bertahan hari ini?
Karena 'pendidikan utama'? Ah, soal itu dikesampingkan saja dulu.
Katakanlah dirinya lemah, Devania tidak peduli. Mentalnya lebih penting. Oh, ya! Perutnya juga.
Gadis itu maju ke meja guru, meminta izin untuk dipulangkan karena sedang sakit perut. Setelah sedikit beralibi, gadis itu akhirnya mendapat persetujuan untuk pulang.
"Terima kasih, pak! Saya permisi dulu." Gadis itu kembali ke tempat duduknya, merapikan peralatan sekolah lalu segera pulang. Semua itu tak luput dari pandangan kebanyakan teman sekelasnya, sedang yang lain tetap fokus mencatat.
...****************...
Sesampainya di kos, Devania tak langsung berganti pakaian. Gadis itu masuk duduk diatas kasurnya, mengambil sikap doa, lalu menangis sejadi-jadinya. Mengadu sambil menangis pada Tuhannya adalah pilihan yang tepat.
Pagi tadi dia tidak sempat memasak, bahkan untuk sarapan pun tidak. Jadi, sebelum gadis itu jatuh sakit karena belum makan hingga sekarang, Devania segera berganti pakaian dan keluar untuk mencari makan di warung terdekat. Terlalu lama jika harus memasak sendiri.
Saat sedang berjalan, entah karena terlalu lemah atau memang pengendara itu yang salah; Devania terjatuh karena terserempet motor. Laki-laki yang menyerempetnya itu turun dari motornya, membantu Devania berdiri dan, "Loh?" dirinya terkejut saat yang di depannya adalah adik kelas yang tidak sengaja menabraknya di taman sekolah 4 hari yang lalu.
"Kak Leo!" Seru Devania kegirangan, seketika rasa sakit dan laparnya hilang begitu saja. Merasa terlalu bersemangat, gadis itu mengubah ekspresinya seperti sedang kesakitan.
"Aduh, kaki aku!" Adunya berharap mendapat perhatian. Mata Leonardo mengikuti tangan Devania yang memegang betisnya, di sana terdapat sedikit luka gores yang mungkin karena bergesekan di jalan tol.
"Sakit banget, ya? Gue mintaa maaf banget. Gue gak bermaksud untuk nabrak lo, gue mau nepi buat angkat telpon malah lo-nya keserempet. Maaf, gue obatin!" Devania hanya tersenyum sambil tunduk mendengar kata-kata itu. Tanpa permintaan maaf dan penjelasan pun gadis itu tak akan marah.
"Ehm, iya. Tapi aku minta tolong kakak anterin aku ke warung itu ya, soalnya aku laper." Devania menunjuk warung dimaksud yang tak jauh dari tempat keduanya berdiri. Baru saja usai berkata demikian, perutnya sudah memverifikasi.
"Tuh, kakak dengar kan? Perut aku udah bunyi," seru gadis itu. Seperti hanya di depan Leonardo, Devania tidak tahu apa itu 'jaga image'
Leonardo diam-diam tersenyum. Mengapa gadis di depannya ini begitu menggemaskan?
"Oh, okay. Setelah gue anter lo, gue cari betadine buat luka lo. Takutnya infeksi," ucap Leonardo.
Mendengar kata betadine, Devania membulatkan matanya sempurna. Ah, tidak. Dia harus mencari alasan untuk menghindar dari rasa perih yang akan disebabkan oleh obat merah itu, harus!
"Nggak usah, kak! Di kosan aku ada, kok. Kakak temanin aku makan aja, sebagai tanggung jawab. Karena setelah itu kakak harus anter aku pulang, kaki aku sakit loh ini." Devania memasang muka sedihnya.
"Okelah, kalau lo maunya gitu."
__ADS_1
Yes, berhasil!
Wajah gadis berambut sebahu itu kini penuh dengan senyum kemenangan. Kesempatan emas harus digunakan baik-baik, bukan?