L Dream

L Dream
Balas dendam


__ADS_3

"Lo benar juga," gumam Leonardo.


"Kita harus bales dendam ke Fatih!" Leonardo terperangah mendengar penuturan tersebut.


"Lo serius?" Tanya laki-laki bergelang merah itu tak percaya.


"Ya, gue serius. Gue nahan lo selama ini karena khawatir aja sama kondisi lo. Tapi lo sekarang udah okay, jadi kita lakuin aja."


"Terus lo punya rencana?" Tanya Leonardo lagi, dia yakin bahwa jawaban sahabatnya tidak akan mengecewakan.


Pradipa mengangguk. Hal itu membuat laki-laki dengan gelang merah itu tersenyum menang, mengambil posisi yang nyaman dan memasang telinganya baik-baik untuk mendengar kata demi kata yang akan keluar dari mulut Pradipa.


"Belum kepikiran, sih."


Apa-apaan ini?


Mendapat alarm tanda dalam bahaya, Pradipa segera menjauhkan dirinya dari Leonardo.


"Gitu aja esmosi. Gue bercanda kaleee." Pradipa tertawa melihat raut wajah sahabatnya.


"Ampun bang jago~" Laki-laki yang bernotabe sebagai sepupunya Devania itu bercanda sambil membuat gerakan toktok jadul dengan sound yang dinyanyikannya.


Puas mengerjai sahabatnya, Pradipa kembali mengambil tempat di gazebonya.


"Dengerin!" Titahnya pada Leonardo yang masih memberi tatapan permusuhan.


"Gini," wajahnya berubah menjadi serius, "kita udah punya beberapa bukti soal hal yang udah Fatih lakuin ke Eva. Untuk bukti soal kebohongan yang dia sebarin tahun lalu, kemungkinan nggak bakal kita dapat lagi. Jadi, kita buat dia ngaku." Lanjut Pradipa dengan senyum miring diakhir kalimat.


"Soal itu, serahin ke gue!"


Bagi Leonardo, untuk membuat Fatih mengakui kesalahannya adalah hal yang mudah.


...****************...


Fatih mengendarai kendaraan beroda duanya sebagai transportasi untuk pulang dari sekolah. Belum genap dua minggu kembali dalam Kegiatan Belajar Mengajar, namun hari ini terasa melelahkan.


Laki-laki itu mengendalikan setir motornya ke arah kiri. Dilihatnya sebuah motor dengan pengendara yang mencurigakan sebab memakai pakaian tertutup serba hitam yang menutup semua bagian tubuhnya melalui kaca spion. Dengan helm fullface yang kacanya diturunkan membuat Fatih tidak dapat mengenalinya.


"Paling abis jalan jauh," acuhnya.


Fatih nampaknya lupa bahwa dia melalui jalanan yang meski cukup luas namun sangat sepi. Di sebelah kiri jalan ada semacam sawah kecil berpagar bambu yang tidak ditamani oleh apapun dan si sebelah kanan jalan tersebut terdapat tanah lapang.


Tanpa sadar, pengendara yang sebelumnya berada di belakangnya, kini telah memarkir ke badan jalan menghalangi Fatih untuk terus berlalu.

__ADS_1


Dengan emosi Fatih menghampiri orang tersebut yang kini telah berdiri sambil melipat tangan di samping motornya sendiri. "Lo ngapain, woi?" bentak Fatih, "gue lagi cape, jadi gue harap lo nggak halangin jalanan. Minggir!"


Melangkah arogan menuju motornya, Fatih pikir orang itu akan menurutinya. Ternyata tidak. Justru laki-laki berpakaian hitam itu menyusul Fatih, menariknya turun dari motor dan menyeretnya tanah lapang di samping jalan tersebut.


Entah karena terlalu lemas sejak keluar kelas tadi atau tenaga laki-laki berpakaian hitam itu yang terlalu kuat, Fatih tidak dapat melepaskan cengkeraman laki-laki itu dari kerak belakang seragamnya.


Menuju ke tengah lapangan, laki-laki itu mendorong Fatih hingga tersungkur ke tanah.


Baru saja hendak bangkit, kaki laki-laki itu telah lebih cepat menginjak batang leher Fatih hingga tak dapat bangun.


"Fatih." Itu suara Leonardo. Laki-laki bergelang merah itu sedang menjalankan aksi balas dendamnya.


"Siapa lo?" teriak Fatih memberontak.


"Sttt, santai aja! Kalau gak, gue patahin leher lo sekarang juga."


"Mau lo apa?"


"Mau gue? Mau gue cuma nanya kok sama lo, tenang aja!" Leonardo berjongkok disamping Fatih, berganti dari kaki menjadi tangan yang kini menahan leher laki-laki itu.


"Devania Anggara. Lo kenal?" Tanya laki-laki bergelang merah itu dengan nada penuh interogasi.


Wajah Fatih yang sebelumnya memerah karena lehernya di cengkram, apalagi posisi berbaring tak layak di tanah yang membuat wajahnya tersorot matahari. Kini semakin memerah mendengar nama itu.


Leonardo melepas cengkramannya pada leher laki-laki itu, mengizinkan Fatih untuk berdiri.


Fatih berdiri dengan napas sedikit terengah-engah. Matanya menatap tajam pada Leonardo yang masih setia menggunakan helm. Setelah diperhatikan, barulah laki-laki itu sadar bahwa didepannya adalah Leonardo.


"Lo?"


Leonardo tersenyum miring dibalik helmetnya, "thanks God, akhirnya lo sadar siapa gue."


Fatih berdecih, "apaan sih lo?"


"Ouh, jangan ngambek gitu dong. Gue kan jadi sedih," ucap Leonardo dramatis.


"F*ck you!"


Laki-laki bergelang merah tertawa kecil melihat setitik keberanian, oh boleh ralat? Leonardo tertawa kecil melihat tingkah sok keren oleh bocah didepannya yang kini melangkah menjauh.


"Berhenti disana!" Perintah Leonardo dengan nada penuh kecaman.


"Oh, anj*ngku yang cerdas." Puji laki-laki bergelang merah itu sambil bertepuk tangan menghampiri Fatih yang kini telah berdiri mematung sekitar lima langkah jauhnya dari tempat semula.

__ADS_1


"Apa lagi?"


"Kita belum selesai, brodi!" Tangan Leonardo dihempas ketika dengan sengaja menepuk pundak Fatih.


"Oke, sepertinya gue udah terlalu basa-basi ya? Sorry, gue lupa kalau lo aja udah basi."


Fatih menggeram marah mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Leonardo. Segera satu bogeman menghantam rahang laki-laki bergelang merah itu.


Tidak menerima diserang di wajahnya yang tampan. Leonardo membalas dengan dua tembakan. Tangan kirinya diarahkan terlebih dahulu menghantam sebelah mata Fatih, disusul dengan cepat oleh tangan kanannya kearah perut.


Tak cukup sampai disitu, saat Fatih sedang menunduk kesakitan karena hantaman Leonardo. Laki-laki bergelang merah itu mengambil kesempatan dengan maju selangkah menopang tubuhnya dengan kaki kiri, kaki kanannya diayun memutar 180° dari belakang yang menghasilkan tendangan yang tepat di telinga Fatih.


"Itu karena lo udah nyebar fitnah nggak benar soal Dea gue." Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Leonardo sudah marah.


Laki-laki bergelang merah itu duduk diatas perut Fatih yang terjatuh, meraih keraknya dan memberi satu bogeman di wajahnya. "Itu karena lo udah berani-beraninya nyentuh wajah ganteng gue."


Pukulan demi pukulan Fatih terima dengan masing-masing alasan yang dilontarkan oleh pelaku.


Leonardo memberikan hadiah bogeman di wajah dengan alasan, Fatih telah mengusik hidup Deanya, mengganggu hubungan mereka,


"dan ini untuk lo yang udah berani macam-macam sama Dea di kelas gak kepake itu." Pukulan itu berakhir dengan Fatih yang pingsan karena tak kuasa lagi menerima hantaman Leonardo di area kepalanya.


Leonardo memanggil Pradipa yang sejak tadi menonton mereka sambil bersandar di mobilnya. Laki-laki itu sudah hadir di sana saat sejak Fatih dihempas ke tanah oleh Leonardo.


Berjaga-jaga jika waktu pulang mereka dan Fatih tidak bertepatan. Hari ini, kedua sahabat itu tidak ke sekolah agar dapat menjalankan misi dengan baik.


Pradipa yang sejak tadi bertugas meminggirkan motor kedua manusia yang bertengkar itu, juga berjaga-jaga agar tidak ada orang yang menghampiri mereka dengan memarkirkan mobilnya sedikit memghalangi Leonardo dan Fatih.


Laki-laki yang memakai masker dan kacamata hitam itu menghampiri mereka, "langsung dibawa aja?" tanya Pradipa.


"Iya langsung aja," jawab Leonardo.


Keduanya membopong Fatih menuju ke kursi penumpang mobil Pradipa.


"Gue bawa motor dia, biar nanti dia pulang pake motornya."


"Berarti abis ini lo nebeng gue buat kesini lagi ambil motor lo sendiri?" tanya Pradipa. Leonardo mengangguk mengiakan.


"Oke. Sekarang jalan aja, gue udah engap pake masker," ucap Pradipa.


Leonardo tertawa di balik helmnya, "lagian kata lo disini gak ada CCTV tapi masih ngide tetap pakai ginian."


"Yee, jaga-jaga itu perlu. Ini termasuk ke dalam tindak kriminal, kalau ada yang liat dan ngenalin kita gimana?"

__ADS_1


"Yuk, jalan!"


__ADS_2