L Dream

L Dream
Ulang tahun


__ADS_3

"Aku tahu! Kak Love nggak akan ninggalin aku, kecuali kalau aku yang ninggalin dia." Sambung gadis itu tegas walau masih dengan wajah sembab.


"Ngomong apa sih bocah! Tadi katanya Leo udah kayak belahan jiwa sekarang ngomong ninggal-ninggalin, nggak jelas. Lo berdua kalau semisal ada masalah ya dibicarakan baik-baik. Setidaknya kalau Leo nggak peka atau egonya lagi tinggi, lo kan pawang terbaik dia. Nggak usah gini lah, kasian lo berdua." Nasehat Pradipa panjang lebar.


.


"Lo kenapa nggak bilang ke gue soal itu?" tentu saja Leonardo nyolot. Sahabatnya menyembunyikan sesuatu yang harusnya bukan rahasia bagi dirinya, apa lagi ini menyangkut Devania Anggara. Gadis Leonardo.


"Gue kira waktu itu kalian emang lagi capek aja dan lagi ada masalah yang ya menurut gue harusnya lo berdua selesaiin masalah itu berdua," jawab Pradipa.


"Tapi setelah Dea meninggal, lo nggak pernah ngebicarain itu sama gue!"


Melihat emosi sahabatnya yang dipenuhi amarah, laki-laki dengan lencana OSIS itu turut tersulut perasaan dongkol.


"Lo kalo nggak tahu terima kasih, setidaknya tahu diri!" Pradipa menghardik dengan dada naik turun, "Kalo lo lupa gue di sini untuk ngebantuin lo, setidaknya ingat kegilaan lo waktu Devania mati bunuh diri! Lo kacau bro," laki-laki itu mencoba menurunkan emosinya.


"Leo, mana bisa gue kasih tahu lo dengan kondisi lo yang kacau balau setelah kematian Devania." Tuturnya mencoba menjelaskan.


Dering ponsel Pradipa berbunyi, laki-laki menggeser ikon menerima panggilan. Setelah berbicara sebentar ia kembali, "kita lanjut nanti. Nyokap gue nelpon," pamitnya.


Leonardo mengangguk, "hati-hati!" Segera Pradipa mengambil barang-barangnya dan pergi dari sana meninggalkan Leonardo yang terduduk lemas dengan pikiran yang berlari kian kemari.


Sebelum benar-benar pergi, Pradipa menyunggingkan senyum kecilnya.


...****************...


"Happy birthday to you! Happy birthday to you! Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you!" Suara nyanyian kecil itu mengisi kesunyian yang telah menyapa hari baru -- pukul 01.00am.


Dengan sebuah cake mini pink polos dengan tulisan 'hbd dear' serta satu lilin kecil tertancap menyala diatas cake tersebut, seorang laki-laki tampak menyanyikan lagu 'selamat ulang tahun' dengan suara lirih untuk kekasihnya.


"Selamat ulang tahun, sayang!" ucapnya pada sang kekasih.


"Aku datang lagi sesuai janji aku," tuturnya. "Dea, seandainya kamu ada di sini sekarang kamu pasti udah kegirangan liat kue ulang tahunnya. Ini sesuai dengan harapan kamu, kan?"

__ADS_1


.


Devania dan Leonardo sedang menyusuri sebuah toko kue untuk mendapatkan kue bagi ulang tahun Clarissa --ibu Leonardo-- yang sedang pulang ke Indonesia.


"Kak, kak lihat, itu kuenya lucu banget!" seru gadis itu menunjuk pada sebuah cake yang dimaksud.


"Tapi kuenya polosan, lucuan yang di sebelahnya." Celetuk Leonardo sembari menunjuk sebuah cake putih dengan hiasan sprinkle warna-warni pada bagian pinggir cake dan hiasan pelangi diatasnya.


"Nggak, ah. Pokoknya yang pilihan aku. Nanti pas ulang tahun aku, aku mau ada kue itu!"


.


"Aku kangen banget sama kamu. Kangen genggam tangan kamu, jalan bareng kamu, kangen tingkah lucu kamu, pita pinknya kamu, senyum manis kamu, kangen makan bareng sama kamu, soalnya kamu lucu kalo lagi makan. Ah, kayaknya satu hari nggak bakal cukup buat jelasin betapa dalamnya dan lebarnya dan luasnya rasa rindu aku ke kamu." Laki-laki itu memeluk nisan kekasihnya.


"Kamu udah bahagia ya di sana? Kamu juga kangen aku nggak? Apa kamu lihat aku dari sana?" Laki-laki itu memandang sendu ke langit. Berharap sepintas waktu saja dia melihat kembali kekasihnya.


"Dea, saat kamu pergi aku bukan cuma kehilangan pacar aku. Tapi, aku juga kehilangan semangat aku, belahan jiwa aku, aku kehilangan semua kebahagiaan yang belum sempat kita cipta sebanyak-banyaknya." Laki-laki itu terus meracau, mencurahkan segala isi hatinya kepada sang kekasih. Oh, tidak. Di makam sang kekasih.


"Cara kamu menata kekacauanmu, dan caramu mencintai alam dan seisinya. Yang di dalam listmu, aku akan menganggap diriku ada di urutan paling pertama. Aku baru pernah bertemu cinta setulus kamu!"


...***************...


"Kak, Raisa!" Devania mengembangkan senyum manisnya ketika bertemu dengan calon kakak iparnya.


Raisa melambaikan tangan pada Devania, "De, ayok sini!" Raisa gadis dengan satu lesung di pipi kirinya tersenyum manis melihat kedatangan seseorang yang ditunggunya.


"Kakak kok kelihatan makin cantik aja, padahal baru mau dua minggu loh kita nggak ketemu." Devania memuji Raisa dengan tatapan kagum. Gadis berlesung itu salah tingkah dibuatnya.


"Aduh, De. Kamu bisa aja bikin orang melting! Kayaknya ini deh yang bikin adik kakak klepek-klepek sama kamu," sahut Raisa.


Perkataan Raisa menciptakan rona di kedua pipi Devania, "kamu, ya. Kerjaan bikin melting, hobinya salting!" Raisa tertawa dengan tingkah pacar adiknya ini. Devania punya segudang aura positif yang membuat siapapun akan senang melihatnya.


"Kak, Rai. Aku malu!"

__ADS_1


"Yaudah nggak lagi, deh. Kamu ada apa ngajak aku ketemuan di sini?" Tanya Raisa mengingat mereka bukan tidak sengaja bertemu tetapi oleh ajakan Devania.


"Aku kangen aja, pengen ketemu kakak. Kita udah dua minggu tahu nggak ketemu. Kak Rai sibuk kuliah mulu," rengeknya.


"Duh, aduh lutunaa adikku ini." Raisa dengan gemas mencubit pipi chubby gadis yang berumur empat tahun lebih muda dari dirinya itu.


"Lagian kamu kenapa nggak main ke rumah lagi, berantem ya sama Evano?"


Devania tidak menjawab pertanyaan itu, "kakak, aku boleh minta sesuatu nggak?" Dengan ragu-ragu dia malah menyampaikan pertanyaan.


Gadis berlesung satu itu mengerutkan dahinya, "Apa, De? Tumben."


"Ehm, aku pengen traktir ka Raisa di cafe senja 25. Sebagai gantinya aku pengen dipeluk lama sama kakak," ucap gadis itu dengan penuh semangat.


"Kamu ini ada-ada aja tingkahnya, pantasan aja deh si Leo lion itu cinta mati sama kamu." Gadis berlesung itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jadi, kakak mau nggak?"


"Apasih yang nggak buat calon adek ipar aku," jawabnya Raisa langsung memeluk Devania.


.


"Andai aku tahu itu pelukan terakhir kita, De. Aku bakal peluk kamu lamaaaa banget. Aku bakal tawarin kamu es krim coklat kesukaan kamu, ajak kamu liat senja bertiga bareng Evano.


Andai aku tahu hari itu kamu bukan hanya butuh pelukan tapi juga tempat pulang, aku bakal jadi rumah singgah ternyaman buat kamu." Raisa telah berderai air mata memandang gambar selfie dirinya bersama dua sejoli itu -- Leonardo dan Devania.


Gadis itu termenung di dalam kamarnya, hanya bisa mengulang kembali ingatan dan berandai-andai yang tidak pasti.


"Selamat ulang tahun, De. Selamat ulang tahun Deanya Evano!"


...****************...


"Hari ini tanggal dua puluh lima juli, ya. Gue yakin orang-orang itu lagi sedih-sedihnya ingat sama lo. Anyway, selamat ulang tahun Devania Anggara!"

__ADS_1


__ADS_2