L Dream

L Dream
Kecelakaan


__ADS_3

Leonardo hendak kembali ke sekolah untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan. Jalanan didepan sekolahnya sedang sepi, jadi dia menambah kecepatannya, takut jika pintu kelasnya akan segera dikunci.


Baru saja ingin berbelok masuk ke dalam sekolah, laki-laki itu dikejutkan dengan kemunculan Devania yang tiba-tiba saja sudah didepannya. Untung saja tidak ada kendaraan lain dan dia cepat memutar setir motornya.


Sayang, aksinya menghalangi Devania celaka malah membuat dirinya menabrak tembok pembatas sekolah hingga motornya mengalami kerusakan besar akibat kecepatannya tadi. Dia sendiri terlempar masuk ke dalam sekolah hingga terguling sebelum akhirnya kepala laki-laki itu terbentur pada sebuah pembatas tanaman.


Sebelum kesadarannya hilang, Leonardo tersenyum mendengar sebuah teriakan menyebut namanya.


Devania berlari masuk ke dalam sekolah, "LOVE!!" teriaknya dengan panik.


...****************...


Di sebuah ruangan bernuansa putih dengan bau obat yang menyengat, seorang gadis senantiasa menjaga seorang laki-laki yang sedang terbaring di brankar rumah sakit dengan jarum infus bertengger di tangan pasien itu, serta beberapa alat medis lainnya yang juga setia menemani pasien itu sejak masuk ke sana.


Telah hampir satu bulan sang pasien terbaring tak sadarkan diri, gadis itu hanya berharap pada mujizat Tuhan setiap harinya. Hanya berdoa, berharap dan percaya yang bisa Dia--sang Maha Kuasa-- lakukan saat ini.


Dan harapannya hari ini terkabulkan, terlihat pergerakan dari jemari dan mata pasien itu. Dengan terharu gadis itu menggenggam tangannya sembari menanti yang digenggamannya membuka mata sempurna.


"Akhirnya lo sadar," gadis itu mencium tangan pasien tersebut, air matanya telah semakin deras turun tanpa izin. Penantiannya terbayar, tiga minggu lamamya gadis itu bolak-balik dari ruangan ini tidak berakhir sia-sia.


"Jangan nangis!" perintah laki-laki itu dengan suara lemah.

__ADS_1


Gadis itu mengangguk, dia mengusap air matanya yang terus saja berjatuhan tanpa mau berhenti. Dia memeluk pasien itu, "jangan tinggalin gue, gue nggak mau sendiri."


"Gue laper," kata sang pasien agar gadis itu berhenti. Dirinya tidak tega melihat gadis yang adalah kakaknya itu menangis sedemikian. Sedang dirinya sendiri, untuk bergerak atau sekedar mengusap punggung kakaknya saja dia tidak bisa.


Kakak sang pasien melepas pelukannya. Lagi dan lagi ia mengusap air matanya, "gue panggilin dokter, sekalian ambil makan buat lo. Tunggu sebentar!" Laki-laki itu hanya mengangguk lemah.


Setelah kakaknya keluar, "maafin gue, kak." lirihnya.


Tak berselang lama seorang dokter ditemani suster masuk ke dalam ruangannya. Dokter itu menurunkan maskernya dan tersenyum ramah pada pasien tersebut.


"Halo! Bagaimana perasaan kamu sekarang?" tanya sang dokter.


"Seger banget, Dok. Kayak abis menang doorprise!" sindirnya yang mengundang tawa dokter dan suster tersebut.


Setelah selesai dengan beberapa pemeriksaan sang dokter hendak bertanya. Namun mengingat kakak pasien yang sedang menunggu, ia mengurungkan niatnya dan meminta suster untuk memanggil sang kakak.


"Bersyukur dia dapat melewati masa komanya dengan baik. Jadi, tidak ada pengaruh buruk bagi tubuhnya, tapi dia masih harus dalam pengawasan. Tolong pastikan dia baik-baik saja, kalau ada keluhan silahkan beritahu kami. Kami sudah melepas ventilatornya karena keadaannya membaik. Dia bisa makan setelah ini tapi hanya makanan dari rumah sakit." jelas sang dokter saat kakak pasien tiba didalam.


"Baik. Terima kasih banyak, Dok!"


Dokter mengangguk, "kalau begitu, kami permisi"

__ADS_1


Dokter dan suster itu pun keluar, "Kak, lapar." keluh sang adik pada kakaknya.


Mendengarnya, gadis itu meraih nampan makan rumah sakit yang tadi dia simpan di meja. Gadis itu duduk di bangku kemudian menyuapi adiknya, "enak nggak?" Sang adik menggeleng, "hambar" jawabnya dengan jujur menarik lengkung senyum sang kakak.


"Kak, Rai! Lo nggak ngampus?" Raisa --nama gadis itu.


"Gue nggak ada kelas," jawabnya sambil menyendokkan makan pada adiknya.


"Bukan ambil cuti, kan?"


"Apaan sih. Heh lo tuh baru selesai koma, pikiran aja kesehatan lo!" cibir Raisa yang merasa tertuduh.


"Gue nggak mau makan lagi," Raisa berhenti menyuapi adiknya. Gadis itu meraih obat yang diberikan dokter dan air untuk adiknya, "minum dulu obatnya!"


"Gue mau lanjut istirahat, lo kalau ada urusan pergi aja. Gue gapapa." ucapnya segera menutup mata.


Raisa hanya duduk diam setelah ucapan itu, saat dirasa adiknya telah terlelap barulah gadis itu berbicara.


"Maafin gue, ya!" air matanya kembali jatuh.


"Gue harap setelah ini lo bisa menerima keadaan. Gue nggak mau lo terus-terusan kayak gini. Lo harus lepasin semuanya, Van"

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu, Raisa keluar dari ruang tersebut.


__ADS_2