L Dream

L Dream
Rencana Fatih


__ADS_3

"Gue bilang ke mereka kalau, ... " Fatih menggantungkan kata-katanya. Setelah apa yang terjadi selama beberapa jam ini, Fatih khawatir dirinya akan berada dalam bahaya apabila melanjutkan kalimatnya.


"Kalau, ... " Fatih masih ragu, nampaknya.


"Ngomong yang benar!" bentak Leonardo.


Fatih terkesiap, "kalau Devania itu sebenarnya cewe ga bener." Fatih berbicara dengan kecepatan dua kali dari normalnya.


"Gue bilang ke mereka kalau Devania sebenarnya genit. Gue bilang 'waktu dijalan dia meluk gue bahkan sampai di depan kosnya pun dia nggak lepas dan nggak mau turun, sampai gue tegur dia. Tapi, meski begitu dia akhirnya ngajak gue buat singgah dulu ke kosannya'. Dan mereka percaya karena gue yakinin," imbuh Fatih kemudian dengan cara berbicara yang normal.


Leonardo sudah tersulut emosi dengan satu per satu kata yang diucapkan oleh Fatih. Laki-laki itu berdiri dan menghampiri Fatih dengan amarah yang mendidih, namun Pradipa menahannya agar tidak bertindak gegabah.


"Rekamannya belum selesai," ingat Pradipa.


Leonardo menghela napas, ia kembali duduk di samping sahabatnya, "lanjut!" titahnya pada Fatih.


"Dua minggu kemudian setelah gue berhasil ajak dia pulang, gue nggak pernah lagi deketin dia."


.


"Trus lo mau ikut?" tanya Gio.


"Ya nggaklah. Justru setelah ini, gue jadi mikir lagi buat dekatin dia. Gini-gini gue anak baik, yeee!"


Keenam orang tersebut tertawa, "kasian banget lo," ejek Chelsea.


"Ya mau gimana lagi," lirih Fatih.


"Kalau gitu, lo nggak usah deketin dia lagi. Liat aja kedepannya gimana, lo bisa lanjut apa enggak. Meski sebenarnya gue agak ragu sih, soalnya kalo dilihat dari gerak-geriknya, dia nggak mungkin kayak gitu." Perkataan David langsung disetujui oleh Aulia.


"Setuju. Biarpun gue baru liat dia selama tiga hari ini, tapi vibesnya ga bisa bo'ong. Dia anaknya kelihatan baik banget."

__ADS_1


"Jadi, kalian lebih percaya cewe itu daripada teman lama kalian sendiri?" tanya Gio dengan sedikit menyolot.


"Gini," George membuka suara, "meskipun gue percaya sama Fatih. Tapi rada aneh juga sih. Kan, katanya dari dua hari kemarin dia cuek banget dan selalu ngehindar dari lo, tapi nggak ada angin; nggak ada ujan, kok dia bisa tiba-tiba kayak gitu?"


"Terserah kalian aja, deh. Mau percaya atau nggak percaya, yang penting gue udah ceritain yang sebenarnya." Fatih berdiri seketika ketika menerangkan.


Dengan raut sedikit kecewa, Fatih pergi dari sana.


"Tuh kan, lo bertiga sih. Masa sama teman sendiri nggak percayaan," omel Chelsea.


Sedangkan David, Aulia dan George hanya mengedikkan bahu mereka. Lagipula, tidak ada salahnya untuk berpendapat, kan?


"Gimana pun, besok berita ini harus kesebar." guman Chelsea dan Gio bersamaan.


"Misi kedua berhasil! Sekarang sampai beberapa waktu kedepan, gue bakal pura-pura jauhin Devania. Dan setelah itu, gue tinggal nikmatin hasilnya mulai besok," gumam Fatih kegirangan saat telah berjalan menjauh dari rumah Gio.


.


"Bahkan saat dia ikut pemilihan OSIS ataupun jadi perwakilan sekolah buat lomba. Biasanya kan ada pengumuman di apel, gue disana bakal sengaja ambil perhatian anak-anak seakan gue paling support sama Devania." Fatih sedikit menunduk, tatapan Leonardo semakin penuh amarah padanya. Bahkan mungkin sedikit lagi akan tumpah.


"Gue berhasil bikin rumor baru yang meskipun nggak terlalu buat Devania dibenci, tapi dia pasti tertekan dan nggak suka banget. Gue udah bikin dia diklaim anak-anak sebagai mantan gue," jelasnya.


"Semua drama gue berakhir waktu gue dengar kalau Devania dan Leonardo akhirnya jadian di September kemarin. Gue bingung, gue marah dan gue kecewa banget saat itu. Sampai seminggu setelah itu gue selalu menghindar dari Devania, meski dia emang nggak niatan buat liat dia."


.


Tiga hari berlalu sejak kabar terjalinnya hubungan Leonardo dan gadis yang diidamkannya. Fatih terus merasa kecewa dan marah pada kedua sejoli itu.


"Harusnya gue yang disana," lirih Fatih ketika melihat Leonardo dan Devania sedang duduk berhadapan menikmati makanan mereka di kantin.


Melihat mereka saling melempar senyum membuat Fatih menggeram marah dan segera pergi dari sana. Urusan perut, dia bisa meminta tolong pada salah satu temannya untuk memesankan makanan bagi dirinya nanti.

__ADS_1


Tapi soal hati, Fatih tidak bisa meminta tolong pada teman-temannya untuk membereskan perasaannya, bukan?


Ketika laki-laki itu kembali ke kelas. Samar-samar dia dengar bisikan yang membahas tentang hubungan Leonardo dan Devania.


"Lo udah tahu belum? Kak Leo sama si Devania itu udah jadian," tanya seorang gadis berkuncir kuda kepada temannya.


"Udah dong. Mana mungkin gue ketinggalan berita kayak gini," jawab gadis berkacamata itu dengan bangga.


"Gemes nggak sih? Mereka itu cocok banget," cetus gadis dengan kuncir kuda.


"Please, iya! Mereka cocok BeGeTe," seru gadis berkacamata itu.


Kedua gadis itu melompat kecil lalu bertos. Entah apa yang membuat mereka demikian, mungkin karena mereka berada dalam kapal yang sama.


Fatih terus berjalan mendengar semua itu. Ingin menulikan dirinya, tapi di sepanjang koridar yang ia lewati, banyak gadis membicarakan soal pasangan baru itu. Bahkan tak urung, ada juga yang menyebut namanya.


"Si Devania udah putus kan sama si Fatih, Fatih itu?" Fatih melihat orang menyebut namanya itu. Sepertinya dia adalah anak kelas XI.


"Iya, katanya udah jadian sama kakak kelas yang ganteng itu loh. Yang temannya kak Dipa," jawab salah satu temannya yang paling pendek diantara mereka bertiga.


Gadis yang sedaritadi memainkan ponselnya membuka suara, "Bagus, deh. Emang cocoknya sama kak Leo, bukan sama Fatih," Ejek gadis itu.


"Yee, kalau sama Fatih mah keliatan banget kalau si curut itu yang naksir banget. Devania mah pasif banget waktu sama dia, malah keliatannya cuek banget gitu," cecar si gadis pendek tadi.


Fatih semakin kesal dengan semua gadis di sekolahnya sangat gemar bergibah. Dengan segera ia mempercepat langkahnya menuju kelas. Ia sudah muak.


Sesampainya di kelas, laki-laki itu membanting pintu yang sedikit tertutup. Bahkan kursi dan meja belajarnya juga tidak luput dari amarah laki-laki itu. Semua itu tidak luput dari pandang beberapa teman kelasnya -- yang sudah kembali atau tidak ke kantin -- mereka memberinya tatapan aneh.


"Liat aja tuh, modelannya begitu. Gue sih nggak percaya sama rumor yang disebarin sama teman-temannya, bisa aja akal-akalan mereka." Salah satu teman sekelasnya yang duduk di paling pojok menyindir Fatih.


Fatih berdecih, "bisa-bisanya karena hubungan mereka, gue jadi bahan omongan anak-anak. Liat aja besok," gumamnya dengan senyum miring.

__ADS_1


Fatih hafal sekali bahwa setiap jumat adalah jadwal kelasnya dan kelas Devania bergabung dalam kelas Penjas. Dan laki-laki itu telah punya rencana yang dia pastikan akan membuat hubungan kedua pasangan baru itu segera merenggang, bahkan jika perlu segera selesai.


__ADS_2